Bab 3. Bertemu Bian

1356 Words
"Aku mau laporan re-stock inventory. Entar jangan lupa transfer ke suplier, ya! Aku males mesti kasih tau kamu berulang kali. Jangan lupa!" anjur Starla dengan sedikit penekanan. "Ya ampun, Starla. Kamu kan bisa laporan besok." Mata Luna mendelik. Andai saja sahabatnya itu ada di depannya, mungkin dia akan meremas pipi Starla kuat saking gemesnya. "Niatnya sih, gitu. Tapi aku males banget sama Ko Abun, nelponin mulu. Aku takut, suami tercintaku jadi salah paham." Starla mencari-cari alasan. "Uhuuk, uhuuk..." "Kenapa, Lun?" "Kesedak lalat." Luna menjawab cepat. "Ih... kamu jorok banget sih, Lun. Lagian sejak kapan di mobil ada lalat." Starla mencibir sambil menahan mual. Luna yang mendengar ocehan sahabatnya terkekeh geli. "Abisnya kamu lebay. Malas ah, ngomong sama kamu. Kalau ada yang mau dilaporin, mending besok aja. Soalnya aku masih di jalan. Bilang sama Ko Abun, uangnya besok akan aku transfer. Atau, langsung hubungi aku aja. Oke, Beib?" "Tapi, Lun--" Luna langsung memutuskan panggilan telponnya tanpa mendengar sahutan Starla lebih dulu. Mobil yang dikendarainya sudah sampai di tujuan. Tanpa menunggu lama, Luna berjalan cepat dengan langkah tergesa-gesa. Sepertinya Luna harus rela bersabar dan saling berhimpitan dengan para pengunjung lainnya. Karena The Luna Cafe terletak di area food court, di lantai paling atas salah satu mall terbesar di kota Tangerang, yang pengunjungnya selalu ramai. Sudah hampir dua bulan lamanya, Luna tak pernah datang ke tempat ini. Karena dia mempercayakan dua cabang The Luna Cafe cabang tangerang pada Diandra. Hal itu karena latar belakang Diandra yang memang berasal dari keluarga pengusaha. Sehingga menangani dua cabang The Luna Cafe bukanlah hal sulit bagi Diandra. Luna menghela nafasnya gusar. Antara kesal, rindu, khawatir dan juga butuh. Membuat Luna semakin mempercepat langkahnya. Dia tidak memperdulikan orang-orang yang merutuk kesal saat Luna bersenggolan dengan mereka. Dia tak perduli meskipun nafasnya terdengar ngos-ngosan, dan bulir keringat bermunculan membasahi keningnya. Hingga akhirnya Luna menginjakkan kakinya di depan pintu masuk cafe milik mereka yang sedang ramai pengunjung. Ia mengatur ulang nafasnya sebelum mulai melangkah masuk. "Selamat siang, Bu Luna." Seorang waitress menyapa Luna sopan dengan senyum mengembang di wajahnya. "Siang. Bu Diandra ada disini?" tanya Luna padanya seraya melangkah masuk menuju meja kasir. "Bu Diandara beberapa hari ini gak masuk, Bu. Permisi." Gadis itu meninggalkan Luna setelah menjawab pertanyaannya. "Gimana, Bi?" BIan melirik ke arah Luna dengan ekspresi wajah sedikit terkejut. "Bu Luna? Kapan Ibu datang?" tanya Bian riang. "Baru aja. Emang kenapa, Bi? Girang gitu wajahnya?" Kening Luna sedikit berkerut. "Hehe..." Bian tertawa. "Saya kangen loh, Bu. Soalnya kan, Bu Luna udah lama gak datang kesini. Sekalian mau laporan." Bian mengedip-kedipkan matanya. Bian adalah karyawan penanggung jawab The Luna Cafe cabang mall tangerang. Hal itu karena Diandra tidak bisa sepenuhnya menangani The Luna Cafe, karena wanita itu juga harus bekerja pada perusahaan milik keluarganya. "Sudah saya duga, selalu ada udang di balik batu." Luna mendesis, satu sudut bibirnya terangkat. Bian tertawa. "Diandra dimana? Apa hari ini tidak datang?" tanya Luna. Bian mengangguk pelan, alisnya ikut bergerak-gerak. Luna menghela nafas. "Apa dia memberi kabar kenapa tidak datang?" Bian menggeleng, bahunya ikut terangkat. Luna menghela nafasnya lagi. "Sudah berapa lama Diandra tidak datang kesini?" "Dari minggu kemarin." Bian menjawab cepat. "Padahal saya mau laporan, loh. Mau re-stock bahan-bahan juga. Apa lagi ini sudah menjelang akhir tahun, pengunjung makin ramai loh, Bu Luna. Disini juga lagi butuh tambahan pegawai buat dapur, soalnya sering keteteran gitu." Bibir Bian seperti menari-nari saat sedang bicara. Luna mengelus d**a. Ya ampun... bisa gak sih, nih cowok kalau ngomong gak usah kemayu gitu? Sayang banget wajah tampanmu, bray! Batin Luna. "Ya udah, laporannya biar saya aja yang bawa. Untuk re-stock bahan, kamu langsung aja hubungi suplier kita. Kalau untuk pegawai baru, sepertinya harus sabar. Saya juga sedang usahakan. Kamu juga bisa pasang pengumuman di depan, nanti kabari saya gimana hasilnya. Kalau ada hal yang penting, kamu bisa langsung hubungi saya." Luna memberi maklumat. "Siap, Bu." "Kalau Diandra datang, tolong kabari saya. Soalnya saya mau sharing sama Diandra masalah cafe." "Pasti, Bu Luna. Tenang aja." "Kamu juga, kerja yang benar. Jangan ngelirik cowok mulu, Bi. Awas loh, kalau sampai saya dapat kabar gak enak tentang kamu!" ancam Luna. "Iya loh, Bu Luna." Bian mengulum senyumnya. Membuat Luna tertawa, melupakan sejenak tujuan awal kedatangannya. Luna memandangi map plastik berwarna biru, yang diletakkannya di kursi belakang, yang tadi didapatnya dari Bian. Belum lagi dua map lainnya yang juga tertumpuk disamping map biru itu. Luna menghela nafasnya. Bukannya bertemu dengan Diandra, yang ada malah bertemu karyawan aneh yang dipekerjakan oleh Diandra. Setidaknya, rasa kesalnya sedikit terobati. Bian adalah cowok yang tampan, ramah, dan lucu. Hanya saja sedikit feminin. Dan itu sangat menganggu ketika dia mulai melirik nakal pada tamu-tamu pria di cafe itu. Luna kembali menyalakan mobilnya dan mulai bergerak keluar dari parkiran. Ingin rasanya menjelajahi satu tempat terakhir, The Luna Cafe cabang Tangerang di tempat lainnya. Hatinya bimbang. Diandra pasti tidak akan ada disana. Tak ada pilihan lain. Luna pun mengarahkan mobilnya ke tempat itu. Tring... tring ... Ponsel Luna kembali berdering. Sedikit malas untuk menerimanya, karena Luna tahu jika itu hanya panggilan dari Starla. Sahabatnya itu tidak pernah membiarkan Luna tenang sebelum perempuan itu melihat dirinya kembali ke Jakarta. Hingga ponsel itu kembali berdering, membuat Luna terpaksa menerimanya tanpa melihat nama pemanggilnya. "Ya, halo! Ada apaan, sih?" Luna berkata ketus. Saat ini suasana hatinya sedang tidak baik. "Gak usah pake ngotot kali, Lun. Emang salahku apaan sih? Baru juga mau ngomong, udah kena sembur aja." Suara wanita dari seberang sana mengejutkan Luna, membuatnya berhenti mendadak. Untung saja tidak ada kendaraan lain di belakangnya. Jika tidak, bisa dipastikan kalau hari ini adalah hari paling apes dalam hidupnya. "Ya ampun, Diandra." Luna menjerit histeris. "Kamu kemana aja, sih? Kamu susah banget dihubungin. Aku sampai ngebela-belain datang ke Tangerang buat nyusulin kamu. Tapi kamunya malah gak ada." Protes Luna murka. "Kamu dimana sekarang, Di? Biar aku susulin. Nih aku baru balik dari Tangerang Mall." Diandra tertawa saat mendengar sahabatnya seperti orang kebakaran jenggot. "Tenang dulu, Lun. Gak usah marah-marah gitu, dong. Kamu tuh, lama-lama ketularan sama Starla, tau gak, sih? Berisik banget." Diandra menjawab santai. Mungkin dari mereka bertiga, Diandra yang paling santai, seperti gak punya beban hidup. "Apaan sih, Di? Aku khawatir loh..." Luna mendesah kesal. "Iya, maaf deh. Aku agak sibuk belakangan ini. Soalnya, sekarang orangtuaku menyerahkan seluruh tanggung jawab perusahaan padaku. Jadi, mau tidak mau... sepertinya kamu harus handel cafe sendiri dulu. Kamu gak apa-apa kan, Lun?" Diandra menjelaskan dengan hati-hati. Dia khawatir jika persahabatan mereka akan ikut terpengaruh. Luna menghela nafasnya, lalu tersenyum. "Kenapa tidak memberi tahu? Kami pikir, kalau kamu kenapa-napa. Aku sampai bela-belain ke rumah kamu, trus nyusul kamu ke mall." Nada suara Luna terdengar kecewa. Diandra bisa menebak seperti apa wajah Luna saat ini. Sebab, diantara mereka bertiga, Luna adalah sahabat mereka yang paling sensitif. "Maaf ya, Lun. Niatnya mau kasih kejutan sama kamu. Eh, kamunya malah gak ada." "Kejutan? Kejutan apa?" Mata Luna melotot. "Aku ada Jakarta sekarang." "What? Gila ya, emang. Aku jauh-jauh datang kesini, eh... kamu malah disana. Kok bisa, sih? Ngapain?" cecar Luna penasaran. "Aku baru ketemu sama klien penting disini. Udah, buruan kemari! Aku tunggu di cafe kelapa gading, ya. Soalnya aku mau nginep di tempat kamu malam ini. Boleh, kan?" "Beneran? Kamu gak lagi becanda kan, Di?" tanya Luna mencoba memastikan. Luna menelan saliva. Sebuah senyuman muncul di bibirnya. "Beneran, sumpah! Ini aku lagi bareng sama Starla." Terdengar suara tawa yang tidak asing di telinga Luna. "Buset! Ngapain Starla ada disitu? Dititipin cafe, malah ngeloyor pergi." Luna mencebik kesal. "Ya udah, aku balik kesana sekarang. Tungguin, ya!" Luna memutuskan sambungan telpon. Dengan cepat ia memutar arah menuju pintu tol. Luna menekan pedal gasnya kuat. Adrenalinnya terpacu ketika mendapat kabar bahwa Diandra sedang menunggunya, dan akan menginap di apartemennya. Semua hal yang ingin disampaikannya, sudah tersusun rapi di dalam otaknya. Sejak awal, Diandra yang paling tahu tentang Luna. Semua rahasia Luna, ada pada Diandra. Karena itu, dia sangat membutuhkan Diandra saat ini. Bukan hanya pendapatnya, tapi juga dukungan mental sehingga Luna bisa sekuat sekarang. Luna ingin bercerita tentang mimpi buruk yang membuatnya tidak bisa tidur. Tentang Raka yang saat ini ada di Jakarta dan pertemuan Starla dengan pria itu yang diakui Starla kalau sikapnya sangat aneh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD