Mentari pagi menyinari Desa Terpencil dengan cahayanya yang lembut dan hangat, seolah ingin menyapa dan membangkitkan semangat seluruh penghuni desa.
Namun, cahaya mentari yang indah itu tak mampu menembus kegelapan yang melanda hati Via.
Pengakuan Darwin di gubuk sawah senja itu masih terngiang-ngiang di telinganya, bagaikan mimpi yang indah namun sekaligus menakutkan.
Ia masih belum tahu bagaimana harus merespons pengakuan Darwin, apakah ia harus menerima Darwin kembali ke dalam hidupnya dan memberikan kesempatan kedua untuk cinta mereka, atau tetap menjaga jarak dan melupakan masa lalu yang kelam.
Setiap kali Darwin mencoba mendekatinya, menyapanya dengan senyuman hangat, atau menawarkan bantuan, Via selalu berusaha menghindar dan menjauh.
Ia menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan KKN, mulai dari membantu ibu-ibu memasak di dapur umum hingga mengajar anak-anak membaca dan menulis di sekolah darurat.
Ia berusaha memfokuskan diri pada tugas dan tanggung jawabnya sebagai anggota KKN, dan melupakan sejenak perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya.
Namun, bayangan Darwin selalu menghantuinya, muncul dalam setiap sudut pikirannya, membuatnya sulit untuk berkonsentrasi, menikmati hari-harinya di desa, dan melupakan kenangan indah yang pernah mereka ukir bersama.
Pagi itu, seluruh anggota KKN dikumpulkan di balai desa untuk menerima pengumuman penting dari Pak Kepala Desa dan para dosen pembimbing.
Mereka akan mengumumkan pembagian kelompok untuk proyek-proyek KKN yang lebih spesifik, yang akan menjadi fokus utama kegiatan mereka selama beberapa minggu ke depan.
Proyek-proyek tersebut meliputi pengembangan sistem irigasi yang lebih efisien dan berkelanjutan, program pelatihan keterampilan menjahit dan membuat kerajinan tangan untuk ibu-ibu, peningkatan kualitas pendidikan anak-anak melalui kegiatan belajar yang kreatif dan menyenangkan, serta pengembangan potensi wisata desa melalui promosi dan pelatihan pengelolaan homestay.
Via berharap dalam hati bahwa ia akan ditempatkan di kelompok yang berbeda dengan Darwin.
Ia tidak ingin bekerja dekat dengan Darwin, berinteraksi dengannya setiap hari, dan merasakan kembali getaran aneh yang muncul setiap kali ia berada di dekatnya.
Ia takut perasaannya akan semakin kacau dan tidak terkendali, dan ia tidak akan bisa fokus pada pekerjaannya serta memberikan kontribusi yang maksimal bagi masyarakat desa.
Namun, sepertinya takdir memiliki rencana lain untuk dirinya dan Darwin.
"Untuk proyek pengembangan sistem irigasi desa," kata Pak Kepala Desa dengan suara lantang dan penuh semangat, "akan diketuai oleh saudara Darwin, dengan anggota saudari Via, saudara Budi, dan saudari Sinta."
Jantung Via serasa berhenti berdetak selama beberapa detik mendengar namanya disebut dalam kelompok yang sama dengan Darwin.
Ia merasa lemas, kecewa, dan tidak percaya bahwa ia harus bekerja dalam satu tim dengan pria yang pernah mengisi hatinya dan kemudian menghancurkannya berkeping-keping.
Ia menatap Darwin dengan tatapan yang penuh kekecewaan, frustrasi, dan ketidakberdayaan.
Darwin balas menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, tatapan yang memancarkan campuran antara penyesalan, harapan, dan tekad.
Setelah pengumuman selesai dan para dosen pembimbing memberikan arahan singkat, Via menghampiri Darwin dengan langkah yang berat dan enggan.
Ia ingin mengungkapkan kekecewaannya dan meminta Darwin untuk berbicara dengan Pak Kepala Desa dan memintanya agar ia dipindahkan ke kelompok lain.
"Win," kata Via dengan nada suara yang dingin dan datar, "Bisakah kita bicara sebentar di tempat yang lebih sepi?"
Darwin mengangguk pelan dan mengajak Via berjalan menuju ke belakang balai desa, di mana terdapat sebuah taman kecil yang rindang dan sepi. "Ada apa, Via?" tanya Darwin dengan nada suara yang hati-hati dan penuh perhatian.
"Aku tidak mengerti kenapa aku harus berada dalam satu tim denganmu untuk proyek ini," kata Via dengan nada suara yang ketus dan penuh penekanan.
"Kamu tahu kan kalau aku tidak nyaman bekerja denganmu setelah apa yang terjadi di antara kita?"
"Aku tahu itu, Via," jawab Darwin dengan nada suara yang tenang dan penuh pengertian, "Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Ini sudah menjadi keputusan Pak Kepala Desa dan para dosen pembimbing. Mereka pasti memiliki alasan tersendiri mengapa mereka menempatkan kita dalam satu tim."
"Tapi aku tidak mau bekerja denganmu!" bentak Via engan nada suara yang meninggi dan penuh emosi.
"Aku tidak bisa fokus pada pekerjaan dan memberikan yang terbaik kalau ada kamu di dekatku! Kamu selalu mengingatkanku pada masa lalu yang ingin aku lupakan!"
"Via, kumohon, cobalah untuk bersikap profesional dan dewasa dalam menghadapi situasi ini," kata Darwin dengan nada suara yang memohon dan penuh harapan.
"Kita memiliki tanggung jawab yang besar untuk menyelesaikan proyek ini dengan baik dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat desa. Jangan biarkan masalah pribadi kita menghalangi pekerjaan kita dan merugikan orang lain."
"Bagaimana bisa aku bersikap profesional dan melupakan masa lalu kalau setiap kali aku melihatmu, semua kenangan pahit itu kembali menghantuiku?" tanya Via dengan nada suara yang lirih dan penuh kesedihan. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, siap untuk tumpah membasahi pipinya.
Darwin terdiam sejenak, menatap Via dengan tatapan yang penuh penyesalan, rasa bersalah, dan cinta yang masih membara di dalam hatinya. "Aku tahu aku sudah menyakitimu dengan sangat dalam, Via," kata Darwin dengan nada suara yang tulus dan penuh penyesalan, "Dan aku tidak akan pernah bisa menghapus rasa sakit itu. Tapi, aku berjanji kepadamu bahwa aku tidak akan mengganggumu atau membuatmu merasa tidak nyaman selama kita bekerja bersama. Aku hanya ingin kita bisa bekerja sama dengan baik dan menyelesaikan proyek ini demi kepentingan masyarakat desa."
Via menghela napas panjang dan mencoba menenangkan diri yang bergejolak di dalam hatinya. Ia tahu bahwa Darwin benar.
Ia tidak bisa terus membiarkan masalah pribadinya menghalangi pekerjaannya dan merugikan orang lain.
Ia harus belajar untuk bersikap profesional, mengesampingkan egonya, dan fokus pada tujuan utama KKN, yaitu membantu masyarakat desa.
"Baiklah," kata Via akhirnya dengan nada suara yang pasrah dan sedikit lebih tenang, "Aku akan mencoba untuk bekerja sama denganmu secara profesional. Tapi, kumohon, jangan membuatku semakin sulit untuk melupakan masa lalu dan memaafkanmu."
"Aku janji, Via," jawab Darwin dengan nada suara yang lega dan penuh harapan.
"Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengecewakanmu dan membuatmu merasa nyaman selama kita bekerja bersama."
Keesokan harinya, tim pengembangan sistem irigasi mengadakan pertemuan pertama di salah satu ruangan di balai desa untuk membahas pembagian tugas, menyusun rencana kerja, dan menentukan strategi yang akan digunakan dalam melaksanakan proyek tersebut.
Selain Via dan Darwin, hadir pula Budi, seorang pemuda yang pendiam namun memiliki ketelitian dan kecermatan yang tinggi, serta Sinta, seorang gadis yang ceria, ramah, dan pandai bergaul dengan masyarakat.
Suasana pertemuan terasa kaku dan tidak nyaman, terutama karena ketegangan yang masih terasa jelas di antara Via dan Darwin.
Darwin, sebagai ketua tim, mencoba memimpin diskusi dengan profesional dan bijaksana.
Ia menjelaskan tujuan proyek, mengidentifikasi masalah dan tantangan yang mungkin dihadapi, dan mengusulkan beberapa solusi alternatif.
Via mendengarkan dengan seksama penjelasan Darwin, namun ia tidak banyak berkomentar atau memberikan masukan.
Ia hanya memberikan pendapatnya jika diminta secara langsung atau jika ia merasa ada hal yang perlu dikoreksi atau diperbaiki.
Saat membahas pembagian tugas, muncul perbedaan pendapat antara Via dan Darwin yang kembali memicu ketegangan di antara mereka.
Darwin ingin Via bertanggung jawab atas survei lapangan dan pengumpulan data dari para petani, karena ia tahu bahwa Via memiliki kemampuan analisis yang baik dan pengalaman dalam melakukan penelitian.
Namun, Via menolak tugas tersebut dengan alasan ia tidak menyukai pekerjaan lapangan dan lebih tertarik untuk mengerjakan bagian perencanaan dan desain sistem irigasi.
"Aku tidak mau melakukan survei lapangan dan berpanas-panasan di sawah," kata Via dengan nada suara yang datar dan tanpa ekspresi.
"Aku lebih suka mengerjakan bagian perencanaan dan desain sistem irigasi. Aku merasa lebih kompeten dan berpengalaman di bidang itu."
"Tapi Via, survei lapangan itu sangat penting untuk mendapatkan data yang akurat dan informasi yang relevan tentang kondisi irigasi saat ini dan kebutuhan para petani," kata Darwin dengan nada suara yang sabar dan penuh pengertian.
"Aku yakin kamu bisa melakukannya dengan baik. Kamu memiliki kemampuan untuk menganalisis data dan berkomunikasi dengan orang lain."
"Aku tidak peduli dengan pentingnya survei lapangan," jawab Via dengan nada suara yang ketus dan tidak mau mengalah. "Aku tidak mau melakukan pekerjaan itu. Titik."
Suasana di dalam ruangan kembali menegang. Budi dan Sinta hanya bisa diam dan saling pandang, tidak tahu harus berbuat apa untuk meredakan ketegangan yang terjadi di antara Via dan Darwin.
Darwin menghela napas panjang dan mencoba untuk menenangkan diri yang mulai terpancing emosi.
"Baiklah," kata Darwin akhirnya dengan nada suara yang mengalah dan berusaha untuk tetap tenang, "Kalau kamu tidak mau melakukan survei lapangan, biar aku saja yang melakukannya sendiri. Tapi, sebagai gantinya, kamu harus bertanggung jawab penuh atas bagian perencanaan dan desain sistem irigasi. Apakah kamu setuju dengan pembagian tugas ini?"
Via mengangguk tanpa menjawab sepatah katapun. Ia merasa sedikit tidak enak hati karena telah bersikap kasar dan tidak profesional terhadap Darwin.
Namun, ia tidak bisa memaksakan dirinya untuk melakukan sesuatu yang tidak ia sukai dan membuatnya merasa tidak nyaman.
Setelah pembagian tugas selesai disepakati, pertemuan diakhiri dengan suasana yang kurang menyenangkan.
Via merasa terbebani dengan situasi yang terjadi dan merenungkan apakah ia bisa bekerja sama dengan Darwin secara efektif dan profesional tanpa terpengaruh oleh perasaan masa lalu yang masih menghantuinya.
Ia merasa bahwa ia harus segera membuat keputusan yang tepat dan bijaksana, sebelum semuanya menjadi semakin rumit dan menghambat kelancaran proyek yang mereka emban.