Bab 4. Kabar Diandra

1421 Words
Luna mengurai senyuman kala melihat dua sahabat baiknya sedang asyik tertawa bersama. Rasa lelah yang sejak tadi Luna rasakan seakan hilang. Berganti sukacita yang tak bisa disembunyikan. "Gimana perjalanannya? Seberapa panjang?" ucap Starla sambil tertawa mengejek. "Dasar Lo, sahabat apaan kayak gini? Kenapa gak bilang kalau Diandra datang ke sini?" protes Luna sambil mencebik kesal. Tangannya terangkat mencubit kedua pipi Starla, hingga pipi itu meninggalkan cap berwarna merah. "Auhh... sakit tau." Starla mengusap pipinya yang kemerahan. Sementara Dianda tertawa melihat ulah absurb dua wanita di sampingnya. "Apa kabar, Di? Capek tau, ngejar kamu bolak-balik Jakarta - Tangerang." Luna memeluk gadis itu. Raut wajahnya terlihat kesal. "Maaf ya, sayangku... belakangan ini aku sibuk banget. Kan aku udah bilang, mulai sekarang, aku bertanggung jawab di perusahaan Papa." Diandra mengerjapkan matanya berulang kali. Dia pikir, Luna pasti akan mengerti. "Iya, tapi kamu gak pernah kasih kabar. Aku kan khawatir sama kamu," ucap Luna sebal, bibirnya manyun. "Iya, Di. Luna sampai bela-belain datang ke Tangerang demi kamu." Starla menimpali. "Iya, iya... aku minta maaf deh sama kalian. Tapi untuk saat ini, kalian kerja sendirian dulu, ya. Gak apa-apa, ya, Lun?" Luna memutar bola matanya, pura-pura berpikir, membuat Diandra melihatnya dengan tatapan memelas seakan memohon. "Iya, deh. Aku justru mau ngucapin terima kasih sama kamu karena udah bantuin aku sampai sejauh ini. Makasih ya, Di." Luna memeluk Diandra kuat. "Terus, aku? Emang aku gak punya jasa buat kamu, ya, Lun? Padahal kan, aku selama ini juga bantuin kamu..." ujar Starla protes dengan bibir manyun. "Kamu paling berjasa, sayang. Kamu kan, kerja di cafe dan paling bertanggung jawab banding siapa pun." Luna merangkul sahabatnya itu dengan senyum mengembang. Sementara Diandra menarik kedua sudut bibir Starla, membentuk bulan sabit. "By the way, kamu mau ngomong apaan, Di? Oya, aku juga mau ngomong sesuatu sama kamu." Luna menegakkan duduknya pada sandaran kursi. "Mm... " Diandra memandangi sahabatnya bergantian. "Aku tadi ketemu sama Raka." Ketiga wanita itu saling berpandangan, hingga Starla membuka mulut reseknya. "Kenapa hari ini semua orang harus ketemu sama si cowok brengs*k itu, sih?" Starla mencebik kesal. Dianda menatap bingung, keningnya berkerut sambil memicingkan mata. "Kamu kenapa, La? Kok sewot, sih?" tanya Diandra bingung. Luna menggelengkan kepala saat melirik wajah Starla yang berkerut. "Iya, soalnya Starla habis ketemu Raka tadi pagi. Tapi malah dicuekin gitu." Luna menjelaskan duduk persoalan. "Dicuekin? Kok bisa?" tanya Diandra lagi. Luna mengedikkan bahu. "Si brengs*k itu pura-pura gak kenal sama aku. Aku pikir kalau aku salah lihat. Tapi itu beneran dia. Aku yakin seribu persen, Di!" Starla melotot kesal. "Emangnya ketemu Raka dimana?" Diandra memandang serius. "Di Kelapa Gading. Di dekat apartemen, gak jauh dari sini. Aku sampai ngebuntuti tuh cowok, sampai mereka masuk ke apartemen itu." Starla melayangkan tangannya, menunjuk ke arah apartemen itu berada. Kedua sahabatnya itu melihat ke arah yang sama. "Ke sana, La? Kamu gak salah, kan?" tanya Luna memastikan. Starla mengangguk yakin. "Iya." "Aku juga baru dari sana, loh." Pengakuan Diandra spontan membuat kedua sahabatnya itu menatap tajam ke arahnya. "Ngapain?" tanya Starla. Luna hanya diam. Terlihat sabar meskipun detak jantungnya sudah seperti genderang perang. "Itu yang mau aku ceritakan pada kalian berdua," aku Diandra. Starla dan Luna saling pandang. "Maksudnya?" selidik Luna. "Tadi pagi aku ada rapat dengan klien penting disini, di Jakarta. Kalian tahu siapa klienku itu?" Luna dan Starla kompak menggelengkan kepala. "Rasya Adhiaksa. Kalian tahu siapa dia?" tanya Diandra lagi. "Udah deh, Di. Gak usah main tebak-tebakan! Langsung aja bilang, siapa Rasya?" desak Starla sewot. "Kakaknya Raka Adhiaksa, tunangan Luna." "Apa kamu yakin, Di? Mungkin itu hanya kebetulan aja." Luna berusaha meyakinkan dirinya sendiri, agar tak semakin terluka lebih dalam. "Aku yakin seribu persen. Karena Raka juga ada disana bersama kami." Diandra berkata yakin. Karena itulah kenyataannya. Luna meremas dadanya kuat, detak jantungnya semakin tak dapat diajak bersahabat. Kenapa begitu sulit mencarinya selama ini? Sementara dua sahabatnya, bahkan bertemu dengannya tanpa disengaja dan tanpa direncanakan? Apa yang salah? Kenapa Tuhan seperti sedang menguji kesabaran gadis itu? Luna mendesah lirih. Raut wajahnya berubah pias, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Luna berusaha menahannya sekuat tenaga dan membuat ekspresi sedatar mungkin. Hanya saja, teman-temannya memang tidak bisa dibohongi. "Kamu kenapa, Lun?" Diandra menatap sedih wajah sahabatnya. Tadinya dia sempat berpikir, jika berita yang akan disampaikan itu akan membuat sahabatnya mengulas senyum bahagia. "Apa dia mengenalmu?" tanya Luna lirih." "Iya. Hanya saja, Raka seperti sedang menjaga jarak dariku. Aku pikir, itu mungkin cara dia untuk bersikap profesional saat bekerja." "Apakah kamu merasa jika dia sedang menyembunyikan sesuatu dari kita, Di?" telisik Luna. "Maksud kamu?" tanya Diandra bingung. "Bukankah selama ini terlalu sulit bagi kita untuk mencarinya? Kenapa hari ini dia tiba-tiba muncul? Padahal kita saja sudah hampir melupakannya. Iya kan, Di, La?" pungkas Luna. Starla yang sedang melahap makanannya, terpaksa berhenti saat namanya ikut disebut-sebut. "Iya benar..." sahutnya dengan mulut penuh makanan. "Apa kamu bisa mencari tahunya untukku, Di? Kamu tahu kan, aku tidak bisa mengandalkan Nyonya Starla Hermawan yang super sibuk ini. Lihat aja, sekarang aja dia tengah sibuk memamah - biak." Luna tertawa terpingkal hingga harus menutup mulutnya dengan bantuan kedua tangannya "Jangan gitu, Lun. Ini tuh bawaan orok. Lagian, pamali buang - buang makanan enak kayak gini." Starla tiba - tiba membekap mulutnya, karena tanpa sadar mengungkap kehamilannya yang berusaha dia rahasiakan. "Apa? Bawaan orok? Kamu hamil ya, La? Berapa bulan? Ihh... kamu jahat ya, La, gak mau cerita ke kita!" Diandra pura - pura pasang raut wajah cemberut. Luna terkekeh geli melihat ekspresi Starla yang memejamkan matanya sambil mendesis. Mungkin dalam hati, wanita itu sedang merutuki kebodohannya, karena tak bisa menyimpan rahasia. "Iihh... apaan sih, Di. Gak tau ah." Starla gelagapan, bingung menghadapi sahabatnya itu. "Cerita dong, La. Gitu amat sih, Lo. Kabar bahagia dipendam sendiri." Luna ikut menimpali, mendesak Starla yang mulai gelagapan didesak seperti itu. "Gak tau, ah. Aku pergi dulu ya, Lun. Besok aja aku laporan sama kamu. Aku mau balik dulu, suami ku pasti udah nungguin aku di rumah. Ini udah jam pulang kantor, soalnya." Starla ngacir melarikan diri. Bagi Starla, yang masih mengikuti tradisi lama di keluarganya, tidak ingin berkoar - koar tentang kehamilannya sebelum memasuki usia tujuh bulan. Dia bahkan enggan untuk bertanya pada dokter obgyn yang memeriksa kandungannya, mengenai jenis kelamin anaknya. Dan ingin semuanya menjadi rahasia sampai si anak lahir nanti. Mengikuti keinginan sang suami untuk memeriksakan janinnya, hanya sekedar untuk mengetahui apakah janinnya dalam kondisi baik. Hanya itu saja. Kedua sahabatnya saling pandang. Menatap bingung ke arah kepergian Starla, yang sebentar saja sudah menghilang saat naik ke dalam taksi yang kebetulan lewat di depannya. "Starla kenapa sih, Lun?" tanya Diandra. Ekspresinya tidak jauh berbeda dengan Luna. "Gak tau." Luna menggeleng sambil mengedikkan bahunya." "Aku gak salah dengar, kan? Dia tadi ada bilang sesuatu tentang orok, kan? Apa dia memang sedang hamil? Tapi kenapa lari - larian kayak gitu?" cecar Diandra ingin tahu. "Aku juga gak tau, Di. Starla juga gak pernah ngomong apa - apa. Apa mungkin, aku yang kurang memperhatikan Starla?" tutur Luna. "Bukannya kamu dan Starla sering bersama? Kok bisa gak tau?" "Kita kerja bareng kan, bukan berarti selalu sama - sama terus. Lagian, perut Starla juga masih sama kayak dulu. Menurut aku sih, mungkin dia cuma asal ngomong." Luna menguraikan pendapatnya. "Yakin?" "Ya, yakinlah. Biar kamu jangan penasaran, besok aku bakal tanya lagi sama tuh anak. Okey?" Diandra mengangguk. "Gimana, jadi nginep di tempatku, kan? Jangan bilang kalau itu cuma alasan kamu aja, biar aku jangan marah sama kamu?" tuduh Luna dengan mata memicing tajam. "Apaan sih, Lun? Aku serius, loh. Aku mau istirahat di tempat kamu, soalnya besok aku masih harus meeting dengan perusahaan Adhiaksa Group. Males banget kalau harus nginep di hotel sendirian." "Meeting dengan perusahaan Adhiaksa Group?" Mata Luna membelalak. Dia pernah mendengar nama itu, tapi gak yakin jika Raka adalah bagian dari perusahaan besar itu. "Iya." Diandra mengangguk kecil sambil tersenyum, memperlihatkan cekungan kecil di kedua pipinya yang sedikit chubby. "Apa menurutmu, Raka adalah salah satu bagian dari perusahaan itu?" tanya Luna ragu. Diandra menegakkan duduknya pada sandaran kursi, tangannya bersedekap di depan d**a. Mimik wajahnya terlihat serius. "Aku pikir sih, iya. Jika bukan, untuk apa dia ikut dalam rapat penting seperti itu?" sahut Diandra.  "Coba kamu pikir, Lun... Raka juga memiliki marga Adhiaksa di belakang namanya, kan? Mungkin dia adalah anak dari pemilik perusahaan itu." "Tapi, dia tidak pernah mengatakan apapun tentang perusahaan itu padaku, dulu. Bukankah itu sedikit aneh? Karena dia juga tiba - tiba menghilang setelah meninggalkanku dulu?" "Kamu dan Starla juga sangat dekat dengannya dulu. Apa kalian juga tidak tahu tentang itu? Kalian kan, yang mengenalkan aku dengannya?" sambung Luna lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD