WA 9 -- Dilema

1307 Words
Senja tengah melamun di meja kerjanya, setelah makan siangnya bersama dengan Humaira dua hari lalu, Senja menjadi semakin banyak melamun, membuat Senja menjadi tidak fokus dalam bekerja, pikirannya selalu memikirkan perkataan Humaira kemarin. Hawa yang melihat temannya lebih banyak diam dan melamun pun tidak tinggal diam, dia mencoba memanggil Senja tetapi wanita itu tidak mendengarnya, karena dia yang terlalu larut dalam lamunannya sehingga membuat Senja tidak fokus dalam pendengarannya pula. "Senja! Woy!!" Teriak Hawa yang sudah merasa geram karena sahabatnya ini tidak menanggapi panggilannya. Senja terlonjak kala mendengar teriakan Hawa, sahabatnya yang begitu menggelegarkan di rungunya. "Astagfirullah!! Lo apa apaan sih Wa, kaya di hutan!" Kesal Senja. "Lo lagi ada masalah bukan? Tapi Bunda, baik baik saja kan" panik Hawa. "Gue pengen cerita sama lo!" Kata Senja. "Biasanya jug cerita, ya cerita saja ini pakai segala izin lagi. Lebay lo!" Gerutu Hawa "Ibu Humaira, dia minta gue tunangan sama Pak Arga" paniknya dan itu semua membuat Hawa ikut panik kala mendengar cerira dari Senja. "Asli?" Beo Hawa lalu dijawab dengan anggukan kepala oleh Senja. "Gue harus kaya gimana, Wa. Gue bingung, gue gak mau kalau harus berbohong lagi untuk menutupi kebohongan yabg lain. Dan lagi pula, gue gak mau nikah sama Pak Arga. Ngebosenin gitu orangnya, cuek, dingin, gak pengetian, gak romantis dan yang paling penting, dia bukan pria yang gua cintai dan sukai, bukan tipe gue!" Ungkap Senja "Astaga! Bisa-bisanya lo gak suka sama pria modelan Pak Arga, gila lo ya?" Sungur Hawa. "Wa, ayolah?!! Lo tahu kan gue ini kaya gimana. Sumpah ya, gue gak tau harus kaya gimana ini" rengek Senja dengan bingungnya. "Lagian ya, wanita di luaran sana berebut untuk bisa menjadi pendamping dari seorang Arga Griffin Harun, dan lo? Lo malah gak mau disuruh tunangan sama Pak Arga, ini Ibu Humairanya langsung yang minta lo buat jadi menantu seorang pewaris Nirwana Grup. Heran gue sama lo!" Tutur Hawa panjang lebar dengan kepala yang dia geleng gelengkan. Hawa merasa tidak habis fikir dengan jalan pikiran sahabatnya ini, dia benar benar tidak mau menikah dengan pria yang menjadi idaman para wanita diluar sana. Sekarang dia malah memikirkan bagaimana caranya bisa terlepas dari Pak Arga. Jika saja itu ada di posisi Hawa, maka dengan sangat senang hati Hawa akan langsung meng-iyakan permintaan itu. "Wa, ayolah. Bukan cuman gue yang gak mencintai Pak Arga, tapi Pak Arga pun tidak memiliki rasa cinta itu buat gue, ini semua hanya sekedar kebohongan karena sebuah kesalah pahaman saja, dan kalau gue sampai tunangan dengan Pak Arga otomatis kedua orang tua Pak Arga akan merencanakan sebuah pesta pernikahan untuk kita. Dan satu hal lagi, gue gak mau kalau sampai Bunda ikut terlibat dalam kebohongan ini!" Tutur Senja benar adanya, dia tidak mau kebohongan ini semakin berlanjut hingga jauh dan terlalu dalam. "Cinta akam tumbuh karena terbiasa dan seringnya kalian bersama, jika memang saat ini kalian belum bisa saling mencintai, mungkin suatu saat nanti akan tumbuh rasa cinta dalam hati kalian. Dan itu pasti, cinta itu pasti akan tumbuh dalam hati kalian" tutur Hawa. Bukan, Hawa bukan ingin mendorong sahabatnya untuk menerima pertunangan ini, hanya saja Hawa ingin menjelaskan jika memang masalah Senja adalah rasa cinta di antara mereka berdua, maka Senja tidak perlu mengkhawatirkan itu. Karena cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu dan seringnya mereka bersama nanti. ** Di ruangan CEO, Arga sedang terdiam dengan pandangan tertuju pada kertas putih yang bertuliskan tinta hitam di atasnya, tangan kanannya tengah memegangi pulpen, bola matanya bergerak ke kanan dan kiri membaca tulisan di atas kertas itu. Namun, pikiran Arga tertuju pada perkataan sang Ibunda dua hari lalu untuk memintanya bertunangan dengan Senja. Dan tidak hanya itu saja, sehari setelahnya Humaira meminta Arga untuk datang ke rumah dan meminta langsung kepada putranya untuk segera bertunangan dengan Senja. Flashback "Ada apa Mi minta aku untuk pulang ke rumah?" Kata Arga begitu dirinya tiba di kediaman orang tuanya. "Senja itu anak yang baik, cantik pula, ramah, pintar. Mami dan Papi sayang sekali sama Senja, kami berdua menginginkan agar Senja menjadi menantu keluarga kita" ujar sang Mami. Arga terdiam mendengar perkataan Humaira yang ternyata sudah menyukai Senja bahkan menyayangi wanita itu, bukan hanya sang Mami saja yang sudah jatuh hati pada pesona seorang Senja, tetapi Malik sang Papi pun sudah menyukai dan menyayangi Senja. "Sudah dapat lampu hijau dari Mami dan Papi, kenapa gak di iyahin aja sih, Kak!" Celetuk seorang wanita membuat Arga menolehkan wajahnya melihat ke sumber suara. "Erina!" Kaget Arga kala melihat sosok adik perempuannya berjalan menghampiri dirinya dan sang Mami yang tengah berbicara. "Kapan kamu pulang?" Tanya Arga, karena adik perempuannya ini tengah menjalankan studynya di luar negeri. "Baru semalam aku sampe Kak" "Arga, jangan kamu mengalihkan pembicaraan!" Cetus Humaira. "Arga tidak mengalihkan pembicaraan Mi, Arga kan bertanya sama Erina" "Mami ingin bertemu dengan orang tua Senja!" Kedua bola mata Arga membulat kala sang Mami mengatakan ingin bertemu dengan kedua orang tua Senja. Bagaimana bisa, Arga saja tidak tahu rumah Senja dimana, dia saja tidak mengenal Senja begitu, terlebih hubungannya dengan Senja hanyalah sebuah kebohongan. Lalu, sekarang Humaira ingin bertemu dengan orang tua Senja. "Mi, ini terlalu cepat, biarkan Arga dan Senja saling mengenal lebih dalam satu sama lain lagi, Mi!" Pinta Arga, agar Maminya tidak terus memaksa agar dia segera bertunangan dengan Senja, dan juga agar kedua orang tua Arga tidak memaksa untuk bertemu dengan orang tua Senja. "Mami hanya ingin bertemu dengan kedua orang tua Senja, apa salahnya?" Kekeh Humaira yang ingin bertemu dengan orang tua Senja. Erina hanya memperhatikan percakapan Mami dan Kakak laki lakinya ini, gadis ini memilih terdiam dengan isi kepala yang berpikir. "Jangan pernah melakukan hal hal yang konyol ya, Na!" Peringat Arga kala melihat wajah Erina yang sudah memiliki sejuta ide di kepalanya. "Ih, kakak mah suuzon mulu sama aku!" Elak Erina, namun Arga tidak percaya begitu saja. Flashback Off "Permisi tuan Arga!!" Teriak David membuat Arga terlonjak lalu menatap tajam David yang sudah membuatnya terkejut. "Kuping gue masih normal, Vid!" Kesal Arga. "Kalau normal dari tadi gue panggil lo pasti nyaut Arga!!" Geram David. "Ada masalah apa lagi?" Tanya David yang sudah paham dengan sahabatnya ini. Terlihat Arga menarik nafasnya dalam dalam, lalu menghembuskannya lelah. Arga berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati kaca besar di ruangannya ini yang menyuguhkan pemandangan gedung gedung menjulang tinggi disana. Dengan kedua tangannya yang dia masukan ke dalam kantong celana hitamnya dan pandangan lurus ke luar jendela. David memperhatikan pergerakan Arga, David mengikuti langkah Arga dan berdiri di dekat sofa ruangan Arga. "Gue bingug, Mami dan Papi minta gue untung tunagan dengan Senja" tutur Arga dengan nada bingungnya. David mengekerutkan keningnya. "Lo belum bilang sama Om dan Tante, kalau hubungan kalian itu tidaklah sungguhan?" "Bagaimana mungkin gue bilang sama mereka, Vid. Mereka sudah terlanjur sayang sama wanita itu!" Lelas Arga. "Kalau Om dan Tante saja sudah jatuh cinta sama Senja, kenapa lo gak? Jangan salah memilih lagi, gue yakin Senja adalah pelabuhan terkahir lo, gue yakin Senja tidak seperti wanita itu, dan satu hal lagi. Yang pantas disebut wanita itu adalah dia bukan Senja!" Geram David. "Jatuh cinta itu gak mudah, Vid!" Sahut Arga. "Nggak mudah atau lo belum move on!!" Arga terlihat memejamkan kedua matanya lalu menghembuskan nafasnya. "Vid, please!!" Mohon Arga. David menaikan satu alisnya ke atas lalu tersenyum miring. "Ya, lo memang belum bisa move on dari wanita itu!! Kalau jatuh cinta tidak mudah bagaimana dengan Om Malik, lo yang harusnya paham dengan Om Malik, karena dia bukan tipe yang bisa begitu saja menerima orang baru apalagi itu untuk pasangan hidup putranya sendiri!" Tegas David. Arga pun terdiam mendengar penuturan David, ya, memang benar apa yang David katakan, bahwa Papinya bukanlah tipe yang mudah menerima orang begitu saja. "Move on!!" Gemas David berbisik di rungu Arga. Pria itu pun keluar dari ruangan Arga meninggalkan pria tampan dan terkenal dingin di mata karyawannya itu yang tengah merasa galau dan belum bisa move on dari mantan kekasihnya dahulu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD