“Ayo!” Julius menyadarkan Erika yang terus melamun di dalam mobil dan tidak mau turun. Sedangkan Erika langsung menoleh ke arah Julius. Dengan ragu, Ia pun mengangguk.
Julius turun dari mobil, kemudian memutari mobil lalu membukakan pintu untuk Erika. Ia mengulurkan tangannya, lalu mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah.
Nafas Erika tercekat, jantungnya seperti akan keluar dari rongga dadanya. Bahkan, saat akan memasuki rumah. Erika hampir saja mundur dan bersembunyi di belakang tubuh Julius, karena papa mertuanya benar-benar menakutkan di mata wanita itu.
“Ayo masuk!” ajak Julius, Ia pun mengajak sang istri untuk masuk ke dalam.“Tolong panggilkan papah! katakan pada papah, aku datang!” titah Julius pada asisten rumah tangga yang membukakan pintu untuk mereka.
Asisten rumah tangga itu pun mengangguk, Kemudian Julius dan Sahila berjalan ke arah sofa, mereka mendudukkan duduk di sofa.
Erika melihat ke sana kemari, mencari ibu mertuanya yang tidak ada di manapun. Seandainya ada ibu mertuanya, Mungkin ia tidak terlalu gugup, karena Ibu mertuanya sangat mendukungnya.
“ Julius Mamah mana?” tanya Erika pada Julius. Julius tampak melihat jam di pergelangan tangannya.
“Mungkin Mamah sedang pergi ke arisan!” balas Julius, Erika menggangguk dan ber-oh ria. Tak lama, terdengar suara derap langkah, membuat Erika dan Julius menoleh. Sosok Ayman yang gagah, berjalan ke arah mereka membuat Julius dan Erika langsung bangkit dari duduknya.
Erika langsung menggenggam tangan Julius, Dia memegang tangan suaminya begitu erat, telapak tangannya berkeringat dan Julius bisa merasakan itu.
“Hallo, Pah!” ucap Julius. Ayman mengangguk, kemudian ia langsung mendudukkan dirinya di sopa tunggal di seberang Julius dan Erika. Hingga kini, mereka sudah duduk saling berseberangan. Jari-jari Erika saling bertautan, karena ia menunduk dan tidak sanggup menatap Ayman.
“Untuk apa kalian kemari?” tanya Ayman dengan sadis, dingin dan datar.
Kali ini bukan hanya Erika saja yang takut pada Ayman. Julius pun juga sama takutnya, apalagi melihat wajah sang ayah yang dingin.“ Pah, aku ingin memperkenalkan Erika kepadamu,” ucap Julius. Ayman menatap Erika dari atas sampai bawah, kemudian lelaki paruh baya yang masih tampan di usianya tetap muda itu, berdecak sinis.
” Apa kau tidak mempunyai mulut, kenapa kau tidak memperkenalkan dirimu sendiri?” Tiba-tiba suara Ayman menyadarkan Erika. Hingga Erika langsung mengangkat kepalanya. Lalu menatap Ayman dengan takut. Bahkan, rasanya seluruh tubuh Erika terasa lemas.
”Ha-haloo, Pah. Aku Erika, istri Julius,” ucap Erika. Julius menyipitkan matanya, saat melihat tidak ada keterkejutan dalam mata sang ayah. Entah sang ayah sudah tahu, atau tidak tentang pernikahannya dengan Erika.
“Pah, aku ke sini untuk mengenalkan Erika kepadamu, dia istriku. Sebenarnya kami sudah menikah 8 tahun lalu,”ucap Julius. Setelah itu, ia menunduk karena tidak berani melihat reaksi sang ayah.
Mendengar ucapan Julius, Erika langsung melotot kaget ke arah suaminya. Ia pikir, Julius tidak akan mengatakan tentang pernikahan mereka di masa lalu. Tapi ternyata, Julius malah mengatakannya dan ia takut Ayman semakin membencinya.
Tanpa membalas ucapan Erika dan Julius. Ayman bangkit dari duduknya.
“Kalian boleh pergi, papa harus istirahat!” kata Aiman, Ia tidak menggubris ucapan Julius dan Erika, hingga langsung meninggalkan anak dan menantunya begitu saja.
Saat Ayman pergi, Erika menghela nafas lega, sekaligus merasakan ketakutan. Sedangkan Julius menatap bingung pada Ayman dengan yang sedang berjalan. Apakah ayahnya merestuinya, begitulah pikirnya.
Sebab jika sang ayah tidak merestuinya, ayahnya tidak akan mungkin pergi begitu saja. Ayman pasti akan berbicara dan menentangnya. Tapi yang terjadi, Ayman malah pergi begitu saja.
“Sayang jangan khawatir. Papa sudah merestui kita!” ucap Julius saat melihat Erika sedang melamun.
“Julius, bagaimana dia merestui kita. Sedangkan papamu saja tidak membalas apa yang kau katakan,” balas Erika dengan gusar.
“Begitulah papaku. Jika ia tidak setuju, ia langsung berbicara. Jika ia setuju, ia akan pergi begitu saja!” mata Erika berbinar saat mendengar ucapan Julius, setidaknya ia tidak perlu menakutkan apapun lagi.
•••
keesokan harinya
“Calista ... Calista!” panggil Sahila yang membangunkan putrinya
Calista mengerjap, ia membuka matanya, kemudian bangkit dari berbaringnya. “Kenapa ibu membangunkanku!” protes anak kecil itu, karena ia baru bisa tertidur pukul 4 pagi. Semalaman, Calista tidak bisa tertidur. Karena merasa panas, ia biasa tidur memakai Ac. Namun, ketika di kosan, ia tidak bisa tidur karena hawanya terasa sangat panas.
“Calista, ibu harus pergi mencari pekerjaan. Kau tidak apa-apa kan di sini?” tanya Sahila pada Calista.
wajah gadis kecil itu begitu sendu. “Ibu akan mencari kerja ke mana?” tanya Calista. Rasanya begitu asing saat gadis kecil itu mendengar bahwa ibunya akan bekerja. Padahal, selama ini ibunya selalu bersamanya selama 24 jam.
“Ibu akan menghampiri teman ibu untuk mencari pekerjaan,” jawab Sahila.
Calista mengangguk. “Tapi, Ibu jangan pulang malam. Aku takut," jawabnya lagi. Melihat ekspresi Calista, hati Sahila benar-benar terasa nyeri, terlihat jelas wajah putrinya begitu tertekan.
“Ibu tidak akan pulang malam, ibu sudah membeli dua bungkus nasi uduk dari luar, satu untuk sarapan dan satu untuk makan siang. Ibu usahakan sore Ibu akan segera pulang,” balas Sahila, Calista terdiam kemudian mengangguk.
“Ibu aku mandi bagaimana, kamar mandinya tidak sama seperti di rumah ayah?” tanya Calista. Calista sungguh bingung, bagaimana mandi di kosan yang ia tempati. Sebab di rumah sang ayah kamar mandinya begitu mewah, berbeda dengan sekarang.
Sahila mencoba untuk tegar dan tidak menampilkan kesedihan di wajahnya. Ia pun bangkit dari duduknya kemudian ia langsung menarik tangan Calista.
“Ayo, biar Ibu membantumu!” Sahila dan Calista berjalan ke arah kamar mandi yang ada di kamar mereka. Beruntung fasilitas kamar mandi ada di kamar di masing-masing kamar, hingga Calista dan Sahila tidak perlu keluar dari kosan untuk pergi ke kamar mandi.
.•••
Hari begitu terik, Sahila terdiam di depan rumah yang cukup besar. Sedari tadi, ia terus menelepon temannya. Tapi temannya tidak mau menjawabnya, itu sebabnya ia langsung menghampiri Eliana, teman saat sekolahnya dulu yang sudah menikah dengan pria kaya. Ia berharap, Eliana mau memberikannya pekerjaan padanya.
Saat ini, Sahila tidak peduli ia bekerja sebagai apa. Yang terpenting, ia harus mempunyai pekerjaan dan bisa mendapatkan gaji setiap bulan untuk kelangsungan hidupnya dan hidup Calista.
Tak lama pintu gerbang terbuka, membuat Sahila yang sedang menyandar pada tembok langsung menegakkan tubuhnya, berharap yang keluar adalah mobil Eliana.
Mata Sahila berbinar saat ternyata mobil Elia keluar dari rumah tersebut, baru saja ia akan memanggil Elia. Ia menghentikan niatnya saat melihat seseorang yang ada di mobil Elia yang ternyata ....