Semakim Dekat

1036 Words
Pov Raka "Iya, apa Kak?" Tanya Devina sambil membalikkan tubuh, mata indahnya terus menatap ke arahku. "Helmnya....!" jawabku sambil menunjuk ke arah helm yang aku kenakan. "Oh, maaf Kak?" jawabnya yang terlihat malu-malu, kemudian dia pun melepaskan helm lalu berjalan Kembali menuju ke arahku. "Nggak apa-apa, aku pulang dulu ya." "Hati-hati Kak!" ujar Devina sambil Melambaikan tangan kemudian dia pun melanjutkan kembali niatnya yang hendak masuk ke dalam rumah. Setelah Devina masuk, aku pun mulai menyalakan kembali motorku, lalu pergi untuk pulang ke rumah. di perjalanan hatiku merasa berbunga, bahagia. tapi entah bagaimana cara mengungkapkan kebahagiaan itu, karena mungkin beginilah Rasanya jatuh cinta, yang tidak bisa ditorehkan dengan kata-kata, hanya bisa dirasakan degupnya dalam d**a. Tring! Sesampainya di garasi rumah, terdengar handphoneku berbunyi. dengan cepat aku pun mengambil handphone dari dalam tas, lalu melihat isi pesan yang dikirimkan oleh Devina. Awalnya aku suka malas menyalakan notifikasi handphone, karena biasanya yang mengirim pesan hanyalah operator dan SMS penipuan. bahkan ibu dan papa Sering menasehati agar notifikasi handphone-ku dinyalakan, agar mudah ketika mereka membutuhkan sesuatu atau hanya sekedar menanyakan kabar. Tapi sekarang notifikasi itu selalu on setiap waktu, karena selalu menunggu orang yang sudah tinggal di dalam hati menyapaku. "Sudah sampai apa belum, Jangan lupa makan siang ya Kak...! nanti kakak sakit," isi dalam pesan itu membuat kedua sudut bibirku terangkat. "Baru saja sampai. yang mengingatkan sudah makan apa belum?" balasku. "SUdah dong, karena sebelum menyayangi orang lain, aku pasti menyayangi diri aku sendiri." "Mau menyayangi siapa tuh?" balas ku lagi. "Orang yang mau disayangin lah. buat apa menyayangi orang yang tidak menyayangi kita." "Aku ya, hehehe." "Iiiiiiih, kakak apaan sih, pede banget...!" balas Devina diakhiri dengan emoticon cemberut. "Ya Terus siapa kalau bukan kakak, nggak mungkin kan kamu menyayangi kambing." "Raka....! kamu lagi ngapain di situ?" tanya suara seorang wanita yang nggak tahu dari mana datangnya. tiba-tiba dia bertanya seperti itu, dengan segera aku membalikkan pandangan dari arah layar handphone menuju ke arah datangnya suara. "Eh mamah, dari mana Mah?" Tanyaku dengan sedikit gelagapan dengan segera memasukkan handphone ke dalam tas, lalu menghampiri ibu yang sedang berdiri di dekat mobilnya. Asik berbalas pesan sehingga aku tak menyadari keberadaan ibu di sekitarku. "Ya baru pulang kerja lah, Raka, dari mana lagi. kamu ngapain sih pakai ngelamun di garasi, sambil senyum-senyum seperti orang kurang sesendok," gerutu ibu sambil mengulurkan tangan untuk aku cium punggungnya. "Nggak kok, Raka nggak melamun kok, Raka hanya ngadem saja." "Tumben-tumbenan ngadem di luar, biasanya kamu lebih memilih duduk di meja komputer sambil Menatap layar laptop." ujar Ibu sambil mendorong tubuhku masuk ke dalam rumah. "Sesekali boleh kali mah." "Kamu lagi chat-an sama siapa sih, dari tadi malam kayaknya serius banget?" "Nggak, Raka nggak chat-an sama siapa-siapa kok. Raka hanya sedang mencari inspirasi buat buku yang Raka tulis." jawabku mengelak. "Sejak kapan kamu pandai berbohong, mamah tahu loh perubahan sikapmu yang tiba-tiba aneh seperti ini." Tring! tring! tring! Tiba-tiba handphone yang berada di dalam Tasku berbunyi, menandakan ada satu panggilan masuk. "mah, Raka ke atas dulu ya...!" pamitku sambil berlari menaiki anak tangga. "Makan dulu, nanti kamu sakit!" "Nanti aja mah, Raka belum lapar." jawabku dengan berteriak, karena sudah berada di ambang pintu kamar. Dengan cepat aku pun masuk ke kamar, lalu menutupnya dengan rapat. kemudian mengambil handphone yang berbunyi untuk kedua kalinya, lalu mengangkat telepon yang memanggilku. "Kakak ke mana, Kok nggak balas pesan w******p ku, Kakak marah ya?" tanya Devina yang seperti ketakutan kalau aku pergi dari hidupnya. "Nggak kok, nggak marah. Kakak tadi lagi jalan masuk dalam rumah." "Berarti rumah kakak besar ya, Soalnya Kakak lama banget bales chat aku?" "Enggak kok, dibilang besar itu tidak tepat, tapi kalau dibilang kecil nggak juga. ya lumayanlah nyaman untuk disinggahi." jawabku yang mengerutkan dahi, masa iya aku membalas pesannya agak lama, padahal perasaan tadi aku berlari menaiki tangga. "Kok lama?" "Emang 3 menit lama ya?" "Lama lah Kak, 1 menit saja terasa Sewindu, kalau menunggu kabar dari orang yang," ujar Devina tidak melanjutkan pembicaraan. "Yang apa Devin?" "Ada deh, Eh kak. Kakak sudah makan apa belum?" "Belum lah, kan baru saja masuk ke dalam kamar?" "Makan dulu dong, nanti Kakak sakit. padahal aku sudah mengingatkan loh!" Akhirnya obrolan itu terus berlanjut, membahas hal-hal yang sebenarnya tidak seru untuk dibahas. tapi ketika mengobrol dengan Devina, orang yang baru beberapa hari aku mengenalnya, pembahasan topik membosankan menjadi sangat menyenangkan. aku sangat betah mengobrol berlama-lama dengan Adik Kelasku, padahal dulu aku tidak pernah melakukan hal itu, handphone hanya untuk menanyakan tugas atau bermain game, tapi sekarang handphone itu beralih fungsi menjadi penyambung perasaan Antara Aku dan Devina. "Raka....! Raka....! kamu makan dulu nak....!" teriak ibu dari bawah. "Raka belum lapar Mah...! nanti saja kalau sudah lapar Raka makan sendiri kok," jawabku dengan berteriak pula. "Dari tadi belum makan, terus ngapain aja?" tanya Devina yang mendengar teriakanku, Padahal dia juga tahu kalau aku belum makan karena berteleponan dengannya. "Ya sudah kalau begitu, aku mau mandi terus makan dulu ya, nanti kita lanjutkan lagi obrolannya." "Lama nggak Kak?" "Ya paling menghabiskan waktu untuk mandi dan makan, biasanya lama atau enggak?" "Kurang tahu sih Kak, aku kan perempuan bukan laki-laki. Jadi aku kurang tahu bagaimana laki-laki makan dan mandi." "Ya sudah Kakak mandi dulu ya?" "Jangan...! Kalau kakak mandi, Devina ngobrol dengan siapa, Soalnya di rumah Devina sendirian, hanya ada si mbok kalau sopir sedang pergi menjemput Bapak dan Mama." tolak Devina yang membuatku semakin penasaran untuk mengenal karakteristik dari seorang makhluk yang bernama cewek, karena dia yang menyuruh tapi dia juga yang menolak. Percakapan itu terus berlanjut hingga Azan Ashar terdengar berkumandang di masjid, awalnya kita ingin memutus telepon itu, mau melaksanakan kewajiban terlebih dahulu, namun itu tidak jadi, karena pembicaraan semakin lama semakin sangat seru. Truk! truk! truk! Pintu kamarku ada yang mengetuk, membuatku mau tidak mau harus menghentikan panggilan. "siapa....?" Tanyaku sambil menatap ke arah pintu kamar. "Papah Raka, boleh Papa masuk?" "Oh papa, Boleh Pak, Nggak dikunci kok." Pintu kamarku terbuka, lalu masuk lah sosok pria paruh baya yang masih lengkap Menggunakan seragam kantornya. memakai kemeja, dengan dasi melingkar di leher, pria itu menghampiri lalu duduk di kasurku. "Kenapa kamu belum mandi, perasaan Raka sudah dewasa, sudah kelas 2 SMA, bukan anak TK lagi. masa iya mandi juga harus disuruh?" "Sudah kok pak, jawab ku berbohong."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD