WA 8 -- Permintaan Pertunangan

1888 Words
Ini sudah masuk jam makan siang, seperti biasa Senja dan Hawa akan makan siang bersama. Kali ini Senja mengajak Hawa untuk manikmati mie ayam yang berada di gang kecil samping gedung kantor Nirwana Grup ini. Yang selalu ramai setiap hari dikunjungi oleh para pembeli, maka mereka harus lebih dahulu sampai kesana, karena ini jam makan siang pasti banyak yang karyawan kantor yang ingin makan disana. “Ayok Hawa, lama banget tumbenan ih lo ya!” Rengek Senja karena Hawa tumben sekali lama seperti ini. “Sebentar astaga! Sudah kaya anak kecil yang takut kehabisan jajananannya tahu gak lo” sahut Hawa yang masih fokus pada layar komputernya. Dan terbalik dengan Senja yang biasanya dia yang lama dan Hawa yang selalu merengek untuk mengajaknya makan siang. “Ayok!” Ajak Hawa, nampaknya dia sudah selesai dengan pekerjaannya. Namun baru saja Senja akan menjawab, nama dia sudah di panggil lebih dahulu oleh seorang wanita. “Mba Senja” panggl wanita tersebut membuat Senja dan Hawa refleks menolehkan wajah  mereka. Senja dan Hawa tersenyum kala melihat wanita itu adalah sekertaris CEO mereka. “Eh, ya Mba Siska, ada apa?” Tanya Senja. Siska tersenyum ramah kepada Senja. “Maaf, Mba Senja di tunggu di ruangan Pak Arga” kata Siska. “Di ruangan Pak Arga? Ada apa ya Mba?” Tanya Senja kembali dengan kening yang saling bertaut merasa bingung kenapa dia di panggil ole Arga di jam istrirahat seperti ini. Apakah pria itu akan kembali mengaturnya, agar tidak berdekatan dengan pria lain dengan alasan jika Senja adalah kekasih pura pura dari Arga. Siska menyunggingkan senyuman ramahnya kembali. “Kalau itu saya kurang tahu, Mba. Tetapi, Mba Senja sudah di tunggu di ruangan Pak Arga. Sekarang!” Hawa menyikut lengan Senja yang berada de]kat dengan dirinya. “Sudah sana, nanti kalau lo gak kesana bisa kena omel!” Bisik Hawa merasa khawatir dengan keadaan sahabatnya ini. Senja terlihat menarik nafasnya dalam dalam lalu menghembuskannya perlahan. “Ya sudah, gue ke atas dulu kalau gitu, lo duluan saja makan siang takut gue lama di ruangan Pak Arga, nanti keburu jam makan siang selesai” pesan Senja. “Nanti sekalian gue beliin makan buat lo kalau gitu” kata Hawa. Senja menggelengkan kepalanya. “Nggak usah, beliin s**u cokelat saja” ucap Senja dan di acungi jempol oleh Hawa. “Mari, Mba Senja” ajak Siska. Siska pun berjalan beriringan dengan Senja menuju ruangan Arga yang berada di lantai 30. “Sebenarnya ada Nyonya Besar di ruangan Apk Arga” ucap Siska scara tiba  tiba, dan sontak saja itu semua membuat Senja menolehkan wajahnya menatap Siska yang berada disampingnya. “Nyonya Besar?” Ulang Senja, takut saja jika rungunya salah mendengar tadi. Siska pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Senja. Senja kembali terdiam seraya berpikir apa yang akan terjadi setelah ini, drama apa lagi yang akan dia dan Arga ciptakan sekaranag. Hembusann afas lelah pun Senja hembuskan. Tanpa Senja sadari dia sudah berada di lantai 30 dimana ruangan Arga berada. “Saya antar sampai sini saja, sesuai perintah dari Pak Arga. Kalau begitu, saya pamit ya Mba Senja” pamit ramah Siska kepada Senja, dan di angguki kepala oleh Senja. Senja terlhat sangat gugup sekali, menarik nafasnya dalam dalam, lalu menghambuskannya perlahan. Senja terus melakukannya hingga perasaannya lebih tenang dan barulah wanita itu mengetuk pintu  ruangan sang atasan, hingga terdengar bunyi dari dalam untuk menyuruhnya masuk barulah Senja mendorong pintu kayu di depannya. Betapa trekejutnya Senja kala melihat di dalam ternyata ada Humaira, yang sedang terduduk di atas sofa bersama dengan Arga. “Sayang, maaf ya Mami ganggu jam makan siang kamu” sesal Humaira kala melihat Senja sudah berada di ruangan putranya ini. Senja tersenyum canggung kala melihat sosok Humaira di dalam ruangan Arga, seharusnya Senja tidka merasa gugup atau canggung kembali karena tadi Siska sudah memberitahukan kepada dirinya bahwa ada Humaira di ruangan Arga. Dan ini menjadi pertemuan ke empatnya dengan Humaira, seharusnya Senja menjadi lebih terbiasa. “Ti-tidak ganggu ko, Mi!” Jawab gugup Senja. Namun detik selanjutnya Senja menghampiri Humaira yang tengah terduduk di atas sofa dengan wajah yang sudah dia netralkan kembali. “Mami sudah lama sampai di kantor?” Tanya Senja seraya menyalimi punggung tangan Humaira. Humaira tersenyum kala Senja mencium tangannya, “tidak ko sayang, baru saja Mami sampai. Tadinya Mami mau ketemu kamu langsung, tapi Mami lupa ruangan divisi marketing dimana. Jadi Mami langsung ke ruangan Arga saja” sesal Humaira. Senja hanya tersenyum mendengar ucapan Humaira. Lalu menatap Argadengan tatapan yang sedikit gugup, karena Senja mengingat kemarin dia sudah berani mengomeli CEOnya itu. “Oh ya, sini duduk dong!” Kata Humaira mempersilahkan Senja untuk duduk di sampingnya. Senja mendudukan dirinya disamping Hmaira seperti apa yang Humaira katakan. “Kita makan siang bersama ya sayang, kamu tidak keberatan kan?” Tanya Humaira terlebih dahulu kepada Senja. “Ma-makan siang, Mi?” Tanya bingung Huamira lalu menatap Arga yang hanya terdia sedari tadi. “Ya!” Jawab Humaira lalu menatap Arga. “Mami mau makan siang bersama dengan putra dan calon menantu Mami ini” lanjutnya dengan sneyuman menawannya. Arga terlihat menganggukan kepalanya kepada Senja. “Bagimana sayang?’ Tanya Humaira kembali menunggu jawaban Senja. Senja pun menganggukkan kepalanya seraya mengalihkan tatapannya dari Arga dan menatap Humaira dengan senyum manisnya. Humaira nampak tersenyum senang dengan jawaban Senja, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan elegan itu pun bangkit dari duduknya dengan senyuman menawannya. “Ya sudah, Mami tunggu di restoran ya kalau begitu” kata Humaira seraya beranjak dari duduknya dan meraih tas miliknya di atas meja. Senja memperhatikan pergerakan Humaira dengan raut wajah bingungnya. “Bertemu di restoran, apa maksudnya gue berangkat bareng berdua dengan Pak Arga, di mobil Pak Arga?” Batin Senja. “Ayok, berangkat sekarang!” Ajak Humaira. Dan membuat Senja juga Arga menganggukan kepala mereka kompak dan itu semua membuat senyum bahagia di wajah Humaira. “Kompak sekali sih pasangan satu ini, gemas deh Mami jadinya!” Gemas Humaira melihat tingkah kedua anak muda ini. Senja dan Arga pun saling menatap satu sama lain kala mendengar apa yang Humaira katakan. Humaira semakin tersenyum bahagia kala melihat Arga dan Senja slaing menatap satu sama lain. “Ehem!” Dehem Humaira membuat Arga dan Senja mengalihkan pandangan mereka dan menatap Humaira. “Apa Mami boleh agnggu acara tatap tatapan kalian lebih dahulu, karena Mami sudah lapar sekali, ingin segera memebri makan cacing cacing di perut Mami!” Goda Huamira membuat Arga dan Senja tersenyum canggung. Mereka berdua pun berdiri lalu berjalan menuju basement dimana mobil sedan mewah Arga terparkir. Humaira memasuki mobil vellfire putih miliknya dan berjalan lebih dahulu, lalu diikuti oleh mobil sedan hitam miliki Arga dari belakang. “Sampai kapan kita harus membohongi kedua orang tua Pak Arga?” Tanya Senja tiba tiba seraya menatap Arag yang tengah mengendarai mobilnya memebelah jalanan Ibu Kota yang sedikit padat merayap ini. Arga terdiam, pria itu belum memberikan jawaban atas pertanyaan Senja. “Kita tidka bisa terus menerus memberikan harapan palsu kepada Pak Malik, juga Ibu Humaira. Saya takut jika  mereka akan terluka cukup dalam nanatinya, jika mengetahui kalau kita sudah membohongi mereka” sambung Senja. “Tidak usah berpikir terlalu jauh, biarkan saya yang memikirkan itu semua!” Sahut Arga membuat Senja refleks mengkerutkan keningnya. “Ma-maksud Bapak?” Tanya bingung Senja. Arga terlihat menarik nafasnya dalam dalam lalu menghembuskannya. “Sudah saya katakan, jangan kamu pikirkan biarkan saya yang menyelesaikan semuanya!” Tegas Arga dengan ekspresi wajah dingin dan datarnya, sukses membuat Senja terdiam karena merasa takut dnegan atasannya ini jika sudah memasang wajah dinginnya. Maka itu semua menandakan jika Arga sudah serius. Tidak ada obrolan apa pun lagi dalam mobil yang di tumpangi oleh Arga dan Senja ini, mereka terdiam hingga keduanya tiba di restoran yang sudah Humaira reservasi untuk makan siang mereka bertiga. Arga dan Senja berjalan masuk ke dalam restoran mencari meja yang sudah Humaira reservasi. Salah satu waiters yang mengenakan celana hitam, kemeja coklat, menunjukkan ruangan VVIP yang sudah di reservasi atas nama Humaira. Humaira tersenyum manis kala melihat Senja dan Arga masuk bersamaan ke dalam ruangan ini. “Terimakasih” ucap Senja ramah kepada waiters yang kebetulan pria itu. Keduanya pun kembali melanjutkan lengkah mereka masuk ke dalam dan terduudk dengan saling bersampingan. “Mami senang sekali bisa makan siang seperti ini. Ini yang selalu Mami inginka, dan nanti nantikan!” Tutur Humaira dengan begitu antusias. Senja tersenyum canggung. “Sebenarnya apa yang sedang Mami rencanakan dengan mengadakan acara makan siang ini?’ Tanya Arga yang sudah paham sekali dengan apa yang akan Maminya lakukan ini. Humaira tersenyum mendengar apa yang putranya tanyakan tadi. “Kita makan siang dulu!” Elak Humaira dengan senyum menawannya. Senja yang tidak paham dengan arah pembicaraan Arga dan Humaira pun hanya bisa terdiam dan memperhatikan interaksi Ibu dan anak ini dengan kening yang berkerut. Makanan pun tiba dan disajikan oleh para wiater, menatanya di atas meja dengan rapih. “Selamat menikmati!” Ucap salah satu waiters, mereka pun kembali keluar dari ruangan ini. “Ayok di makan sayang!” Ucap Humaira kepada Senja. Senja tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mereka pun mulai menyantap makan siang hari ini. Humaira merasakan kebahagiaan kala melihat Senja dan Arga yang saling memberikan makanan ke atas piring mereka, tentu saja itu semua hanya smeua aktig semata dimata Humaira, dan itu semua Arga juga yang memulainya. Kini mereka sudah selesai dengan menu utama dan kini ketiganya tengha menyantap menu dessert yang sudah restoran ini siapkan. “Enak bukan makanan disini, apa kamu menyukainya sayang?” Tanya Humaira kepada Senja. Senja pun menganggukkan kepalanya dengan tersenyum canggung. “Enak Mi, aku suka!” Jawab Senja. Humaira pun tersenyum mendnegar jawaban dari Senja. “Senang sekali Mami, selera kamu dan Mami sam akalu begitu” ujar Humaira. Namun bagi Senja dia menyukainnya karena ini makanan enak dan mahal, akna sayang sekali jika harus di sia siakan begitu saja, jika dia tidak sedang bersama dengan Humaira, maka Senja akan memotretnya dan mengirmkannya kepada Hawa, dia akan pamer kepada sahabatnya itu, jika dirinya sednag makan di restoran mahal dan mewah ini. “Jadi sebenarnya, Mami ingin kalian berdua bertunangan” ujar Humaira secara tiba tiba, sontak saja itu semua membuat baik Arga apa lagi Senja terkejut mednengarnya. Mereka berdua membulatkan kedua matanya shock dengan apa yang Humaira katakan ini. “Ma-maksud Mami?” Tanya Arga dan Senja bersamaan. Humaira tersenyum manis melihat mereka berdua yang begitu manis mengatakan hal yang sama secara bersamaan. “Mami dan Papi sudha menyiapkan semuanya, kalian hanya perlu tinggal fitting baju saja, dan acara semuanya akan Mami dan Papi atur” ucap Humaira penuh dengan antusias. “Mi, kenapa Mami tidak membicarakan hal ini kepada kita terlebih dahulu?” Panik Arga. Humaira mengkerutkan keningnya. “Loh kenapa memangnya, bukannya baik sekarang atau pun nanti sama saja kan. Mami hanya meminta kalian bertunangan saja, Mami hanya tidka mau jika Senja akan menjadi menantu orang lain nantinya” ujar Humaira. Sontak apa yang Humaira katakan membuat Senja merasa semakin tidak enak hati, dan dia merasa begitu sangat bersalah karena sudah membuat Humaira dan Malik menyukainya hingga kedua orang tua itu berharap lebih atas hubungan palsu dia dan juga Arga. Semua ini salah Arga, karena pria itu tidak mendengarkan ucapannya, jika saja Arga mendengarkannya dan segera mengatakan semuanya kepada Humaira dan Malik, maka ini semua tidka akan terjadi. Kini Senja hanya bisa terdiam seraya memandangi Humaira dengan perasaan bersalahnya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD