Midnight 10: Preparation

1116 Words
Ia bersama sebuah pensil dan buku catatan ketika Lily dan Hana pamit pulang hampir satu jam yang lalu. Tangannya masih menari-nari dengan menginterpretasikan pikirannya mengenai strategi bagaimana menghadapi Mallaga dua puluh hari lagi. Sambil bergumam-gumam kecil, ia merancang sebuah sketsa armor untuk menghadapi Mallaga, dimulai dari masker yang ia pikir akan lebih rumit. Ia memilih melewatinya dan mempercayakan hal itu pada Zean nantinya. Beralih pada strateginya dalam menghadapi Mallaga dari awal ia pergi menuju TER. Ia mengurutkan dari persiapan pribadi terlebih dahulu. Wig rambut pendek hitam dengan perekat yang terkuat. Rambut panjangnya akan dianyam dan digulung. Rambut panjang akan rentan ditarik dan dililitkan ke lehernya. Pakaiannya haruslah pakaian yang bisa menahan serangan racun yang mungkin saja dapat menembus armornya. Begitupun sepatunya harus dengan bahan yang ringan namun harus berlapis armor. Begitupun dengan sabitnya. Ia mencoret-coret kembali bukunya dengan bagaimana cara ia masuk ke dalam TER tanpa harus dicurigai ataupun terlihat oleh kamera pengawas, meski ia sendiri diundang oleh sang musuh. Berjalan dengan santai masuk ke dalam gerbang begitu saja sama saja dengan mengantar nyawa, sebab ia tidak tahu jebakan demi jebakan apa yang menghadangnya. Ia pikir, ia harus menculik Mallaga atau tidak sama sekali. Mengingat-ingat struktur bangunan TER, membuatnya membuang napas. Hanya bagian atap yang ia rasa paling mudah ditembus, dan artinya ia harus melewati hutan dan melompat dari pohon besar agar bisa mendarat dengan mudah. Tidak mungkin ia memanfaatkan helikopter ataupun benda melayang lainnya karena akan begitu mencolok. Ia mengacak rambutnya, menyesal karena dulu ia tidak begitu mahir dalam sesi latihan parkour. Ia harus menambah latihan lebih ekstrim di list yang akan ia lakukan beberapa hari ke depan. Ia kembali menuliskan beberapa kemungkinan. Apa yang ia lakukan bila ia berhasil mendarat di atap TER? Apa yang ia lakukan apabila ia tidak berhasil? Apa yang ia lakukan apabila ia malah jatuh ke tanah dan ketahuan? Baru hendak menuliskan sebuah kata, rasa sakit di kepalanya mulai menjalar dari bagian belakang. Sebisa mungkin ia menghentikannya dengan membuang napas perlahan. Namun, hal itu tidak berpengaruh sama sekali. Ia menjadi begitu gugup. Jantungnya berdebar begitu keras, dengan kedua tangan mulai tremor. Ia tak lagi mampu berpikir ketika sekujur tubuhnya terasa kebas dan mulai mengejang. Rasa sakit menjalar hingga ke seluruh tubuh. Dengan kesadaran yang tersisa, ia memencet tombol untuk memanggil dokter berkali-kali. Rasa sakit di kepalanya kian bertambah-tambah selayak dipalu dengan pasak besar. Tangannya yang masih gemetar memegang kepalanya kuat-kuat, dengan mata yang hampir keluar memerah dan mengeluarkan air mata. Ia berteriak, menjerit kencang sampai pintu kamarnya didobrak oleh dokter dan beberapa perawat yang mengekor. "Injeksi morfin 15 miligram. Cepat!" Lelaki berkacamata tebal berteriak memerintah perawat yang gelagapan. Antara memikirkan keadaan pasien setelah disuntik morfin dan teriakan atasannya. "Ta-tapi, dokter. Dia akan..." "Apa lagi yang kau tunggu! Kau sanggup melihatnya seperti itu?!" "Do-dokter..." Keributan itu diinterupsi oleh gebrakan pintu kembali oleh seorang perempuan berambut violet pendek dengan pakaian mini yang dilapis jas putih. "Suster, Diazepam 10 miligram," perintahnya dengan nada tenang, berjalan menyingkirkan si dokter dan mengambil sarung tangan karet dari dalam baki, memakainya. "Siapa kau! Beraninya kau mendorongku seperti itu?! Aku dokter senior di sini!" Ia membentak kasar dengan wajah memerah dan urat leher menonjol, seakan hampir putus. "Diam atau kucium kau." Perempuan itu meminta dengan tenang, sambil menunggu susternya yang menyuntikkan cairan penenang dengan melongo karena mendengarnya menjawab si dokter. Ia merebut suntikan itu, mendorongnya sedikit karena berlebih. Beralih pada rak tinggi berisi botol obat-obatan, ia mengambil salah satunya. Mengambil dua buah kapsul bening, menusuk dan menariknya hingga injeksi itu penuh. "Sedikit lagi, Mina." Ia berujar ketika didengarnya Mina masih berteriak menahan sakit. Selesai menyuntikkannya di selang infus, ia menurunkan ke bawah katup cairan infus agar lebih deras. Mina yang masih tersengal-sengal dengan air mata yang bercucuran membuatnya menunduk. "Sadarlah. Tarik napas panjang dan keluarkan." Mina yang masih sadar menarik napas, kemudian mengeluarkannya. Terus seperti itu hingga cairan penenang mulai bereaksi. Mina menutup mata, dengan perlahan perempuan berpakaian nyentrik itu menyangga tubuhnya untuk berbaring. Melihat Mina yang sudah tenangmeski masih sesenggukan membuatnya membuang napas lega. "Si-siapa kau sebenarnya, hah?! Ini posisiku, wanita sialan! Apa hakmu mengambil alih pekerjaanku?!” Semua orang yang mendengar makian si dokter hanya diam menunduk, kecuali sang wanita yang ia marahi. Merogoh kantong jas, mengeluarkan ponsel dan mengetikkan nama seseorang di pencarian kontak dan mulai menelepon. "Jaster, ini aku. Ruang VIP 29. Masukkan dokter penanggung jawab pasien ini dalam daftar pensiun dini." Belum sempat orang di seberang menanyakan alasannya, perempuan itu mematikan telepon. Sang dokter berkacamata tebal itupun gelagapan. "Ap-apa maksudmu tadi? Kau membuatku pensiun dini?!” Perempuan berambut keunguan itu hanya menatapnya dengan pandangan datar. "Bodoh dan mengambil keputusan seenaknya untuk pasien tanpa ingin tahu penyebab dan akibatnya. Membentak bawahan di depan pasien yang hampir sekarat. Inilah alasanku memilih jadi bartender daripada berlama-lama di bangunan ini." Ia berbicara dengan menajamkan pandangan pada si dokter. Beralih pada Mina, ia menyingkirkan rambut yang menghalangi wajahnya. "Terlalu banyak kepalsuan dan kebusukan di sini. Menindas yang di bawah, menjilat yang di atas." Pandangannya beralih pada pintu yang dibuka seseorang dengan kepala nyaris botak, terengah-engah dengan kemeja yang sedikit basah karena keringat. "Bereskan orang ini, Jaster." Ia memerintah pada lelaki yang baru saja datang. "Baik, Miss Susan." Jaster, sebutan untuk laki-laki itu—ia menghampiri si dokter dan berkata, "Maaf. Anda ditunggu di ruangan personalia." Dokter itupun hanya bungkam—begitupun perawat yang di dalam ruangan itu. Mereka mendengar Jaster menyebut perempuan itu dengan panggilan Miss Susan. Siapapun tahu nama itu. Susan, pemilik rumah sakit elit itu yang anehnya belum pernah mereka temui. Hanya desas desus yang menyatakan bahwa ketidakhadirannya di rumah sakit itu karena ia sudah meninggal, atau dia adalah seorang nenek tua beruban yang tinggal tergolek di kursi goyang menikmati hasil kekayaannya. Ataupun sebenarnya dia tidak pernah ada. Tidak ada yang menyangka bahwa Susan adalah seorang perempuan cantik dengan pakaian nyentrik, rambut keunguan dan memilih bekerja sebagai bartender. "Maaf, apakah anda benar-benar Miss Susan?" Seorang perawat dengan nada takut-takut menanyainya. "Ya. Itu aku." Menjawab dengan singkat, ia melepaskan sarung tangan karet, mencampakkannya ke dalam baki. Menarik kursi, duduk di samping Mina yang tak sadarkan diri tanpa ekspresi. "Ap-apakah anda yang juga bekerja di bar? Mengapa anda mau bekerja sebagai bartender?” Ia hanya membuang napas, terdiam sejenak. Kemudian, Susan menjawab, "Bar adalah tempat orang-orang yang jujur. Kebenaran keluar dari mulut-mulut mereka saat mereka mabuk. Tidak ada orang yang saling menjilat, ataupun saling menjatuhkan. Semua larut dalam dunianya dan mengatakan hal yang sebenarnya tanpa harus berpura-pura." Hening. Orang-orang di sana terhenyak mendengar pernyataannya. "Dan aku membenci kebohongan." Kau berjanji kau akan kembali dengan selamat. Kau berbohong. Nyatanya, kau meninggalkanku sendirian dan tak mungkin kembali. Mengingat kembali kata-kata itu membuatnya meringis. Ia membenci dirinya yang seperti itu. Melihat Mina yang kondisinya telah stabil, ia beranjak, pergi meninggalkan ruangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD