Bab 5. Mimpi Buruk Lagi

1559 Words
Luna mendorong pelan pintu apartemennya. Diandra mengekor tak jauh di belakangnya, masuk ke dalam apartemen milik Luna yang sudah ditempatinya selama hampir setengah tahun. Mereka memutuskan untuk kembali dan melanjutkan pembicaraan serius itu disana. Tidak ada tempat senyaman di rumah sendiri meskipun itu tidak begitu luas dan mewah. "Mau minum apa?" tawar Luna setengah berteriak dari arah dapur. Tubuhnya sedikit membungkuk di depan lemari pendingin. Ia meraih botol air mineral dingin dan langsung meneguknya hingga tersisa setengahnya saja. "Terserah! Tapi aku lebih senang jika kamu menawari makanan juga." Diandra terkekeh dari ruang tamu. Tubuhnya sudah melorot di atas kursi dengan mata terpejam. "Kau ingin makan apa? Aku belum sempat belanja bahan makanan. Kita bisa memesan makanan kalau kamu lapar." Luna berkata ketika kembali ke ruang tamu, sambil membawa dua botol minuman dingin juga beberapa bungkus keripik kentang. Lalu mendaratkan tubuhnya di sofa. "Diandra!" panggil Luna ketus. Hatinya kesal karena gadis itu malah tertidur di sofa. Tangannya menggoyang tubuh Diandra hingga gadis itu berhasil membuka matanya. "Apaan sih, Lun? Padahal aku lagi mimpi indah tadi. Gangguin aja, sih!" Diandra cemberut. "Lagian, aku ngomong malah ditinggal tidur. Emangnya kamu lagi mimpi apaan?" "Mimpi ketemu cowok ganteng." Diandra senyum - senyum sendiri. "Itu bukan mimpi!" sanggah Luna sebel. "Apaan? Kalau bukan mimpi, trus apa namanya?" "Khayalan kamu aja, kali... mungkin kamu lagi mikirin cowok yang tadi. Siapa namanya?" tanya Luna. "Siapa? Rasya, maksud kamu?" sahut Diandra malas. "Nah, itu!" Telunjuk Luna teracung. "Soalnya Starla juga bilang, kalau cowok yang jalan bareng cowok yang mirip Raka itu, ganteng banget." "Gak ah... siapa juga yang lagi mikirin dia. Biasanya cowok ganteng begitu, selingkuhannya banyak. Kalau bukan karena urusan kerjaan, aku juga malas ketemu sama cowok kayak gitu." "Udah deh, beneran juga gak apa-apa. Aku gak bakal ngelarang. Yang penting statusnya jelas. Gak kayak cowok brengs*k itu." Luna menarik nafas panjang lalu menggeram kesal. Matanya mulai berkaca-kaca. Ingatannya kembali pada kejadian beberapa tahun silam. Entah dia harus bersyukur atau malah mengumpat kesal. Kehadiran laki-laki itu dalam hidupnya memiliki peranan besar atas kehancuran dan keberhasilan yang kini dicapainya. "Kamu masih memikirkan Raka?" selidik Diandra. Luna menggeleng pelan. Wanita itu mengusap bahu Luna pelan. Mencoba memberikan rasa nyaman pada sahabatnya itu. Dia tahu hati Luna sedang bergolak saat ini. "Kalau kamu pengen nangis, keluarin aja! Supaya hati kamu lega. Kalau kamu pengen cerita sesuatu, cerita aja! Aku akan mendengarkan." Diandra menatap mata Luna lekat. "Jangan disimpan sendiri, Lun. Kamu malah akan semakin sakit nanti." Tambah Diandra lagi. Luna menangkupkan wajahnya di atas telapak tangannya. Perlahan terdengar suara isakan tertahan, membuat tubuh Luna sedikit berguncang. Hingga lebih dari lima menit, akhirnya Luna mengangkat wajahnya kembali dengan senyum diulas di bibirnya. "Aku tidak akan pernah menangis untuknya lagi. Pria itu tidak pantas untuk ditangisi, Di." Luna menghapus air mata yang membasahi pipinya. Lalu menghela nafasnya kuat, mencoba menetralkan kembali perasaannya. "Bagaimana jika dia ingin kembali padamu?" tanya Diandra. "Apakah kamu akan memberikan kesempatan kedua untuknya?" sambung wanita itu lagi. Ia mengubah posisi duduknya, memandang Luna yang kini ada di hadapannya. "Aku gak tahu." Luna mendesah lirih. "Seandainya Raka masih mencintaimu dan ingin kembali, apakah kamu akan terima dia lagi?" ulang Diandra. "Entahlah. Aku juga gak tahu, Di." Ia mengedikkan bahunya. "Apa menurutmu dia masih mencintaiku? Bagaimana kalau ternyata dia sudah menikah?" sambung Luna lagi. Diandra mematung. Matanya menatap Luna dalam-dalam. Apa yang dikatakan oleh Luna mungkin ada benarnya. Apalagi, Raka meninggalkan sahabatnya disaat Luna mengandung anaknya. "Aku tidak akan membiarkan pria itu menyakitimu lagi, jika itu memang benar. Aku janji, aku gak akan membiarkan Raka untuk mendekatimu lagi!" cetus Diandra. Raut wajahnya terlihat sungguh -sungguh. "Apa Starla sudah tau?" tanya Diandra. Luna mengerutkan dahinya bingung. "Tahu apa?" "Tentang bayi itu. Apa kamu sudah memberitahunya?" tanya Diandra lagi. "Belum. Untuk apa aku memberi tahunya? Starla itu terlalu bawel. Lebih baik jika dia tidak tahu apapun. Jika tidak, bisa - bisa dia akan bertindak diluar kendali. Kamu gak mau kan, kalau Starla berbuat nekat?" ujar Luna mengingatkan. "Baiklah. Terserah padamu." Diandra mengangkat kedua tangannya ke udara. "Apa kamu tidak punya makanan lain? Sepertinya perutku masih lapar. Keripik kentangmu sudah habis, tapi perutku masih keroncongan." Diandra mengusap perutnya, lalu melangkah ke dapur untuk mencari makanan lain disana. "Kan sudah aku katakan, aku lupa untuk membeli bahan makanan. Jadi tidak ada makanan lain di dapur," sahut Luna. "Bagaimana kalau aku pesankan makanan saja. Kau ingin makan apa?" tanya Luna kemudian. Tangannya merogoh ponsel dari dalam tas lalu membuka aplikasi pesan antar. Dan memilih beberapa menu yang disediakan. "Gimana, udah pesan belum?" tanya Diandra yang baru datang dari arah dapur. Di tangannya menenteng botol minuman dingin lain yang baru diambilnya. Juga roti lapis dengan selai coklat yang sudah tergigit di salah satu sisinya. "Ya ampun, gila banget sih, perut kamu." Mata Luna melotot ketika melihat ke arah Diandra. "Aku lapar!" sahut Diandra santai. Membuat Luna geleng kepala sambil tertawa. "Ya udah, tungguin disini... bentar lagi ada kurir yang akan makanan." Luna bangkit dari duduknya bermaksud meninggalkan Diandra sebentar di ruang tamu. "Loh, kamu mau pergi kemana, Lun?" cecar Diandra. "Mau mandi! Gerah." "Ya udah, buruan! Jangan lama - lama, ya." "Emang kenapa?" Luna berhenti melangkah saat dirinya sudah mencapai pintu kamar. Lalu berpaling menatap Diandra. "Aku juga mau mandi, soalnya." Diandra tertawa. *** "Luna, bangun! Lun..." Diandra mengguncang tubuh Luna, hingga wanita itu sadarkan diri dan membuka matanya. Nafasnya terlihat terengah-engah dan bulir keringat membasahi keningnya. "Kamu kenapa, Lun? Kenapa berteriak seperti itu?" cecar Diandra. Malam itu keduanya tidur bersama, setelah makan malam dan ngobrol panjang ngalor - ngidul. Namun, Diandra harus terjaga dari tidurnya karena mendengar sahabatnya itu berteriak histeris. Sehingga Diandra spontan mengguncang tubuh Luna, karena khawatir telah terjadi sesuatu dengannya. "Kenapa? Ada apa, Lun? Apa yang terjadi? Kenapa kamu teriak seperti itu?" cecar Diandra khawatir. Saat ini Luna tengah mengatur ulang nafasnya yang terlihat ngos - ngosan. "Mimpi buruk!" Luna menghela nafasnya. Degup jantungnya sudah mulai stabil kembali. "Emang kamu mimpi apaan, sih? Kenapa sampai teriak seperti itu? Aku pikir, kamu kenapa-napa." "Anak itu! Aku bermimpi tentang bayi itu, Di." Luna mengusap wajahnya kasar. "Bayi?" "Iya, Di. Bayi itu. Belakang ini, aku sering memimpikan bayi itu. Dia selalu menangis kencang. Aku bisa mendengar suaranya yang begitu jelas di telingaku." Luna mulai terisak pelan. Raut wajahnya terlihat begitu frustasi. "Sejak kapan kamu bermimpi seperti itu?" Diandra mengusap punggung Luna pelan. "Entahlah, yang pasti belakangan ini semakin sering." "Apa kamu pernah mencarinya?" tanya Diandra hati - hati. Dia tidak ingin membuat Luna semakin terpojok dan semakin merasa sedih. "Tidak. Aku bahkan hampir melupakannya, Di. Tapi... mimpi itu malah semakin sering datang dan menghantui tidurku. Aku takut!" Luna kembali terisak, membuat Diandra meraih tubuh wanita itu dan memeluknya untuk meredakan gejolak di dalam hatinya saat ini. Sama seperti sebelumnya, namun kali ini Luna tidak sendiri. Ia memiliki Diandra di sisinya. "Mungkin anak itu merindukanmu, Di. Karena itu dia selalu datang di dalam mimpimu." Luna melerai pelukan Diandra dan menatap wajahnya. Mencoba mencari jawaban di balik kalimat yang baru saja Diandra lontarkan padanya. "Apa maksudmu?" tanya Luna lirih. "Jangan pura-pura bodoh, Lun. Mungkin kamu sendiri pun merindukan anak itu, tanpa kamu sadari. Ada ikatan batin yang kuat antara kamu dan anak itu. Tapi kamu pura - pura mengabaikannya selama ini, dengan bekerja mati - matian seperti sekarang ini." Luna menatap Diandra lekat. Apa benar seperti itu? Apa anak itu merindukanku? Atau, mungkin karena aku terlalu takut. Batin Luna lirih. Tangannya dengan cepat menghapus bulir airmata yang tiba - tiba jatuh di pipinya. "Apa kamu pernah mencoba mencarinya?" Luna menggeleng pelan. Diandra mendesah pasrah. "Kenapa, Lun? Apa kamu takut untuk menemuinya? Atau, kamu malu mengakuinya?" "Bukan, Di." "Lalu, kenapa? Kenapa kamu tidak pernah menemuinya?" Luna menelan salivanya dengan susah payah. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalam sana, sehingga membuatnya sulit melakukannya. "Aku tidak tahu harus mencarinya kemana." Luna menjawab lirih, setengah berbisik. Kepalanya tertunduk, ditopang oleh kedua lututnya. "Apa kamu tidak ingat, pada siapa kamu menitipkan anak itu?" desak Diandra. Luna menggeleng pelan. "Aku tidak ingat, Di. Saat itu aku merasa hancur, sehingga aku membawanya jauh dan memberikannya begitu saja pada orang itu." Kali ini wanita itu seperti ingin meledak, saat mengetahui kebodohan besar yang telah Luna perbuat. Ia tak habis pikir, kenapa Luna bisa berpikir untuk melakukan hal itu. Sekalipun ia tak menginginkannya. "Kamu berhutang penjelasan padaku, Luna. Kamu bahkan tidak pernah membagi lukamu padaku. Jika saja saat itu kamu mengatakannya, aku bisa membantumu untuk mencari solusinya. Aku pikir, kamu sudah mengatasi masalahmu. Aku gak nyangka kalau kamu bisa sebodoh ini." Diandra menggerutu kesal. Luna semakin terisak kuat. "Apa yang harus aku lakukan sekarang? Dimana aku harus mencarinya?" sesal Luna. "Aku juga gak tahu. Tapi aku akan membantumu mencari tahu keberadaan anak itu." Diandra memberikan usul. "Benarkah? Apa kamu yakin kalau kita akan berhasil?" "Tenti saja. Tapi kamu harus membantuku." "Bantu apa?" "Bantu aku mengingat, kemana kamu membawanya saat itu." Luna mengangguk cepat. "Iya, aku akan coba untuk mengingatnya." "Satu hal lagi!" "Apa?" Mata Luna membesar seketika. "Kamu harus berjanji padaku." "Janji apa?" "Berjanjilah, jika anak itu ditemukan, kamu harus menjaganya apapun yang terjadi." Luna mengangguk lagi, sebuah senyum terbit di bibirnya. "Iya. Aku berjanji padamu. Jika itu bisa menebus semua kesalahan yang aku lakukan dulu." Apapun akan aku lakukan untuk anak itu. Asal itu mampu untuk menebus kesalahan yang pernah aku lakukan dulu. Asalkan itu bisa menghapus semua dosa - dosaku di masa lalu. Asalkan anak itu mau memaafkanku, apapun akan aku lakukan!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD