Bab 10. Makan Malam

1511 Words
Hari menjelang sore, dan langit mulai berubah menjadi kemerahan saat matahari mulai bergerak turun. Lampu - lampu kota mulai menyala indah, karena langit sebentar lagi akan ditutupi oleh gelapnya malam. Luna dan Raka masih melaju di atas jalanan kota London. Menikmati indahnya kota London dimalam hari. Selama beberapa hari ini, Luna hanya bisa memandangi keindahan kota itu dari balkon kamarnya saja. Dan untuk hari ini, dia menyatu dalam keindahan kota itu. Menjadi bagian dari keindahan itu sendiri. Musik masih mengalun indah mengiringi perjalanan mereka sore ini. Raka sesekali mengetuk - ketukkan tangannya di atas stir mobil, mengikuti hentakan irama musik. Sementara Luna ikut menyanyi dengan suaranya yang merdu, membius rekan perjalanannya untuk ikut bersuara. "Jadi, kemana lagi kita akan pergi?" tanya Luna saat mobil yang mereka tumpangi melaju perlahan, seperti tanpa tujuan. "Makan malam. Apa kamu tidak lapar?" ujar Raka tanpa menoleh. "Ooh... aku pikir kita akan makan di apartemen masing - masing." Luna menyahut polos. "Kenapa? Bukannya tiap hari kamu udah makan di apartemen?" "Bukan begitu, aku kebetulan masak hari ini. Rasanya sayang jika tidak dihabiskan. Karena makanan itu dikirim jauh - jauh dari Indonesia." Kata Luna coba menjelaskan. "Ooh. Tidak apa-apa, nanti kamu bisa membagi makanan itu denganku agar kita bisa menghabiskannya malam ini." Luna tampak berpikir keras, terlihat dari raut wajahnya yang terlihat serius. "Baiklah." Ucap Luna kemudian membuat Raka tersenyum puas. Dengan cepat Raka melajukan mobilnya sebelum Luna mulai berubah pikiran lagi. Ia menyetir mobilnya dwngan kecepatan sedang menuju sebuah restoran terbaik di kota London. Restoran yang menyediakan tempat di roof top dengan view Tower Bridge dan sungai Thames pada malam hari. Benar - benar sangat mengagumkan. "Kamu ngapain bawa aku ke tempat begini? Jangan modus ya! Kita itu bukan lagi kencan." Luna menatap Raka penuh curiga. Raka tertawa. Gadis di depannya benar - benar membuatnya merasa takjub. Baru kali ini ada perempuan yang berpikiran negative saat diajak makan malam. Disaat banyak gadis di luar sana, begitu ingin masuk ke tempat itu bersama pasangan mereka. "Udah, tenang aja! Ini bukan kencan, kok. Kalau kencan itu buat mereka yang punya pasangan. Nah, kita? Kenal juga, masih baru." Raka menyahut santai. "Ini namanya, layanan sahabat. Karena kamu udah baik sama aku, nah... sekarang giliran aku yang balas kebaikan kamu. Impas, kan?" sambung Raka. "Udah, jangan jutek kayak gitu. Jelek tau! Senyum dong..." goda Raka. Tangannya terangkat, menarik kedua sudut bibir gadis itu ke atas. *** "Kenapa? Dingin ya?" tanya Raks cemas saat melihat Luna mulai memeluk tubuhnya sendiri yang mulai gemetar kedinginan. "Iya. Aku masih belum terbiasa dengan suhu di sini. Lagian, aku lupa bawa syal dan sarung tangan karena terburu - buru." Luna menjawab terbata - bata, karena mulutnya mulai gemeretuk kedinginan. "Ya udah, kita balik sekarang." Raka menutun Luna kembali ke dalam mobil. Ia merasa kasihan pada gadis itu. Wajahnya mulai terlihat pucat karena kedinginan. Ia melajukan mobilnya dengan cepat karena kondisi jalan yang mulai tampak lengang. "Hati - hati jangan terlalu cepat. Aku baik - baik saja." Luna berusaha menghilangkan ketegangan Raka. Namun bukannya melambat, Raka semakin mempercepat laju mobilnya. Ia merasa menyesal karena terlalu memaksa Luna untuk berada di luar di suhu sedingin malam ini. Raka melesat cepat, melewati kendaraan lain yang ada di depan mereka. Luna mengulas senyum tipis di balik bibirnya yang gemeretuk kedinginan. Hingga akhirnya mereka tiba di apartemen. Raka kembali menuntun Luna untuk masuk ke dalam apartemen mereka, setelah memarkirkan mobilnya dengan cepat. Ia memeluk tubuh gadis itu, berusaha menyalurkan kehangatan yang ada pada tubuhnya kepada Luna. "Bagaimana? Apa masih terasa dingin?" tanya Raka cemas, saat mereka berada di dalam lift. Pria itu semakin mengeratkan pelukannya, membuat Luna menenggelamkan tangannya di balik coat yang Rasya gunakan. "Sedikit." Luna menyahut pelan setengah berbisik. Bibirnya masih menggigil kedinginan. "Ayo, aku antar ke kamarmu. Berikan kuncinya biar aku bantu membukanya." Raka mencoba menawarkan diri. Luna merogoh tasnya, mengambil kuncinya dan menyerahkannya ke tangan Rasya. Dan tanpa menunggu lagi, Raka segera membuka pintu unit apartemen milik Luna. Dan segera membawa Luna masuk ke dalam kamarnya dan menutupinya dengan selimut. Sementara ia sendiri mulai menyiapkan minuman hangat untuk Luna. Dan membawanya ke kamar, agar diminum oleh gadis itu untuk menghangatkan tubuhnya. Entah mengapa, hati Raka iba ketika melihat keadaan Luna yang tak berdaya seperti itu. Ia menunggui Luna di kamarnya sambil duduk bersandar di tepi ranjang. Sementara tangannya mengusap kepala Luna lembut, hingga gadis itu memejamkan matanya dan akhirnya tertidur lelap. Raka memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama. Wajah polos gadis itu terlihat begitu manis dan menggemaskan, bahkan disaat ia tengah tertidur pulas seperti itu. Pria itu akhirnya memilih untuk keluar dari kamar Luna, setelah memastikan bahwa gadis itu sudah baik-baik saja. Alasan sebenarnya adalah, karena Raka khawatir tidak dapat menahan dirinya lebih lama untuk tidak menyentuh gadis itu. Entah kenapa sejak bersama Luna, Raka merasakan degup jantungnya tidak stabil. Apalagi saat melihat gadis itu tersenyum, dengan semburat merah jambu di pipinya, membuat Raka merasa gemas. Namun terlalu cepat jika mengatakan bahwa ia telah jatuh cinta pada gadis itu. Raka khawatir, jika Luna mengetahui perasaannya itu, gadis itu malah akan menjauhi dirinya. Dan mungkin, semakin menjaga jarak darinya. Sementara ia sendiri tidak yakin, mungkin itu hanya perasaan kagum pada gadis itu karena tidak terpengaruh pada wajahnya yang tampan itu. Tidak seperti teman - teman wanitanya yang lain, yang selalu menyanjung dirinya. Dan ingin selalu berdekatan denga dirinya. *** Luna menggeliat di balik selimut yang membungkus tubuhnya. Mulutnya berulang kali menguap karena rasa kantuk masih menguasai alam bawah sadarnya. Akan tetapi, gadis itu tiba - tiba saja terduduk di ranjangnya saat sadar ia tengah berada di kamarnya sendiri. Luna merasa bingung. Ia mencoba mengingat - ingat kejadian malam itu, saat dirinya tengah makan malam bersama Raka di restoran mewah. Ya, Raka. Dimana Raka? Luna membatin. Kenapa dia bisa sampai di apartemennya dan tertidur di kamarnya tanpa ingat apa yang terjadi semalam. Dan orang yang harus ditanyai adalah Raka. Ya, sudah pasti Raka. Karena, sudah pasti Raka yang mengantarnya pulang tadi malam. Lalu, siapa yang membuka pintu? Dan, siapa yang menutup pintu jika dirinya sendiri sedang tidur di kamar? "Ya ampun, kenapa aku tidak ingat apapun?" Luna mendesah lirih. Luna segera membuka selimutnya. Raut wajahnya langsung berubah ketika memeriksa seluruh tubuh dan pakaiannya yang masih lengkap. Ia mengernyit bingung, keningnya berkerut dalam. Sebab, sepatu yang ia pakai semalam sudah berganti dengan kaos kaki yang menutupi kulit kakinya. Pertanyaannya adalah itu milik siapa? Luna sama sekali merasa tidak pernah memilikinya. Luna berusaha bangkit dari ranjangnya. Ia membuka pakaiannya dan menggantinya dengan jubah mandi. Pagi ini dia bermaksud untuk ke kampus. Namun, alangkah terkejutnya Luna saat mendapati Raka tengah tertidur di sofa ruang tamu apartemen miliknya. "What? Jadi dia yang membukakan pintu semalam? Kenapa aku gak ingat? Lagian ngapain dia tidur disini?" Gumam Luna. Ia melangkah ke dapur hendak mengambil air untuk Luna pakai membangunkan Raka. Namun akhirnya Luna membatalkan niatnya itu, saat mendapati makanan yang ada di atas meja makannya telah habis. Sesaat Luna teringat pada janji pria itu untuk memakan makanan yang telah ia masak. Luna menghela nafasnya panjang. Jemarinya mulai memijit kening yang terasa sedikit pusing, saat berusaha mengingat apa yang terjadi kemarin malam. "Oke. Semalam aku kedinginan. Lalu dia membawa aku pulang dan memintaku untuk tidur. Sementara dia menghabiskan semua makananku, kekenyangan, trus teridur di sofa. Baiklah, itu lebih terdengar masuk akal. Tapi, kenapa harus tidur disini? Kenapa tidak lembali saja ke unitnya sendiri?" Luna bicara pada dirinya sendiri. Apapun itu, pria itu harus keluar dari ruangannya sekarang. Luna mengambil langkah pertamanya. Ia memerciki wajah Raka dengan air hingga pria itu terbangun saat merasakan wajahnya dingin dan basah. "Apa - apaan sih? Untuk apa aku di siram air seperti ini?" gerutu Raka kesal. "Untuk mengusirmu keluarbdari sini. Ayo bangun! Kembali sana ke unitmu!" usir Luna seraya menarik tubuh pria itu menuju pintu, dengan seluruh tenaganya. "Iya, iya... aku keluar. Tapi setidaknya ucapkan terima kasih padaku." "Untuk apa?" "Untuk menjagamu seoanjang malam. Kamu demam karena kedinginan. Apa kamu gak ingat?" "Oh ya? Baiklah, terima kasih. Tapi kamu juga telah menghabiskan semua makananku, jadi kita impas. Sekarang keluar! Aku mau mandi. Pagi ini aku harus ke kampus." Luna kembali mengusir pria itu. "What? Astaga! Sudah jam berapa sekarang? Aku juga harus ke kampus pagi ini." Reaksi Raka seperti orang kebakaran jenggot. Pria itu langsung pergi tanpa Luna harus bersusah payah mengusirnya dengan kekerasan. Setelah mengunci pintunya, Luna langsung menuju kamar mandi. Melepaskan jubah mandinya dan mulai mengguyur tubuh polosnya dengan air hangat yang mengalir melalui pancuran air di atas kepalanya. Membuat tubuh dan pikirannya sedikit lebih rileks. Berlama - lama di air seperti ini adalah salah satu kebahagiaan tersendiri bagi Luna. Sebab, sepanjang hari ia akan sangat lelah dengan semua akitifitas yang membuat kepala pusing. Dan mandi adalah caranya untuk menyingkirkan semua beban yang ada di pikirannya. Namun pagi ini, sepertinya Luna harus mengakhirinya lebih cepat. Karena dirinya sedang buru - buru, atau dia akan terlambat dihari pertama perkuliahannya. Dengan terburu - buru Luna mengenakan pakaian yang diambilnya dengan asal dari dalam lemari. Lalu melapisnya kembali dengan coat, agar dirinya jangan sampai kedinginan lagi. Luna segera pergi setelah memastikan apartemennya telah rapi dan semua telah terkunci dengan baik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD