Sahila keluar dari supermarket, kemudian ia langsung berjalan ke arah Calista yang sedang menunggunya. “Ayo, Cal. Kita duduk di sana!” kata Sahila yang menunjuk tangga yang ada di samping pintu supermarket tersebut.
Sepertinya, mereka harus beristirahat sejenak sebelum mereka menemukan tempat tinggal. Sahila tidak punya pilihan lain. Setelah istirahat, ia harus mencari tempat tinggal untuknya dan untuk Calista, sebelum hari mulai gelap.
Sahila dan Calista mendudukan dirinya di tangga, kemudian Sahila membuka kresek dan mengambil minuman serta roti yang ia beli untuk mengganjal perut Calista.
“Ibu, apa ibu tidak mau?” tanya Calista yang melihat hanya ada satu roti.
“Tidak, ibu makan nanti saja, kau saja makan duluan!” Calista pun mengangguk, kemudian Sahila membantu membukakan roti untuk putrinya.
•••
Erika menyeringai saat melihat Sahila dan Calista tanpa menyedihkan. ”Julius kau tunggu di sini!” kata Erika, Julius tidak melarang Erika untuk turun. Sepertinya, ia mengerti apa yang akan dilakukan istrinya, dan ia pun sama sekali tidak keberatan Erika akan melakukan apapun pada Sahila dan Calista, toh Ia pun sampai detik ini masih membenci anak dan mantan istrinya.
Erika turun dari mobil dengan anggun, kemudian ia berjalan untuk ke arah supermarket. Di tangannya, ada sebuah Tumblr, berisi minuman yang tadi ia bawa dari rumah utama.
Saat menaiki tangga, Erika menghentikan langkahnya Di sisi tubuh Calista .
“Aaaaa!” Calista terpekik kaget, saat ada percikan air mengenai pakaiannya, membuat Sahila menoleh.
“Ups, maaf. Aku tidak sengaja!” kata Erika, ternyata Erika menjatuhkan tumbler yang ia bawa, hingga isi tumbler itu mengenai pakaian Calista, dan mengenai tubuh gadis kecil itu yang sedang memakan makanannya.
Sahila bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung menetap Erika dengan tatapan kesal. “Apa kau tidak punya sopan santun?” tanya Sahila, ia langsung melotot galak pada Erika. karena wanita di depannya ini sugguh tidak sopan, apalagi Calista sedang memakan makanannya.
Erika hanya membuka kacamatanya, kemudian ia melemparkan tatapan mengejek pada Sahila.
“Sayang kau sudah selesai?” tiba-tiba terdengar suara Julius membuat Sahila langsung menoleh ke arah depan.
Mata Sahila membulat, jantungnya serasa berdetak dua kali lebih cepat saat mendengar Julius memanggil Sayang pada wanita yang tadi menjatuhkan Tumblr dan mengenai tubuh Calista. Mata Sahila berkaca-kaca, saat melihat Julius. Tak perlu di jelaskan lagi, Sahila mengerti yang terjadi
Melihat sang ayah, Calista langsung memepetkan tubuhnya pada Sahila, sedangkan Sahila mengepalkan tangannya mati-matian, berusaha agar tidak menangis.
“Ayo Calista kita pergi!” Sahila memutuskan untuk pergi dari hadapan Erika dan Julius, ia tidak ingin lebih lama melihat hal yang menyakitkan. Sebenarnya selama 8 tahun ini, ia tidak tahu apapun yang dilakukan suaminya. Tapi mendengar Julius memanggil sayang pada wanita yang ada di depannya ini. Sahila rasa, Sahila mengerti apa yang terjadi.
Sebagai seorang istri yang diabaikan, tentu saja Sahila merasakan sakit bukan main, ketika mendengar Julius berbicara sayang pada wanita lain dan memperlakukan wanita lain dengan baik, berbeda padanya dan pada Calista.
Calista menggenggam tangan Sahila, ia menyembunyikan wajahnya di tangan sang Ibu. Masih teringat jelas, bengisnya wajah sang ayah saat mereka diusir. Sahila pun Menarik kedua koper miliknya, kemudian Ia pun pergi meninggalkan Julius dan Erika.
“Tunggu!” kata Erika membuat Sahila yang sudah turun dari tangga langsung menoleh. Erika merogoh tasnya, kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang.
“Apa kau butuh ini?” tanya Erika dari anak tangga. Sahila menghela nafas sebanyak-banyaknya, kemudian kembali berbalik. ini benar-benar suatu penghinaan untuknya.
Saat berbalik, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Sahila, ia benar-benar seperti manusia yang sangat menyedihkan, semua rasa sakit seolah tidak usai menerpanya.
“Ibu, kita akan kemana?” tanya Calista, saat hari kian mendung dan awan sudah lebih gelap dari sebelumnya, dan mungkin sebentar lagi akan turun hujan.
Sahila terdiam sejenak, kemudian ia langsung merogoh saku sweaternya, mengutak-atik ponselnya dan mencari kosan yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
“ Calista ada tempat yang dekat di sini, ayo kita ke sana!” ajak Sahila, beruntung ada kosan yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri, kosan yang sudah tersedia fasilitas kasur dan lemari, setidaknya itu bisa menjadi penyelamat dikala saat ini, saat ia pergi dari rumah dan tidak membawa apapun.
15 menit kemudian, akhirnya Sahila sampai di titik tempat kosan itu, ia melihat kesana kemari dan setelah melihat plang berisi tulisan kosan yang ia tuju, akhirnya Sahila pun mengajak Calista untuk menyeberang dan langsung masuk ke dalam.
•••
Sahila membuka pintu kamar tersebut, ia tersenyum seraya menghela nafas lega, karena ia sudah mempunyai tempat untuk berteduh. Di kamar itu, hanya ada satu kasur dan lemari tidak ada apapun lagi. Tapi bagi Sahila, Ini sudah lebih dari cukup, harga sewanya pun tidak terlalu tinggi setidaknya saat ini dan sampai seterusnya ia aman, karena ada tempat berteduh
Sekarang, ia hanya tinggal memikirkan bagaimana caranya Ia mendapat pekerjaan agar bisa menyambung hidupnya kedepan, dan menghidupi Calista dan dirinya sendiri.
Sahila membereskan kopernya, sedangkan Calista tidur di kasur yang tidak memakai dipan, kasur Itu ditaruh di lantai membuat Calista langsung meringis, karena kasur yang ia tempati tidak seperti kasurnya saat berada di rumah sang ayah.
“Ibu, kenapa kasur ini begitu keras?” tanya Calista, Sahila yang sedang membereskan kopernya menoleh. Sepertinya ia harus memberi penjelasan pada Calista.
“Calista!” panggil Sahila, ia mendudukkan diri di sebelah kasur, sedangkan Calista langsung bangkit dari berbaringnya
“Calista tahu kan apa yang kita alami tadi?” tanya Sahila, Calista menunduk kemudian mengangguk.
“Ayah sudah mengusir kita, jadi kita tidak bisa hidup seperti dulu. Ibu berjanji, ibu akan bekerja lebih giat agar kau bisa sekolah dan kau bisa hidup dengan nyaman!” ucap Sahila, walaupun sebenarnya ia ragu. Bagaimana mungkin ia bisa mencari kerja sedangkan ia tidak memiliki pengalaman apapun.
Calista tersenyum kemudian menggenggam tangan sang ibu, gadis kecil itu seolah sedang menguatkan Sahila. “Tidak apa-apa Ibu, aku tidak masalah hidup di sini,” jawab Calista. Bukannya tenang, Sahila malah ingin menangis sejadi-jadinya saat mendengar ucapan putrinya. Calista yang biasanya hidup kenyamanan harus merasakan hal pahit seperti ini.
•••
“Ayo, Sayang!” kata Julius saat mobil miliknya sudah terparkir di depan rumah sang ayah.
“ Julius aku takut,” jawab Erika, Jujur saja saat dalam perjalanan, jantungnya benar-benar seperti akan keluar dari rongga dadanya, membayangkan bagaimana tanggapan Ayman padanya.
Sedari mereka kuliah saja Ayman tidak pernah menyukainya, bahkan saat dulu ia dan Julius berpacaran, Ayman selalu menatapnya dengan tatapan tak suka. Lalu bagaimana dengan sekarang, begitulah pikir Erika.
Ia benar-benar takut dan was-was bagaimana jika Ayman menolaknya, dan bagaimana jika Ayman menyuruh Julius untuk menceraikannya.