Bab 18. Menukar kebebasan dua pelayan dengan imbalan

1101 Words
"Dia menuju sel penjara bawah tanah?" Yakuya menatap lurus seorang gadis yang tengah mengendap-ngendap seperti penyusup sambil celingukan untuk memastikan tidak ada orang yang memergoki aksinya. Merasa pertanyaannya tidak di jawab, Yakuya melirik Rainer yang berdiri di sampingnya. "Hei, kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?" Rainer memutar malas bola matanya atas kecerewetan sepupunya ini. "Tidak." Yakuya menggeleng tidak puas, dia kira akan mendapat jawaban menarik dari sepupu yang merangkap menjadi rajanya ini saat melihat sang istri akan memasuki tempat menjijikan itu. Yakuya kembali menatap Iloya yang kini sudah mulai membuka pintu menuju sel penjara bawah tanah. "Saya rasa Iloya ingin menemui kedua pelayannya. Padahal penjara itu penuh dengan darah. Bukankah dia selalu pingsan saat melihat darah?" "Rai...,"Yakuya melongo seperti orang bodoh ketika dia hendak mengatakan sesuatu lagi. Namun, orang yang dia ajak bicara justru sudah menghilang dan kini sudah ada di belakang gadis yang sedari tadi dia bicarakan. "Ada kalanya saya ingin mencaci maki dirimu." Yakuya menatap Rainer dari lantai dua istana dengan tatapan penuh permusuhan. Dia mendengus kesal karena merasa Rainer tidak pernah benar-benar membutuhkannya kecuali ada hal penting. Nasib sepupu ternistakan ya begini. Yakuya mengelus d**a sabar. Iloya langsung menutup hidung saat mencium bau teramat buruk masuk ke indra penciumannya begitu pintu sel penjara terbuka. Dia sampai memuntahkan isi perutnya karena tidak tahan dengan bau itu. "Iyuh, bau." Beruntungnya saat ini Iloya tengah menggunakan gaun terbuka bagian d**a sehingga memutuskan untuk memakai sari. Iloya menutup hidungnya menggunakan sari dan mulai melangkah masuk. Namun, sebelah tangannya yang bebas justru ada yang menahannya. Iloya lantas berbalik dan langsung melotot terkejut. "Rainer?" "Kamu ingin menemui kedua pelayanmu?" Rainer mengajukan pertanyaan yang jelas-jelas dia sudah tahu jawabannya. Iloya melirik bergantian antara sel penjara dan Rainer bergantian. Menyadari dia tidak bisa mengelak lagi, akhirnya Iloya hanya mampu mengangguk membenarkan pertanyaan Rainer. "Tidak usah menemui mereka lagi! Mereka pantas dihukum karena tidak becus menjagamu. Sekarang kamu kembali ke kamar dan istirahat! Ini sudah malam dan bukankah manusia selalu tidur malam hari?" Bukannya menurut, Iloya malah bertanya balik. "Kenapa kamu memenjarakan mereka?" Sebelumnya Iloya sudah mencari tahu kabar tentang Mura dan Misako pada para pelayan dan prajurit. Namun, tidak ada yang mau membuka mulut. Awalnya dia menyangka Mura dan Misako belum sembuh dari lukanya waktu itu dan berniat menjenguk mereka. Keadaan berubah saat dia tidak sengaja mendengar ada dua orang pelayan yang membicarakan Mura dan Misako yang kini tengah berada di sel penjara bawah tanah. Tentu saja Iloya marah. Apa salah Mura dan Misako sampai harus dipenjara begitu? "Apa mereka dihukum atas kesalahanku?" "Bukan," Rainer menjawab malas. Melihat Rainer yang terkesan acuh tak acuh menanggapi perkataannya mengenai nyawa orang, sungguh Iloya sangat ingin menggigit pipi Rainer saat ini juga. Tentu saja jangan lupakan kalau Rainer ini tokoh antagonis, sifatnya pastilah kejam tak berperasaan. Kalau bukan karena Mura dan Misako yang selama ini selalu menemaninya di sini sampai rela mengorbankan diri demi menyelamatkannya, Iloya tidak akan sampai berbuat seperti sekarang yaitu memasang wajah menyedihkan plus mata kucing manja. Iyuh, menjijikan. "Rainer, Rajaku yang baik hati dan suka menabung. Bebaskanlah Mura dan Misako! Kalau kamu membebaskan mereka, maka mintalah satu permintaan padaku, maka ibu peri ini akan mengabulkannya." Iloya mengedip-ngedipkan matanya agar tampak lucu dan menggemaskan. "Menabung?" Rainer menaikan sebelah alisnya karena tidak begitu mengerti kenapa Iloya menyebutnya suka menabung. Dengan semangat Iloya mengangguk dua kali, "iya, menabung. Menabung amal kebaikan karena sering membantu orang. Jangan lupakan juga kamu menabung uang hasil penjualan buah itu, bukan? Kalau boleh, bisakah kamu membaginya untukku juga? Walaupun saya tahu itu buah kamu, tapi sebagai istrimu, saya juga berhak atas buah itu. Apalagi yang menjulanya itu saya. Bisalah kamu bagi dua hasilnya." "Saya membuang uang itu," dengan polosnya Rainer menjawab. Iloya sampai menggigit jarinya greget sendiri karena dengan mudahnya Rainer membuang uang hasil jerih payahnya itu. Tidak tahukan Rainer, bahkan demi mendapatkan uang, Iloya harus rela berbaur dengan para vampir, mahluk yang selama ini Iloya hindari. Kan kampret banget raja satu ini. Setelah mengetahui uangnya dibuang, Iloya kembali menormalkan ekspresinya. Dia menatap datar Rainer. Pokoknya setelah dia dapat membebaskan kedua pelaynnya, Iloya berjanji akan memeras habis harta Rainer karena telah berani membuang uang yang baru pertama kali dia dapatkan di dunia ini. Lihat saja nanti! "Saya tertarik dengan tawaranmu," Rainer kembali membuka pembicaraan setelah terjadi keheningan cukup lama. Sebenarnya Iloya sudah malas menjawab saat tahu uangnya raib. Namun, dia tentu tidak boleh melupakan status orang di depannya. Tidak menanggapi ucapan Rainer, sama saja dengan mengantarkan kepala untuk digelindingkan. "Kalau begitu, apakah Yang Mulia Raja ini mau dari saya untuk menukarnya dengan kebebasan kedua pelayanku yang baik hati, tidak sombong, dan suka menabung yang tentunya tidak pernah pula membuang uang sembarangan." Iloya berkata manis, berbanding terbalik dengan matanya yang berkilat malas. Rainer menyeringai puas. Seketika itu juga Iloya merasa akan ada hal yang terjadi dan itu cukup buruk untuk dirinya. Namun, dia tidak boleh mundur sekarang demi membebaskan kedua pelayannya dari hukuman. "Malam purnama selanjutnya, saya ingin kamu mengatakan sesuatu pada dia. Pastikan kamu menyampaikannya, kalau tidak saya akan menghisap darahmu sampai kering." Tak sadar Iloya mengusap bekas gigitan Rainer di lehernya. Dia sampai menelan saliva susah payah. Sial, baru diancam begini saja nyali gue langsung ciut, kan kampret. Iloya membatin kesal. Iloya jelas tau siapa yang Rainer maksud tentang dia. Tak laon dan tak bukan dia adalah Allard, sang alter ego Rainer. "Apa yang harus saya katakan?" Rainer melangkah maju mendekati Iloya. Hingga jarak tubuhnya dan Iloya tinggal 10 senti, Rainer berhenti dan mengeluarkan sesuatu dari saku jubahnya. Dengan cepat Iloya memejamkan matanya saat lagi-lagi Rainer menyibak rambutnya. Dipikirannya saat ini Rainer ingin menghisap kembali darahnya, maka dari itu Iloya mempersiapkan diri untuk berusaha tetap sadar walau dia tahu darahnya akan dihisap. Namun, saat merasakan benda dingin menyentuh kulit lehernya, Iloya kembali membuka matanya. Dia meraba kalung yang baru saja Rainer pakaikan untuknya. Uwu, Iloya sekarang malah baper. Rainer mengusap daun telinga Iloya, lalu mendekatkan bibirnya pada telinga Iloya untuk membisikan sesuatu. Iloya meremang saat mendapati napas hangat menyentuh permukaan kulitnya. Dia baru bisa bernapas lega ketika Rainer sudah menjauhkan kembali wajahnya dan mundur ke tempat semula. "Bagaimana?" Setelah memikirkannya beberapa saat, akhirnya Iloya mengangguk. "Ok." "Tunggu," Iloya kembali manggil Rainer yang sudah berbalik dan melangkah menjauh. "Kalungnya cantik. Terima kasih. Nanti kalau saya kepepet, kalungnya boleh saya jual lagi 'kan? Kelihatannya ini mahal." Dengan lugu Iloya berbicara tanpa tahu dampak dari ucapnnya bagi pihak lain. Mata Rainer berkedut dan otomatis menghentikan langkahnya. Dia berbalik hanya untuk menatap dalam diam perempuan yang saat ini tengah mengerutkan dahi karena sibuk menghitung kemungkinan harga kalung di lehernya. "Saat kalung itu lepas dari lehermu, maka otomatis kepalmu juga ikut terlepas dari tubuhmu." Rainer mendesis berbahaya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD