"Bang Alif!!" pekikku senang. Saat aku sudah bisa mengenali dengan jelas orang yang ada di hadapanku ini. "Iya, Bocil..! Lama amat sih, buat ngenalin gue. Emangnya gue seganteng itu ya, sampe susah lo kenalin?" tanya Bang Alif seraya menaik turunkan sebelah alisnya lagi, meledekku. "Ish! Bang Alif ternyata masih aja narsis, sama kayak dulu!" Aku mengerucutkan bibir, kesal. "Nggak mau peluk, nih?” tanyanya jahil yang kutanggapi dengan pelototan. “Bukan mahram, Kak! Kalau mau minta dipeluk sama perempuan, ya cepetan nikah. Jadikan udah halal!” “Beh ... ternyata lo udah besar, ya. Pinter banget nyeramahin Kakak!” Kak Alif maju mendekatiku. Lalu dipukulkannya pulpen yang ada di tangannya kekepalaku. Membuat Ummi dan Paman Syarif tertawa melihatnya. *** Selepas sholat dzuhur, aku dan Ban

