Bab 7. Teman Baru

1669 Words
Luna bergelung di bawah hangatnya selimut yang membungkus tubuhnya. Saat dimana hawa dingin mulai terasa menusuk kulitnya. Ia menutup tubuhnya hingga tenggelam seluruhnya di bawah selimut. Untuk saat ini, tubuhnya masih belum terbiasa dengan suhu dingin di kota London. Hal itulah yang kini membuatnya malas untuk bangkit dari peraduan. Meskipun sinar mentari pagi mulai merangkak naik dan masuk melalui jendela unit apartemennya. Akan tetapi, Luna tak begitu perduli. Drrtt... drrtt.... Ponsel Luna bergetar di atas nakas, di samping ranjang queen size miliknya. Ia memanjangkan lengannya, mencoba meraih benda pipih yang berhasil mengganggu ketenangannya pagi ini. "Ya, halo....' Suara Luna terdengar berat saat menyahuti orang di seberang sana. "Bagaimana keadaanmu? Apakah kau baik - baik aja? Apakah kau sudah mendapatkan tempat tinggal? Kenapa tidak memberi kabar pada kami, sayang? Oya, Papa baru saja mentransfer uang ke rekeningmu. Apakah kau sudah melihatnya? Apa kau --" Suara seorang wanita yang tengah memberondong Luna dengan pertanyaan yang bertubi - tubi. Terdengar jelas, jika wanita itu begitu mencemaskan keadaan Luna. "Mama..." potong Luna cepat. Wanita itu langsung hening di tempatnya. "Aku baru aja membuka mata. Aku bahkan belum sempat mengusap wajahku. Tapi Mama sudah memberondongku seperti itu. Ya ampun... disini matahari baru aja terbit, Ma, dan aku masih sangat mengantuk. Tapi Mama sudah menelponku." Luna mendengus kesal. "Maaf ya, sayang. Itu karena Mama sangat khawatir padamu," sahut wanita itu dengan volume suara yang mulai melembut. "Ma, aku sudah dewasa. Lebih baik Mama khawatir pada anak - anak manja Mama itu. Mereka lebih membutuhkannya." Luna tertawa pelan. "Jangan seperti itu, mereka itu kan adikmu. Bagaimana keadaanmu disana?" "Aku baik - baik aja. Aku bertemu banyak orang yang baik di tempat ini." Luna mengulas senyum di wajahnya, mengingat apa yang dia alami saat baru tiba di negara itu. "Benarkah? Apakah kau mengalami kesulitan disana?" "Sejauh ini, tidak. Tapi aku harus bisa beradaptasi dengan suhu dingin di negara ini." Luna menegakkan tubuhnya dan duduk bersandar di atas ranjang. Tubuhnya masih di tutupi oleh selimut. "Tidak apa-apa, lama kelamaan kau pasti akan terbiasa. Bagaimana dengan tempat tinggalmu?" tanya wanita itu lagi. "Aku menyewa satu unit apartemen murah. Lokasinya tidak jauh dari kampus. Mama jangan khawatir, karena fasilitasnya sangat lengkap disini." "Benarkah?" selidik wanita itu, dipicu oleh rasa penasaran dab khawatir berlebihan. "Hmm..." Luna mengangguk, seakan mamanya dapat melihat gerakan tubuhnya. "Bagaimana dengan kampusmu? Apakah kau sudah datang melapor?" ujarnya coba mengingatkan. "Ya, Tuhan... aku lupa. Pagi ini aku harus melapor untuk mendaftar ulang. Sampai nanti, Mam. Nanti aku hubungi setelah urusanku selesai!" sahut Luna lalu memutuskan sambungan telponnya. Buru - buru ia lari ke kamar mandi. Mengguyur tubuhnya di bawah pancuran shower dengan cepar. Sepertinya hari ini pun, ia belum bisa menikmati mandinya untuk berendam di dalam bathup dengan air hangat. *** "Selamat pagi," sapa seorang pria dari arah belakang. Membuat Luna menarik nafas panjang. Luna berpura - pura tidak mendengar sapaan dari pria itu. Tanpa menghiraukan suara itu, Luna langsung masuk ke dalam lift. "Mau kemana sepagi ini?" tanya lelaki itu, sesaat setelah diribya berada di dalam lift bersama Luna. "Apa urusanmu?" tanya Luna dingin. "Apa kau sedang mengikutiku?" Tatapan Luna mengarah tepat pada matanya, memandangnya penuh curiga. Pria itu tertawa pelan. "Apa kamu bercanda? Untuk apa aku mengikuti kamu? Maaf ya, tapi aku bukan cowok penguntit. Aku ini cowok baik-baik." Ia berusaha membela dirinya. Luna mendesah kesal. Berusaha tidak terpengaruh pada ucapan pria itu. "Terserah." Luna menyahut dingin tanpa ekspresi. Hening. Tak ada lagi suara sahut menyahut diantara mereka. Masing - masing berusaha menahan diri mereka untuk berdiam diri. Luna membiarkan pria itu berjalan mendahului dirinya setelah keluar dari lift tadi. Ia hanya ingin menghindar agar tidak saling bersinggungan dengan pria itu. Setidaknya itu lebih baik, dari pada saling melempar kata sindiran. Luna memeluk tubuhnya kuat saat mulai melangkah menyusuri jalanan kota itu. Jarak antara apartemennya dan kampus barunya untuk menimba ilmu, tidak begitu jauh. Hanya butuh waktu sekitar lima belas menit untuk berjalan kaki agar sampai kesana. Namun di saat seperti ini, sepertinya Luna akan membutuhkan waktu lebih dari itu. Suhu dingin menghambat langkahnya, karena dia berusaha memeluk tubuhnya di sepanjang jalan. Belum lagi dia harus saling berdesakan dengan pejalan kaki lainnya. Hingga akhirnya langkahnya berakhir pada pintu gerbang LSE, tempatnya menimba ilmu. Luna mengangkat wajahnya dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya, ketika akan melangkah masuk ke dalam area kampus. Setelah mengurus segala macam administrasi yang dibutuhkan, Luna akhirnya resmi menjadi mahasiswa baru disana. Itu artinya, dia akan mulai belajar dalam beberapa hari ke depan. Luna akhirnya bisa bernafas lega. "Hahh... sekarang waktunya untuk kembali ke apartemen." Luna bergumam pada dirinya sendiri. Hari ini dia sudah cukup berkeliling dan melihat - lihat tempat itu. Setidaknya, Luna tahu kemana dia harus pergi saat ini. Pulang! "Permisi... apakah kamu orang Indonesia?" Luna memalingkan wajahnya, memandang pada seorang wanita berwajah polos, yang menepuk pundak Luna sambil tersenyum simpul. "Ya. Ada apa ya?" Luna bertanya balik padanya. "Ruangan kantor administrasi dimana, ya? Saya baru saja tiba disini." Ia menyahut ramah. "Oh, kamu bisa berjalan lurus ke depan. Ruangan itu ada di pojokan sebelah kiri." "Terima kasih ya. By the way... kenalin, nama saya Starla. Saya anak baru disini." Gadis itu menyodorkan tangannya pada Luna. "Oh ya? Berarti kita sama dong. Nama saya Luna Abigail, kamu bisa panggil Luna." Luna berkata sambil menjabat tangan Starla. "Apakah urusanmu disini sudah selesai?" tanya gadis itu kemudian. Luna mengangguk pelan. "Iya. Saya baru aja mau balik ke apartemen. Di luar terlalu dingin, saya masih belum terbiasa." "Kalau begitu, hati - hati. Sampai jumpa lagi ya, Lun." Starla melambaikan tangannya lalu pergi ke arah yang Luna tunjukkan tadi. Okey, teman pertamanya di kampus baru. Secara teknis, mereka baru saja berkenalan dan itu belum bisa dihitung sebagai teman. Mungkin nanti. Luna tersenyum penuh arti. *** "Hai, Ma..." Luna tampak sedang berbicara dengan sang mama melalui sambungan telpon. "Gimana, apa kau sudah jadi pergi ke kampus?" "Tentu saja. Aku baru saja kembali ke unitku." "Kenapa cepat sekali? Apa urusanmu sudah selesai?" "Tentu saja. Mama jangan khawatir." "Gimana Mama gak khawatir? Kau tinggal jauh dari Mama, sudah pasti Mama akan khawatir padamu. Apa kau tadi sudah sarapan?" "Belum. Tadi aku buru-buru, jadi tidak sempat untuk sarapan." "Kenapa kau tidak langsung sarapan di kantin? Kau tau kan, disana itu sangat dingin. Nanti kau bisa masuk angin." "Mama... aku bukan anak kecil. Aku ga akan masuk angin hanya karena gak sarapan pagi. Lagian, tidak ada makanan yang enak disana." Luna menjawab kesal. Raut wajahnya berubah cemberut. "Udah deh, Mama jangan khawatir seperti itu. Aku pasti baik-baik aja." Luna mengakhiri panggilan telponnya. Sekali lagi, Luna mendesah kesal. Mamanya selalu seperti itu, terlalu mengkhawatirkan dirinya secara berlebihan. "Seorang Luna Abigail tidak akan mungkin mati hanya karena lupa sarapan pagi." Desis Luna. Luna tersenyum penuh arti. Tak ada yang tahu, apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Luna mulai membungkuk di depan kulkas. Mengambil beberapa bahan makanan yang telah dibelinya kemarin malam. Lalu mulai mengolahnya sebanyak yang ia inginkan. Setidaknya, perutnya akan kenyang sampai makan malam tiba. Dengan lihai tangan Luna mulai memotong semua bahan yang akan di masaknya. Dengan lihai tangan Luna mulai memotong semua bahan yang akan di masaknya. Wajan sudah mulai dipanaskan. Dan bumbu sudah selesai dibuat. Hanya satu yang tak tersedia di tempat itu. Nasi. Makanan terenak yang bisa mengenyangkan perutmu walau hanya mencampurnya dengan garam dan kecap. "Apa boleh buat. Harus terbiasa makan tanpa nasi." Luna menghela nafasnya, lagi. Tok... tok... tok. Luna memalingkan wajahnya cepat, menatap lurus ke arah pintu. Jantungnya tiba - tiba saja berdetak kencang. Gugup, dan takut, itulah yang ia rasakan saat ini. "Siapa sih, siang - siang gini iseng gangguin orang?" celetuk Luna kesal. Tok... tok... tok. Sekali lagi pintu unitnya di ketuk dari luar. Luna terkesiap. Irama jantungnya semakin tidak stabil. Perlahan namun pasti, Luna melangkah mendekati pintu. Ia mengintip dari balik lubang pintu, untuk memastikan bahwa seseorang tidak sedang bercanda dengannya. "Siapa ya?" teriak Luna dari dalam unitnya. Namun orang yang berdiri di luar tak juga menyahuinya. Hingga akhirnya Luna membuka handel pintu, sementara tetap memasang kunci pengaman disana. Ia harus hati - hati, dia masih baru tinggal disini. Takutnya akan ada orang yang berniat jahat padanya. "Ya, mencari siapa ya?" tanya Luna dari balik pintu yang terbuka sedikit. "Maaf, saya hanya ingin mengantar pesanan anda." Katanya dengan bahasa inggris yang kental. Sambil menunjukkan sebuah bungkusan yang dia bawa di dalam tasnya. "Maaf tuan, mungkin anda salah alamat. Saya tidak memesan makanan apapun siang ini." Luna menyahut jujur sambil tersenyum. "Tapi ini sudah dipesan dan dibayar. Alamatnya juga sangat jelas sekali." Katanya lagi, seraya menunjukkan alamat yang dia miliki, untuk meyakinkan Luna. "Alamatnya memang benar. Tapi saya tidak pernah memesan dari anda." Luna berusaha menolak sopan. Dia khawatir jika pemilik aslinya sedang menunggu paket makanan itu. "Sebaiknya anda terima saja. Jika tidak, saya akan mendapatkan masalah." Pria itu menatap Luna dengan tatapan memelas. Raut wajahnya seakan memohon agar Luna tidak mempersulit pekerjaannya. "Baiklah. Akan saya terima. Tetapi saya tidak bertanggung jawab untuk mengganti rugi jika ternyata kamu salah kirim." Luna membuka pengait di pintunya. Dan menerima paket itu tanpa rasa bersalah. Ia sudah berusaha untuk menolak dan meyakinkan pria itu jika itu bukan miliknya. Sampai disini, Luna memang tidak bersalah. Ia membawa masuk paketnya dan meletakkannya di atas meja makan. Sesaat pandangannya teralih pada bahan yang sudah siap untuk dimasak. Kemudian matanya kembali teralih pada paket makanan yang baru saja ia terima. Perlahan rasa penasaran merasuki pikirannya, untuk segera mengintip isi paket itu. "Jika enak, akan aku habiskan. Kalau tidak, akan langsung aku buang!" seru Luna pada dirinya sendiri. Matanya membelalak kaget. Seakan mendapat jawaban dari doa yang ia panjatkan tadi. Berharap ia bisa makan nasi, seperti di negara asalnya. "Tapi siapa yang memesan makanan ini? Pasti dia sangat bodoh, sampai memberikan alamat yang salah pada petugas restoran itu. So, jangan salahkan aku jika makanan ini aku habiakan. Karena aku sudah berusaha untuk menolaknya tadi." Celetuk Luna lagi sambil menyeringai lebar. "Pasti dia yang memesan makanan ini. Haha... maaf ya, makananmu aku habiskan." Luna tertawa sendiri. Membayangkan betapa kesalnya pria itu, jika tahu makanannya sudah dihabiskan oleh orang lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD