Setelah menyelamatkan Naysila, hati Sahila merasa sakit bukan main saat mengingat makanan Jepang yang ia bawa terjatuh. Bayang-bayang melihat Calista, memakan masakan enak ada di otaknya. Tapi sekarang, harapan hanya tinggal harapan. Ia tidak bisa membawakan makanan itu untuk Calista.
Setelah berjalan dengan cukup jauh, Sahila memutuskan untuk mendudukkan diri di kursi yang ada di trotoar. Jari-jarinya saling bertautan, hatinya benar-benar gundah. Rasanya kejadian barusan benar-benar menyakitkan untuknya.
Mungkin bagi orang lain sederhana, tapi tidak bagi Sahila. Ia benar-benar sudah membayangkan, melihat wajah Calista yang girang saat memakan makanan Jepang yang ia beli. Tapi ternyata, Tuhan berkehendak lain. Mata Sahila membasah, dia begitu lemah soal sang Putri. Hatinya begitu rapuh, ketika dia mengingat tentang Calista.
10 menit kemudian, akhirnya Sahila bangkit dari duduknya, kemudian Ia memutuskan untuk mencari tempat makan yang murah. Sebenarnya, Sahila bisa saja menggunakan uang tabungan miliknya yang ia simpan. Tapi, ia tidak membawa uang itu dan ia menyimpan uang itu di kosan bersama Calista, ia hanya membawa uang sedikit untuk ongkosnya pulang, itu sebabnya saat makanan itu terjatuh di tanah, Sahila benar-benar merasakan nyeri yang luar biasa.
Tapi lagi-lagi Sahila berusaha ikhlas, apalagi ia menyelamatkan satu nyawa, dia yakin semua akan dibalas oleh Tuhan.
••••
Sahila masuk ke dalam gerbang, kemudian ia melihat ke arah kamarnya. Seperti biasa, sebelum Sahila pulang, Calista selalu membuka pintu kamarnya, karena gadis kecil itu selalu ketakutan diam sendiri dalam kamar
“Cal!” panggil Sahila, Calista yang sedang melamun menoleh, lalu mengembangkan senyumnya.
“Ibu!” panggilnya dengan nada riang. Gadis itu langsung bangkit dari duduknya
“Ibu, apa ibu membawa makanan, aku lapar!" kata Calista, Sahila mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca.
“Hmmm, tapi ibu hanya membawa nasi ayam untuk untukmu!” balas Sahila.
Wajah Calista tampak riang. “Tidak apa-apa, ibu. Aku lapar,” jawab Calista, wajahnya seperti tidak ada rasa kesal, tidak seperti saat mereka pertama kali keluar dari rumah Julius, di mana saat itu, Calista butuh beradaptasi dengan lingkungannya. Tapi sepertinya sekarang, gadis kecil itu sudah bisa memahami keadaan mereka, gadis kecil itu sepertinya sudah memahami apa yang terjadi.
Wajah Sahila yang tadinya murung dan dipenuhi kesedihan berubah menjadi berbinar, saat melihat ekspresi wajah putrinya. Ia. bersyukur Calista tidak murung lagi ketika ia hanya membawakan nasi biasa.
“Ayo makan, bu!” ajaknya.
“Hmm, ibu akan pergi mandi terlebih dahulu!” Sahila menaruh bungkusan yang ia bawa kemudian ia langsung pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.
Sepuluh menit kemudian, Sahila keluar dari kamar mandi, kemudian berniat untuk makan bersama. “Kenapa kau belum membuka makananmu, Cal?” tanya Sahila.
“Aku menunggu ibu. Ayo kita makan bersama,” ajaknya, Calista mengeluarkan dua bungkus nasi dari kresek, kemudian ia mengambil piring lalu membuka satu persatu. Namun tak lama, gadis kecil itu mengerutkan keningnya kala melihat lauk yang berbeda.
Satu ayam goreng dan tahu tempe, sedangkan satu lagi hanya dengan tahu tempe. “Ibu punyaku yang mana?" tanya Calista.
“Kau yang ada ayamnya, Cal. Ibu yang memakan tahu tempe,” jawab Sahila.
Tanpa diduga, Calista membagi dua yam miliknya, kemudian menyimpan di piring sang ibu. Sungguh Sahila benar-benar terpaku dengan pemandangan ini, ia benar-benar bersyukur tidak perlu menjelaskan apapun lagi pada Calista
••••
“Apa kau sudah tahu berapa plat nomor mobil itu?” tanya Naysila sambil membuka pintu mobil, Ia turun sambil menelepon seseorang
”Bagus, kalau begitu, tolong cari plat mobil itu sampai ketemu, dan aku tidak mau tahu kau harus menemukannya!” balas Naysila lagi.
Sejujurnya ini masih menjadi misteri untuknya. Saat tadi ia diselamatkan oleh Sahila, Naysila merasa ada yang aneh dengan mobil yang berjalan cepat, sedangkan mobil lainnya berjalan dengan pelan dan ia meminta seseorang untuk melihat plat nomor mobil itu lewat CCTV yang ada di sekitaran tempat kejadian.
Naysila berjalan masuk ke dalam, saat dia masuk ke dalam ia menolehkan kesana kemari, tumben sekali kakaknya belum turun, biasanya kakaknya akan turun di jam-jam seperti ini.
Tak lama terdengar suara langkah membuat Naysila menoleh, ternyata itu adalah kakaknya. “Dari mana saja kau?” tanya Attar, kaka Naysila
“Aku baru saja arisan bersama teman-teman sosialitaku," balas Naysila, attar mengungguk anggukan kepalanya.
“Tolong buatkan kakak makanan seperti biasa!” titah Atar, membuat Naysila menghela nafas, seraya menggeleng.
“Kak, bisakah kau meminta koki saja yang membuatkannya, aku lelah aku ingin beristirahat!” jawab Naysila, ia engggan menuruti perintah Atar untuk memasak. Karena selama beberapa tahun ini, Atar tidak pernah memakan masakan buatan orang lain, ia harus memakan masakan Naysila, sang adik.
“kau tidak mau memaksakan untuk kakak lagi?” tanya Attar dengan ada sendu, lagi-lagi Naysila menggeleng.
“Baiklah, sekarang tunggu di sana aku akan memasakan untukmu,” walaupun kesal. Tapi tak urung, Naysila pun berbalik, kemudian ia berjalan ke arah dapur.
“Biar aku saja yang memasak!" kata Naysila
pada koki, koki pun mengangguk dan keluar dari area dapur tersebut, lalu berjalan dan berdiri di sisi.
“Untuk apa juga dia membayar koki mahal-mahal jika aku yang harus memasak untuknya!” gerutu Naysila saat ia mulai mencincang sayuran.
Ada hal berat yang terjadi dengan Attar di masa lalu, hingga menyebabkan sang kakak seperti ini yang tidak pernah mau memakan masakan orang lain, dan tidak pernah mau menerima apapun yang dilakukan orang lain kecuali Naysila, seperti memilihkan pakaian dan lain-lain.
30 menit kemudian, akhirnya makanan untuk Attar pun jadi, ia langsung keluar dari arah dapur kemudian ia berjalan ke arah Attar. “Ini makananmu. Aku lelah jadi aku hanyamembuat masakan sederhana!" kata Naysila, Attar menggangguk.
Attar tidak pernah protes dengan apapun yang Naysila buat, bahkan ketika Naysila hanya membuat telur dadar, Ia pun akan memakannya asalkan itu Naysila yang membuatkannya.
“Aku akan ke kamar dan jangan menggangguku!” kata Naysila.
“Apa kau sedang ada masalah?" tanya Attar saat Naysila berbalik.
“Tidak ada!” setelah mengatakan itu, Naysila pun kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Atar yang sudah mulai menyiapkan makanan.
•••••
Julius dan Erika masih terengah-engah, tentu saja mereka melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Erika berusaha mengatur nafasnya begitupun Julius. Setelah beberapa menit berlalu, Julius mengangkat tangannya untuk mengelus perut Erika.
“Aku berharap, semoga benih kita cepat tumbuh di dalam sini!” kata Julius, sedangkan tubuh Erika langsung menegang, bola matanya tampak memutar ke atas saat mendengar ucapan Julius, ia seperti sedang memikirkan sesuatu.