Hari ini Senja akan lembur kembali, meskipun pikirannya tengah kalut karena masalah yang ditimbulkan oleh Arga, tetapi Senja tetap harus mencari uang lebih lagi untuk biaya pengobatan sang Bunda.
Gajinya bulan ini harus bisa melebihi dari gaji pokoknya, dengan banyaknya lembur yang dia kerjakan.
"Lembur lagi, Ja?" Tanya Hawa saat melihat sahabatnya masih nyam duduk di atas kursi menghadap layar komputer yang masih menyala.
Senja menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, namun Hawa tidak bisa memungkiri dari raut wajah sahabatnya ini jelas tercetak rasa lelah, pusing, dan bingung.
Hawa menarik kursinya mendekati meja Senja. Senja yang melihat sahabatnya menarik kursi pun mengkerutkan keningnya.
"Ngapain lo?" Tanya bingung Senja.
"Lo itu butuh istirahat, Senja. Jangan maksain nanti yang ada badan lo drop!" Ucap Hawa perhatian kepada sahabatnya ini.
Senja terlihat membuang nafasnya. "Tenang, gue gak akan semudah itu untuk sakit!" Ucap Senja menenangkan dan meyakinkan Hawa tentang kondisinya.
"Lo balik saja sana gih, yang butuh istirahat itu lo bukan gue!" Sombong Senja.
Jauh dalam lubuk hatinya dia merasakan lelah seperti pada umumnya, tubuhnya ingin beristirahat. Tapi apalah daya, ketika keadaan memaksanya untuk menjadi kuat.
Hawa memutar bola matanya malas, dia geram dengan setiap jawaban yang dilontarkan oleh sahabatnya ini.
"Ngeyel ih lo mah di bilanginnya!" Kesal Hawa.
Terlihat Senja tersenyum ke arah Hawa. "Gue gak apa apa, lo bisa balik duluan gih. Gue gak lama kok, paling sampai jam 19.00 doang"
"Ya udah, gue balik duluan" pamit Hawa, namun sebelum dia benar benar meninggalkan Senja, Hawa merogoh tasnya dan mengambil sesuatu di dalam sana lalu menyimpannya di atas meja kerja Senja.
"Gue punya roti sobek rasa coklat, favorit lo banget kan! Makan, jangan sampai perut lo keroncongan!" Kata Hawa kepada Senja.
"Siap 86!!" Sahut Senja dengan tangan yang menghormat.
"Gue duluan ya!" Pamitnya kembali.
"Hati hati, Wa!" Teriak Senja berpesan kepada Hawa.
Senja kembali fokus kepada pekerjaannya, mengerjakan beberapa pekerjaannya dengan roti pemberian Hawa yang menemaninya. Hingga tanpa terasa waktu menunjukkan pukul 19.00, seperti yang dia katakan jika dirinya akan lembur sampai pukul 19.00 saja.
Dan tepat di pukul 19.00 pekerjaan Senja selesai, dia merenggangkan otot otot tangannya ke atas, lalu menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri karena rasa pegal yang dia rasakan.
"Akhirnya!" Ucap Senja merasa lega.
Lantas dia pun bergegas merapihkan beberapa baranga bawaannya di atas meja, memasukkannya kembali ke dalam tas. Setelahnya barulah dia beranjak keluar dari ruangannya, Senja sudah ingin berada di atas kasur empuknya, merebahkan tubuhnya yang sudah sangat lelah.
Sudah hampir 15 menit Senja berdiri di halte menunggu kedatangan bus, namun nampaknya ada keterlambatan jadwal dari yang sudah seharunya.
Helaan nafas lelah pun sudah beberapa kali Senja hembuskan. Dan dia pun sudah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Bus masih belum menampakkan wujudnya.
Hingga sebuah mobil pajero sport hitam berhenti di depan halte dimana Senja tengah menunggu kedatangan Bus. Kaca terbuka menampilkan sosok Devan di dalam sana.
Senja menajamkan penglihatannya kala jendela sudah terbuka sepenuhnya. "Dokter Devan" beo Senja.
"Ayok masuk, sudah malam" kata Devan, Senja pun tersenyum dan memasuki mobil Devan.
Malam ini Senja akan pulang bersama dengan Devan, karena bus yang dia tunggu tunggu tidak kunjung datang.
**
.
Disebuah balkon apartemen mewah, dua orang pria tengah terduduk dan menikmati segelas wnie untuk menemani perbincangan keduanya.
"Putuskan semuanya, lo gak bisa kaya gini terus Ga, lo harus bisa move on, lo berhak bahagia, lo berhak menentukan jalan hidup lo, cinta lo, masa depan lo. Tapi satu hal yang gue yakini, jika Senja adalah pilihan terbaik dari Om Malik dan juga Tante Humaira" tutur David.
"Gue yakin kedua orang tua lo gak akan me jerumuskan anaknya ke sebuah lubang yang penuh dengan paku" lanjut David.
"Gue akan bicarain semuanya dulu sama Senja besok" sahut Arga.
Dan selanjutnya mereka pun meninkmati minuma yang berada di tangan mereka.
**
Seperti apa yang Arga katakan semalam bahwa hari ini dia akan membicarakan semuanya dengan Senja. Arga akan meminta Senja untuk mau menerima pertunangan yang di minta oleh Mami dan juga Papinya.
Karena Humaira terus menerus menanyakan kapan dia akan dipertemukan dengan orang tua dari calon menantunnya itu.
Kini Arga dan Senja terduduk di atas kursi yang saling berhadapan dengan terhalang oleh maja bundar kecil saja, dan di atas meja sudah terdapat minuman pesanan keduanya.
"Kita bertunangan" kata Arga membuat Senja merasa bingung dan keheranan sendiri.
"Ini sebuah ajakan, pertanyaan, atau hanya pernyataan?" Tanya Senja bingung.
Arga terdiam memandangi wajah Senja, begitu pun dengan Senja.
"Sebuah tawaran untuk kita bertunangan dan menikah!" Tutur Arga membuat Senja semakin tidak mengerti dengan apa yang pria ini katakan.
"Tawaran?" Beo Senja.
Arga pun menganggukkan kepalanya, "ya, tawaran untuk kita melakukan sebuah pernikahan kontrak" ujar Arga dan sontak saja membuat Senja shock dibuatnya.
"Ma-maksudnya, Pak?" Tanya gugup Senja.
"Kita menikah kontrak, hanya untuk beberapa tahun saja, mungkin satu atau dua tahun"
Senja terlihat tidak percaya dengan apa yang Arga katakan. Bagaimana bisa, pria itu mengajaknya menikah kontrak, sebuah pernikahan yang sakral dijadikan sebuah kontrak perjanjian. Ini sebuah pernikahan yang kita berjanji langsung di hadapan Sang Pencipta.
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa menerima tawaran Bapak ini. Karena bagi saya pernikahan adalah sekali seumur hidup, dan ini adalah sebuah acara yang sakral tidak untuk di permainkan sepertu itu!" Lanjut Senja.
Arga tidak akan kehabisan akal, dia akan selalu memiliki ide ide lainnya.
"Pernikahan kontrak ini tidak akan merugikan kita berdua, saya akan membuat semuanya semakin tertata"
"Dan satu hal lagi, saya akan memeberikan kamu apa saja yang inginkan. Dan juga saya akan memberikanmu bayaran dari pernikahan kontrak ini. Bagaimana?" Tawar Arga.
Dia benar benar merasa frustasi dengan permintaan sang Mami.
"Tiga puluh juta dalam sebulan, itu untuk jajan kamu dan kamu bisa menggunakannya untuk keperluan kamu. Untuk lebih lanjutnya kita akan bertemu dengan pengacara keluarga untuk membahas dan membuat surat perjanjiannya!"
Senja nampak berpikir tentang 30 juta sebulan, waw, Senja benar benar merasa terggulung, yang bawa motor personalnya ngebut.
Sudan 30 meni lagi dan mulai menyantap .
"Ok, Deal!!" Ucap Senja seraya mengulurkan tangannya.
Senja berpikir dia bisa menggunakan uang itu untuk pengobatan sang Bunda, dia tidak perlu repot repot lagi mesti lembur.
"Dasar matre giliran uang saja langsung deal!" Gerutu Hafiz.
"Ngomong apa kamu?" Tanya Senja dengan kenjng yang berkerut.
"Ok, hari ini kita langsung beetemu dengan oengacara keluarga Malik!"
"Maka kamu siap siapa! Kita akan membahasnya langsung" sahut iik.