Erika dan Elia turun dari mobil, kemudian mereka memasuki sebuah restoran yang sudah dipesan oleh teman-temannya sosialita mereka. Kepercayaan diri Erika semakin meningkat, apalagi sekarang ia sudah resmi menjadi istri satu -satunya dari seorang Julius Haidar.
Semua teman - teman sosialita tahu, bahwa Erika adalah istri kedua dari Julius. Hingga, beberapa orang memandang remeh pada Erika. Namun sekarang, di hadapan semua orang, Erika mampu mengangkat kepalanya dan mengatakan bahwa dia adah satu-satunya istri Julius.
Erika dan Elia masuk ke dalam restoran dan langsung masuk ke dalam ruangan yang sudah dipesan oleh teman-teman sosialitanya. Seperti biasa, mereka berencana untuk melakukan arisan, acara yang selalu dilaksanakan setiap bulan.
Pintu terbuka, semua wanita-wanita yang datang menoleh ke arah Erika. Ada beberapa orang yang berdecak kesal saat melihat Erika. Namun, ada beberapa orang yang juga biasa saja. Tapi Erika tidak memperdulikan itu, ia melangkah dengan kepercayaan diri yang tinggi.
Ia pun langsung masuk, lalu menarik kursi dan mendudukkan dirinya. ”Maaf jika kami telat datang!” kata Erika, seraya tersenyum. Ia menatap dengan tatapan meremeh pada orang-orang yang tidak suka padanya
“Tidak masalah!" ucap salah satu wanita yang tak suka pada Erika.
“Ayo kita mulai saja!” Elia lebih baik menengahi perdebatan karena biasanya sebelum memulai pasti akan ada yang saling sindir satu sama lain.
•••
Setelah acara hampir selesai, Erika bangkit dari duduknya, kemudian ia menghentakkan kakinya lalu berjalan ke arah kamar mandi. Ia pikir, ia bisa membungkam orang-orang yang selalu melihatnya sebelah mata. Tapi ternyata, ia salah.
Setelah arisan selesai, dan mereka tinggal menikmati makan siang. Erika malah menjadi bulan-bulanan wanita yang tidak menyukainya hanya karena status Erika sebagai istri kedua dan sekarang Erika lebih memilih untuk mendinginkan kepalanya di kamar mandi.
Erika masuk ke dalam kamar mandi, kemudian ia bercermin lalu menatap dirinya dan melihat tampilannya. Ia begitu sempurna, cantik dan seksi sehingga Julius tergila-gila padanya. Bahkan bisa dibilang hidup Erika sempurna. Tapi entah kenapa, mendengar sindiran dari teman-teman sosialitanya, Erika masih merasa tidak terima.
Tak lama, terdengar suara derap langkah, dan seseorang masuk ke dalam kamar mandi. Dia berjalan dan bercermin di sebelah Erika, membuat Erika mengepalkan tangannya, karena orang yang masuk itu adalah Naysila, salah satu sosialita yang juga gencar menyindirnya.
Saat Naysila masuk, Erika langsung merapikan tampilannya, kemudian mencuci tangannya dan berniat keluar dari kamar mandi, karena ia malas berdebat dengan Naysila.
“Apakah semenyenangkan itu menjadi istri pertama?” tanya Naysila tiba-tiba membuat Erika menoleh. Erika berusaha tenang, agar tidak terpancing, lalu berbalik.
“Hmm, sangat menyenangkan. Bahkan lebih menyenangkan daripada wanita yang ditinggal menikah selama beberapa kali!” jawab Erika dengan puas. Diantara semua wanita-wanita sosialita lainnya, Naysilalah yang paling Erika benci, karena Naysila yang sering menyindirnya dan menohoknya.
Mendengar jawaban Erika, Naysila bersidekap, kemudian Naysila menatap Erika dari bawah ke atas. “Aku lebih baik tidak menikah dengan orang yang salah. Setidaknya nasibku lebih baik, dan tentunya aku lebih terhormat, dari pada kau, yang menjadi istri kedua dan merebut suami orang lain,” jawab Naysila, membuat wajah Erika memerah.
Berbeda dengan Erika, Naysila tetap tenang walaupun barusan Erika menyindirnya. Naysila tidak pernah memperlihatkan emosinya dan bersikap santai. Entah kenapa ia begitu membenci Erika apalagi Ia mempunyai kenangan buruk tentang sebuah perselingkuhan.
“Sebenarnya apa masalahmu denganku,
kenapa kau selalu menggangguku? kenapa kau selalu mengusik hidupku!” pada akhirnya, Erika menguapkan emosinya, karena mereka sedang berdua dan ia rasa ini saatnya untuk berbicara pada Naysila
“Simpel saja. Aku paling benci perusak hubungan orang lain, dan walaupun kau tidak ada hubungannya denganku. Tapi karena kelakuanmu, aku membencimu sampai ke dasar. Jika kau hancur, akulah yang akan pertama kali bertepuk tangan atas kehancuranmu!” Setelah mengatakan itu, Naysila pun keluar.
Saat melewati tubuh Erika, Naysila menubruk bahu Erika, hingga Erika hampir terjatuh. Membuat Erika menggeram kesal. Seandainya kakak Naysila tidak kaya dan bukan orang terpandang, tentu saja Erika akan meminta Julius untuk membalas Naysila.
Tapi sayangnya ia tak bisa, karena ia tahu Julius tidak akan pernah menggubris keinginannya, apalagi Attar yang tak lain kakak Naysila bukan orang sembarangan.
•••
Taksi yang di tumpangi Erika, sampai di depan perusahaan Julius. Setelah acara selesai, Erika memutuskan untuk keluar dari restoran tersebut, meninggalkan teman-teman sosialitanya. Rasanya, ia tidak mau lagi mendengar sindiran-sindiran halus dari para wanita yang julid kepadanya. Itu sebabnya, Ia memutuskan untuk pergi ke kantor Julius
Erika menatap gedung di depannya dengan tatapan berbinar. Selama menikah dengan Julius, ia tidak pernah menginjakkan kakinya di kantor suaminya. Tapi hari ini ia diizinkan datang oleh Julius dan tentu saja itu merupakan sebuah kebanggaan yang luar biasa hebat bagi Erika, di mana saat ini ia menjadi satu-satunya istri dari Julius Haidar yang bebas menikmati apapun tanpa harus bersembunyi lagi di hadapan orang lain.
Setelah cukup lama merenung, akhirnya Erika pun kembali melanjutkan langkahnya. Saat akan masuk, Erika dijemput sekretaris Julius membuat Erika serasa terbang ke atas awan, ia merasakan benar-benar diistimewakan oleh suaminya.
“Sayang ada apa dengan wajahmu, kenapa kau tampak murung?” tanya Julius, ketika Erika masuk ke dalam ruangannya dengan
memasang wajah cemberut.
Erika menghampiri Julius, lalu mendudukkan dirinya di pangkuan Julius. Hingga Julius menyandarkan tubuhnya ke belakang.
“Julius, Aku ingin pesta pernikahan yang megah!” kata Erika tiba-tiba, membuat Julius mengerutkan keningnya.
“Pesta pernikahan? kenapa kau ingin pesta pernikahan dan kenapa tiba-tiba sekali?” tanya Julius.
“Kau tahu, wanita-wanita itu masih terus menyindirku dan rasanya aku ingin menyumpal mereka dengan resepsi yang mewah,” ucap Erika dengan menggebu-gebu, membuat Julius terkekeh.
“Oh ayolah, Erika. Aku baru bercerai dengan Sahila, mana mungkin aku bisa memberikan pesta untukmu. Setahun lagi oke. Aku juga tidak mau membuat namamu jelek dihadapan orang lain,” ucap Julius, membuat Erika mencebikan bibirnya.
“Aku benar-benar ingin membungkam mulut mereka!” ucap Erika dengan kekeh.
“Setahun lagi oke,” ucap Julius, Erika memutar otaknya sepertinya Julius tidak bisa lagi dibantah. Tiba-tiba, ia terpikirkan sesuatu.
“Julius bisakah kamu menambah limit kreditku?”tanya Erika tiba-tiba.
Julius mengerutkan keningnya “Bukankah aku sudah memberikan kartu kredit yang berlimit sangat besar padamu. Apakah semua itu habis. Bukankah baru seminggu lalu aku memberikannya?”