Rainer menatap datar Iloya yang tercebur di depannya. Dia sama sekali tidak ada niatan ingin membantu. Dengan ekspresi malas, Rainer kembali menyandarkan tubuhnya pada tepi pemandian sambil memejamkan mata meresapi rasa hangat dari air panas.
Dengan susah payah karena jubah mandi kebesaran yang dia pakai, Iloya akhirnya dapat berdiri di tengah pemandian. Dia menatap Rainer penuh aura permusuhan, tapi tidak ada keberanian untuk memarahinya.
Rainer membuka matanya sayu, dia melihat Iloya yang sudah berdiri dengan jubah lepek menutupi seluruh tubuhnya kecuali kepala. Iloya percis seperti kucing yang tercebur. Setelah itu, Rainer kembali memejamkan matanya.
Dari awal jubah yang dipakai Iloya memang menenggelamkan tubuhnya, jadi saat dia mau melangkah sekarang, kakinya malah tersandung jubah itu sendiri. Alhasil, badan Iloya jatuh menimpa d**a Rainer yang tengah memejamkan matanya.
Iloya melotot begitu merasakan sebuah benda kenyal nan dingin berada tepat pada sapuan area manisnya. Dia melihat mata Rainer yang perlahan terbuka meampilkan pupil mata kuning keemasan yang begitu indah dilihat saat remang cahaya seperti sekarang.
Masih dengan posisi seperti semula, Rainer mengangkat tangan kanannya dan di daratkan pada belakang leher Iloya. Dia menekan belakang leher Iloya sehingga ciuman tak sengaja itu semakin dalam.
Rainer baru melepaskan ciuman yang hanya menempelkan dua bibir itu saat merasa Iloya sudah kehabisan napas. Begitu wajah keduanya sudah ada jarak, Rainer menyeringai saat tatapannya beradu dengan mata amber milik Iloya. "Jangan tidak adil begini. Kamu dengan diam-diam menciumku, padahal kalau kamu memintanya baik-baik juga pasti dengan senang hati saya berikan."
Bibir Iloya bergetar karena menahan ungkapan keji yang ingin dia lontarkan untuk memaki Rainer. Namun, dia tentu tidak ingin di tendang dari zona nyaman yang sudah dia dapatkan dengan penuh pengorbanan ini. Sebagai seorang hemophobia, tentu penyatuan darah yang waktu itu dia lakuakan bersama Rainer cukup menguras mentalnya.
Iloya menyunggingkan senyuman teramat manis. Namun, Rainer juga dapat melihat sorot matanya menatap dia penuh permusuhan. "Kamu begitu bijak dalam berbicara, setidaknya saya cukup bersyukur karena sudah menikahi laki-laki yang tidak hanya tahu membalikan kata-kata saja."
Rainer terkekeh mendengar sindiran yang Iloya berikan untuknya. "Saya juga bersyukur menikahi wanita bermulut manis sepertimu." Rainer menghadiahi Iloya kedipan mata diakhir ucapannya.
Tok
Tok
Tok
"Maaf mengganggu Yang Mulia Ratu. Apakah Yang Mulia sudah selesai membersihkan tubuh?"
Terdengar suara khawatir Mura dari balik pintu. Refleks Iloya menjauhkan tubuhnya dari d**a Rainer. Dia melotot ganas pada Rainer yang masih betah merendam tubuhnya, "apa kamu tadi datang bukan lewat pintu?"
Dengan malas Rainer mengangguk.
"Yang Mulia, apa terjadi sesuatu?"
Kini suara Misaki yang terdengar khawatir membuat Iloya gelagapan ingin segera naik ke permukaan. "Saya baik-baik saja," Iloya membalas dengan sedikit meninggikan suaranya.
"Bolehkah kami masuk?"
"Jangan! Saya sebentar lagi keluar."
Iloya berteriak panik. Dengan jubah kebesarannya, nyatanya Iloya kesusahan walu hanya untuk melangkah dalam air. Kelakuannya itu membuat Rainer yang menyaksikannya terkekeh mentertawakan penderitaan yang dialami Iloya.
"Selain tertawa, apa kamu juga bisa membantuku mengangkat jubah berat ini?" Iloya menunduk kebawah sambil mengangkat sedikit jubah yang dia kenakan.
"Imbalan apa yang akan kamu berikan untukku?" Rainer menaikan sebelah alisnya.
"Kamu meminta imbalan?" tanya Iloya tak percaya. "Kalau bukan karena ucapanmu yang main-main ingin mencicipi darahku, saya tidak akan terkejut dan berakhir tercebur di pemandian dengan jubah besar dan berat ini."
"Lalu kamu menyalahkanku?" Rainer menggeleng pelan. "Kalau jubah itu berat, kenapa tidak kamu lepaskan saja?" Rainer mengusulkan dengan enteng. Ekspresi polosnya membuat tangan Iloya gatal ingin menabok bibir Rainer.
"Maksudmu saya telanjang di depanmu?" Iloya melotot galak. Bibirnya tambah bergetar karena sudah tidak tahan ingin mengeluarkan makian sebanyak-banyaknya untuk Rainer.
Masih dengan ekspresi polos, Rainer mengangguk. "Itu dapat memudahkanmu bukan?"
Iloya menarik napas, lalu membuangnya perlahan. Berkali-kali dia merapalkan kata sabar dalam hatinya agar tidak kelepasan menyebut Rainer laki-laki kurang ajar yang pantas disamakan om om hidung belang perayu daun muda. Tidak etis saja, masa dia yang istrinya menyebut Rainer sang suami begitu. Apa kata dunia.
Setelah dirasa kesabarannya pulih, Iloya menampilkan senyuman manis, "kamu sendiri tahu 'kan kalau saya ini sebelumnya orang melarat, jadi imbalan seperti apa yang kamu mau dari orang seperti saya?"
Rainer melebarkan seringaiannya, "cium saya."
Iloya mengepalkan kedua tangannya kuat yang berada di kedua sisi tubuhnya. Hatinya jengkel dengan tingkah menyebalkan Rainer. Namun, wajahnya tetap dipaksa untuk tersenyum. "Apa gak ada imbalan yang lainnya selain kamu saya cium?"
Rainer menggeleng.
"Yang Mulia, kenapa lama sekali? izinkan kami masuk! Kami takut terjadi sesuatu pada Yang Mulia."
Iloya menggertakan gigi kesal, "tunggu!"
Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya Iloya mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Rainer. Dia menumpukan kedua telapak tangannya pada d**a Rainer, setelah itu Iloya sedikit memiringkan wajahnya dan mulai menempelkan bibirnya pada bibir Rainer. Dan di saat itu pula pintu terbuka menampilkan Mura dan Misako yang menutup mulut terkejut dengan mata melotot.
Spontan Iloya mejauhkan wajahnya dari wajah Rainer. Dia melotot ganas pada dua orang pelayannya yang tidak sabaran. Setelah itu dia melirikan pandangan ganasnya pada Rainer yang tengah menarik senyuman lebar.
Seolah mengerti arti tatapan ganas Iloya, dengan gerakan tangan Rainer memberi isyarat pada Mura dan Misako agar meninggalkan mereka berdua tanpa melihat ke belakang.
Dengan menunduk hormat, Mura dan Misako mundur teratur meninggalkan Rainer bersama Iloya di ruang pemandian.
Kepergian dua orang pelayan itu langsung menciptakan atsmofer tidak senang yang Iloya ciptakan. Rainer mengangkat alis sebelah karena merasa dari tadi Iloya terus menatapnya tidak baik. "Ada apa?"
Iloya mendengus "Tidak." Dia membuang muka kesal, "cepat bantu saya keluar dari air ini!"
Rainer berdiri, tanpa basa-basi dia mengangkat tubuh Iloya ke gendongannya seolah beban baju yang Iloya pakai berpuluh kilo karena banyaknya air yang terserap hanya seringan kapas.
Iloya sendiri tidak dapat berbuat banyak, dia hanya dapat menyandarkan kepalanya pada pundak Rainer dengan pasrah selagi Rainer membawanya keluar dari dalam air.
Rainer mendudukan Iloya di atas ranjang, sedangkan dirinya masih menggunakan celana dalam setengah paha. Rainer tersenyum guyon, "apa perlu bantuanku juga untuk mengganti bajumu Ratuku?"
"Terima kasih atas perhatian Rajaku, tapi kalau untuk mengganti baju saya masih bisa melakukannya sendiri." Iloya tersenyum kaku.
"Baiklah, sepertinya kamu butuh waktu tanpa saya." Setelah mengambil jubah mandi yang lain, Rainer keluar dari dalam kamar.
Sekepergiannya Rainer, Mura dan Misako masuk ke dalam. Mereka menunduk takut karena dipelototi oleh majikannya. Mereka kira dengan wajah manis dan elok rupa yang cantik seperti itu, Ratu mereka tidak akan pernah memasang wajah ganas seperti sekarang. "Ma-maaf Yang Mulia Ratu, hamba tidak tahu kalau Yang Mulia sedang bersama Yang Mulia Raja di dalam pemandian."
Iloya mendengus terlanjur kesal, jadi saat Mura dan Misako bergetar ketakutan dia hanya mendiamkannya dan sama sekali tidak ada niatan untuk menenangkan ketakutan mereka.
"Cepat carikan baju!" Iloya memerintah dengan nada ketus.
Tersentak, buru-buru Mura dan Misako bergegas mengambil gaun mengembang berwarna biru muda yang tadi sudah mereka persiapkan saat Iloya di pemandian.
Dalam diam Mura dan Misako mendandani Iloya sampai selesai. Setelah selesai, mereka berdua tertegun. Ternyata selain manis dan cantik, Ratu mereka juga sangat menawan. Berbeda dari pertama kali Iloya datang ke istana dengan ke adaan tak sadar. Mungkin karena baju yang sederhana juga kotor, jadi kecantikannya tidak begitu terlihat.
"Yang Mulia Ratu cantik sekali, pantas saja Yang Mulia Raja tidak pernah mengangkat Ratu ataupun selir selama ini, ternyata sudah punya wanita secantik dan semenawan Ratu."
Pujian Misako barusan membuat Iloya yang sama sedang mengagumi pantulan dirinya di cermin sontak melotot horor ke arah Misako.
"SELIR?"
***