Bab 8. Parfum pelemah saraf bangsa vampir

1202 Words
"Ada apa?" Begitu pintu ruang kerja tertutup dari dalam, Rainer langsung menanyakan tujuan Yakuya menemuinya. Yakuya bukan orang yang akan menemuinya langsung jika tidak ada hal penting dan mendesak. Yakuya lebih suka mengirim ajudannya atau paling tidak menulis surat yang dikirimkan elang putih miliknya untuk menyampaikan pesan biasa mengenai masalah kerajaan padanya. Mendapati Yakuya datang sendiri, Rainer tidak dapat untuk tidak menanggapinya serius. "Mereka sudah mengendus sampai ke wilayah kita." Yakuya menatap Rainer serius. "Namun, beruntungnya mereka tidak tahu kalau pemilik darah istimewa itu istrimu sekarang." Rainer terdiam. Namun, pupil matanya yang kuning keemasan sekilas berubah menjadi sewarna dengan rambutnya yaitu perak pertanda kalau saat ini dia sangat marah. Yakuya melanjutkan, "tapi kamu tenang saja. Berhubung mereka belum mengetahui kalau Iloya sang pemilik darah istimewa itu, kita masih bisa mengecoh mereka dengan menyamarkan bau Iloya menggunakan parfum khusus buatan madam Ganarawi. Parfum itu sangat ampuh, sekaaligus dapat melumpuhkan saraf-saraf penciuman bangsa vampir walau untuk sementara." "Mana parfum itu?" Yakuya mengeluarkan sebuah botol kristal cantik dari balik bajunya, lalu memberikannya pada Rainer. Rainer mengendusnya sebentar, dia mengernyit karena merasa ada yang aneh. "Parfum ini kamu bilang bisa melumpuhkan saraf-saraf penciuman bangsa vampir, kenapa ini tidak bekerja untuku?" Yakuya melihat botol kristal di tangan Rainer penuh arti, "selain darah vampir, dalam tubuhmu juga mengalir darah serigala. Parfum itu dibuat ada campuran darah serigalanya, sengaja agar kamu tidak terkena imbas saat berada dekat di sekitaran Iloya." Rainer menyeringai senang. Dia menatap puas botol kristal di tangannya. Dengan parfum ini, bangasa vampir tidak akan bisa mengetahui siapa pemilik darah istimewa itu. "Kerja bagus, Yakuya." Yakuya mengangguk. Apapun akan dia lakukan demi memastikan Rainer tetap aman. Bukan karena Rainer adalah seorang Raja bangsa serigala, melainkan karena Rainer juga satu-satunya anggota keluarga yang saat ini dia punya. Kalau bukan karena Rainer yang dulu menolongnya saat bangsa vampir menyerang kediaman keluarga Tazakiya, Yakuya saat ini sudah dipastikan tidak akan menginjakan kaki di istana ini. Rainer sampai harus kehilangan kedua orang tuanya demi menyelamatkannya. Makanya sampai saat ini dan seterusnya, Yakuya tidak akan pernah meninggalkan Rainer apapun yang terjadi. "Oh, iya. Katanya kemarin saat kamu mendadak menikahi Iloya, sebelumnya niatmu adalah menemui putri Clarissa. Apa kamu tidak sempat bertemu dengannya?" "Tidak. Saya tidak butuh lagi dia karena sudah ada Iloya yang lebih bermanfaat. Berlian di depan mata, kenapa harus susah payah menggapai kerikil yang ada di jalanan?" Rainer berkata enteng. Selama ini dia memang sengaja mendekati Clarissa demi mendapatkan informasi mengenai keluarga kerajaan bangsa vampir. Namun, saat orang yang bangsa vampir cari-cari selama ini ada di depan matanya, kenapa dia harus bersusah payah lagi pura-pura melakuakan pendekatan pada Clarissa? Rainer tentu mengetahui kenapa bangsa vampir begitu menginginkan darah istimewa, tentu saja agar kekuatan mereka bertambah berkali lipat. Selama ini orang terkuat di dunia ini adalah dirinya. Namun, terkuat bukan berarti bisa merampas kekuasan bangsa vampir. Kekuatan bangsa vampir memang berada di bawahnya saat ini, tapi kalau kekuatan bangsa vampir di gabungkan, tentu dia akan mengalami kekalahan juga karena bangsanya tidak sebanyak bangsa vampir saat ini. Rainer selam ini sengaja menyamar menjadi seorang ksatria bebas alias tak terikat kontrak dengan kerajaan manapun demi mendapatkan informasi mengenai pemilik darah istimewa itu. Satu-satunya yang dapat dia jadikan bahan mendapatkan informasi adalah putri Clarissa tunangan sang pangeran Dar. "Kamu memang b******k!" Yakuya terkekeh menertawakan kelakuan Rainer yang dengan mudahnya mempermainkan wanita. "b******k?" Rainer menaikan sebelah alisnya, "kamu menyebut dirimu sendiri." Yakuya memang seorang pemain wanita. Dengan dukungan wajah mempesona, tidak sedikit wanita yang rela mengangkang di antara kedua kakinya demi mendapat sentuhan darinya atau sekedar uang. "Sialan, kamu memang sangat mengetahui diriku." Yakuya tertawa renyah seolah hinaan tadi adalah suatu hiburan yang menyenangkan. "Kamu mau ke mana?" Yakuya bertanya saat melihat Rainer sudah berjalan hendak keluar dari ruangan. "Memberikan botol ini pada Iloya, memangnya apa lagi?" Secepat kilat Yakuya merebut botol kristal yang da di tangan Rainer. Dia beralari santai sambil mengacungkan tangan yang memegang parfum botol kristaal. "Biar saya yang memberikannya." Yakuya berteriak saat tubuhnya sudah mulai menghilang di balik tembok. Kalau Rainer yang sedang kesal, maka beda lagi dengan Iloya yang tengah bahagia. Setelah korset pengganggu itu lepas, Iloya makan dengan lahap sampai makanan yang memenuhi meja tinggal sisa sedikit pada masing-masing bagian. Iloya bukan rakus, dia menyebut dirinya penyuka makanan. "Waw, kamu sungguh hebat dapat menghabiskan hampir semua makanan di atas meja." Yakuya menggeleng takjub. Dia melirik perut Iloya yang agak mengembung, ingin tertawa tapi dia tahan. Dengan suaranya saja, Iloya sudah mengetahui itu Yakuya. Merapikan sedikit penampilannya, Iloya berdiri dan berbalik badan. Dia tersenyum malu-mlu, "saya memang penyuka makanan. Kalau mereka tidak habis saya makan, nanti mereka menangis karena mubazir. Kasihan 'kan?" Yakuya sekarang benar-benar tertawa mendengar pelesetan ucapan Iloua yang tidak mau menyebut dirinya rakus. "Kamu kasihan pada makanan, tapi tidak kasihan pada perutmu." Melihat Yakuya melirik perutnya prihatin, dengan bangga Iloya menepuk-nepuknya. "Mereka bahagia karena akhrinya dapat makan banyak dan enak. Selama ini mereka hanya makan sedikit karena harus menghemat uang." Yakuya sedikit menyurutkan senyumannya. Dia mengerti apa yang Iloya maksud bahwa kehidupan Iloya sebelum masuk ke dalam tubuh Mariana adalah orang yang susah. Tidak ingin membuat suasana menjadi sedih, Yakuya mengasongkan botol parfum kristal yang tadi dia rebut dari Rainer. "Ini untukmu." Iloya menerimanya, setelah mengendusnya sebentar dia dapat tahu botol apa itu. "Parfum?" "Ya, parfum wangi untuk gadis cantik." Yakuya mengedipkan sebelah matanya disertai senyuman manis. Iloya silou kalau melulu harus menerima senyuman manis dari Yakuya. Dia bahkan dapat melihat kerlap-kerlip bintang di sekitaran Yakuya. Namun, telapak tangan besar segera menutup hampir keseluruhan wajahnya yang kecil sehingga menutupi pandangannya pada Yakuya. "Berani memandang Yakuya dengan pandangan kagum sekali lagi, saya pastikan kamu dapat hukuman yang membuatmu jera. Mengerti?" Mendengar bisikan dari belakang telinganya, sekujur badan Iloya menegang kaku. Buru-buru dia mengangguk sebelum orang yang memeluknya dari belakang itu menerkam habis dirinya. "Bagus!" Akhirnya Iloya dapat kembali melihat saat telapak tangan yang menutupi wajahnya menghilang. Dia melirik ke samping, di mana Rainer masih betah memeluk tubuhnya. Ingin sekali Iloya menyikut perut Rainer, tapi tentu saja dia tidak akan melakuakan itu. Selain masih sayang diri, Iloya juga tidak ingin Rainer mengancamnya lagi seperti barusan. Bukan apa-apa kalau hukumannya hanya menyapu atau mengelap lantai, tapi kalau hukumannya berupa Rainer menghisap darahnya, Iloya pasti sudah pingsan duluan. Yakuya tertawa melihat keposesifan Rainer pada Iloya. Dia tahu hanya dengan melihat kiltaan pada mata sepupunya itu, hanya menunggu waktu Yakuya akan dapat melihat binar cinta di mata Rainer. "Urusanmu di sini selesai, cepat pergi dan jangan mengganggu kami lagi!"dengan sadis Rainer mengusir Yakuya yang sudah berbaik hati datang menemuinya. Yakuya mencibir pelan. Namun, sejurus kemudian dia kembali tersenyum manis saat matanya kembali memandang Iloya. "Jangan lupa parfumnya dipakai di setiap hari. Itu parfum khusus wanita cantik, kalau kamu memakainya, wanginya akan menempel sepanjamg hari." Iloya melirik botol parfum di tangannya, sejujurnya dia tidak begitu menyukai parfum. Namun, setelah mengendusnya dan parfum ini beraroma lavender, Iloya merubah pendapatnya mengenai ketidaksukaannya menggunakan parfum. "Saya pergi dulu. Mengenai informasi terbaru, saya akan mengabari kamu secepat mungkin." Setelah mendapat anggukan dari Rainer, Yakuya menoleh ke arah Iloya. Dia melambaikan tangan, "sampai jumpa lagi Iloya." Ketika Iloya hendak mengangkat tangan guna membalas lambaian tangan Yakuya, suara geraman dari arah belakangnya mengurungkan niatnya. Iloya hanya dapat tersenyum saat mengiringi kepergian Yakuya. "Jangan terus menatapnya! Mau kucongkel matamu?" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD