"Hai Lun, selamat pagi."
Starla tersenyum lebar menampakkan jejeran gigi putihnya, merasa tidak bersalah. Berjalan santai menuju meja kerja Luna, lalu menarik kursi di hadapannya dan mendudukinya dengan senyum yang masih terpatri di wajahnya. Benar-benar sangat mencurigakan, batin Luna.
Luna menatapnya dengan kesal dan kembali duduk di kursinya.
"Dari mana aja? Dari tadi di tungguin, eh munculnya baru sekarang..." tanya Luna jengkel.
"Sabar dulu ibu Luna Abigail yang terhormat, ini masih pagi jadi jangan marah-marah gitu dong." Senyum lebarnya masih belum juga hilang.
"Lagian kamu ditungguin dari tadi kok baru muncul. Dari mana aja anda ibu Starla Hermawan? Katanya tadi udah di jalan, kok lama sampainya?"
Bukannya menjawab, Starla malah tertawa sendiri. Membuat Luna menatapnya heran.
"Kenapa sih? Apanya yang lucu, hah? Cerita dong."
"Coba tebak, aku tadi ketemu sama sapa?"
"Mana aku tau. Emang ketemu siapa sih?"
"Tebak dulu dong..."
"Males ah...udah langsung aja, aku buru-buru nih." Luna mencebikkan bibirnya. Luna pura-pura bangkit bersiap untuk pergi.
"Iya deh. Emang kamu mau kemana sih? Buru-buru amat."
"Aku mau ke Kelapa Gading, mau cek laporan keuangan cafe kita minggu kemarin." Sahut Luna sambil kembali duduk di kursinya.
"Oh, kamu nggak perlu kesana lagi. Ini laporan keuangannya udah aku bawa untuk kamu periksa. Lengkap dengan nota transaksi minggu kemarin." Starla menyerahkan sebuah amplop coklat besar yang masih tertutup rapat ke tangan Luna, yang sejak tadi dia bawa.
"Makasih ya say," Luna tersenyum kecil.
"By the way, kamu tadi mau cerita apa La?" Luna masih penasaran, kenapa sahabatnya itu senyum-senyum saat datang tadi.
"Oh iya, hampir lupa." Starla menepuk keningnya pelan. Lalu kembali cengar-cengir, membuat Luna bertambah penasaran sekaligus kesal.
"Tau nggak sih tadi aku ketemu siapa?" Akhirnya Starla mulai bicara. Luna menegakkan duduknya.
"Gak tau. Emang siapa?"
"Aku tadi ketemu sama tunangan kamu," ujarnya. Membuat mata Luna membulat tak percaya.
"Maksud kamu? Ra-Rska?" Luna berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
"Iya." Starla mengangguk.
"Kamu yakin, La?"
"Hmm..." Starla kembali mengangguk.
"Raka? Di-di mana?"
Seperti tersengat aliran listrik. Jantung Luna serasa melompat ke rongga perut bawahnya, terasa sakit sampai membuatmya sulit untuk bernafas. Sudah lama ia mencari pria itu, tapi tak pernah ketemu. Semua jalan seakan tertutup untuknya. Pria itu seperti menghilang tanpa jejak.
Luna ingat dengan jelas, wajah pias Raka saat Luna mengatakan sesuatu yang ia sengaja rahasiakan dari Raka. Pria itu sangat terkejut mendengarnya, tapi berusaha untuk tetap tersenyum padanya, walaupun sangat jelas terlihat itu sangat dipaksakan. Ya, hari itu adalah hari terakhir mereka bersama, sebelum akhirnya Raka meninggalkan Luna sendirian di apartemen mereka di Lomdon.
"Aku bertemu dengannya di Kelapa Gading, tidak jauh dari cafe kita disana." Namun jawaban Starla seperti tak mendapatkan perhatian Luna.
"Luna." Bentak Starla, berhasil membuat Luna berkedip dan membuyarkan lamunannya.
"Ah, iya. Kenapa La?" Luna mengerjapkan matanya.
"Kamu kenapa sih, Lun?"
"Kenapa emangnya? Aku gak apa-apa kok. Cuma kaget aja dengar kamu bisa ketemu dia." Luna membenarkan duduknya.
"Aku kan udah bilang, kamu pasti terkejut karena aku juga terkejut seperti kamu."
"Kamu tadi bilang ketemu dia dimana?"
"Di Kelapa Gading, nggak jauh dari cafe kita."
"Kelapa Gading?" Luna mengulang perkataan sahabatnya itu.
"Iya," wanita itu mengangguk.
"Tapi dia nggak sendirian." Starla menyambung perkataannya.
"Maksud kamu? Dia sama orang lain? Perempuan?" Matanya membola, rasa penasaran di hatinya meningkat tajam. Detak jantungnya bertalu-talu, menanti jawaban dari wanita di hadapannya.
"Tenang say...dia nggak sama perempuan kok."
"Bukan perempuan? Trus sama siapa?" Ada sepercik harapan dari jawaban Starla, setidaknya pria itu belum menikah. Seperti itulah yang terlintas di pikiran wanita ini tentang pria b******k yang telah meninggalkannya dulu.
"Dia di sana bersama seorang pria. Kamu tau ngga Lun, pria itu tampan banget. Ya kalau aku perhatikan sekilas sih wajah mereka sepertinya mirip. Tapi, temannya itu punya kulit lebih putih dan tubuh yang lebih atletis dan lebih tinggi darinya. Dan lebih tampan dari tunangan kamu itu." Starla mengerjapkan matanya, tersenyum lebar sambil merabai kedua pipinya.
"Hei nyonya Starla Hermawan, sadar dong...suami anda Adiguna Hermawan sedang menunggu kepulangan anda di rumah." Sudut bibirnya terangkat melihat tingkah sahabatnya ini.
"Ish...napa sih Lun? Kan nggak salah kalau kita kagum sama seseorang?" Starla mencebik, pura-pura merajuk.
"Haha....Ya salah lah, kamu kan udah punya suami. Makanya jangan buru-buru nikah dulu bu, kalau masih nggak nahan melihat cowok ganteng di luaran." Luna tertawa mengejek.
"Namanya juga cinta," sahut Starla cepat.
"Kalau cinta jangan ngelirik yang lain dong, entar kalau suami kamu lihat kan bisa cemburu," jawab Luna tak mau kalah.
"Unfedah banget deh ngomong sama kamu, Lun."
"Hahaha... ya udah aku minta maaf deh sama kamu," Luna tertawa melihat ekspresi sahabat ini.
"Oya, La. Tadi kamu sempat bicara nggak sama Raka?" Luna tetiba teringat sesuatu.
"Enggak."
"Apa mereka nggak lihat kamu tadi?"
"Seharusnya sih lihat, karena aku sempat manggil Raka juga tadi."
"Trus dia noleh?"
"Iya, tapi langsung pergi gitu aja. Apa dia nggak ingat ya sama aku?" Starla menerka-nerka. Aneh memang, karena mereka juga sahabat dekat. Bahkan Starla ada disana saat temennya itu bertunangan.
"Mungkin dia lagi buru-buru kali ya Lun?" Tanya Starla. Luna hanya mengedikkan bahunya
"Apa kamu nggak lihat kemana mereka pergi?" Tanya Luna penasaran.
"Lihat sih. Mereka tadi masuk ke Apartemen Kelapa Gading. Aku hanya bisa melihat mereka masuk sampai loby apartemen saja."
"Kenapa? Apa kamu nggak ikut masuk?"
"Ya nggak bisalah. Soalnya waktu aku mau masuk, security apartemen itu melihat ke arah ku terus, kayak curiga gitu. Jadi aku pura-pura jalan trus langsung pergi dari sana." Jelasnya panjang lebar.
"Apa mereka tinggal disana ya La?"
"Entahlah..." Starla mengangkat bahunya. Dia sendiri pun tidak yakin. Kalau pun itu benar, lalu mau apa? Mendatanginya? Untuk apa? Dia saja pura-pura tak mengenali Starla tadi.
Sama seperti Starla, Luna pun memikirkan hal yang sama. Aneh memang kalau Raka tak mengenali Starla. Sebab Starla yang mencomblangi mereka dulu. Starla juga ada bersana mereka saat mereka bertunangan. Bahkan Starla lah yang membantu Raka menyiapkan semuanya.
Atau, apa mungkin Raka berpura-pura tidak mengenali Starla? Tapi untuk apa? Apa dia sengaja menghindar? Tapi kenapa? Apa ada yang disembunyikan Raka dari mereka? Terlalu banyak teka-teki mengenai tunangannya itu. Mereka nyaris tak menemukan jawaban, buntu.
Luna semakin penasaran dengan pria yang dilihat Starla bersama Raka tadi. Starla bilang kalau wajah mereka mirip. Apakah pria itu saudaranya? Apa Raka bersikap seperti tadi karena sedang bersama saudaranya itu? Tapi kenapa?
Luna sebenarnya sudah tidak perduli lagi padanya. Tepatnya saat Raka dengan tega meninggalkannya sendirian di apartemen mereka di London. Luna begitu membecinya sekarang. Tak ada lagi cinta yang tersisa untuk lelaki itu. Ya, cintanya sudah berganti dengan kebencian saat Raka memutuskan untuk pergi.
"Oya La, sebelum aku lupa, tolong cek inventory dapur dong. Tadi pagi Nina bilang banyak yang harus di re-stock hari ini. Ada beberapa bahan yang hampir habis. Oya, satu lagi. Kita lagi butuh dua orang karyawan untuk disini dan Kelapa Gading."
"Oke siap bos."
"Oya La, ada kabar dari Diandra nggak? Udah satu minggu dia nggak telpon aku. Chat dari ku pun hanya dibaca aja, tapi nggak pernah dibalas." Luna mengkerutkan keningnya.
"Enggak ada. Apa dia lagi sakit ya? Biasanya dia yang paling ribut, nggak pernah absen buat kasih kabar. Kamu udah coba telpon ke rumahnya?" Tanya Starla.
"Belum sih. Ya udah, kalau gitu aku titip cafe sama kamu ya La." Luna berdiri lalu mengambil tas yang tadi diletakkan di meja kerjanya, menyampirkannya di bahu. Semua berkas dan amplop coklat besar dari Starla tadi ikut dibawanya.
"Loh, kamu mau kemana?" Starla ikut berdiri.
"Luna!" panggil Starla. Luna tak menoleh. Ia pergi tanpa menjawab panggilan Starla. Kemudian menghilang di balik pintu yang tertutup sendiri setelah ditinggal Luna.
"Loh, emangnya kamu mau kemana?" Starla ikut berdiri.
"Luna!" Panggil Starla. Luna tak menoleh. Ia pergi tanpa menjawab panggilan Starla. Kemudian menghilang di balik pintu yang menutup sendiri setelah ditinggal Luna.
Ditinggal Luna sendirian membuat Starla meninggalkan ruangan Luna dengan langkah malas. Dia bingung, Luna tiba-tiba berdiri dan meninggalkannya begitu saja, sendirian di kantornya tanpa mengatakan apapun. Hanya meninggalkan pesan untuk menghandel semua pekerjaan di cafe.
Sebenarnya tidak ada masalah jika Luna pergi dan memintanya menghandel tugas di cafe, sebab itu memang tugas yang diberikan Luna padanya sejak cafe itu berdiri. Tapi kan dia juga ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Luna. Dia begitu penasaran kenapa Luna tiba-tiba ngeloyor pergi. Pasti ada sesuatu, gumamnya.
Sementara Luna, entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Ia memacu mobilnya memasuki jalan tol. Menekan pedal gas pada kecepatan tinggi. Kalau saja Starla ada bersamanya, perempuan itu pasti sudah berteriak histeris dan minta untuk segera diturunkan di tengah jalan.
Luna paham betul sifat Starla, sahabatnya itu. Selain takut pada jerawat, Starla juga takut kecepatan tinggi. Itu sebabnya Luna jarang mengajaknya saat pergi ke luar kota.
Mobil Luna mulai melaju perlahan mendekati pintu tol tanggerang. Ia menepi sejenak untuk memberi kabar pada Diandra. Namun sahabatnya itu sama sekali tidak menjawab panggilan Luna.
Rasa khawatir dan penasaran merambat dan berkumpul jadi satu dalam pikiran Luna. Sudah satu minggu, Diandra masih tidak memberi kabar.
Luna kembali memacu mobilnya keluar dari pintu tol. Sudah diputuskan, Luna langsung mengarahkan mobilnya menuju komplek perumahan dimana Diandra dan keluarganya tinggal. Selain mencari tahu kabar Diandra, ia juga berencana untuk curhat padanya. Tapi sepertinya Luna harus menahan keinginannya. Rumah kediaman Diandra tampak kosong.
Sudah berulang kali Luna membunyikan klakson mobilnya, tak seorang pun keluar dan membukakan pintu untuknya. Hal itu jelas membuat Luna semakin khawatir. Namun ia tetap tak bisa berbuat apapun.
Pencariannya masih belum berakhir. Luna memacu mobilnya menuju menuju The Luna Cafe cabang tanggerang. Ia berharap akan menemui Diandra di sana. Rasa khawatir dan penasaran sudah sampai di ubun-ubun dan hampir meledak.
Ponselnya berdering sejak tadi, namun Luna enggan untuk menerima panggilan itu. Dia tahu siapa pelakunya. Tentu saja, itu pasti ulah si heboh Starla. Dia pasti ingin tahu keberadaan Luna saat ini. Karena Starla memang selalu seperti itu. Hal itulah yang membuatnya selalu dirindukan oleh sahabatnya.
"Ya halo...," jawab Luna malas. Akhirnya ia memutuskan untuk menerima saja panggilan itu. Jika tidak, Starla akan terus mengganggunya.
"Dimana sih, Lun? Kok maen pergi-pergi gitu aja? Capek tau nelponin kamu mulu tapi gak diangkat. Pesan dari aku juga gak ada yang kamu bales." Bentak Starla tanpa putus. Nafasnya terdengar ngos-ngosan dari seberang sana.
Luna bisa bayangkan gimana kesalnya wajah Starla sekarang, berkerut parah dengan bola mata yang hampir jatuh. Luna lantas tertawa.
"Udah buk, marahnya? Atau masih mau dilanjutkan lagi? Kita gelud aja yuk." Luna menanggapinya enteng, membuat Starla mengumpat karena kesal.
"Parah banget kamu, Lun. Dimana sih, kamu?"
"Tanggerang," sahut Luna.
"Hah? Beneran? Kok gak ngajak aku sih, Lun? Aku kan pengen banget ikut ke sana...," rengek Starla.
"Kamu kan lagi ada tugas. Udah dikerjakan belum?"
"Oh iya, aku lupa. Aku tadi mau laporan sama kamu."
"Laporan apa, La?" Kening Luna tampak berkerut. Penasaran pada apa yang ingin Starla laporkan padanya.