Midnight 9: Friends

1053 Words
Mina terbangun dari lelap yang anehnya—baginya, ia sama sekali tidak bermimpi. Ia mengingat-ingat, bagaimana cara ia bisa tertidur dan berakhir terbangun di ranjang itu. Terakhir kali, ia dalam mobil bersama Tara yang menyetir. Mungkin aku tertidur ketika di perjalanan, pikirnya. Matanya yang mulai terbuka, menyipit karena menyesuaikan dengan cahaya. Perlahan, ia menggerakkan kepala untuk mengamati sekitarnya. Kedua punggung tangannya membengkak karena dua infus yang menancap. Beralih pada pakaiannya yang telah berganti piama polos berwarna merah muda lembut dengan sebuah inisial—mungkin singkatan dari nama rumah sakit ini, ia bergumam pelan. Lalu, kembali menyapu sekitarnya. Kamar yang ia tempati bernuansa pastel dengan lukisan laut biru di dinding sebelah kanannya. Dinding depan ranjangnya terpasang TV flat 42 inci yang menayangkan pertandingan Baseball. Di bawah TV itu sendiri terdapat sofa panjang berwarna abu-abu muda. Sebelah kirinya terdapat lemari penyimpanan besar, merangkap meja dengan kursi kecil dan kulkas dua pintu. Dan di nakas di sampingnya, sebuah rak berbentuk ulir tangga yang tingginya sama dengan tinggi jendela. Di bawahnya, terdapat gelas air bening berpenutup dan beberapa botol obat. Ditambah sebuah pintu di dekat sudut ruangan sebelah kiri, yang dipikirnya adalah pintu kamar mandi. Ia menyadari bahwa kamar yang ia tempati bukanlah kamar biasa, yang bahkan luas dan mewahnya melebihi kamarnya sendiri. Mengalihkan pandangan ke luar jendela, ia mendapati langit malam pekat dengan lalu lintas jalanan yang padat dari ketinggian. Pemandangan yang sudah lama tidak ia nikmati. Tidak lama kedua netranya dimanjakan dengan pemandangan aktivitas kota, atensinya teralihkan pada suara ketukan di pintu. Kemudian, seseorang muncul dari balik pintu. Tara yang membawa sebuah koper dan tas kain yang Mina tebak berisi makanan. "Aku membawakan barang-barangmu dan obat. Dan makanan untukmu. Tidak perlu menghabiskan semuanya, karena mungkin saja perutmu sakit." Mina hanya membalas dengan gumaman, melihat Tara menaruh kantong berisi makanan, membongkar koper setelahnya. Kemudian, obat-obatan yang ia pisahkan dari pakaian ia susun di rak berbentuk tangga itu hingga hampir menyentuh tangga paling atas. "Ini di rumah sakit mana?" Tara menaikkan sebelah alisnya ketika mendengar pertanyaan dari Mina. Selesai menempatkan botol-botol obat itu, ia menyingkirkan koper yang tinggal berisi pakaian. Menarik kursi kecil, ia duduk di samping Mina sekadar melepas penat. "Rumah sakit milik Susan. Ruangan VIP." Tara menjelaskan singkat. Mina sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan Tara. Dengan mengernyitkan dahi, ia kembali bertanya, kemudian. "Mengapa ia bekerja di cafe dan bar?" Tara hanya mengangkat bahu. "Entahlah, mungkin karena ia merasa bosan menjadi dokter." Mina mendengkus. Apakah orang-orang dari Abbys Ground memang sudah tidak waras, dengan rasa kesal ia bertanya-tanya dalam hati. Dikala ia kesulitan mencari pekerjaan dengan nasibnya yang kurang beruntung, ada orang yang bahkan meninggalkan pekerjaannya sendiri untuk hal yang tidak seberapa hanya karena bosan. Dan lagi-lagi mematahkan anggapannya bahwa selain dari tiga orang yang tersisa dari Abbys Ground adalah sampah. Tidak—contohnya Susan, ia bukanlah sampah. Ia lebih dari itu. Ia sudah gila, pikirnya. Tara beranjak dari kursi. Mendekati koper, ia mengeluarkan pakaian dari dalamnya. Membuka lemari, ia menempatkan pakaian-pakaian di tangannya ke dalam lemari. Berulang dilakukan hingga terakhir memasukkan koper di rak lemari paling bawah. Tara berbalik dan berkata, "Aku harus pergi lagi. Ada suatu hal yang harus kuselesaikan. Tidak apa kau kutinggalkan, kan?" "Ya." Mina menjawab singkat. “Hana mengatakan ia akan datang setelah shiftnya habis," sambung Tara, dengan membetulkan tas miliknya. "Ya." *** Berkali-kali ia menekan tombol mengalihkan siaran televisi, dan berakhir dengan tayangan kehidupan binatang di alam bebas. Pandangannya datar, dengan pikirannya yang melayang pada tindakan apa yang akan ia ambil untuk mengefektifkan waktu sampai di hari yang dinantikannyabertemu Mallaga, melampiaskan dendamnya. Ia tidak sadar bahwa pintu kamarnya dibuka, hingga Hana dan Lily di belakangnya menghampiri. Hana menatap Mina yang pandangannya lurus ke tv. Ia menaruh tas di sofa dengan Lily yang ikut menempatkan tasnya. "Mina, kami datang." Hana menghampiri Mina, menggenggam tangannya yang membengkak, tertancap infus. Lily di sampingnya, menatap perempuan yang ia pikir sedang melamun. "Oh, kalian." Mina baru menyadari bahwa dia tidak lagi sendiri di ruangan itu. Refleks Hana mendekat, memeluknya erat. Mina yang masih belum siap terheran-heran dan merasa berat karena tumpuan. “Hana, kau berat," keluhnya dengan ringisan. "Kami sangat merindukanmu, kau tahu. Kami menunggumu setiap hari," lirih Hana dengan mata berkaca-kaca, menahan tangis. Sedang Lily hanya tersenyum tipis, menarik kursi di dekatnya. Hana melepas pelukannya, kembali menatap Mina yang hanya memberinya sebuah ekspresi datar. "Hei, kau tidak suka kalau kami datang?" Responnya ketika melihat tatapan Mina yang nyaris kosong. "Tidak, bukan begitu." Ia hanya bisa menepis, kembali dengan suatu rencana yang masih dalam pikirannya. "Apa kau sudah makan?" Lily yang awalnya hanya diam, mulai membuka suara. "Belum. Kalau kalian lapar, makan saja itu," jawabnya sambil menoleh pada tas kain yang tak tersentuh. Hana maupun Lily hanya menatap Mina dengan pandangan antara iba dan sedikit sebal karena ia yang seharusnya makan tidak berselera sedemikian. "Baiklah. Kami membawa makanan dari cafe. Kalau kau tidak mau makan bersama kami, tidak apa-apa." Lily memberi keputusan final. Ia mengeluarkan sebuah kotak plastik dari dalam tas kertas yang dibawanya. Makanan yang berupa potongan kue, beberapa sandwich dan jus dalam botol. Pandangan Mina terhenti ketika melihat Hana yang mengambil sandwich, hendak menyuapnya. "Berikan aku itu." Ia meminta dengan wajah datar—seakan tidak merasa berdosa karena beberapa menit yang lalu ia mogok makan. Sedang Hana yang baru saja ingin mengisi perut merasa agak jengkel sekaligus senang karena akhirnya temannya itu mau makan sesuatu. "Ini." Ia memberikan sebuah sandwich pada perempuan di depannya. Dan sebelah alisnya terangkat ketika melihat betapa rakusnya Mina menghabiskan sandwich itu hanya dalam beberapa menit. "Lagi." Terdengar seperti perintah, Mina meminta sandwich itu lagi. Maka sekalian Lily memberikan semua sandwich di dalam box itu dan tertawa kecil saat Mina seperti kesurupan makan. "Kenapa kau tertawa?" Ia bertanya dengan mulut masih dipenuhi sandwich. Hana dan Lily yang mendengar itupun sontak tertawa. "Kau sangat lucu. Kupikir kau tidak mau makan seperti anak kecil yang merajuk." "Aku belum pernah melihatmu serakus itu sebelumnya." Hana menimpali. "Sekilas aku melihat dalam tas kain itu berisi bubur. Aku tidak menyukainya. Dan kupikir tidak ada yang lucu," tambahnya. "Ya, memang tidak ada yang lucu, sebenarnya." Lily menusuk-nusuk pipi gembulnya Mina yang masih berisi makanan. "Hei!" Lily dan Hana semakin tergelak saja tawanya. Hal itu membuat Mina yang awalnya dalam mode cool nya ikut tertawa. Jauh dalam hati mereka berdua, pertama kali melihat Mina yang tertawa setelah berminggu-minggu mengalami kedukaan yang dalam adalah sebuah kelegaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD