“Ibu ... Ibu ....” Calista hanya mampu memanggil nama sang ibu, ia menangis sesegukan di pelukan Sahila. Sedangkan Sahila terus mengelus punggung Calista, membiarkan putrinya tenang dalam pelukannya.
Namun, bukannya tenang, tangis Calista malah semakin menjadi-jadi, begitupun Ia yang juga ingin sekali menangis. Tapi, ia berusaha meredam tangisnya, apalagi ia sedang berada di taksi dan rasanya sungguh malu jika ia harus menangis di hadapan orang lain.
“Kau harus sabar, oke. Ibu akan memberikan boneka lagi untukmu,” jawab Sahila, ia berusaha mengobati sang putri. Namun, Calista menggeleng dengan wajah yang sedih.
“Boneka itu dari kakek, Bu,” jawabnya lagi, tangisnya semakin mengencang dari sebelumnya. Ia begitu hancur, ketika mengingat ia sudah tidak bisa bersama bonekanya lagi. Entah setan apa yang merasuki hati sang ayah, hingga sang ayah benar-benar tega melakukan ini padanya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya taksi yang dikendarai Sahila dan Calista sampai di kediaman Aiman, mantan mertuanya, atau yang tak lain orang tua Julius.
“Pak, tunggu sebentar ya. Saya menenangkan anak saya dulu,” kata Sahila pada sopir taksi, karena Calista belum mau berhenti menangis. Beruntung supir taksi itu mengerti dan langsung mengangguk.
“Calista ayo berhenti, Nak. Kita masuk ke rumah kakek,” sambung Sahila lagi, berusaha membujuk putrinya. Calista menegakkan tubuhnya, kemudian menghapus air matanya. Lalu setelah itu menoleh ke arah sang ibu.
“Ibu janji, Cal. Ibu akan memberikan boneka lagi untukmu.” Sahila masih berusaha membujuk putrinya, hingga Calista pun mengangguk lesu.
Setelah itu, Sahila pun turun dan membantu Calista untuk turun, kemudian membuka bagasi lalu mengeluarkan koper yang tadi ia bawa dari rumah Julius.
“Pak, tolong buka pagarnya. Saya ingin masuk!” kata Sahila pada penjaga gerbang.
“Maaf, Bu. Kata pak Aiman, anda tidak diperbolehkan masuk,” jawab satpam tersebut membuat Sahila mengerutkan keningnya.
Biasanya tidak seperti ini, ia bebas memasuki kediaman kedua mertuanya walaupun selama ini ibu mertuanya kerap bersikap sinis padanya.
Sahila merogoh tasnya, kemudian ia mengambil ponsel. Lalu setelah itu, ia menelpon ayah mertuanya. “Ayah bolehkah aku masuk?” tanya Sahila saat Aiman mengangkat panggilannya, ia berbicara dengan suara yang putus asa, ia takut ayah mertuanya juga berubah.
Aiman tidak menjawab. Ia malah mematikan panggilan sepihak. Rupanya, Aiman langsung menelpon pos satpam dan memerintahkan satpam untuk membuka gerbang, setidaknya, Aiman berbaik hati untuk memberi kesempatan Sahila untuk berbicara.
Setelah dipersilahkan masuk oleh Aiman dan pintu gerbang sudah terbuka, Sahila dan Calista pun masuk ke dalam area rumah. Dari kejauhan, ia melihat ayah mertuanya sedang berdiri di depan rumah.
“A-ayah!” panggil Sahila, ia mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan ayah mertuanya. Tapi, Aiman malah memalingkan tatapannya ke arah lain dan tidak menatap Sahila, membuat Sahila menggigit bibirnya.
“Kakek!” panggil Calista dari arah belakang, Aiman hanya menoleh sekilas kemudian ia menatap Sahila dengan malas.
“Untuk apa kalian kemari ?” tanya Aiman, membuat Sahila tertegun.
“A-ayah kenapa seperti ini pada kami. Apa kami mempunyai salah?” tanya Sahila.
“Ya, kau telah berbohong pada keluarga kami. Selama delapan tahun aku sudah tertipu dengan wajah polosmu. Kau mengatakan bahwa kau mengandung anak Julius, nyatanya Julius bukan ayah biologis dari Calista!” balas Aiman, membuat lutut Sahila melemas.
“Tidak ayah, itu tidak benar!” Wajah Sahila sudah panik, ia berusaha untuk meraih tangan ayah mertuanya dan meyakinkan ayah mertuanya tapi seketika itu juga Aiman mundur satu langkah.
“Pergi dari sini, sebelum aku memberikan pelajaran padamu. Kali ini aku melepaskanmu tapi jangan muncul lagi di sini dan jangan pernah lagi mengatakan bahwa anak itu adalah anak Julius!” Setelah mengatakan itu, Aiman pun langsung berbalik kemudian masuk ke dalam rumah. Lelaki paruh baya itu nyatanya kecewa pada Sahila, ia yang percaya Sahila selama bertahun-tahun merasa terkhianati. Itu sebabnya, ia bersikap demikian.
Setelah pintu tertutup, Sahila hanya mampu terdiam di tempat. Napasnya terasa tercekat ia bahkan tidak mampu untuk mencerna ucapan ayah mertuanya. “Bagaimana mungkin ayah percaya dengan perkataan bohong Julius yang tidak benar sama sekali?” ucap Sahila dengan bibir bergetar.
ini
Sedangkan Calista sedari tadi menunduk, ia juga harus mendapat ucapan yang menyakitkan dari kakek dan ayahnya. Entah bagaimana lagi gadis kecil itu menghadapi kesedihannya, ia hanya bisa menangis, menangis dan menangis.
Tiba- tiba, tubuh Sahila terasa lemas, ia memegang pilar yang ada di depannya agar tubuhnya tidak ambruk. Calista mengangkat kepalanya, lalu menoleh ke arah sang ibu.
“Ibu!" panggil Calista, nada gadis kecil itu terdengar sangat rapuh. Seketika Sahila langsung melihat ke arah putrinya.
“Ibu, ayo pergi dari sini!” kata Calista. Sahila menekuk lututnya, kemudian ia menyetarakan diri dengan Calista.
“Maafin ibu ya Calista, untuk sementara kita harus tinggal di rumah kecil. Sekarang kita harus mencari tempat untuk berteduh,” ucap Sahila.
Seberapa pun luka yang ia tanggung karena Julius, ia tidak boleh lemah dan ia tidak boleh menyerah. Walaupun memang sekarang semuanya sudah berakhir, dan dia harus memulai ke titik nol.
Saat ia akan berbalik, tiba-tiba pintu kembali terbuka, membuat Sahila dan Calista kembali menoleh, ternyata ibu mertuanya yang keluar dari dalam rumah.
Naurin, sang ibu mertua, wanita paruh baya yang masih tetap terlihat cantik di usia yang tak lagi muda itu keluar dari rumah. Lalu, bersedekap dan berjalan ke arah Sahila dan Calista. Matanya menatap sinis pada mantan menantu dan cucunya.
Ia terkekeh senang saat melihat Sahila dan Calista tidak lagi dianggap oleh suaminya. Jika bukan karena Aiman, ia tidak akan pernah mau menerima Sahila dan Calista sebagai menantu dan cucunya.
“Ibu!” panggil Sahila.
“Akhirnya kau berpisah juga dengan putraku,” ucap Naurin, ia menatap Sahila dengan tatapan mencemooh.
“Ayo kita pergi, Calista!” Sahila lebih memilih untuk pergi daripada meladeni ucapan ibu mertuanya, ia tidak ingin Calista lebih banyak mendengar hal yang menyakitkan.
”Kurang ajar sekali kau!” hardik Naurin, ketika Sahila berbalik dan meninggalkannya yang sedang berbicara.
“Jangan lagi menoleh ke belakang Calista,” ucap Sahila ketika mereka sudah berjalan, Ia menyeret dua koper, sedangkan Calista berjalan di sampingnya.
***
“Kau benar kan, sayang? Kau ingin mengadakan resepsi yang mewah untukku?” tanya Erika dengan girang saat Julius mengatakan bahwa Julius akan mengadakan pesta resepsi yang sangat besar untuk meresmikan pernikahan mereka.
Bukan hanya itu saja yang membuat Erika senang, ada hal lain lagi yang membuat wanita itu tampak melayang. Yaitu, kepergian Sahila dan Calista dari rumah utama.
Pada akhirnya, ia bisa menempati rumah itu karena ia merasa bosan dengan rumahnya. Sebenarnya, rumah yang diberikan oleh Julius sama besarnya dengan rumah yang selama ini ditempati oleh Sahila dari Calista. Tapi, walaupun begitu, tentu saja rasanya berbeda. Ia ingin tetap berada di rumah utama sebagai istri satu-satunya.
BERSAMBUNG.