Bab 11. Kebahagiaan Raka

1608 Words
Luna berlari - larian di lorong menuju ruang kelasnya. Suara derap langkahnya terdengar menggema memenuhi lorong itu. Bersama suara - suara lainnya dari beberapa mahasiswa yang juga sedang berbincang atau berlarian di lorong seperti dirinya sekarang ini. Gadis itu mengatur ulang nafasnya yang terdengar memburu akibat berlarian tadi. Setelah dirasa lebih baik, ia mulai melangkah memasuki kelas dengan wajah tertunduk. Dan dengan cepat menempati kursi kosong yang ada di ruangan itu. Ia memasang pendengaran pada perkataan pengajar yang tengah menjelaskan di depan kelas. Dan berusaha memusatkan pikirannya penuh, karena dirinya masih merasa sedikit canggung berada di tengah - tengah kumpulan mahasiswa yang entah berasal dari negara mana saja. Disaat belajar, seorang Luna memang selalu serius. Itulah mengapa saat ini dirinya berada di tempat ini sekarang. Nilai akademik yang sangat memuaskan. Itulah tujuannya datang ke negara ini, belajar. Bukan untuk bersenang - senang, apalagi jalan - jalan. "Sstt... sstt... hai!" Luna mengangkat wajahnya dari catatan di mejanya. Pandangannya teralih pada seorang gadis yang duduk tak jauh darinya, sedang melambaikan tangan ke arahnya. "Hai..." balas Luna sambil tersenyum manis. Tangannya ikut membalas lambaian tangan gadis itu. Beberapa saat kemudian, keduanya saling berkomunikasi dengan bahasa mata dan gerakan tangan. Lalu tertawa bersama dengan suara kecil, persis seperti bunyi desis-an. "Hai, Luna. Aku gak nyangka ternyata sekelas sama kamu." Gadis itu berkata pada Luna saat ia meletakkan pantatnya di kursi kosong di samping Luna. "Iya, aku juga. Aku senang banget, kalau begini jadi ada temannya." Luna menyahut sambil tersenyum lebar. "Iya. Aku minta bantuannya ya, soalnya aku lelet banget kalau belajar pakai bahasa asing." Starla menangkupkan kedua tangannya di depan d**a. "Iya deh, aku bantu sebisaku aja ya. Soalnya, aku juga gak fasih banget. Saranku sih, mending kamu rekam aja atau videokan sekalian, jadi kamu bisa ulang - ulang lagi biar tambah ngerti." Luna coba memberi solusi. "Iya ya... bener juga yang kamu bilang. Entar aku terapin, deh. Betewe, makan siang bareng yuk, aku laper nih." Starla mengusap perutnya yang ramping, seperti kurang makan. "Ayo," sahut Luna. Tangannya menarik lengan Starla menuju kantin. Keduanya bercerita riang, seperti dua sahabat yang telah saling mengenal lama. Dan sudah pasti dalam bahasa mereka. Bahasa yang memancing seseorang untuk bergabung bersama mereka. "Hai, boleh duduk?" tanyanya ragu. Luna dan Starla saling berpandangan. Bertambah satu orang lagi mahasiswa yang berasal dari Indonesia. Keduanya tersenyum dan menyahut bersamaan. "Silahkan duduk," jawab mereka, kemudian tertawa bersamaan. Menambah riuh suasana kantin siang itu. "Kamu dari Indonesia juga, ya? Dari kota apa?" tanya Starla ingin tahu. "Oya, saya Starla, mahasiswa baru tingkat pertama." Gadis itu menawarkan tangannya untuk bersalaman. "Saya Diandra. Kalian bisa panggil saya Dian aja Saya dari Tangerang." Diandra menyambut uluran tangan Starla. "Luna Abigail. Panggil Luna aja," ujarnya singkat saat tangan Diandra beralih padanya. "Kita berdua ini sama-sama anak baru, satu kelas juga. Kalau kamu, udah tingkat berapa?" tanya Starla lagi. "Aku juga anak baru, hanya saja aku ambil kelas yang berbeda dari kalian. Sepertinya sih begitu, soalnya saya baru liat kalian disini." Diandra menjawab santai, sambil menikmati makan siangnya. "Btw, disini kalian tinggal dimana?" tanya Starla. "Aku sewa apartemen, gak jauh sih dari sini. Emang kenapa, La?" ucap Luna. "Mau gak, kalau gabung bareng aku? Soalnya, sewa apatemenku mahal banget. Lumayan kan, bisa menghemat pengeluaran juga. Gimana, Lun?" ajak Starla dengan raut wajah memohon. "Mm... gimana ya? Aku sih lebih suka sendirian. Biar lebih fokus aja." Raut wajah Starla seketika berubah cemberut, lalu berpaling pada gadis yang tengah duduk di depannya. "Kalau kamu, gimana?" tanya Starla pada Diandra, matanya sengaja dikedip - kedipkan. "Aku sih gak masalah. Yang penting kamu jangan rese, ya." Diandra mengingatkan. Namun raut wajahnya tidak berubah sedikit pun. *** Luna menyeret kakinya malas saat kembali ke unit apartemennya. Setelah seharian berada di luar, membuat tubuhnya terasa letih. Hal yang paling dibutuhkan olehnya saat ini adalah mandi di bawah guyuran air hangat. Lalu rebahan di ranjangnya yang empuk, setelah makan malam dan menyelesaikan tugas yang diterimanya di kampus tadi. Semua hal itu sudah tergambar dengan jelas di dalam otaknya. Seakan tak ingin membuang waktu, Luna mempercepat langkahnya pada saat ia keluar dari lift. Tepat ketika Luna hendak masuk ke dalam unitnya, ketika sebuah suara memanggil dirinya dari kejauhan. "Luna!" "Hahh... kenapa harus dia lagi? Apa gak ngerti, kalau orang lagi butih istirahat?" Luna membatin kesal. Ia menarik nafas panjang sebelum memalingkan wajahnya. Melihat ke arah pelaku yang membuatnya geram dengan tatapan yang mengintimidasi. "Apa?" tanya Luna ketus ketika pria itu mulai mendekat ke arahnya. "Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu cemberut seperti itu? Apa salanku?" Raka menggaruk kepalnya yang sebenarnya tidak gatal. Hanya saja, situasi seperti ini terasa sangat canggung. "Iya, salah!" pekik Luna. "Kamu salah karena datang disaat yang tidak tepat." "Maksudnya?" Kening Raka berkerut dalam. "Tau ah, gelap!" jawab Luna cepat sambil mendorong pintunya hingga menutup kembali. "What the hell --?" Raka mendengus gusar seraya mengacak rambutnya kasar. Lalu pergi berlalu dari tempat itu. Bukannya kembali ke unit apartemennya, pria itu malah memutuskan untuk turun menuju lantai bawah. Dan masuk ke dalam mobilnya. Tadinya ia berpikir untuk mengajak Luna makan malam di luar. Karena gadis itu pasti merasa kelelahan setelah kembali ke pulang. Tetapi karena keributan kecil tadi, perasaannya langsung berubah kacau. Entah mengapa Raka begitu kesal diperlakukan seperti tadi, padahal dia berniat baik. Drrt... drrt... drrt. Raka melirik ponselnya. Kalina. Nama itu tertulis dengan jelas di layar ponsel pintar miliknya. Sehingga Raka memutuskan untuk segera menepi. "Halo sayang." Terdengar suara Raka menyahut lembut. "Hai. Gimana kabarmu? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya orang itu, di seberang sana. "Aku baik-baik saja, kamu jangan khawatir." "Baiklah. Kamu sedang apa? Kamu sudah makan, belum?" tanya orang itu lagi dengan suaranya yang lembut. "Aku sedang nyetir. Niatnya mau makan malam di sekitar sini aja. Gimana kabarmu?" tanya Raka. "Aku baik-baik aja. Aku hanya ingin memberi kabar padamu?" "Kabar apa?" selidik Raka, raut wajahnya berubah serius. "Aku hamil. Dokter bilang, usianya sudah lima minggu." "Apa? Benarkah? Apa kamu sudah periksa ke dokter?" Seketika raut wajah Raka berubah ceria. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya saat ini. "Iya, sayang. Aku dan Mama baru aja balik dari rumah sakit." Sahut wanita itu di seberang sana. Dapat dipastikan, bila dirinya pun sedang tersenyum bahagia saat ini. "Syukurlah, ini adalah kabar yang sangat baik. Kalau gitu, mulai sekarang kamu jangan kerja yang berat - berat. Kamu harus jaga kandungan kamu baik - baik ya sayang. Jangan terlalu capek." Perintahnya pada wanita itu. "Iya, kamu jangan khawatir. Ada Mama yang jagain aku disini. I love you, sayang." Kata wanita itu kemudian. "Love you, too..." Panggilan telpon internasional itu pun terputus. Namun wajah Raka masih saja berseri. Ia lupa pada kekesalannya tadi. Karena hatinya begitu bahagia saat ini. Janin itu, buah cintanya dengan sang istri - Kalina - yang dinikahinya setelah mendapatkan gelar sarjana. tepatnya beberapa bulan setelah kelulusan mereka. Kalina adalah wanita cinta pertama Raka, semasa mereka kuliah dulu. Gadis itu langsung menerima cinta Raka tanpa ada penolakan. Dan mereka meresmikan hubungan itu ke jenjang pernikahan setelah keduanya lulus dan meraih gelar sarjana. Namun, beberapa bulan setelah menikah, Raka memutuskan untuk melanjutkan studinya di luar negeri. Sementara Kalina, membuka usaha Kal's Boutique, yang menjual aneka merek fashion ternama. Dan semakin maju dan terkenal seperti sekarang ini. *** "Kenapa wajahmu girang seperti itu, hah? Kenapa senyum - senyum seperti itu? Awas loh, entar orang - orang pada nyangka kalau kamu udah stres." Celetuk Luna saat mereka bertemu di lantai bawah. "Huuuh... enak aja ngatain orang stres." Raka menowel kening Luna dengan jari telunjuknya. "Apaan itu?" sungut Luna gak terima. Matanya melotot marah. "Makanya jangan suka ngatain orang." Balas Raka tak mau kalah. Namun pria itu dengan cepat menarik lengan Luna saat ia akan berlalu dari sana. "Mau kemana?" "Ya mau makan, lah." "Udah, kamu gak usah keluar lagi. Di luar dingin banget, nanti kamu sakit lagi." "Terus, aku harus makan apa?" "Kan kamu pintar masak? Kenapa gak masak sendiri aja?" "Males, aku capek." "Ya udah, kalau capek mending kamu istirahat aja. Nih, aku udah belikan makan malam buat kamu. Berhubung hatiku sedang senang, nih... aku belikan kamu juga bahan makanan. Jadi kamu gak perlu repot - repot untuk belanja lagi." Raka melangsir dua bungkusan dengan ukuran berbeda ke tangan Luna. Lalu meninggalkan gadis itu yang masih membeku di tempatnya berdiri. Dengan raut wajah marah bercampur bingung, hingga menciptakan lekukan dalam di antara kedua alisnya. Sementara ujung matanya masih mengikuti kepergian pria itu dengan tatapan tajam. Hingga ketika Raka telah masuk ke dalam lift, barulah Luna bergerak. Ia meneliti dua bungkusan di tangannya dengan seksama. Ia mendesah pelan. Masih mencoba menelaah apa yang baru saja terjadi. "Tumben banget. Lagi senang katanya? Tapi kenapa? Bukankah dia senang sekali menggangguku? Kenapa malam ini jadi baik seperti itu?" Gumam Luna pelan. Melihat dua bungkusan yang kini ada di tangannya, Luna akhirnya membatalkan kepergiannya. Dan memutuskan membawa kembali bungkusan itu ke dalam apartemennya. Ia sempat melirik ke arah dimana unit Raka berada. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Namun, masih ada keraguan di hatinya untuk menerima pemberian pria itu. Ia khawatir jika pria itu tiba - tiba datang ke tempatnya dan mengganggunya lagi seperti sebelumnya. "Luna!" Pria itu tiba - tiba memanggilnya lagi, ketika Luna hampir mencapai pintu unitnya sendiri. Luna menarik nafasnya lalu menghembuskannya dengan kuat. Sementara rahangnya mulai mengeras. "Ya. Ada apa lagi?" ucap Luna kesal. "Kamu kuliah di LSE, kan? Besok berangkat denganku saja. Aku juga kuliah disana," teriak Raka dari dpn unitnya. Setelah mengatakan itu, Raka kembali masuk ke dalam. Membiarkan Luna menatap tempat kosong dimana pria itu tadi berada. "Ada apa dengan pria itu? Aku gak salah dengar kan? LSE? Kenapa dia bisa tau?" tanya Luna pada dirinya sendiri. Kedua bola matanya tampak berputar - putar. Berusaha mencari jawaban dari pertanyaannya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD