Bab 5. Sabun aroma lavender

1002 Words
Gerakan tangan Iloya yang tengah mengelus d**a Rainer sontak terhenti begitu mendengar ucapan Rainer. Iloya mendengkus sebelum mendorong d**a yang tadi dia elus mesra agar si empunya menjauh. Dia kesal, tapi kenapa pipinya malah terasa panas. Kurang ajar, gara-gara ucapan Rainer barusan otaknya jadi traveling memikirkan yang iya iya. Rainer merasa puas dalam hatinya saat melihat pipi Iloya memerah. Dengan santai dia berbalik badan sehingga memunggungi Iloya dan menghadap ke arah pemandian. Dengan gaya elegan, Rainer membuka jubah kebesarannya lalu membuangnya sembarangan. Di tubuhnya masih terdapat pakaian hitam terbuat dari bahan satin dengan celana panjang. Perlahan tangannya terangkat membuka kancing baju satu-persatu, lalu melepaskannya hingga terjatuh di dekat kakinya. Di belakang, Iloya deg-degan sendiri menyaksikan Rainer membuka satu-persatu bajunya. Dia ingin menutup mata, tapi terlalu sayang kalau harus melewatkan kesempatan bisa melihat lekuk tubih indah seorang pria. Maka pilihan Iloya jatuh pada telapak tangan yang menutupi wajah, dengan terbukanya antara jari telunjuk dan jari tengah untuk memberi celah pada matanya agar bisa mengintip. Semua baju ada tiga lapis terhitung empat dengan jubah kebesarannya, Iloya menghitung dalam hati. Dia mendesah kagum melihat punggung lebar milik Rainer, sangat menggiurkan untuk dipeluk. Iloya bahkan sudah menyusut air liurnya yang hampir menetes. Gerakan tangan Rainer yang akan membuka celana terhenti begitu mendengar suara benda jatuh dari arah belakangnya. Dia menoleh singkat kebelakang, ternyata Iloya terjatuh. Setelah itu dengan santai kembali membuka celana, hingga hanya menyisakan celana pendek setengah paha. Rainer masuk ke dalam pemandian dan mendudukan tubuhnya dengan malas. Dengan gerakan tangan, Rainer memberi isyarat agar Iloya mendekatinya. Dengan langkah kaku, Iloya melangkah. Setelah berdiri di dekat Rainer, dia berjongkok untuk menyesuaikan tubuhnya agar sejajar dengan Rainer. "Ya, ada apa?" Rainer menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan mata. "Sabuni dan gosok tubuhku!" Rahang Iloya hampir jatuh saat mendengar nada perintah dari Rainer. Buru-buru dia mengatupkan kembali saat kesadarannya pulih. Ingat! Dia ada di disi untuk meminta perlindungan dari laki-laki m***m yang malasnya Iloya juga mengakui sangat tampan ini, maka perlakukanlah Rainer sebaik mungkin. Walau malas karena masih sayang jantung, Iloya tetap mengambil botol sabun cair beraroma citrus. Ketika ingin menuangkan pada tubuh Rainer, gerakan tangannya terhenti begitu mendengar Rainer menyuruhnya mengganti sabun. "Pakai yang beraroma lavender!" Rainer memerintah dengan masih sambil menutup mata. Iloya melihat botol sabun cair di tangannya, lalu melihat botol lain yang tadi saat dia mandi dipakai untuk menyabuni rambutnya. Apa botol beraroma lavender yang tadi dia sangka sampo adalah sabun mandi? Seketika Iloya meraba rambutnya dan mengusap pelan. Kasihan sekali rambut cantiknya ini sampoan pakai sabun, semoga kamu tidak rontok, ya. Iloya membatin pasrah. Iloya menuangkan sabun beraroma lavender itu pada kain berbulu pengganti spon, lalu mulai menggosok tubuh putih mulus milik Rainer. Melihat kulit putih mulus Rainer, seketika Iloya jadi cemburu. Dia saja yang perempuan kulitnya tidak sebagus laki-laki ini. Apa Rainer diam-diam suka mengoleskan body serum ke tubuhnya? "Hei, kenapa di tubuhmu tidak ada bekas luka sama sekali? Harusnya sebagai seorang Raja, kamu sering meminpin pasukan perang. Apa kamu adalah Raja yang suka berdiam diri dalam istana saja?" Iloya bersungut kesal. Harusnya Rainer mempunyai luka agar pikirannya tidak traveling memikirkan hal yang iya-iya. Ini malah putih mulus, pikiran Iloya jadi terganggu karenanya. Rainer menelengkan sedikit kepalanya agar dapat melihat wajah Iloya. "Maksudmu saya ini Raja pemalas?" Iloya terbatuk sekali, dia pura-pura tidak mendengar perkataan Rainer barusan. Iloya melanjutkan, "sehebat apapun kamu, pastilah ada satu atau dua saja bekas luka di tubuhmu. Nah, ini malah mulus kinclong, bikin cemburu saya saja." Rainer mendengus, "kamu pasti sudah tahu kalu Saya ini manusia serigala. Asal kamu tahu saja, regenerasi sel tubuh manusia serigala lebih cepat dari manusia biasa. Luka apapun itu tidak akan pernah berbekas pada tubuh manusia serigala keculai luka yang disebabkan oleh bubuk api." "Apa itu bubuk api?" Iloya mengernyitkan dahi heran, "maksudmu percikan-percikan yang dihasilkan dari kayu dibakar?" "Bukan, tapi api yang dihasilkan dari pedang perak yang hanya dapat disentuh oleh manusia biasa." Rainer menjelaskan dengan baik walau dia malas. "Oh," Iloya mengangguk paham. Dia berpikiran mungkin maksud bubuk api di dunianya dulu dan di dunia ini berbeda. Mengingat hal yang tadi dia bahas, Iloya menatap Rainer bingung, "dari mana kamu tahu, kalau saya sudah mengetahui kamu adalah manusia serigala? Perasaan waktu itu saya tidak pernah ada bilang kamu manusia serigala?" "Menurutmu, kenapa waktu kita pertama kali bertemu saya menanyakan rupa aslimu?" Rainer menyeringai. "Tentu saja karena saya sudah bilanga dari awal kalau saya bukan Mariana." Iloya mendengus kesal. "Tidak sepenuhnya salah," Rainer memberikan tangan kirinya untuk Iloya sabuni. Dengan patuh Iloya menggeser duduknya agar dapat memudahkannya dalm menjangkau tangan Rainer. "Tapi, lebih tepatnya karena telepati." Rainer menambahkan, "Lagipula aromamu tidak seperti Mariana. Saya sering membeli bunga dari dia, tidak pernah sekalipun saya mencium aroma seperti ini dari aroma Mariana." "Memangnya bagaimana aroma saya?" "Lebih baik kamu tidak mengetahuinya." Rainer menatap malas Iloya sambil tersenyum guyon. Iloya greget sendiri, dia paling tidak suka ucapan menggantung seprti ini. "Katakan saja, sih!" Rainer berbalik badan sehingga sepenuhnya dapat menatap Iloya, dia menarik tangan Iloya hingga wajahnya dan wajah Iloya tepat berada pada garis sejajar. Rainer menyibak rambut basah Iloya yang beraroma lavender, lalu mengendus sensual leher putih milik Iloya. "Kamu mempunyai aroma darah yang disukai para vampir. Setetes darahmu keluar, di manapun saat itu kamu berada, maka itu akan mengundang para vampir datang." Suara serak Riner yang berada di celuk lehernya membuat Iloya merinding, "jadi orang-orang berpakaian hitam waktu itu adalah bangsa vampir?" "Hm, ternyata kamu masih sadar waktu itu." Rainer terus mengendus leher Iloya. Dia begitu ketagihan melakukannya. Aroma Iloya membuatnya gila, dia ingin lebih dari hanya sekedar mengendus saja. Mungkin sedikit mencicipinya bukan masalah. Saat merasa Rainer menjilati lehernya, Iloya berniat menjauhkan lehernya dadi bibir Rainer. Namun, Rainer tidak membiarkan itu. Rainer malah melingkarkan tangannya pada pinggang Iloya dan mempersempit jarak mereka. "A-apa yang kamu lakukan?" Iloya tersentak begitu merasakan gigitan-gigitan kecil di lehernya. Pikirannya sudah melambung terbang. Dia memikirkan hal aneh yang membuatnya sedikit penasaran, apa Rainer ingin meminta jatahnya sekarang? Di pemandian? "Bolehkah saya mencicipi darahmu?" Rainer bertanya disela gigitan-gigitan kecil yang dia lakukan pada leher Iloya. "KYAAAA!" Byurrr ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD