Midnight 12: Where is she?

1373 Words
"Mina, kau sudah ma..." Baru ia membuka pintu, perkataannya terhenti ketika ia melihat sebuah pemandangan di depannya. Sebuah kasur kosong dengan selimut yang terlipat rapi. Tidak ada tanda kehidupan di sana ataupun suara dari dalam kamar mandi. Kosong. Yang bergerak hanyalah tirai yang tertiup angin. Napas perempuan berhelaian keunguan itu tertahan sebentar. Mencoba menyadarkan diri, ia berusaha tetap tenang menghadapi kenyataan di depannya. Mina, yang baru seminggu dirawatdan harusnya masih dirawat seminggu lagi, kini tidak lagi terlihat di ruangan itu. "Anak ceroboh," desisnya pelan. Cepat ia mengambil ponsel dari tasnya, mengetikkan kontak Mina. Menekan tombol panggil, tak lama yang terdengar hanyalah suara perempuan yang menyatakan bahwa ponsel yang dituju tidak aktif. Hal itu tentu membuatnya sakit kepala mendadak. Memang, Mina bukan lagi anak kelas 3 SMP seperti pertama kali ia menyembuhkannya. Ia mengerti bahwa kini Mina adalah seorang wanita matang yang dapat mengambil keputusannya sendiri, tetapi tetap saja ia merasa khawatir. Penyembuhan yang belum selesai dan ia menghilang dari rumah sakit, itu bukan keputusan yang tepat. Harusnya ia mengerti itu, kesalnya dalam hati. Tak lama, ponselnya kembali berdering. Sebuah pengingat bahwa saat itu jadwalnya memeriksa anggur yang datang ke bar. Ia memijit kepalanya dengan perasaan jengkel sekaligus cemas dengan keberadaan Mina. *** Mina bersyukur dengan tabungannya yang masih bisa digunakan dari rekeningnya yang ia pikir dapat membiayai hidupnya setahun penuh tanpa bekerjatentunya biaya skincare yang ekstra belum dihitung. Sehingga kini, ia memilih kabur dari rumah sakit setelah mengubah wajahnya dengan full-makeup dan wig rambut hitam pendek. Tidak lupa membawa tas besar berisi peralatan yang biasa ia bawa, termasuk pakaian olahraga. Dan di sinilah ia. Dengan kaki yang meneteskan keringat, pakaian mulai basah, berlari di treadmill dari pusat kebugaran yang lumayan jauh dari rumah sakit. Ia semakin puas ketika mendapatkan bagian yang menghadap langsung ke luar. Sudah lama ia terkurung, lemah lunglai di rumah sakit dengan yang bisa ia pandangi hanyalah sebuah TV besar menyiarkan acara yang membosankan dan kamar sunyi. Bisa gila ia kalau lebih lama di sana. Pernapasannya turun naik seiring kakinya yang bergerak, berlari di lantai berjalan itu. Sesekali menatap layar kecil yang menampakkan sudah berapa menit ia di atasnya. Keringat yang menuruni pelipis, punggung hingga seluruh tubuhnya tak lagi ia hiraukan. Ini masih belum seberapa, pikirnya ia harus melakukan rutinitas ekstrimnya lagi seperti sebelum ia mendekam di penjara. Teringat sesuatu, ia mengambil ponsel yang tadinya ia matikan dari atas treadmill. Menghidupkannya, kemudian beralih pada pemandangan tepat di depannya. Gedung-gedung tinggi dengan pantulan cahaya siang membias dari jendela-jendela, benar-benar memanjakan mata. Ia menoleh pada ponselnya yang menampakkan sebuah pesan masuk. Menyentuhnya untuk mengetahui dari siapa pesan itu. Dari Susan. [Pastikan kau istirahat yang cukup setelah kau kembali.] Ia mendengkus, tetapi tak ambil peduli. Ia merasa dirinya sudah sehat, tidak perlu berlama-lama dalam ruangan sunyi yang bau obat itu. Beralih pada aplikasi buku telepon, ia mengetikkan kontak seseorang dan meneleponnya. Dengan tetap tidak mematikan treadmill, ia menunggu hingga tersambung. “Zean." "Mina? Ada apa kau meneleponku? Dan mengapa napasmu... apa kau sedang berlari?" "Ya, anggap saja demikian. Aku akan ke apartemenmu." "O-oh, apa kau benar-benar sudah sehat? Kau tidak di rumah sakit?" Mendengar lawan bicaranya yang agak cerewet membuatnya memutar bola mata malas, kemudian melanjutkan, "Dalam 20 menit aku akan ada di depan Apartemenmu." "Mi-mina! Aku masih di bar! Hei!-" Mina menutup teleponya paksa. Kembali meletakkan ponselnya di atas treadmill, fokus dengan kegiatan larinya. Menekan tombol pengatur treadmill, ia mempercepatnya untuk yang terakhir kali sebelum ia pergi ke apartemen Zean. *** Tekanan pada bel yang kedua kali akhirnya membuat pintu di depannya terbuka, mendapati Zean yang memakai pakaian kasual. Dengan wajah datar, Mina memberikannya sebuah buku catatan, dan masuk tanpa permisi, tanpa suara. Berjalan seakan tiada siapa-siapa di sana menuju dapur. Mendekati kulkas dua pintu, mengambil sebotol air minum. Menenggaknya penuh nafsu hingga sebotol air minum kecil itu tak lagi bersisa. Meninggalkan Zean yang masih melongo di samping pintu, melihat seorang perempuan yang tanpa babibu masuk ke apartemennya layaknya rumah sendiri. Ia baru menyadari bahwa Mina yang masih berkeringat itu hanya memakai sportbra dilapis kemeja tidak terkancing berwarna hitam dengan lengan yang digulung dan celana abu-abu ketat, membuatnya yang sebagai lelaki normal pun hanya bisa menenggak ludah, memalingkan wajah agar dapat mengendalikan diri dari pemandangan yang begitu panas. "Demi Laina yang kucintai, Mina! Tidak seharusnya kau berpakaian seperti itu ke rumah lelaki yang sudah punya kekasih!" Ia berteriak dengan pandangan yang masih ia alihkan. Mendengar hal itu, membuat alis perempuan itu mengerut samar. Dengan santai, ia menjawab, "Memang siapa yang menyuruhmu fokus padaku? Fokus dengan apa yang di tanganmu saja." "Aku tidak bisa membayangkan bila Laina melihat ini." Ia menggeleng, memijit dahi. Ia teringat bahwa ia harus menghapus bagian CCTV hari ini. Pacarnya yang posesif itu seringkali memeriksa CCTV hanya untuk melihat apakah ada perempuan lain masuk ke apartemennya. "Aku tidak peduli. Di mana kamar mandi?" Ia kembali membuka kulkas untuk mengambil botol minum yang kedua. "Sebelah kanan, samping mesin cuci." "Oke." Keluar dari dapur, ia berjalan ke bagian kamar mandi seperti yang ditujukan. "Jangan tinggalkan apapun setelah kau memakainya," pintanya dengan nada memohon. Mina hanya mendengkus dan menjawab, "Cerewet." Mengalihkan perhatian pada buku kecil di tangannya, ia membalikkan lembar demi lembarnya. Menemukan desain armor dari wajah sampai kaki, beserta bahan-bahan apa saja yang ia inginkan. Mengernyitkan dahi, ketika melihat desain yang ia rasa sungguh sulit—hampir mustahil untuk dibuat. Dalam catatan itu, Zean mengamati bagian kepala terlebih dulu. Lapisan pertama, penutup kepala berbahan katun dengan bagian hidung sampai dagu dilapis platina nanofilter. Lapisan kedua, silikon untuk menjaga filter tidak bergeser. Lapisan terluar, topeng berbahan baja ringan dipadukan silikon dengan penyaring udara tambahan. Membalikkan halaman kedua, tidak jauh berbeda. Bagian tengah badan sampai pinggang ditambahkan lapisan antipeluru. Sampai ke celana dan sepatu, ia pikir tidak terlalu sulit, tetapi hal ini membuatnya kerutan di dahinya semakin bertambah. Ini menambah kecurigaan dan dugaan Zean, bahwa objek yang seharusnya mereka—anggota Abbys Ground yang tersisa—lindungi, Mina, akan bergerak sendirian. Ia tersentak ketika perempuan yang ia curigai itu telah berada di hadapannya, berdiri melipat tangan di depan badan dengan pakaian tertutup. "Akan kubayar berapapun yang kau pinta. Asalkan kau bisa menyelesaikannya tepat sepuluh hari setelah hari ini." Dari nada bicaranya, permintaannya terdengar seperti perintah mutlak yang harus dilaksanakan. Hal itu membuat kerutan di dahi Zean terlihat jelas. Bertahun-tahun mereka bekerja sama, sedikit banyak ia telah mengetahui tabiat Minakurang sabaran dan keras kepala. Ingin menjawab rasa curiganya, ia bertanya, "Apa yang akan kau lakukan dengan ini? Kau tidak akan menghadapi Mallaga sendirian, bukan?" Tepat pada sasaran. "Itu tidak ada hubungannya denganmu. Singkat saja. Ya, atau tidak?!" Suaranya mulai meninggi dengan jemarinya mulai terkepal kuat. "Kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kau adalah target utamanya, dan kami akan melindungi-" Ia tidak siap dengan tiba-tiba kerah bajunya ditarik kuat oleh Mina dengan wajah murka menatap sangar padanya. "Persetan dengan kata kami yang kau maksud! Ini urusanku, Berengsek! Ia telah membunuh orang yang kusayangi, dan sepatutnya ia mendapatkan balasan dariku! Tidak ada satupun yang boleh menyentuhnya kecuali aku!" Tatapan dingin dan kedua mata merah yang berkilat itu mencerminkan seorang Zean yang dari roman mukanya juga terpancing emosi. "Lalu, kami akan diam dan menikmati pertunjukan?! Kau masih anggota kami, Mina! Bila kau sampai mati di tangannya, untuk apa adanya kami?! Kita akan hancur bila kau sampai tewas!" Makian Zean tak kalah sengitnya dengan perempuan di depannya. "Dengan kata lain, kalian ingin aku duduk diam saja, begitu?! Apa intuisi kalian semua menumpul karena sudah lama tidak berperang, hah?! Apa kalian lupa bagaimana liciknya Mallaga?! Bagaimana bisa kalian melindungiku tanpa memberiku sedikitpun benda untuk melindungiku sendiri?!” Zean terdiam, dengan Mina yang terengah-engah. Wajahnya masih memerah dengan dirinya yang menahan amarah. Bahunya naik turun mengambil napas, kemudian melanjutkan, "Itu saja permintaanku. Apa itu sangat sulit, huh?!" "Baiklah, baiklah. Aku akan mengabulkan permintaanmu. Asalkan kau tidak bergerak hingga hari itu tiba." Mina melepaskan cengkeramannya, dengan jari-jari yang masih bergetar. "Terserah." "Aku tidak dapat memegang kata-katamu hanya dengan itu." Kali ini, Mina hanya membisu. Zean kemudian melanjutkan, "Aku tahu, kau sangat ingin membunuhnya dengan tanganmu sendiri. Namun, kupikir kaupun mengerti bahwa dia bukan lawan yang bisa dihadapi sendirian. Karena itu, biarkan kami yang bergerak. Gegabah hanya akan membuatmu celaka." "Ya." "Kami akan menjemputmu nanti. Jangan mencoba untuk melarikan diri," tegas Zean, ia menutup buku di tangannya. Dan Mina memilih bungkam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD