Bab 1. Mimpi Buruk
Oueekk... oueekk....
Oueekk... oueekk....
--------------------
Luna terbangun dan segera duduk. Napasnya terengah-engah dengan keringat membanjiri tubuhnya yang masih gemetar hebat di atas kasur. Selalu mimpi yang sama. Sudah beberapa bulan ini Luna mendengar suara itu di mimpinya. Suara seorang bayi yang sedang menangis keras.
Luna menangkupkan wajahnya di atas lutut yang ditekuk ke atas. Ia menangis terisak. Merasa bersalah pada dirinya sendiri.
Dia tak sanggup menahannya lagi. Ini terlalu berat, tapi haruskah dia menyerah setelah sekian lama berkorban untuk semua yang dimiliki saat ini?
Rasanya seperti berada di sebuah persimpangan yang mengharuskannya memilih ke arah mana tujuannya dan semua memiliki ujung ceritanya sendiri.
Ingin ikut menyalahkan orang lain atas apa yang dialaminya, tapi untuk apa? Tak ada gunanya. Orang itu bahkan tak tahu apa yang terjadi padanya. Bahkan juga tak permah tahu apa yang sudah dilaluinya hingga sekarang. Mungkin juga tak pernah berpikir untuk sekedar mencari tahu apakah dia masih hidup ataukah sudah tiada.
Jika ditilik jauh ke belakang, seseorang itu memiliki peranan besar atas apa yang terjadi dalam hidupnya sekarang.
Luna mengatur napasnya kembali. Mencoba untuk tenang. Airmatanya sudah berhenti mengalir. Isaknya sudah tak terdengar lagi. Mungkin sudah merasa lebih baik.
Luna mengangkat kepalanya, menatap nanar sekelilingnya. Baru menyadari kalau dia begitu kesepian di dalam kamar yang berukuran cukup luas. Tak ada orang lain disana untuk menemaninya atau untuk sekedar menepuk bahunya dan memberinya semangat.
Luna menarik nafasnya dalam kemudian menghembuskannya lagi dengan pelan. Ia mencoba untuk kembali tidur. Tapi hal itu sepertinya sangat sulit umtuk dilakukan. Matanya seperti tak ingin tertutup lagi. Mungkin rasa takut di hatinya masih belum hilang. Ia mencoba berkompromi dengan otaknya. Karena besok, ada setumpuk pekerjaan yang menunggunya.
Adalah Luna Abigail, seorang wanita single berusia dua puluh tujuh tahun, pemilik The Luna Cafe. Ia baru saja kembali ke Indonesia setelah selama empat tahun lebih berada di London, Inggris untuk menyelesaikan studinya.
Luna memulai usahanya dari nol. Awalnya ia menjalankan usaha itu hanya dengan setengah hati. Hanya untuk membuatnya melupakan semua hal yang menyakitkan dalam hidupnya.
Luna berulang kali menolak ajakan untuk tinggal bersama orangtuanya di Bandung. Bukan karena keluarganya tak menyayanginya atau ingin mengekang hidupnya. Tapi karena Luna tak ingin keluarganya mengalami kesulitan. Sehingga ia memutuskan untuk tinggal di Jakarta, jauh dari mereka.
Dengan sisa uang di rekeningnya, Luna berhasil membeli sebuah apartemen di bilangan Jakarta. Memulai hidupnya dari sana dengan memanfaatkan uang yang masih dikirimkan orangtuanya setiap bulan.
Tapi itu tak cukup untuk membuktikan pada keluarganya bahwa ia baik-baik saja. Dengan bantuan modal awal dari Diandra, Luna berhasil membuka usaha pertamanya, The Luna Cafe. Namun mempercayakan Starla untuk menghandel usahanya itu. Bersama dua orang sahabat wanitanya, Diandra dan Starla Hermawan, kini The Luna Cafe memiliki beberapa cabang di tempat lain hanya dalam waktu lima bulan.
==============
Pukul sembilan lebih empat puluh menit. Sebuah mobil sedan putih terlihat pakir di halaman depan sebuah bangunan berlantai dua dengan desain minimalis. Seorang wanita cantik berkulit kuning langsat dan berambut hitam panjang, terlihat keluar dari mobil dan berjalan anggun masuk ke dalam cafe. Melihat karyawan yang tengah sibuk, karena The Luna Cafe akan segera dibuka tepat pukul sepuluh pagi.
"Selamat pagi semuanya." Luna menyapa semua karyawannya.
"Selamat pagi bu," jawab mereka serentak.
"Saya ingin semuanya bekerja dengan baik hari ini. Seperti biasanya, saya ingin semua terlihat bersih dan rapi. Lantai dua tolong dicek, saya ingin semuanya sudah beres dalam lima belas menit. Kebersihan toilet tolong dicek, saya tidak ingin ada customer yang komplain karena toiletnya kotor. Bagian dapur, tolong jaga kebersihan dapur, juga kerjanya jangan lelet. Jangan sampai customer komplain terlalu lama menunggu pesanan. Saya mohon kerjasama yang baik dari kalian semua. Semoga hari ini The Luna Cafe ramai. Yuk semuanya semangat." Luna mengepalkan tinjunya ke udara saat breafing pagi yang selalu dilakukannya sesaat sebelum cafe dibuka.
"Semangat," sahut mereka lagi.
Luna mulai mengitari seluruh ruangan cafe. Memeriksa setiap divisi dan memastikan semuanya berjalan sesuai harapannya. Tangannya mulai menyapu semua meja, memastikan semuanya dalam keadaan bersih. Lalu ikut menata kursi di bagian depan. Luna berjalan keliling, memastikan semua persiapan telah sempurna.
"Gimana Nin? Apa persediaan kita masih cukup?" Tanya Luna pada Nina, karyawan yang bertanggung jawab di bagian dapur.
"Untuk minuman dan makanan kering masih ada stok bu untuk satu minggu ini. Tapi untuk buah dan sayur, sepertinya kita harus membeli yang baru. Bumbu dapur juga ada yang hampir habis. Makanan beku, Udang dan daging juga tinggal sedikit, ada beberapa juga yang harus di restock bu" kata perempuan itu.
"Jangan lupa untuk cek stok harian ya Nin. Lalu kamu laporkan pada bu Starla, biar Starla bisa langsung meminta suplier untuk mengirimkan bahan-bahan yang baru yang kamu butuhkan itu."
"Baik bu."
"Jika kamu kewalahan, kamu bisa minta yang lain buat bantu kamu di sini. Apa kira-kira kita masih butuh juru masak baru buat bantu kamu?"
"Sepertinya tidak usah dulu bu, karena sudah ada dua orang yang membantu saya memasak, ada satu orang di bagian mencuci piring dan satu lagi orang di bagian minuman."
"Sepertinya itu cukup, tapi kalau kamu masih butuh bantuan, kamu bisa minta tolong teman yang lain untuk bantu kamu."
"Baik bu," Nina menganggukan kepala.
Luna meninggalkan dapur, kemudian berjalan ke meja kasir. Melihat seorang perempuan muda tengah bersiap dengan sederet benda elektronik di depannya. Tangannya tampak menekan beberapa tombol di depannya.
"Gimana Yul? Apa ada masalah?"
Perempuan bernama Yuli itu menoleh. Sepertinya terkejut saat menyadari Luna sedang berdiri di belakangmya. Tetapi dengan cepat ia menguasai dirinya kembali.
"Ah, tidak ada bu." Dia tersenyum.
"Setelah selesai, laporan semalam tolong antar ke ruangan saya ya."
"Baik bu."
"Oya, kamu ada lihat Starla nggak? Dari tadi kok belum kelihatan ya?" Tanya Luna, matanya mengitari seluruh tempat itu.
"Sepertinya belum datang bu," sahut Yuli pelan. Matanya ikut mencari sosok Starla di ruangan cafe.
"Kalau Starla datang, tolong katakan padanya kalau saya menunggunya di ruangan saya."
"Baik bu." Yuli mengangguk.
Luna berlalu dari meja Yuli menuju ruangannya sendiri. Duduk di kursi kebesarannya di balik meja kerjanya. Menyandarkan kepalanya, lalu memejamkan matanya.
Tok..tok..tok....
Suara ketukan pintu membangunkannya.
"Masuk..." perintahnya.
"Ini bu laporan yang ibu minta tadi," Yuli menyodorkan laporan yang tersusun rapi dalam map plastik.
"Makasih ya. Apa Starla sudah datang?"
"Masih belum bu," sahut Yuli. Perempuan itu membungkuk pamit lalu keluar dari ruangan Luna.
"Kemana sih Starla? Giliran dibutuhkan malah tidak kelihatan." Luna menggerutu pada dirinya.
Tangannya meraih ponsel dari dalam tas. Mengutak-atik isinya. Entah apa yang sedang dipikirkannya sekarang. Yang jelas, Luna tampak gelisah. Dan dia membutuhkan Starla sekarang
Ting...
Terdengar sebuah notifikasi pesan. Luna gegas membuka ponselnya.
[Maaf ya Lun, hari ini aku telat.]
[Kenapa? Apa ada masalah?] Balas Luna.
[Nanti aja aku ceritakan. Aku yakin kamu pasti terkejut, karena aku pun seperti itu. Sekarang aku lagi di jalan menuju cafe.] Isi pesan terakhir dari Starla.
Luna menutup ponselnya. Mengetuk-ngetuk mejanya dengan jari. Pikirannya melayang, memikirkan apa yang akan dibicarakan oleh Starla padanya nanti. Hening.
Sudah lima belas menit, Luna mulai tampak tak sabar. Orang yang sedang dinanti kehadirannya masih belum juga menampakkan batang hidungnya.
Dibukanya laporan yang sedari tadi teronggok di atas meja. Membaca tiap katanya dengan teliti. Ia tak ingin dirugikan hanya karena kurang hati - hati. Susah payah dia membangun usahanya dari nol. Dan hal itu tak akan mungkin terealisasi tanpa bantuan sahabatnya.
Luna mencek kembali semua nota yang ada di tangannya. Memastikan tiap nominal angka yang tertera disana apakah sesuai dengan laporan keuangan harian yang baru dia terima. Kemudian nencantumkan tanda tangan di atasnya.
Luna melirik jam tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh lebih dua puluh lima menit. Itu artinya sudah hampir setengah jam Luna menunggu kedatangan Starla. Dan wanita itu masih belum sampai di kantornya.
Luna bangkit dari duduknya dan meraih tasnya yang tadi dia sampirkan di kursi, tepat saat pintu terbuka dan Starla muncul dari balik pintu.