Iloya segera merapikan tatanan rambutnya yang hari ini digerai dengan jepit cantik yang dia tahu terbuat dari platina saat melihat Yakuya duduk di meja makan bersama Rainer. Dia balas tersenyum saat Yakuya menoleh ke arahnya dan tersenyum. Namun, senyumannya itu surut tatkala matanya tak sengaja bersitatap dengan mata kuning keemasan milik Rainer. Iloya berdehem dan langsung menghampiri kursi yang bersebelahan dengan Rainer.
"Pagi," Iloya menyapa Rainer dan Yakuya bergantian. Namun, yang membalas sapaannya hanya Yakuya membuat Iloya diam-diam melotot kesal ke arah Rainer.
"Hari ini kamu cantik sekali." Yakuya membuka obrolan saat dirinya, Iloya, dan Rainer berada pada satu meja makan yang sama. Dia memang sengaja hari ini ikut makan karena ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan Rainer.
"Kamu juga tampan," Iloya mengedip genit.
"Ehm!"
Deheman kencang itu mengundang tawa renyah Yakuya dan lirikan acuh dari Iloya.
"Ehm," sekali lagi Rainer berdehem kencang seolah mengkode Iloya untuk mengatakan sesuatu padanya juga. Namun, Iloya yang kurang peka akan maksud Rainer malah mendahului mengambil daging yang terlihat lezat di matanya. Kelakuan Iloya itu membuat tawa Yakuya makin keras dan Rainer yang mendengus kesal.
Rainer melirik dingin Yakuya yang masih saja mentertawakannya. Dia baru puas saat Yakuya sudah merapatkan kembali mulutnya dan mulai mengambil makanan untuk sarapannya. Sebelum menyentuh hidangan yang tersedia, Rainer meraba terlebih dahulu benda yang terdapat di balik jubahnya.
"Apa kegiatanmu hari ini?" Rainer bertanya disela suapan makanannya. Dia melirik sedikit Iloya untuk memastikan Iloya balik meliriknya.
"Tidak ada," Sebenarnya Iloya ingin menagih uang hasil penjualan buah kemarin. Namun, dia tidak bertemu Mura dan Misako lagi. Kalau benar apa yang dikatakan Rainer tentang regenerasi bangsa serigala yang cepat, harusnya Mura dan Misako sekarang sudah sehat kembali. Makanya Iloya tidak terlalu khawatir pada kedua pelayannya itu.
"Bagus. Setelah makan temui saya di halaman belakang istana."
"Tapi...,"
Ucapan Yakuya barusan langsung terpotong begitu Rainer melirik dingin. Yakuya menghembuskan napas pasrah, mau tidak mau kini dia harus mencari waktu lagi untuk membicarakan hal penting yang dia bawa.
"Ok," Iloya menjawab pertanyaan Rainer.
***
"Kamu mau bicara apa?" Iloya bertanya setelah dia duduk nyaman di gajebo halaman belakang istana. Dia agak terkejut mendapati semua buah sudah habis tak bersisa. Apa buah yang kemarin dia jual sampai membuat buah di sini habis tak bersisa? Rasanya buah yang Iloya jual tidak akan sebanyak itu.
Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Rainer membuka mulut. "Saya belum tahu alasanmu tiba-tiba berada di rumah Mariana. Kamu jelas bukan Mariana. Tubuhmu, baumu, bahkan kamu memiliki sesuatu yang begitu dicari oleh bangsa vampir." Rainer menoleh ke arah Iloya yang tengah menatapnya. "Ceritakan asal-muasal kamu tiba-tiba ada di rumah Marian!"
Waktu Iloya menceritakan kemungkinan dia akan kembali ke dunianya, dari saat itu Rainer jadi memikirkan hal ini. Dia ingin tahu apa yang sudah terjadi pada Iloya sehingga terperangkap di dunianya saat ini.
"Ini memang wajah saya. Hanya saja saya merasa kalau tubih ini memang milik Mariana. Rambut saya hitam, bukan pirang seperti ini." Iloya meraba rambutnya sendiri.
Iloya menambahkan, "waktu itu saat saya tengah berjualan, ada seorang kakek tua berjenggot yang datang menghampiri. Kakek itu mengeluarkan sebuah buku tua. Namun, pas saya bawa pulang dan akan membacanya di kamar, saya tidak menemukan ada tulisan di buku itu. Buku itu kosong, tapi saya tidak sengaja menumpahkan air pada buku itu sehingga keanehan mulai terjadi. Buku itu mengeluarkan tulisan aneh. Namun, yang lebih anehnya lagi saya dapat membaca tulisan itu dan ternyata buku tua yang kakek itu berikan adalah buku karangan fantasi berjudul 'Love the vampire Lord'. Pas saya bangun pagi, saya sudah mendapati halaman rumah saya yang dipenuhi ikan cupang berubah menjadi halaman luas dengan beraneka warana bunga."
"Buku tua?" Rainer mengulang kembali ucapan Iloya untuk memastikan pendengarannya tidak salah.
"Ya."
"Apa maksudmu buku tua bersampul warna hitam dan ada gambar bunga teratainya?"
Iloya membulatkan matanya kesal, "jadi kamu tetap membaca pikiranku?"
Rainer mengernyitkan dahi heran, "tidak."
"Lalu kenapa kamu bisa tahu sampul itu?"
"Karena buku itu ada di perpustakaan istana, tapi Mandata menghilangkannya dan mengganti dengan yang palsu. Kalau memang buku itu ada padamu, apa sekarang kamu memegangnya?"
"Apa? Jadi buku itu berasal dari dunia ini? Tapi sayang saya juga tidak tahu buku itu ada di mana sekarang." Iloya sangat terkejut dengan fakta yang baru dia tahu sekarang mengenai buku karangan fantasi itu. "Apa kamu juga sudah tahu cerita dalam buku itu?"
"Ya, tapi kemungkinan yang saya baca itu buku palsu karena saya yakin yang asli itu ada padamu. Apa kamu bisa menceritakan isi buku itu?"
"Bisa, sih. Tapi setelah saya menceritakan ulang isi buku itu, apa saya bisa kembali ke dunia saya sendiri?" Iloya menatap Rainer penuh harap. Dia sangat ingin kembali ke dunia nya walaupun di sana memang dirinya hanya orang kecil penjual ikan cupang, tapi setidaknya dia bisa hidup damai tanpa dihantui darah dan orang-orang mengerikan di dunia ini.
Rainer membuang wajah, "kita lihat saja nanti."
"Ok. Jadi kejadiannya itu begini," Iloya menatap kosong ke depan.
"Jadi bukunya sekarang ada di mana?" Yakuya bertanya setelah mendengar secara keseluruhan isi buku tua yang selama ini dia sangka dijaga oleh Mandata.
Saat tadi Yakuya hendak kembali ke rumahnya, seorang pengawal menyuruh dia untuk menemui Rainer yang sedang bersama Iloya di gazebo halaman belakang istana. Setelah sampai ternyata dia mendapati informasi yang sangat membuatnya terkejut. Iloya mengetahui isi buku itu.
"Enatah." Iloya menajwab sama tidak tahunya. Dia memang memiliki buku itu saat di dunianya. Namun, saat dia bangun di pagi harinya dan mendapati ada di dunia lain, Iloya sudah tidak menjumpai buku itu lagi.
"Baiklah. Terima kasih karena sudah bersedia menceritakan kisah yang err," Yakuya melirik Rainer dengan tatapan penuh prihatin. "sangat menarik."
"Menarik apanya. Masa, Rainer si tokoh jahat ini bisa bucin pada perempuan bermuka dua kaya putri Clarissa. Apa-apaan lagi si pangeran Dar itu? Kenapa sama bucinnya kayak si Rainer? Sungguh menyedihkan hidup mereka berdua." Iloya geleng-geleng kepala.
"Ehm," deheman kencang itu seketika membuat bulu kuduk Iloya meremang. Alamak, kenapa Iloya sampai lupa orang yang dia bicarakan itu ada di sampingnya. Alamat jadi perkedel dia.
Jangan tanya Yakuya sedang apa, karena dia sudah memegang perutnya karena terlalu banyak tertawa. Dia sangat puas karena akhirnya ada orang yang blak-blakan membicarakan kejelekannya Rainer di depan mukanya langsung. Ya, walaupun itu hanya sebuah petunjuk yang disajikan pada rupa cerita.
"Kamu tahu putri Clarissa itu bermuka dua, tapi kenapa masih gencar menjodohkan saya dengan dia?" Ucapan Rainer barusan sontak membuat Iloya tersedak ludahnya sendiri dan sekaligus membuat tawa Yakuya otomatis berhenti.
Yakuya menatap Iloya penuh keterkejutan. Wah, Yakuya sampai terkagum-kagum dengan segala tingkah unik ratunya ini. Dia sangat menantikan tingkah unik ratunya yang lain di masa depan.
***