Hari-hari berikutnya di Desa Terpencil terasa begitu berat dan melelahkan bagi Via.
Ia berusaha sekuat tenaga untuk memfokuskan diri pada pekerjaan dan tanggung jawabnya sebagai anggota tim pengembangan sistem irigasi, namun bayangan Darwin selalu menghantuinya, mengganggu pikirannya, dan membuatnya sulit untuk berkonsentrasi.
Setiap kali mereka bertemu secara tidak sengaja di balai desa, di jalan setapak, atau bahkan di warung kopi sederhana tempat mereka biasa beristirahat, Via merasa jantungnya berdebar kencang tak terkendali dan pikirannya menjadi kacau balau.
Ia berusaha keras untuk menghindari Darwin sebisa mungkin, mencari alasan untuk tidak berinteraksi dengannya, dan menjauh dari kehadirannya yang selalu membuat hatinya bergejolak.
Namun, itu bukanlah hal yang mudah dilakukan, mengingat mereka berada dalam satu tim yang sama dan harus bekerja sama untuk menyelesaikan proyek yang penting bagi masyarakat desa.
Darwin, di sisi lain, berusaha untuk bersikap seprofesional mungkin dan menunjukkan sikap yang ramah dan bersahabat kepada Via.
Ia tidak pernah membahas masalah pribadi mereka yang sensitif dan menyakitkan, dan selalu fokus pada pekerjaan serta berusaha untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya dengan sebaik mungkin.
Ia berusaha membuktikan kepada Via bahwa ia telah berubah menjadi orang yang lebih baik, bahwa ia bisa menjadi rekan kerja yang baik dan dapat diandalkan, dan bahwa ia pantas mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki hubungan mereka.
Namun, Via tetap bersikap dingin, menjaga jarak dengannya, dan tidak memberikan respon positif terhadap usahanya untuk mendekat.
Pekerjaan awal dalam proyek pengembangan sistem irigasi dimulai dengan survei lapangan dan pengumpulan data dari para petani.
Darwin bersama Budi dan Sinta pergi ke sawah setiap hari untuk melakukan survei dan mewawancarai para petani tentang sistem irigasi yang mereka gunakan saat ini, jenis tanaman yang mereka tanam, masalah dan tantangan yang mereka hadapi dalam bercocok tanam, serta harapan dan keinginan mereka untuk sistem irigasi yang baru.
Mereka mencatat semua informasi yang mereka peroleh dengan cermat dan teliti, serta membuat catatan tentang kondisi lingkungan dan topografi sawah untuk digunakan sebagai dasar dalam perancangan sistem irigasi yang baru.
Sementara itu, Via mengerjakan bagian perencanaan dan desain sistem irigasi di balai desa.
Ia menggunakan data dan informasi yang diperoleh dari survei lapangan untuk membuat desain sistem irigasi yang lebih efisien, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan para petani serta kondisi lingkungan.
Ia bekerja keras untuk memastikan bahwa desain yang ia buat memenuhi standar teknis yang berlaku, dapat diimplementasikan dengan mudah dan biaya yang terjangkau, serta memberikan manfaat yang maksimal bagi masyarakat desa.
Via dan Darwin berusaha untuk bekerja secara terpisah dan meminimalkan interaksi langsung sebisa mungkin.
Mereka berkomunikasi melalui email atau pesan singkat, dan hanya bertemu secara langsung jika benar-benar diperlukan untuk membahas masalah teknis atau mengambil keputusan penting.
Namun, strategi ini ternyata tidak efektif dan justru menimbulkan masalah baru.
Beberapa hari kemudian, muncul masalah teknis yang serius yang menghambat kemajuan proyek dan membuat tim menjadi frustrasi.
Data yang diperoleh dari survei lapangan ternyata tidak lengkap dan akurat.
Beberapa petani memberikan informasi yang tidak benar atau tidak konsisten, dan ada beberapa area sawah yang sulit dijangkau oleh tim survei karena kondisi geografis yang rumit.
Akibatnya, desain sistem irigasi yang dibuat oleh Via menjadi tidak valid, tidak sesuai dengan kondisi lapangan, dan perlu direvisi secara total.
Darwin menyadari bahwa mereka membutuhkan kerja sama tim yang solid dan komunikasi yang efektif untuk mengatasi masalah ini.
Ia mencoba untuk berbicara dengan Via secara pribadi dan membahas masalah ini secara terbuka, namun Via menolak untuk bertemu dengannya.
Ia merasa bahwa Darwin menyalahkannya atas masalah yang terjadi dan ia tidak ingin berdebat atau berkonfrontasi dengannya.
Komunikasi yang buruk dan kurangnya koordinasi antara Via dan Darwin menyebabkan kesalahan dan keterlambatan dalam proyek.
Tim menjadi frustrasi, kehilangan semangat, dan mulai saling menyalahkan. Budi dan Sinta merasa tidak nyaman dan canggung dengan ketegangan yang terjadi antara Via dan Darwin.
Mereka tidak tahu bagaimana harus berbuat apa untuk membantu tim mengatasi masalah ini dan kembali bekerja sama secara harmonis.
Suatu sore yang mendung, saat Via sedang mengerjakan revisi desain sistem irigasi di balai desa, Darwin datang menghampirinya. Ia terlihat sangat lelah, frustrasi, dan putus asa.
"Via, bisakah kita bicara sebentar?" kata Darwin dengan nada suara yang memohon dan penuh harapan.
Via menolak untuk menatap mata Darwin dan berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya. "Aku sedang sibuk, Win," jawabnya dengan nada suara yang dingin dan acuh tak acuh. "Aku tidak punya waktu untuk bicara sekarang."
"Ini penting, Via," kata Darwin dengan nada suara yang mendesak dan penuh tekanan. "Kita punya masalah besar dan kita harus menyelesaikannya bersama secepat mungkin."
"Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan," jawab Via dengan nada suara yang ketus dan menghindar.
"Data yang kamu gunakan untuk membuat desain sistem irigasi itu tidak valid, Via," kata Darwin dengan nada suara yang sabar dan berusaha untuk tetap tenang.
"Kita harus melakukan survei lapangan lagi, mengumpulkan data yang lebih akurat, dan merevisi desainnya dari awal."
"Itu bukan salahku, Win," jawab Via dengan nada suara yang membela diri dan penuh emosi.
"Kamu yang bertanggung jawab atas survei lapangan dan pengumpulan data. Kenapa kamu tidak melakukannya dengan benar sejak awal?"
"Aku tahu, tapi kita semua bertanggung jawab atas keberhasilan proyek ini, Via," kata Darwin dengan nada suara yang memohon dan penuh pengertian.
"Kita harus bekerja sama, saling membantu, dan saling mendukung untuk mengatasi masalah ini."
"Aku tidak mau bekerja sama denganmu, Win," jawab Via dengan nada suara yang keras kepala dan penuh kebencian.
"Aku tidak percaya padamu lagi. Kamu selalu membuatku kecewa dan menyakitiku."
Frustrasi Darwin memuncak. Ia tidak bisa lagi menahan emosinya yang selama ini ia pendam.
"Kenapa kamu selalu bersikap seperti ini kepadaku, Via?" bentak Darwin dengan nada suara yang meninggi dan penuh amarah.
"Apa yang harus kulakukan agar kamu bisa memaafkanku dan melupakan masa lalu?"
Via terkejut mendengar bentakan Darwin yang tiba-tiba. Ia tidak pernah melihat Darwin semarah ini sebelumnya.
"Aku tidak tahu apa yang kamu inginkan dariku, Win," jawab Via dengan nada suara yang lirih dan penuh kesedihan.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, siap untuk tumpah membasahi pipinya.
"Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku sangat menyesal atas apa yang telah kulakukan kepadamu, Via," kata Darwin dengan nada suara yang lebih tenang dan tulus.
"Aku ingin memperbaiki semua dan kembali bersamamu, seperti dulu."
Via tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia menangis terisak-isak di depan Darwin, meluapkan semua emosi yang selama ini ia pendam di dalam hatinya.
"Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkanmu atau tidak, Win," kata Via dengan nada suara yang terisak-isak dan penuh keraguan.
"Tapi aku tahu bahwa aku tidak bisa terus seperti ini. Aku tidak bisa membiarkan masalah pribadi kita menghalangi pekerjaan kita dan merugikan masyarakat desa."
Darwin mendekati Via dengan langkah perlahan dan memeluknya erat-erat. Via membalas pelukan Darwin dan menangis sejadi-jadinya di bahunya, melepaskan semua beban yang selama ini membebani hatinya.
Setelah beberapa saat, Via melepaskan pelukan Darwin dan mengusap air matanya dengan tisu yang diberikan oleh Darwin.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Win?" tanya Via dengan nada suara yang bingung dan penuh harapan.
"Kita harus berbicara jujur satu sama lain, saling mendengarkan, dan mencari solusi bersama," jawab Darwin dengan nada suara yang tenang dan penuh keyakinan.
"Kita harus mengesampingkan ego kita, melupakan masa lalu, dan fokus pada tujuan kita, yaitu membantu masyarakat desa dan membangun sistem irigasi yang lebih baik."
Via mengangguk setuju dengan ucapan Darwin. Ia merasa bersalah karena sikapnya selama ini telah menghambat kemajuan tim dan merugikan masyarakat desa.
Ia mulai mempertimbangkan untuk mengesampingkan egonya, memaafkan Darwin, dan bekerja sama dengan baik demi keberhasilan proyek dan kebaikan semua orang.