Mendengar nada tinggi sang Ratu, Mura dan Misako bergetar ketakutan karena menyangka Ratunya marah. Sontak Mura dan Misako berlutut meminta ampun.
"Ampuni kami Yang Mulia Ratu, kami tidak tahu kalau Yang Mulia akan marah saat saya membicarakann selir Raja." Misako berbicara sambil diselingi isakan takut. Dia begitu menyesal, apalagi kini Ratu mereka tidak menanggapi ucapannya dan malah terbengong sendiri.
Iloya memekik senang setelah mengatakan 'ah' seolah ada lampu dalam kepalanya.
Mura dan Misako yang tadinya ketakutan karena melihat raut horor wajah ratunya sontak saling pandang. Mereka tidak mengerti, kenapa saat ini ratunya malah terlihat senang?
Iloya menatap pelayannya yang tengah berlutut satu persatu, kemudian dia mengernyit, "ngapain kalia berdua berlutut begitu?" Tanyanya heran.
"Yang Mulia Ratu tidak marah?" Mura balik bertanya dengan bingung yang langsung diangguki Misako.
"Ngapain marah, justru kalian sudah memberi pencerahan. Patutnya kalian diberi hadiah, tapi apa ya?" Iloya melihat sekelilingnya, dirasa tidak ada barang yang cocok untuk diberikan pada kedua pelayannya, Iloya melemaskan bahu.
Melihat wajah murung sang ratu, buru-buru Mura angkat bicara. "Yang Mulia Ratu tidak perlu memberi kami hadiah apa-apa. Bisa melayani Yang Mulia Ratu saja sudah merupakan hadiah terbesar bagi kami berdua."
"Benar, Yang Mulia Ratu," Misako ikut menambahkan.
"Padahal saya ingin memberi kalian hadiah." Iloya cemberut karena sadar tidak bisa memberikan kedua pelayaannya apa-apa, paling tidak saat ini. Iloya tentu sudah memikirkan masa depannya di dunia baru ini. Dia sudah memutuskan akan menjadi wanita kaya raya dan banyak penghasilan.
"Tidak apa-apa Yang Mulia Ratu." Mura dan Misako menjawab serempak. Mereka berdua sangat terharu karena Ratu mereka sampai kesusahan memikirkan ingin memberi mereka hadiah yang hanya pelayan rendahan.
Selama ini mereka hanya dipandang b***k pesuruh saja, tidak ada yang benar-benar menghargainya. Mendapati titah untuk melayani sang Ratu, Mura dan Misako tidak bisa menggambarkan kebahagian seperti apa yang mereka rasakan saat itu. Ditambah sekarang Ratu mereka malah juga memperlakukan mereka layaknya manusia biasa, Mura dan Misako tidak dapat untuk tidak merasa amat bahagia.
Mereka berjanji akan sertia pada Ratunya apapun yang terjadi di masa depan.
Melihat sekali lagi penampilannya di cermin, Iloya mengangguk puas. Hanya saja korset di perutnya sedikit mengganggu jalan pernapasannya. Namun, itu bukan masalah selama dia belum makan apa-apa. Setidaknya untuk saat ini dia berpikir begitu.
Begitu Iloya dihadapkan pada berbagai aneka macam hidangan yang hanya dengan melihatnya saja sudah meneteskan air liur, seketika Iloya merasa korset di perutnya begitu jahat. Iloya hanya dapat makan sedikit, selebihnya dia melihat Rainer yang makan dengan anggun.
Rainer yang ditatap dengan wajah nelangsa oleh Iloya mau tidak mau menghentikan acara makannya. Setelah mengelap bibirnya menggunakan serbet yang tersedia, Rainer menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Apa makanan di sini tidak masuk pada cita rasa lidahmu?" Rainer bertanya.
Iloya menatap makan di atas meja, lalu menatap sedih perutnya yang terpasang korset. "Perutku tidak muat memakan makanan yang lezat ini."
Rainer melirik perut Iloya yang terlihat lebih kurus, dia mendengus tak habis pikir. Kalau membuat diri kesusahan, kenapa korset itu harus dipakai. Begitulah isi pikiran Rainer mengenai korset yang terpasang di perut Iloya.
"Keluar!"
Semua pelayan dan pengawal yang berjajar rapi keluar dari ruang makan dengan teratur. Iloya sampai menggeleng takjub, hanya dengan satu kata semua bawahan Rainer mengerti maksud ucapan Rajanya.
Setelah mengetahui semua pelayan serta pengawal keluar, Rainer menatap Iloya. "Buka saja korsetnya!"
"Di sini?" Iloya melotot shok.
"Ya, lagi pula tidak ada orang lain selain saya di ruangan ini." Rainer berucap enteng.
"Kamu," Iloya hampir mengacungkan jari telunjuk ke depan wajah Rainer kalau tidak keburu ingat dia menggantungkan keselamatan hidupnya di dunia ini padanya.
Rainer menaikan sebelah alisnya menunggu Iloya melanjutkan ucapannya.
"Kamu..., kamu memang bijak dalam memberi solusi. Ho ho ho," Iloya tertawa kaku.
Rainer menarik salah satu sudut bibirnya begitu Iloya perlahan berdiri dan tangannya mulai menggapai resleting belakang bajunya. Namun, karena resleting itu berada di belakang, Iloya kesusahan menurunkannya. Akhirnya dia hanya sebentar menggapai resleting, kemudian raut wajahnya seperti orang tengah menahan kesal.
Rainer menopang malas dagunya menggunakan sebelah tangan. Dia menatap Iloya sayu, "Perlu bantuan?"
Inginnya Iloya menolak mentah-mentah tawaran Rainer. Namun, bibirnya tidak dapat berdusta karena dia memang membutuhkan bantuan Rainer guna menurunkan resleting yang berada di belakang punggunya. "Ya, bisakah kamu membantuku?"
Rainer berdiri dan mulai mengitari meja untuk menghampiri Iloya. Setelah dia berdiri di belakang tubuh Iloya, Rainer mulai menurunkan resleting baju perlahan. Begitu punggung atas sampai bawah Iloya terpangpang, aroma Iloya langsung menguar dan terasa nikmat di penciuman Rainer. Rainer mengendusnya sebentar, lalu mulai membuka korset dan membuangnya sembarangan.
Setelah korset tidak menekan perutnya lagi, Iloya menghirup udara sebanyak-banyaknya. Namun, belum lama dia bernapas lega, sentuhan tangan Rainer pada punggungnya yang terbuka, membuat dia menegang sekaligus merinding secara bersamaan.
Rainer hampir kehilangan akal dan hendak menggigit leher Iloya kalau saja tidak ada deheman keras dari arah pintu ruang makan. Setelah kesadarannya pulih, cepat-cepat Rainer menutup kembali resleting baju Iloya. Dia menoleh ke arah sumber deheman, ternyata itu Yakuya Tazakiya sepupu Rainer sekaligus penasehat kerajaan bangsa serigala.
Iloya juga ikut menoleh pada orang yang berdehem tadi. Dia langsung berdecak kagum, melihat ketampanan tak terkira milik laki-laki yang berjalan mendekati meja makan. Kalau Rainer tampan berkarismatik, laki-laki ini berwajah cantik yang maskulin.
"Hai, salam kenal. Saya Yakuya Tazakiya sepupunya Rainer sekaligus penasehat kerajaan bangsa serigala, kamu pasti Mariana, atau bisa kupanggil Iloya mungkin?" Yakuya mengedipkan sebelah matanya disertai senyuman menggoda.
Iloya melirik Rainer, dia berpikir pasti Rainer sudah memberitahukan identitasnya pada laki-laki cantik ini. "Ya, salam kenal juga, em, Kak Yakuya." Iloya menyebutkan panggilannya untuk Yakuya dengan malu-malu.
Yakuya makin melebarkan senyumannya saat merasakan aura suram dari arah sampingnya. Tidak perlu dia melihat pun, Yakuya sudah tahu itu siapa.
"Oh, manisnya adik kecil kakak ini." Yakuya senang mempermainkan Rainer, dia malah makin menjadi. Jarang-jarang dia melihat Rainer mengeluarkan ekspresi berlebih seperti sekarang. Biasanya hanya wajah datar atau paling tidak seringaian.
Iloya tersipu malu saat disenyumi semanis itu oleh Yakuya. Hatinya meleleh. Sudah dikatakan bukan, selain uang, dia juga menyukai laki-laki tampan. Apalagi Yakuya ini mengingatkan dirinya pada arktor korea idolanya yang hampir sama berwajah seperti Yakuya. Glowing dan manis.
"Ada apa kamu datang ke sini?" Rainer bertanya dengan nada teramat datar, membuat Iloya menatapnya tidak paham. Iloya berpikir, bukankah Yakuya ini sepupunya? Kenapa sikap Rainer malah seperti orang yang tidak senang saat dikunjungi saudaranya?
Yakuya melirik Iloya sebentar. Seolah paham dengan isyarat Yakuya, Rainer mengangguk. Dia menatap Iloya yang juga sedang menatapnya. "Makanlah sampai puas, setelah itu kamu dapat berkeliling dengan ditemani dua pelayan yang tadi membantumu."
Iloya mengangguk. Dia melihat Rainer dan Yakuya yang berjalan keluar dari ruang makan. Iloya menatap mereka penasaran. Namun, memilih mengabaikannya. Mungkin ada urusan kerajaan yang perlu diobrolkan, begitulah pikiran Iloya sebelum dia kembali meneruskan makannya yang sempat terhenti karena urusan korset.
***