Empat tahun yang lalu.
Luna menapakkan kakinya untuk pertama kali di London Heathrow Airport, Inggris. Wajahnya menatap masa depan yang membentang di hadapannya dengan bangga. Prestasi akademik yang dimilikinya, mengantarkan langkahnya hingga sampai di tempat ini.
Dengan senyum simpul yang diulas di bibir merah jambu miliknya, Luna menyeret kopernya keluar dari area bandara. Berbekal informasi yang dia miliki dari panitia pendaftaran dan juga peta elektronik, Luna mencegat sebuah taksi yang akan berlalu pergi. Dengan yakin ia masuk dan memulai perjalanan pertamanya di kota London, Inggris.
Hal pertama yang akan dilakukannya adalah, mencari tempat tinggal. Ia meminta sang supir taksi mengantarkannya menuju rumah tinggal yang ada di sekitar lokasi universitas, tempatnya untuk menuntut ilmu di negara itu.
Dengan sedikit berbasa - basi, akhirnya sang supir baik hati itu membawa Luna menuju apartemen yang bisa disewa dengan harga murah oleh mahasiswa seperti dirinya. Dan Luna memberikan ongkos beserta uang tip, sebagai ucapan terima kasih pada supir baik hati itu karena telah menolongnya.
Sepertinya, hari ini adalah hari keberuntungan untuknya. Karena Luna bisa mendapatkan satu kamar dengan furniture lengkap yang akan sangat dibutuhkan olehnya, hanya dengan harga murah.
Pemilik tempat itu yang merupakan wanita tua berusia setengah abad, sangat menyukai kepribadian Luna yang hangat, ramah dan pandai membuat orang lain senang. Bahkan si pemilik tak segan untuk menyanjungnya. Hingga akhirnya Luna memberikan sebuah pelukan hangat sebagai ucapan terima kasih, tatkala wanita tua itu akan meninggalkannya.
Luna menarik nafasnya panjang. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat di dalam apartemen itu. Di dalam ruangan itu terdapat sebuah sofa berukuran sedang dan sebuah meja bundar. Juga dapur yang sudah dilengkapi kitchen set dan meja makan kecil.
Di sudut yang lain, terdapat sebuah kamar yang sudah dilengkapi dengan ranjang berukuran queensize dan sebuah lemari pakaian besar, berdampingan dengan kamar mandi. Juga sebuah teras di bagian depan kamar. Dari tempat itu, Luna bisa melihat langsung ke arah kempusnya dan juga sekitaran kota itu dengan bebas. Karena letak kamarnya yang berada di lantai enam.
Luna merebahkan tubuhnya yang penat dan serasa hampir remuk, setelah menghabiskan waktu selama lebih kurang lima belas jam penerbangan dari Jakarta menuju London. Ranjang queensize empuk itu serasa memijat tubuh bagian belakangnya dengan lembut. Hingga tanpa disadari, akhirnya dia tertidur pulas.
***
"Ya ampun, kenapa gelap begini, sih?"
Luna meraba ranjangnya, mencari ponselnya yang tergeletak sembarangan saat dia mulai tertidur tadi.
"Akhirnya, ketemu juga!"
Luna menyeringai. Segera dinyalakannya fitur senter di ponsel pintarnya. Dia segera bangkit dari ranjang lalu mencari sakelar lampu. Hingga membuat seluruh ruangan di apartemennya terang benderang.
Luna berjalan menuju dapur, yang belum sempat diperiksa ketika dia datang tadi. Tangannya mulai membuka satu persatu laci lemari dapur. Nihil. Tak ada apapun di dalam sana. Dia lalu membuka kulkas. Kosong. Tentu saja! Karena dia harus membeli bahan makanan lebih dulu untuk mengisinya penuh.
Luna mencoba menyalakan kompor dan microwave. Menyala.
"Yes!" Batin Luna girang. Setidaknya, dia bisa memasak untuk menghemat biaya makan.
Meskipun keluarganya selalu mengirimkan sejumlah uang ke rekening pribadinya, tak lantas membuat Luna berfoya-foya dan menghabiskannya tanpa pikir panjang. Karena suatu saat, Luna pasti akan sangat membutuhkannya disaat yang tak terduga. Tak ada salahnya menabung dan belajar hidup prihatin, meskipun dirinya berasal dari keluarga mampu.
'Kriueet...'
Luna memegangi perutnya yang mulai terasa keroncongan karena lapar. Sejak sampai tadi, dia belum memasukkan makanan apapun ke dalam perutnya. Bahkan untuk minum saja pun dia tidak ingat saking lelahnya, membuatnya tertidur selama hampir lima jam. Dan terbangun saat matahari sudah terbenam dan hari sudah gelap.
Luna memutuskan untuk segera mandi, menyegarkan tubuh dan pikirannya di bawah pancuran shower. Ia tak ingin berlama - lama, karena malam akan semakin larut.
Tangannya mengambil sebuah sweater rajut berbahan wol dan celana panjang denim warna senada dari dalam koper. Sebab sejak sampai tadi, Luna belum sempat untuk membereskan barang - barang keperluannya ke dalam lemari.
Luna menyampirkan slingbag warna hitam di pundaknya. Kemudian pergi setelah memastikan pintu apartemennya telah terkunci dengan baik. Karena tentu saja ia tak ingin ada orang asing yang masuk ke dalam sana dan mencuri barang miliknya.
Dengan cepat, Luna berlari untuk mengejar pintu lift yang hampir tertutup. Saat seorang pria baru saja masuk ke dalam sana. Namun dengan segera menempelkan tangannya pada pintu besi itu, agar menahannya untuk tidak menutup saat melihat seorang gadis berlari ke arahnya.
"Thank you..." ucap Luna sambil menundukkan kepalanya pada lelaki itu sambil tersenyum simpul. Nafasnya terdengar memburu akibat berlarian tadi.
"U're welcome," sahutnya singkat.
Hening. Keduanya berdiri tegak tanpa saling menoleh satu sama lain. Hingga pintu besi itu kembali terbuka saat mereka tiba di lantai dasar.
Pria itu mempersilahkan Luna untuk keluar terlebih dahulu. Kemudian ia sendiri keluar, mengekor di belakang Luna hingga keluar dari pintu depan.
Ia memperhatikan gerak - gerik Luna yang sedang melayangkan pandangannya kesana kemari seperti mencari sesuatu. Hingga akhirnya Luna memutuskan untuk pergi ke salah satu sudut jalan tak jauh dari apartemen mereka. Sementara lelaki itu, ia memilih pergi ke arah yang berlawanan.
Disana, Luna memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu. Setelah memilih beberapa menu dari daftar menu yang ditawarkan disana.
Sambil menunggu pesanannya datang, Luna memanfaatkan waktunya untuk mencari supermarket terdekat di daerah itu melalui aplikasi di layar ponsel pintarnya. Dan menemukan alamat sebuah supermarket tak jauh dari tempat itu.
"Thank you," ucap Luna tulus ketika pramusaji itu hendak berlalu meninggalkannya.
Dan Luna mulai melahap makan malamnya dengan cepat, setelah seorang pramusaji meletakkan pesanan itu ke atas mejanya. Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Luna hingga makanan itu ludes tak bersisa.
Bahkan Luna tak malu, saat menyeruput minumannya hingga kandas, dan menyisakan suara aneh dari ujung sedotan di dalam gelas miliknya. Hingga memancing rasa penasaran orang di dekatnya, untuk menoleh ke arah Luna sambil terkekeh.
Dan Luna hanya menanggapi tatapan mereka dengan seulas senyum simpul di bibirnya.
***
"Take me to the nearest supermarket around this place, please..." ucap Luna pada seorang supir taksi yang sedang mangkal tak jauh dari apartemennya. Seraya menunjukkan sebuah alamat di ponselnya.
Dan mereka mulai bergerak menjauh, meninggalkan apartemen Luna jauh di belakang.
Gegas Luna masuk dan mendorong sebuah troli untuk berkeliling bersamanya. Tangannya mulai terayun, mengambil satu persatu barang dari rak pajangan. Semua bahan makanan dan beberapa minuman botol dan s**u yang dibutuhkan olehnya untuk satu minggu ke depan.
Tak hanya itu, ia juga membeli beberapa keperluan harian lainnya untuk mandi dan juga keperluan untuk mencuci piring dan juga pakaian. Kemudian mengarahkan trolinya menuju meja kasir. Dan membayar seluruh barang belajaan miliknya dengan uang tunai.
Setelah selesai berbelanja, Luna kembali ke apatemennya dengan menumpangi sebuah taksi.
"May i help you?"
Suara milik seorang pria mengejutkan Luna, saat dirinya akan masuk ke dalam apartemen. Ia menolehkan wajahnya ke belakang dan tampak seorang pria yang menolongnya tadi ketika akan memasuki lift.
"No, thank's. But, I don't want to bother you." Luna menjawab sopan.
Ia hanya tidak ingin merepotkan orang lain, apalagi pada orang yang tidak dikenalnya. Sekali pun mereka tinggal di apartemen yang sama dan berada di lantai yang sama.
"It' s okay. That cause we live in the same place." Pria itu menyahut perkataan Luna.
Lalu tanpa menunggu jawaban dari Luna, ia langsung membawa bungkusan yang terbilang berat itu masuk ke dalam apartemen. Dan Luna mengekor di belakangnya tanpa bisa mengatakan apapun.
"Did you just live here?" tanya pria itu ketika mereka berada di dalam lift.
"Yes, i did."
"Where do you come from?" tanya pria itu lagi.
"Indonesia." Luna menjawab dengan bangga sambil mengurai senyumannya.
Si pria tertawa saat mendengar jawaban yang Luna berikan. Bisa dibayangkan bagaimana ekspresi Luna yang menatap kesal ke arah pria itu.
"What's wrong with it?" tanya Luna, matanya melotot kesal.
Pria itu membekap mulutnya kemudian mengangkat kedua tangannya ke udara.
"I am sorry," ujarnya.
"Saya juga orang Indonesia. Senang bertemu denganmu." Pria itu menyambung perkataannya.
"Nama saya Raka."
Pria itu menyodorkan tangannya pada Luna untuk mengajaknya bersalaman. Dengan tatapan setajam belati, Luna menatap pria itu dari atas hingga ke bawah, lalu kembali ke atas dan menatap wajahnya. Dan dengan sukses membuat pria itu menarik tangannya kembali dengan perasaan malu.
"Apakah kamu baru tinggal disini? Soalnya saya belum pernah melihatmu sebelumnya." Pria bernama Raka itu pun mulai berbasa - basi dengan Luna, untuk mencairkan ketegangan di antara mereka.
"Iya. Saya baru tiba disini tadi pagi."
"Apakah tujuanmu datang untuk bekerja? Atau, hanya sekedar jalan-jalan?"
"Saya kuliah disini." Luna menjawab tegas, tanpa embel-embel pemanis kata-kata.
"Kuliah? Apa kamu juga mahasiswa di LSE? Soalnya aku juga kuliah disana. Aku juga baru tiba disini. Ya, setidaknya satu bulan lebih dulu dari mu." Raka berkata panjang lebar tentang dirinya.
Luna sedikit tertarik dengan pria di sampingnya itu. Ingin rasanya bercerita banyak, tapi dia harus bersikap waspada. Bisa saja pria itu berbohong padanya karena hanya agar bisa berkenalan dengannya. Dan untungnya, pintu besi di depannya itu segera terbuka sehingga pembicaraan itu harus berakhir disana.
"Maaf, sepertinya kita harus berpisah disini. Terima kasih sudah bersedia membantu membawa barang belanjaan saya." Luna berkata sopan padanya, lalu mulai membawa bungkusan berat itu di kedua tangannya menuju kamar apartemennya.
Sementara Raka hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Hingga Luna masuk ke dalam dan menghilang di balik pintu apartemennya. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kuat.
Ia kembali melangkah menuju kamar apartemennya sendiri, yang memang berada tak jauh dari kamar Luna.
Di dalam, Luna kembali membongkar bungkusan hasil perburuannya di supermarket tadi. Ia menyimpan semua bahan makanan di dalam kulkas dan juga beberapa botol minuman dan s**u cair. Sementara yang lainnya, ia tempatkan di lemari dapur.
Luna juga sempat membeli beberapa peralatan makan. Dan beberapa kebutuhan lain untuk ia pakai ketika akan memasak nanti. Itulah sebabnya, mengapa bungkusan belanjaan itu terasa berat.
Dan syukurnya, ia bertemu seseorang yang bersedia membantunya membawa bungkusan itu, meskipun Luna lupa untuk mengucapkan terima kasih padanya tadi. Hal itu karena pria tadi membuatnya kesal karena telah tidak sengaja menertawainya.