Setelah keluar dari kediaman ayah mertuanya atau yang lebih tepatnya mantan ayah mertuanya, Sahila dan Calista terdiam di sisi jalan. Mereka menunggu taksi yang melewat di hadapan mereka. Ia tidak mungkin mencari taksi di tempat lain, karena mereka membawa dua koper yang besar.
Sahila menoleh ke arah Calista, di mana putrinya tampak melamun. Sahila menggerakkan tangannya, kemudian ia mengelus rambut Calista membuat Calista menoleh. “Ibu, setelah ini kita akan ke mana?” tanya Calista, Sahila tampak terdiam. Ia menoleh ke arah depan, ia juga bingung saat ini harus ke mana, sedangkan waktu sudah sangat sore, dan ia tidak punya siapapun dan ia tidak tau harus ke mana.
“Calista apa kau lapar?” tanya Sahila yang tiba-tiba teringat bahwa putrinya belum makan. Calista menoleh kemudian memegang perutnya lalu menggangguk.
“Aku lapar," jawabnya. Sahila berusaha menegarkan hatinya. Untuk pertama kalinya, ia harus melihat putrinya dengan wajah memelas, wajah putrinya terlihat penuh luka.
Sahila dan Calista sudah lama menunggu, tapi taksi tidak ada yang lewat, apalagi rumah mertuanya masuk dalam perumahan yang cukup besar dan jarang ada taksi yang melintas.
“Ayo kita berjalan ke gerbang saja, Calista!" ajak Sahila. “Biar ibu yang membawa koper!” Calista pun menggangguk, Kemudian mereka pun mulai berjalan ke arah gerbang, berharap ada taksi yang melintas.
“Ibu tunggu, aku lelah!” kata Calista. Setelah 15 menit berjalan, Sahila kemudian menghentikan langkahnya. Lalu, ia mendekat ke arah Calista.
“Ayo kita duduk disana.” Calista menunjuk trotoar, dan mereka pun berjalan ke arah trotoar tersebut lalu mendudukkan diri trotoar itu. Saat duduk, kedua ibu dan anak itu saling melamun, Calista dengan rasa lapar dan lelahnya, sedangkan Sahila dengan rasa bingungnya.
Tak lama, Sahila melihat ke arah atas, di mana awan tampak mendung dan sepertinya sebentar lagi akan hujan.
“Calista ibu akan menggendongmu, ayo kita berjalan lagi sepertinya sebentar lagi hujan!" ucap Sahila, ia merasa tidak tega membiarkan Calista berjalan. Sedangkan gerbang masih sangat jauh.
Calista menggeleng. “Tidak Ibu, aku jalan saja!” beruntung gadis kecil itu begitu pengertian dan tidak mau menyusahkan sang ibu, hingga Mereka pun langsung bangkit dari duduknya lalu berjalan untuk ke gerbang utama
Dua puluh menit kemudian, akhirnya Sahila dan Calista tiba di gerbang utama. Nafas mereka sudah terengah- engah, karena mereka berjalan dengan jarak yang cukup jauh, dan tidak berhenti sedikitpun, mereka takut hujan akan turun.
“Ibu ayo kita beli minum!” ajak Calista, membuat Sahila tersadar. Sahila pun mengangguk dan mereka pun berjalan ke arah supermarket yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Setelah sampai di supermarket, Sahila menyimpan kopernya kemudian menoleh ke arah putrinya.
“Call, biar ibu yang masuk. Kau tunggu di sini, jaga koper Ini!” kata Sahila, Calista menggangguk, kemudian Ia pun pergi ke dalam supermarket.
••••
Julius masuk ke dalam kamar, kemudian ia tersenyum saat melihat Erika sudah siap dengan tampilannya. Seperti biasa, tampilan Erika begitu cantik dan memukau. Julius pun maju ke arah istrinya, kemudian ia memeluk Erika dari belakang.
“ Julius kamu membuatku terkejut!” pekik Erika, kemudian ia membalikkan tubuhnya hingga kini ia berhadap-hadapan dengan suaminya.
“Apa ada di yang kau pikirkan? kenapa Kau tampak gugup?” tanya Julius.
Erika mengalungkan tangannya pada leher Julius. “Julius, apa harus sekarang kita bertemu ayahmu?” tanya Erika, jujur saja ia belum siap untuk bertemu Aiman, karena walau bagaimanapun aiman terlihat sangat tidak menyukainya.
“Aku rasa tidak ada alasan lagi untuk kita menundanya. Aku ingin segera meresmikan pernikahan kita di hadapan hukum,”Jawab Julius Erika tampak terdiam. “Kau tidak perlu takut. “Ada aku disisimu. Lagian ayahku tidak sejahat yang kau kira. Dia pasti akan mendukung pernikahan kita!” Julius menenangkan Erika, agar istrinya mau bertemu ayahnya.
Setelah tadi mengusir Sahila, Julius tidak ingin memperlambat waktu. Ia langsung pergi untuk menjemput Erika di rumah keduanya, dan mengajak wanita itu untuk pergi menghadap ayahnya. Walau, bagaimanapun ia ingin statusnya pernikahannya jelas di mata hukum.
“ Tapi sebelum pergi ke rumah ayahmu. Aku ingin melihat rumah utama dan setelah itu kita pergi ke rumah orang tuamu!” ajak Erika, Julius tampak berpikir kemudian mengangguk.
“Baiklah ayo!” Julius menarik tangan Erika lalu mereka pun keluar dari kamar.
•••
Mobil yang dikendarai Julius sampai di kediaman rumah utama, rumah yang dulu ditempati oleh Sahila dan putrinya. Saat masuk ke dalam pekarangan rumah, Erika menatap takjub pada sekelilingnya.
Rumahnya yang diberikan oleh Julius memang mewah, tapi rumah yang ditempati oleh Sahila dan Calista jauh lebih mewah, itu sebabnya ia begitu takjub saat melihat rumah tersebut.
“Ayo sayang!” kata Julius yang mengajak Erika untuk turun, Erika pun mengangguk, Julius turun dari mobil kemudian membukakan pintu untuk istrinya, lalu ia mengulurkan tangannya dan mereka pun masuk.
Saat Julius membuka pintu, lagi-lagi mata Erika terpanah saat melihat furniture yang ada di rumah itu, ternyata semua isi rumah itu lebih mewah daripada rumah yang ditempati olehnya. Erika tersenyum senang, tidak sia-sia ia menyuruh Julius untuk menceraikan Sahila dan akhirnya ia bisa pindah ke rumah utama yang sebenarnya bukan milik Julius, tapi milik Ayman, ayah Julius.
“Aku ingin berkeliling, maukah kau mengantarku?” tanya Erika saat masuk ke dalam rumah, Julius pun menggangguk.
“Ayo kita berkeliling. Sebentar lagi ini juga akan menjadi rumahmu,” jawab Julius membuat Erika semakin terbang.
••••
“Apakah kita tidak bisa menginap saja di sini dan ke rumah ayahmu besok?” tanya Erika saat mereka akan keluar dari rumah.
“Tidak, aku ingin pergi sekarang. Bukankah kau sudah berjanji,” balas Julius.
Sepertinya kali ini suara Julius tidak bisa dibantah, membuat Erika menggigit bibirnya. Jika Julius sudah seperti ini, maka tidak ada alasannya untuk menolak lagi. Erika menghela nafas kemudian menghembuskannya. Lalu ia mengangguk.
“Baiklah kita pergi sekarang!” ,
Julius tersenyum saat melihat Erika yang mengangguk. Ia dan istrinya, keluar dari rumah dan menuju mobil.
Saat berada di perjalanan, Erika terus melihat ke jendela, rasa gugup, tidak bisa ia sembunyikan. Bahkan, Julius tahu istrinya sedang gugup. Julius menoleh ke arah Erika, kemudian menggenggam tangan istrinya, membuat Erika menoleh.
“Tidak apa-apa, ayahku pasti tidak akan melakukan apapun padamu,” ucap Julius. Erika pun mengangguk, dan berusaha untuk menepis kerisauannya.
“Tunggu sebentar!” kata Erika, saat
mobil yang dikendarai Julius akan berbelok dan masuk ke perumahan.
Julius menghentikan mobilnya di sisi lalu menoleh. “Kenapa, apa ada sesuatu?” tanya Julius.
“Julius bukankah itu Sahila dan Calista?” ucap Erika, membuat Julius menoleh. Julius menarik sudut bibirnya dan tersenyum sinis saat melihat Sahila dan Calista sedang duduk di depan supermarket, terlihat jelas bahwa mereka seperti orang yang baru diusir.
Tiba-tiba Erika terpikirkan sesuatu, dan ia ....
BERSAMBUNG