"Tidak! Aku harus pulang, Do! Kamu sudah janji mengantarku pulang dan kamu Edo! Bukan Leon!" Kali ini Mela meminta dengan nada kasar pada Edo yang menggenggam tangannya. Jika Edo menilai bahwa ia lebih berhati lembut dibandingkan dengan Leon, Si Bengis, pasti akan mengantarnya pulang seperti janjinya yang ia ucapkan tadi siang. Bukan menolak permintaannya.
Edo tidak mengendurkan genggamannya, ia menggeleng dengan tatapan serius. "Sudah berapa kali aku katakan kalau aku gak akan membiarkanmu pergi dari sini, Mel. Aku memang Edo, tapi perasaanku sama dengannya. Sama-sama menyukai kamu. Dan aku--" Ia berdiri di depan Mela sambil berbisik.
"Bisa kasar padamu seperti Leon." Ancam Edo lalu melepaskan genggamannya. "Hari sudah malam, sebaiknya kamu tidur, Mel. Jangan berpikir kamu bisa melarikan diri dari sini, karena aku pasti menemukan kamu baik hidup atau mati."
Mela terdiam mendengar ancaman Edo. Tangannya terkepal kesal karena Edo tak ubahnya dengan Leon yang bengis. Hanya saja Edo bisa tersenyum manis dari balik sikap dan perbuatannya yang kejam, seperti serigala berbulu domba.
Mela takkan menyerah dan takut dengan ancaman Edo yang mengatakan banyaknya hewan buas di luar sana, sekalipun monster ia akan melawannya asalkan bisa pergi dari sana secepatnya.
Edo melangkah menuju pintu lalu meninggalkan Mela yang masih kesal.
Saat ini di otak Mela mencari cara untuk pergi tanpa diketahui Edo dan beberapa orang yang berada dibawah.
Ia melipat kedua tangannya sementara kakinya melangkah menuju ke jendela yang masih terbuka. Disana ia melihat dua pria kekar yang telah membawa Tia tadi sedang duduk di halaman belakang rumah. Tak lama wajahnya tegang mendengar suara gonggongan serigala saling bersahut-sahutan. Ia tak menduga jika ucapan Edo adalah benar adanya. Suara gonggongan itu nyata dan terdengar menyeramkan.
Mela menggeleng, wajahnya memucat. "Sialan! Gue pikir cuma di luar negeri aja, ternyata di sini juga ada serigala!" Ia mengumpat, pikirannya seketika menjadi buntu. Kini ia harus mencari cara lain untuk bisa keluar dari sana dengan cara aman atau nyawanya terancam seperti Tia.
Keesokan harinya, Apartemen Deny - Jakarta Selatan
'Sreet'
Deny menutup resleting ransel backpackernya. Semua peralatan telah ia masukkan begitu juga dengan tenda kecil yang cukup untuk menampung ia bersama Rey.
Deny menggeleng dan berdecak keheranan melihat ransel Rey penuh dengan barang bawaan yang tak seharusnya untuk dibawa.
"Ngapain juga lu bawa drone? Lu mau buat video atau nyelidiki kasus, Bro?!"
Rey tertawa lalu mengedipkan matanya. "Dua-duanya, Den. Menyelam sambil minum air…" Sahut Rey lalu terkekeh.
Deny melirik ke arah Rey. "Sudah beres? Bisa kita berangkat sekarang?" Tanya Deny tak sabar memulai penyelidikan kasus yang menurutnya semakin menarik dan tertantang. Terlebih lagi ia harus mencari tempat dimana Si Mister itu berada diantara luasnya hutan Pinus.
Rey mengangguk yakin. "Yes! Gue siap sekarang! Ayo kita berangkat, Bro!" Ajaknya tak sabar, sambil menyandangkan ransel di punggung.
Mereka berjalan meninggalkan apartemen dan menuju basement.
Langkah mereka terhenti di depan mobil Nissan Xtrail warna merah bata lalu menaikinya.
Rey mengendarai mobil dengan antusias, ia bisa membayangkan beberapa followersnya akan membanjiri kolom komentarnya setelah meng-upload postingannya begitu tiba disana.
"Lu serius banget dari tadi. Kenapa? Lu takut?" Tanya Rey membuyarkan lamunan Deny mengenai hutan pinus yang saat ini hampir memenuhi isi pikirannya.
Deny melirik ke arah Rey yang mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. "Gak. Gue gak takut cuma perasaan gue kok gak enak." Ucapnya lalu menaruh ponsel di saku celana.
Rey tertawa mendengar ucapan Deny. Sebuah kalimat yang sering yang ia dengar ketika kasus itu menjadi lebih menarik di mata partnernya selama menjalankan misi. "Lu selalu begitu, Den. Selalu ngerasa gak enak kalau belum bisa tuntasin nih kasus. By the way, kalau kita berhasil gue pengen kita rayain di bar punya Si Rio. Gue denger racikan bartender nya banyak dapet pujian dan enak banget." Ucap Rey, mengingat mereka selalu merayakan kasus yang sudah selesai dengan party atau sekedar minum di bar bersama partner yang lainnya.
Deny mengacungkan ibu jarinya. "Sip, berdoa aja kita bisa selesain kasus ini dan balik ke rumah dengan selamat, Rey." Balas Deny dengan senyum mengembang walau hatinya merasa khawatir. Tak pernah merasa se khawatir ini, seakan sebuah pertanda sesuatu buruk akan menimpa mereka.
Rumah Edo - Bogor
Tia membuka matanya perlahan. Rasa perih ia rasakan dan membuat memegang wajahnya yang tak lagi diperban.
Wajahnya bengkak dan sebuah selotip menempel di hidungnya yang terasa berbeda. Sedikit lebih mancung.
"Kamu sudah sadar?" Tanya seorang perawat berjalan mendekati Tia yang terbaring di atas ranjang.
Tia tertegun dan berusaha mengingat saat terakhir sebelum ia tertidur. Sebuah suntikan menancap pada urat nadinya dan setelah itu tak ada lagi yang ia ingat, hanya menyisakan sebuah rasa sakit.
"Ada apa ini? Kenapa aku bisa berada disini?" Tanyanya pada perawat yang bertubuh tinggi dengan kulit sawo matang mirip perawakan wanita India.
Perawat itu berjalan menuju jendela lalu membuka gorden. Sinar matahari pagi menyilaukan Tia membuat terpaksa menutup bias cahaya dengan melebarkan telapak tangan di depan wajahnya.
"Kamu bisa tanya hal itu pada Mister, aku hanya bertugas untuk merawat dan menjaga kamu selama seminggu ini. Jadi, alangkah baiknya jika kamu tidak membuat ulah dan merepotkan ku, Nona." Sahut perawat dengan santai lalu berjalan menuju meja disamping ranjang. Ia mengambil dan membawa semangkuk bubur. "Makanlah ini. Kau harus tetap hidup untuk bisa keluar dari sini. Karena kau beruntung.." Bisiknya, menyodori bubur sambil celingak-celinguk memastikan tak ada seorangpun yang mendengar ucapannya.
Tia menerima sambil terheran dengan ucapan Si Perawat yang seakan ingin memberitahu sesuatu. "Apa maksudmu? Bagaimana aku masih bisa dibilang beruntung jika aku sudah dijual oleh dia? Untuk harga 35 ribu dollar bisa ayahku raih hanya dalam waktu beberapa jam saja, tapi dengan murahnya dia melepas aku untuk harga segitu." Protes Tia, tak menyetujui ucapan Si Perawat. Baginya ia tak pernah kekurangan uang selama hidup tapi sayangnya semua berubah semenjak menjadi korban kebengisan Edo yang telah menjualnya saat ini. Pria yang mengajaknya 'Copdar' dan berujung menjadi tawanan Mister.
"Setidaknya kau masih bisa keluar dari sini dalam keadaan hidup dan cowok bule tampan akan menikahimu segera. Tidak seperti kawanmu yang lain." Sahut Si Perawat lagi.
Tia terdiam yang dikatakan wanita itu memang benar bahwa ia beruntung masih dalam keadaan hidup walau tak lama lagi bule tampan itu membawanya pergi dari sana, dan itulah kesempatan untuk melarikan diri atau meminta pertolongan. Ya, saat ini ia harus bersikap baik dan menurut, setidaknya tak menghuni ruang bawah tanah yang bau dan banyak dengan tikus. Tapi berada di sebuah kamar yang di depan pintunya bertuliskan 'Copdar' dan angka empat.
⚫⚫⚫
Mela terjaga setelah bias matahari masuk melalui celah jendela. Ia bangkit dari ranjang lalu berjalan dengan langkah gontai menuju jendela.
'Sreek'
Mela membuka gorden sambil memicingkan matanya yang sembab karena semalam tak bisa tidur dengan nyenyak.
Ia membuka jendela dan membiarkan udara pagi yang dingin dan sejuk masuk memenuhi ruangan kamar. Dari sana terlihat dengan jelas sebuah danau kecil yang tak jauh dari rumah Edo begitu juga dengan sebuah sampan.
"Hai!" Sapa seorang pria dari bawah tersenyum lebar sambil mendongak menatapnya
Mela terheran melihat penampilan Edo yang berbeda dari sebelumnya. Di tubuhnya yang tegap memakai kaos putih dilapisi jaket kulit warna hitam dan dipadukan dengan celana jeans berwarna senada. Rambutnya yang hitam tersisir rapi ke belakang dan mengkilat. Di bibirnya sudah terselip sebatang rokok dan sebuah asap putih keluar dari kedua lubang hidungnya.
"Leon.." Ucap Mela dengan suara pelan. Ia yakin pria itu bukan Edo melainkan Leon, pria bengis yang juga hidup di tubuh Edo.
Edo bangkit dari kursi lalu melangkah pergi.
"Kemana dia? Apa dia mau kesini?!" Ujar Mela bicara sendiri dan ia merasa cemas jika Leon benar-benar mendatanginya sekarang juga. Tapi ia bingung harus melakukan apa karena yang ia tahu Leon seperti seorang psikopat yang sewaktu-waktu bisa membunuh dan mengancam jiwanya.
Mela menggigit ujung kuku ibu jarinya sambil berpikir. Ia harus segera melarikan diri secepatnya atau nasibnya berujung pada sebuah lingkaran dimana dia menjadi objek yang di lelang oleh Edo seperti wanita yang bernama Tia.
'Braak'
Suara pintu terbuka membuat Mela terkejut melihat Edo berdiri dari balik pintu menyeringai menatapnya.
Ia berjalan dengan tenang dan tatapannya masih ke depan, melihat Mela yang terlihat panik. "Kamu terlihat selalu menarik walaupun belum mandi, Cantik." Sapa Edo dengan logat bicara yg berbeda.
Mela tertawa kecil sambil membuang wajah. "Leon.." Ucapnya pelan.
Leon atau Edo lainnya tertawa keras mendengar ucapan Mela. "Ternyata dia sudah menceritakan tentang aku?! Apa saja yang ia ceritakan? Apa dia memberitahumu bahwa aku lebih pemberani atau kejam?" Tanyanya, tak sabar menanti penjelasan dari Mela.
"Kamu--" Mela menatap bola mata Leon, tersirat sebuah ambisi disana. "Menakutkan." Sambung Mela lagi dan ucapannya disambut dengan gelak tawa Leon lagi.
"Kau belum mengetahui siapa aku sebenarnya, Nona. Dan aku tidak menakutkan tapi--" Leon menghentikan langkah tepat di depan lalu mengangkat dagu Mela sambil menyunggingkan senyum. "Lebih menakutkan!" Tambah Leon lalu terkekeh.
"Biarkan aku pergi dari sini, Aku mohon padamu, Le--"
"Mister!" Potong Leon. Raut wajahnya berubah menjadi serius.
Mela mengangguk cepat, entah mengapa ia menjadi begitu takut melihat Leon walau berada dalam tubuh yang sama dengan Edo yang sedikit berhati lembut.
"Ba--baik, Mister." Mela tergagap, wajahnya tertunduk karena tak sanggup melihat Leon memelototinya dengan seribu makna.
Leon melepaskan pegangannya. "Aku akan menunggumu setengah jam lagi di bawah, untuk menemaniku sarapan. Jika kau telat 5 menit saja, aku tak segan-segan menghukummu, Nona." Ancam Leon lalu membalikkan tubuh dan meninggalkan Mela dikamar.
Mela menghembus nafas lega setelah Leon pergi. Entah mengapa ia merasa seperti sedang berhadapan dengan seekor serigala jika berada bersama Leon, berbeda dengan Edo. Tapi kekhawatiran Mela belum berakhir disini, ini baru awal bukan akhir...dan nyawanya dipertaruhkan mulai detik ini jika saja tak menuruti perkataan Leon.
Tanpa pikir panjang Mela melangkahkan kaki menuju kamar mandi, ia harus bergegas untuk menemani Leon setengah jam dari sekarang. Tak boleh terlambat, jika tidak nasibnya berujung pada acara 'Copdar star'.
⚫⚫⚫
Deny dan Rey menghentikan langkah lalu pandangan mereka menyusuri sekeliling tempat di mana mereka berada sekarang.
Hutan Pinus.
"Wow! Amazing!" Seru Rey. Ia berputar sambil berdecak kagum melihat pohon pinus yang mengelilingi mereka.
Rey mengambil kamera DSLR lalu mengambil beberapa gambar sementara mulutnya tiada henti bergumam karena takjub.
Tak jauh dari mereka beberapa tenda warna warni berdiri berjejer. Sekitar 500 meter dari sana, gerombolan travelers mengerumuni sesuatu dan membuat Deny dan Rey penasaran.
Mereka berdua berlari kecil ke arah kerumunan itu. "Permisi kami polisi." Ujar Rey berjalan di antara kerumunan sementara Deny di belakangnya.
Alangkah terkejutnya mereka melihat seekor serigala tergeletak kaku dan di sekitar tubuhnya berlubang, berisikan peluru.
"Siapa yang pertama kali lihat ini?" Tanya Rey sambil membungkuk memastikan jika serigala itu memang sudah mati.
Seorang pria bertubuh tambun dengan tinggi sedang dan memakai topi kupluk mengacungkan jarinya. "Saya, Mas. Saya lihat serigala itu berjalan pelan dari arah sana." Ucapnya menunjuk ke arah Utara.
"Pas sampe sini, dia langsung jatuh dan ngerasain kesakitan. Saya sama temen-temen sempat lari ketakutan, gak taunya tuh serigala kena tembak." Terang pria itu lagi.
"Apa dari kalian ada yang bawa senapan?" Tanya Deny, ia melihat mereka satu persatu sambil mencurigainya.
Mereka menggeleng. "Kami kesini buat nikmati alam, Mas. Bukan buat membunuh binatang." Sahut salah satu gadis yang memakai hijab.
Tak lama mereka serentak mengiyakan ucapan gadis itu.
"Oke..oke..saya percaya sama kalian, tapi apa kalian melihat rombongan lain selain kalian di hutan ini?" Tanya Deny.
Mereka saling berpandangan lalu menggeleng.
"Saya dengar suara tembakan dari arah sana sebelum serigala ini datang." Sahut seorang pria yang paling muda di antara mereka, mungkin berusia 17 tahun datang menghampiri mereka dari arah belakang.
Deny dan lainnya menoleh melihat pemuda itu berjalan ke arah mereka.
"Dimana kamu dengar suara tembakan itu?" Tanya Deny, ia menatap pemuda itu serius dan memastikan jika ucapannya adalah benar.
Pemuda itu menunjuk ke arah utara. "Dari sana." Jawabnya lugas.
⚫⚫⚫
Mela melangkah mundur ketika Leon mendekati sambil menyandangkan senapan angin di atas bahu kanannya. Ia menatap serius walau di bibirnya sudah terselip sebatang rokok yang sudah memendek.
"Mengapa kau membunuh serigala itu?" Tanya Mela. Langkahnya terhenti di depan gerbang rumah Edo.
Leon melempar rokok lalu menyeringai. "Itu sebagai contoh jika kau mencoba melarikan diri. Aku takkan pernah menjualmu di 'Copdar star' tapi akan membunuhmu seperti binatang itu. Kau masih tidak mempercayaiku?"
Mela mengangguk, wajahnya dipenuhi keringat dingin ketika Leon menghadangkan senapan di depan wajahnya. Jantungnya berdetak kencang dan lututnya terasa lemas terlebih lagi raut wajah Leon berubah menjadi bengis, tak lagi tersenyum. Ia memejamkan kedua mata dan menelan air liurnya dan pasrah jika nasibnya harus berakhir di tangan Leon.
'Doorr--'