Midnight 11: Susan' s Past

1211 Words
Dengan Americano di tangan, ia berdiri di tengah langit yang hitam muram tanpa satupun bintang terlihat dari netra kehijauannya. Mengeratkan jas dokternya ia lakukan sebagai opsi untuk menghangatkan badannya dari serbuan angin malam. Meneguk minumannya kembali hingga terasa di kerongkongan. Ia berdeham kecil. Beberapa tahun telah berlalu dengan ketidakhadirannya di satu-satunya tempat favoritnya di rumah sakit. Atap bangunan yang hingga kini masih terawat, dengan taman kecil yang masih segar. Namun, tak ada sentuhan tangannya seperti dulu, merawat tempat itu. Sejak kehilangan orang yang begitu dicintainya, ia tidak bernapsu untuk kembali menyentuh tempat initepatnya, ia membencinya. Ia membenci tempat itu karena ada banyak kenangan yang membuat topeng-topeng ketegaran dan nakal nya berjatuhan, menampakkan dirinya yang polos dan sedikit melankolis. Benar saja. Ia mengingat tempat yang dipijaknya tidaklah sebesar itu, awalnya. Rumah sakitnya dulu hanyalah sebuah klinik kecil yang tempatnya hampir tersembunyi di pinggiran kota dan bersisian dengan hutan. Di sanalah tempatnya memulai segala mimpinya. Susan yang telah menyelesaikan studi bekerja sebagai dokter muda dengan kostum khusus padanan putih dan merah muda, yang masih ia simpan dan masih digunakan ketika menyambut tamu di cafe. Faktanya, ia tidak disukai saudara-saudaranya yang sama bekerja di bidang kedokteran karena ada suatu bakat yang dirinya sendiri belum menyadari. Ia yang dulu, begitu polos hanya mengiyakan saja ketika ia dihadiahi bangunan kecil itu. Ia yang ditinggalkan sendirian membangun klinik kecilnya, tanpa mengetahui bahwa saudara-saudaranya telah diberikan posisi strategis di rumah sakit milik keluarga. Kekuatan, kelebihan, dan bakat tentunya membuat orang yang tidak dapat memilikinya merasa iri dan tidak segan untuk menjatuhkan. Namun, permata tetaplah permata meski dibenamkan dalam lumpur sekalipun. Hingga suatu hari, seorang lelaki bertubuh besar terluka hingga mengucurkan darah begitu banyak, hampir sekarat. Ketika ia hendak menyiram tanaman, ia melihat sang lelaki tergeletak di pohon tak jauh dari kliniknya. Lekas ia memberikan pertolongan pertama, susah payah membawanya ke klinik. Merawatnya sendirian, menjaganya dan berharap sadar secepatnya. Sesekali ia terjaga dari tidurnya ketika mendengar erangan kesakitan dari lelaki itu dan mengambil tindakan. Dengan telaten merawatnya, terkadang mengamati wajah si lelaki. Wajah tertidur itu yang ia rasa menakutkan, tetapi ia tidak mengerti mengapa tak pernah bosan ia memandangnya. Lelaki itu terbangun beberapa hari kemudian. Hal yang pertama kali ditemuinya adalah sebuah ruangan kecil dengan seorang perempuan berambut keunguan panjang menatapnya tanpa berkedip. Perempuan itu tersenyum, tetapi ia tidak bisa membalasnya dengan ikut tersenyum. Ia tidak biasa melakukannya. Ia tidak tahu cara tersenyum. Ia hanya mengenal ekspresi marah, ataupun tawa kemenangan karena berhasil menghabisi targetnya. Sejak hari itu, terbentuk suatu ikatan antara mereka berdua. Sebuah ikatan yang singkatnya, tidak perlu dijelaskan karena memang tak dapat terdefinisikan dengan kata-kata. Mereka berdua saling mewarnai satu sama lain. Susan mengajarinya bagaimana menjadi manusia yang memiliki ekspresi selain kepuasan dan kemarahan, sedangkan lelaki itu mewarnainya hingga kepolosannya meluntur, mengubahnya menjadi seseorang yang agresif, berani melewati batas norma dan nakal. Kehadiran Mallaga menambah ramai klinik kecil itu. Mereka bertiga mulai membesarkan klinik. Mallaga dengan eksperimen ekstrimnya, Susan dengan dunia medisnya dan lelaki itu—Marvin dengan organisasi pembunuh bayarannya. Mereka bersinkronisasi dan saling menguatkan demi keuntungan. Susan yang kini masih berdiri di atap bangunan, kembali tersadar dengan realita bahwa semua itu telah lama berakhir. Bagaimana Marvin melamarnya diam-diam, cara lelaki itu melindunginya, dan janji lelaki itu bahwa ia akan segera kembali. Nyatanya, hal itu semua hanya menjadi kenangan dengan manis-pahit begitu menyatu. Terkadang tak sengaja terputar ketika ia melakukan sesuatu, terkadang ia sengaja memanggilnya. Terutama bila keadaan seperti ini; dirinya yang sebenarnya tampak dan tanpa seorangpun mengetahuinya. Meneguk pahitnya kopi dengan rakus dilakukannya, hingga refleks ia memejamkan mata dengan wajah berkerut. Setelahnya, tak ia sadari tersungging tersenyum getir. Kenyataan memang menyedihkan, tetapi kehidupan harus tetap berjalan. Ia masih memiliki tanggung jawab. Sebagai pemilik rumah sakit, sebagai anggota Abbys Ground yang masih hidup, sebagai dokter. Ia ingin waktu hidupnya yang tersisa, yang entah tak ia ketahui berapa, memiliki manfaat untuk teman-temannya, untuk pasiennya. Untuk hal ini, kepolosannya benar-benar tak terpengaruh dari didikan Marvin. *** Cahaya menerobos jendela, seakan menyentuh wajah halus nan tirus Mina, hingga kesadaran kembali padanya. Ketika kedua mata sewarna crimson itu mulai terbuka, ia melihat seseorang berpakaian putih duduk di sofa dengan sebuah majalah di pangkuan. Kedua alisnya berkerut, ia menyipitkan mata. Mengerjap berkali-kali hingga pandangannya terlihat jelas. Di depannya, seseorang berjas dokter duduk menyilangkan kaki dengan tatapan serius pada benda di pahanya. “Susan? Ia bertanya pada perempuan di depannya, sekadar memastikan apakah orang di depannya benar yang dipanggilnya. "Selamat pagi," ucapnya, kemudian menyambung, "Kau sudah bangun, rupanya." Susan memilih menutup majalah, meletakkannya di atas meja. Sengaja hari ini ia memakai stiletto hitam, karena sepatu bersol tebal akan membuat suara ketuk-ketuk yang tidak perlu di lantai dan mengganggu pasien. "Mari kita ukur tensi darahmu dulu." Tangan halus miliknya mengambil tensimeter dari atas meja. Dengan hati-hati ia membungkus lengan kurus Mina, menempelkan stetoskop di atasnya. Menekan tombol mulai, dan tensimeter mulai bekerja. Tidak lama, tensimeter menunjukkan angka tekanan darah, ia melepaskan stetoskop dari telinga dan membiarkannya tergantung di leher. Mengambil rekap berisi keadaan Mina, mengisinya dengan keadaannya hari ini. "Tensimu ada peningkatan, meski belum bisa dikatakan normal. 100/80. Kau harus meminum obat, vitamin dan suplemen rutin." "Ya, terima kasih. "Untuk?" "Untuk semuanya." Mina menambahkan. Mendengarnya, membuat Susan tertawa kecil. "Tentu, Pretty Mina. Sudah tugasku." Ia beralih menyibak tirai di jendela lebih lebar lagi. Menengok ke luar jendela sembari memasukkan tangan ke saku jas. Kemudian, kedua netra merah Mina melihat Susan yang berdiri menghadapnya. "Kau banyak berubah," ungkap Susan dengan senyum disertai mata menyipit. Hal itu membuat Mina sedikit terkejut. Alis kanannya menaik ketika mendengarnya. "Kau menjadi sedikit lebih... hangat? Dan manusiawi." Ia mengatakan itu setelah kembali menengok ke luar jendela. Mina duduk beringsut, menempatkan kedua tangan bertumpu di depannya. Mengucapkan sebuah pernyataan dengan tatapan kosong ke selimut yang menutupi kaki. "Setelah bebas, aku berharap hanya ingin menjadi manusia biasa." Susan mengangguk-angguk kecil dengan mengulum senyum. "Harapan, ya?" Ia tersentak ketika merasakan getaran kecil di saku jasnya. Mengeluarkan ponsel, melihat peramban yang muncul di layar. "Ada jadwal lagi. Aku harus keluar. Kalau perlu sesuatu, panggil saja aku. Ponselmu masih aktif, bukan?" Susan bertanya dengan langkah sedikit tergesa. "Ya." Mina hanya menjawab singkat, diiringi kepergian Susan dari balik pintu. Kamarnya kembali sunyi dengan ia yang tertinggal sebagai entitas bernyawa. Mengingat-ingat tentang kata harapan membuatnya kembali merenung. Harapnya, ia ingin kehidupan yang seperti biasa. Bekerja seperti pekerja pada umumnya, berteman dengan pekerja lain, dan seseorang selain diri sendiri di satu atap. Mengingat bagaimana ia yang sedikit banyaknya berubah karena Claire membuatnya meringis. Cepat ia mengalihkan pusat pikiran ke hal yang lain. Apa yang akan terjadi setelah ia berhadapan dengan Mallaga? Apakah ia kembali menjalani kehidupan seperti biasa, atau bisa saja hidupnya hanya sampai di sana. Ia kembali berharap bahwa kehidupannya berjalan seperti biasa setelah berhadapan dengan Mallaga. Tanpa embel-embel pembunuh, apapun yang berhubungan dengan masa lalunya. Apakah harapannya akan terwujud? Kemudian, ia mengkhayalkan bagaimana hidupnya dengan kebebasan sedemikian. Menemukan kehadiran orang terkasih, tinggal di rumah yang sama, menumbuhkan kehidupan baru dalam rahimnya, dan melahirkan bayi yang lucu. Lalu, ia tertawa pahit ketika menyadari keadaannya sekarang. Terdampar di rumah sakit dengan tubuh ringkih dan dendam yang masih belum terbalaskan. Belum lagi dirinya yang masih merasa aneh dengan cara untuk menumbuhkan anak dalam dirinya. Lagipula, dengan umurnya yang kian menua, ia tidak yakin untuk itu. Apa yang kupikirkan? Ini sungguh konyol, Ia menggeleng keheranan pada diri sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD