Sudah berminggu-minggu, sejak ia pulang ke rumah dari pemakaman Claire, ia hanya duduk bersandar di ranjang. Kalau tidak, ia ke dalam kamar mandi, mengisi bak dengan air hingga setinggi leher, kemudian merenung, terdiam hingga berjam-jam. Atau ia hanya berbaring berselimut. Tubuhnya perlahan kian kurus, hampir selayak kulit membungkus tulang. Kecantikan yang selama ini ia puja-puja, tak lagi dihiraukannya. Ia tidak peduli dengan wajahnya yang bertambah kerutan kah, atau rambutnya yang rontok sana-sini, ia benar-benar tidak peduli. Kalau lapar, ia hanya memakan mi instan satu kali sehari, atau meminum air. Dan tidak lagi bekerja, tidak lagi mengecek ponselnya yang sudah ribuan pesan memenuhinya, dan tidak lagi merasakan hangat matahari di luar rumah.
Setelah semua yang terjadi, ia tidak lagi menemukan alasannya untuk hidup.
Dalam pikirnya hanyalah penyesalan dan rasa bersalah yang luar biasa. Terkadang, dalam mimpinya adalah memori-memori tentang bagaimana ia menghabisi target-targetnya dulu. Kemudian, terbangun dengan butiran keringat dan kecenderungan untuk mengakhiri hidupnya. Iapun menyadari bahwa hukuman sepuluh tahun penjara adalah balasan yang terlalu ringan untuknya yang sudah membunuh banyak orang selama hidup di Abbys Ground.
Setelahnya, ia menyesali mengapa keluarga angkatnya harus dibantai oleh perampok yang kejam itu. Ia menyesali kenapa ia harus pingsan dan berakhir diculik oleh Mallaga untuk dijadikannya eksperimen. Harusnya ia lari dari tempat itu dan pergi ke kantor polisi, bukan malah menerima tawaran untuk bergabung ke Abbys Ground. Harusnya, orang tua kandungnya tidak membuangnya ke panti asuhan. Harusnya, ia tidak pernah dilahirkan.
Dalam hatinya penuh dengan jerit tangis, tetapi di matanya tidak. Kedua mata itu sudah mengering. Yang bisa ia lakukan hanyalah pandangan kosong pada benda-benda di depannya. Seakan menjadi sebuah rutinitas biasa.
Dan kini, ia terbangun dari lelapnya yang sama sekali tidak tenang. Mimpi buruk seperti biasa, tetapi lagi-lagi ia tidak peduli. Mencoba mendudukkan tubuhnya yang ringkih, duduk di tepian ranjang. Kedua netranya beralih pada bagian jendela yang masih utuh. Melihat ada sesuatu terlukis di sana, ia menyipitkan mata. Sebuah tulisan di kacanya, berwarna ungu tua.
TER. 20
09.30
MG
Pikirannya yang sudah lama kosong, ia paksa untuk bekerja kembali memaknai sesuatu yang terlukiskan. Dan mendapati rasa nyeri yang mulai menyerang kepala. Ini buruk. Ia mengambil napas panjang, kemudian mengeluarkannya pelan. Kembali memaksa otaknya untuk kembali berpikir.
Lama dengan tatapan yang tak mau beralih dari tulisan itu, akhirnyasetelah berkali-kali mengambil napas panjang untuk meringankan sakit kepalanya karena berpikiria berhasil menerjemahkan kode itu.
TER—singkatan dari Technical Regenerate, adalah laboratorium rahasia milik inisial nama ditulis paling bawah lukisan itu.
Laboratorium yang berkedok gudang obat-obatan, tepatnya. Isinya adalah seluruh hasil eksperimen terlarang yang dilakukan. Seluruh pegawai yang biasa berinisial TER di awal kode namanya, tidak pernah ada yang bertahan lama di sana. Karena mereka tidak ada yang selamat akibat percobaan mereka sendiri. Mayat-mayat yang tewas dikumpulkan oleh yang masih hidup, kemudian dijadikan bahan eksperimen, seperti membuat racun baru dari darah atau bakteri yang menghinggapi daging busuk. Seperti namanya, mereka yang bekerja di sana adalah teknisi yang selalu melakukan inovasi yang tidak terbayangkan oleh ilmuwan biasa.
20 dan 09.30 adalah tanggal di mana pelaku vandalisme kecil itu inginkan untuk berhadapan dengannya. Mina sendiri tidak ingat sekarang hari apa dan tanggal berapa. Yang ia tahu, hari memang sudah beranjak senja.
MG. Singkatan dari Mallaga, makhluk pengkhianat itu, bagi Mina.
Sampai sekarang ia tidak mengerti apa motifnya membunuh Claire. Entah untuk memancing amarahnya, ia tidak tau. Begitupun dengan kode itu. Apakah itu jebakan, ia tidak peduli. Yang pasti, ia bertekad akan mulai bergerak.
Ia kembali menemukan tujuan untuk hidup. Untuk membalas perbuatan Mallaga.
***
Seorang perempuan berambut hitam tergerai panjang dalam mobilnya yang ia niatkan mengarah ke rumahnya mendapatkan panggilan dari ponsel. Ia menekan tombol kecil dari earphone bluetooth yang terpasang di telinga kanan, bersiap mendengarkan suara dari seberang sana dengan mata terfokus ke jalan.
“Tara." Suara berat seorang lelaki terdengar dari telepon.
"Roger, Tuan," balasnya.
"Datangi wanitaku lagi. Periksa keadaannya. Kalau tidak bisa kaubujuk, paksa dia ke rumah sakit. Pastikan ia tidak bergerak."
Mendengar perintah itu membuatnya banting setir ke kanan, kembali menuju jalan tempat kediaman wanita yang dimaksud lelaki itu.
"Baik, Tuan."
"Setelah kau membawanya ke rumah sakit, datanglah ke ruang rapat bar. Yang tidak datang, akan kuledakkan tempatnya berada."
Tara yang mendengarnya hanya terdiam. Ia mengerti bahwa yang dikatakan lelaki itu tidak main-main. Dari nadanya, ia bisa menggambarkan bahwa lawan bicaranya sangat marah. Ia mengerti akan hal itu. Sisa-sisa dari Abbys Ground terlalu terlena dengan pekerjaannya dan kekayaan yang sudah didapat, tidak menyadari bahwa kepingan dari masa lalu bahkan bisa menghancurkan mereka semua. Tara menghela napas, kemudian membalas, "Baik, Tuan."
Sambungan telepon terputus.
***
"Mina?"
Tara mengetuk pintu beberapa kali, karena pikirnya bel sudah tidak berfungsi, begitu pula dengan ponselnya yang tidak bisa dihubungi. Dan ia mendapati pintu yang tidak terkunci ketika memutar kenop pintu. Tidak heran, pikirnya. Tanpa permisi, ia masuk ke dalam, menemui perabot yang mulai dilapisi debu tebal. Hanya ada satu pintu yang terbuka. Ia menilik ke dalam, menemukan seorang perempuan yang duduk di pinggiran ranjang, tubuh yang ringkih dan wajah menghadap jendela bertulisan sesuatu yang membuatnya mengernyit.
"Mina," panggilnya. Perempuan itu hanya membisu, tidak mengalihkan sedikitpun pandangannya dari jendela bertulisan itu. Ia putuskan untuk mendekat pada jendela, mengamati tulisannya. Kemudian, mengalihkan atensi pada Mina yang masih saja menatap kosong.
Rambutnya yang dulu indah dan terawat, kini kusut dan meluruh. Tulang belikatnya semakin menonjol dengan mata cekung dan berlingkar hitam.
Mina, aku menjemputmu untuk ke rumah sakit. Mina tetap bergeming.
Ini perintah pemilik cafe, sambungnya, sambil mengingat-ingat lukisan itu untuk laporan pada Rome.
"Kau siapa?"
Tara menarik napas, apa lagi ini, keluhnya dalam hati.
"Apa kau melupakanku, hm?" Tara menggelengkan kepala pelan, kembali berujar, "Baiklah bila kau tidak mengenalku sebagai Tara. Aku HRD Fall Cafe. Aku berhak untuk memperhatikan karyawan-karyawan yang bekerja di Fall Cafe." Ia menegaskan dengan agak kesal sekarang. Sejujurnya, ia agak kesulitan membujuk Mina yang sangat berantakan itu, baik penampilan maupun pemikiran. Kalau saja ia bisa mengangkutnya paksa dengan menggendongnya di bahu selayak karung beras. Bagaimana tidak, memikul palu besar yang sebagai senjatanya dulu saja ia sudah biasa, apalagi menggendong Mina yang sungguh kurus itu?
Ia urung melakukannya. Ia tidak mau dengan cara seperti itu. Bisa-bisa orang di luar sana akan curiga dan mengira ia menculik perempuan itu. Ia tidak suka masyarakat awam yang melihatnya akan berisik atau bahkan menelepon polisi karena tindakannya.
"Pemilik cafe... siapa?" Kali ini, Mina bertanya karena benar-benar tidak tahu.
"Dia juga pemilik bangunan yang kau tempati," jawab Tara. Mina hanya mengangguk kecil, ia mengingat orang yang dimaksud. Orang yang memerintahkannya untuk pindah ke cafe tanpa ia ketahui alasan jelasnya. Ia juga yang mentransfer uang yang sangat berlebih di rekeningnya untuk uang sekolah Claire. Ia tidak mengetahui nama orang itu, ia hanya menyebutnya sebagai pemilik. Namun, ia juga tidak mengerti. Saat pertama kali bertemu dengannya, ia merasa seakan mereka berdua sudah mengenal sejak lama.
"Mina, kau mau, kan? Lihatlah dirimu, harusnya kau sudah dirawat sekarang." Tara berujar dengan penuh iba. Dalam hatinya, ia tidak tega melihat teman seperjuangannya di Abbys Ground dengan kondisi seperti itu. Di balik sifatnya yang keras dan tegas di luar, ia masih bisa merasakan sedih ketika melihat kondisi perempuan di depannya.
Menimbang-nimbang, cukup lama Mina terdiam. Ia berpikir, untuk melawan Mallaga, ia tidak boleh selemah ini. Bisa-bisa ia kalah sebelum bertanding. Maka, ketika ia berpaling melihat Tara ia berujar, "Ya, aku ikut."
Akhirnya, Tara bisa bernapas lega.