BAB 9

881 Words
seseorang bisanya hanya bisa berencana yang mengariskan hanya lah tuhan, apapun yang kita impikan dan rencanakan jika tidak sesuai apa yang kita pikirkan akan menjadi down mental kita seperti silvi beberapa jam lalu mendengan ucapan papanya yang harus mengikuti suaminya yang asing, bagi silvi itu tidak mungkin apalagi semua fasilitas dicabut dan semua kebutuhannya randi yang menanggungnya, gila papanya ini memang benar-benar gila silvi pun terus merengek kepada papanya supaya boleh tinggal di rumah ini. “pa gak boleh gitu silvi kan anak papa plis izini silvi ya” ucap silvi yang masih merengek pada papanya “sayang status kamu sudah istri nak randi jadi kamu harus mengikuti suami kamu tinggal sama dia”ucap Guntur sambil menekan tv yang ada didepannya “pa plis ya”ucap silvi lagi “oke papa ijini kamu tinggal disini selama 3 hari sambil mengemasi barang-barang kamu buat pindah di apatermen randi” ucap Guntur yang masih fokus pada tv “papa ngusir silvi”dengan nada agak meninggi, namun gunturpun tidak menanggapi apa yang anaknya katakana itu udah puluhan kali diucapkan sama silvi “dan kamu randi kamu harus ingat apa yang papa tadi bilang jangan sentuh dulu putri papa sebelum sekolah kalian kelar mengerti”ucap Guntur yang membuat wajah silvi memanas dan melotot pada Guntur. sebenarnya tadi setelah papa silvi memutuskan silvi untuk tinggal apatermen randi, randi pun mewanti-wanti supaya jangan berhubungan suami istri dulu sebelum selesai UN “baik pa saya akan mengingatnya”ucap randi yang entahlah bisa apa tidak tapi dia mengingat sepertinya sampai sini hasrat itu ada tapi randi bisa menahannya tidak seperti sebelumnya. “pa silvipun juga gak mau disentuh sama cowok irit bicara itu”sahut silvi sambil melirik tidak suka pada randi. “silvi jaga bicaramu itu sudah menjadi suami kamu” ucap Guntur pada silvi dengan nada tegas. silvipun langsung melangkah pergi kekamarnya dengan wajah yang sangat kesal dan menghentak-hentakkan kakinya di hadapan randi, randipun mengerti apa yang dirasakan silvi yaitu seber,benci dan jengkel itulah yang di rasakannya. matahari dari ufu timur sekarang sudah terbenam diufu barat menunjukkan waktu sudah malam dan semua sudah ada di meja makan sehabis sholat, tau sendiri ya randi sholat aja gak pernah sekarang harus aktif sholat demi citranya kepada mertuanya. semua makan dengan hening hanya sendok yang bertautan membunyikan nadanya yang artinya aktifitas makannya belum selesai. gunturpun membuka keheningannya den ucapannya mengagetkan silvi “ran nanti kamu tidur satu kamar sama silvi dan mulai besok kamu juga bonjengin silvi, semua movil silvi papa jual”ucap Guntur dengan entengnya dan silvipun sampai kesedak mendengar ucapan papanya. “uhuk uhuk uhuk” randipun cekatan langsung menyodorkan gelasnya namun ditolak mentah-mentah sama silvi. “papa gila ya”ucap silvi “terserah apa yang kamu katakana ini udah keputusan papa” ucap papannya yang sudah selesai makan dan meninggalkan meja makan lalu pergi kemeja kerjanya. yang sebenarnya gak tega sama putrid satu satunya tapi apa boleh buat, putrinya udah tumbuh dewasa sudah menikah, ya papa silvi sudah mencari tahu tentang identitas randi adi rajaksa, menurut papanya silvi randi cukup baik dari keteria mantu idaman dibandingkan dengan kekasih anaknya yang hanya memanfaatkan anak sematawayangnya. haripun semakin larut sudah pukul 11.00 malam namun randi masih setia menemani nonton bola bersama mertuanya dan randi orang yang terpikal tidur larut malam. “ran papa masuk dulu ya udah ngantuk, pdahal bolanya belum selesai”ucap Guntur  “eh-iya pa”ucap randi terbata “kamu sana masuk kamar silvi yng pintunya ada hello kiti, tp ingat jangan macam-macam dahulu ya”ucap Guntur lagi dan meninggalkan randi “iya pa” sahut randi dan menuju kamar silvi yang diberitahu papa Guntur “ini kali ya kamarnya”gumannya sambil celengak celengok menatap pintu yang ada hello kittynya hanya Cuma satu ya ini didepan randi. kleeeek  pintu dibuka sangat pelan, namun apa disangka penghuni kamar masih sibuk dengan nelfonnya, ya silvi masih sibuk telfonan dengan kekasihnya memadu kasih karena kangen seharian gak ketemu, silvipun tersadar siapa yang membuka pintu langsung menegang terkejut silvipun langsung mematikan sambungannya dengan kekasihnya. “pria irit bicara nga-pain loe kesini”ucapnya sambil nelan ludahnya karena terkejut dengan keberadaan laki-laki dikamarnya. “eh gue disuruh papa tidur disini”ucapnya canggung dan masih scok dengan nuansa kamar silvi yang pink semua, “ini kalau ketahuan yoga habis gue diledeki habis habisan punya kamar pink semua gini”batinnya “loe cari kamar lain kan masih banyak kenapa harus kamar gue sih”ucapnya sebal “semua kamar dikunci mungkin sengaja kali”sahut randi yang sebenarnya sudah ngecek kamar yang ada di samping kanan dan kiri kamar silvi dan semua terkunci terpaksa randi masuk kamar yang bukan tipenya sama sekali. “pokoknya gue gak mau tidur bareng loe”ucapnya silvi “siapa juga yang mau tidur bareng loe”sahut randi “eh sekarang aja banyak bicara tadi-tadi kemana tu suara hilang dimakan hantu atau….”silvi menjeda ucapanya dan randi pun menanti kelanjutannya. “atau loe beneran suka sama gue atau loe Cuma mau harta bokap gue”ucapan silvi yang terakhir bikin randi meradang merah padam. randipun menutup pintunya dan menguncinya lalu dengan senyum mematikan kaum hawa randipun mendekati silvi, silvipun sudah ketakutan melihat espresi randi apalagi saat ini nafas randi menyapu mukanya yang begitu hangat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD