WA 7 -- Harapan Seorang Ibu

2033 Words
Hari ini Senja harus kembali mengantarkan sang Bunda ke Rumah Sakit untuk melakukan pencucian darah, karena sakit yang tengah Amirah alami. Senja akan selalu setia mendapingi sang Bunda untuk melakukan pengobatannya, dia hanya ingin sang Bunda agar bisa sembuh kembali, meskipun memang peluangnya hanya beberapa persen saja. Tetapi Senja tidak pernah putus asa dan selalu semangat demi kesembuhan sang Ibunda. Seperti biasa Amirah akan di periksa oleh Dokter Devan, Dokter muda yang sudah sangat di akui kinerja kerjanya. Amirah melakukan serangkai prosedur agar sebelum wanita paruh baya itu memulai pengobatannya. Setelah semua selesai barulah Mairah mulai dilakukan pencucian darah oleh Dokter Devan, dengan setia Senja selalu berada di samping snag Bunda memberikan kekuatan juga semangat untuk sang Ibunda. Menggenggam jemari sang Bunda dengan penuh kasih sayang, menyalurkan semangat kepad beliau, senyum manis terus terukir di wajah Senja untuk membuat sang Ibunda kuat. Karena Senja tahu pengobatan yang sedang Bundanya lakukan saat ini begitu menyakitkan. Amirah sudah selesai melakukan pencucian darahnya, kini Senja membantu sang Ibunda untuk merapihkan pakaiannya juga membantu sang Ibunda untuk berjalan karena setelah pengobatan yang memakan waktu beberapa jam itu menguras tenaga sang Ibunda pastinya. Mereka akan perbincang terlebih dahulu dnegan Dokter Devan bagaimana perekembangan kepada Amirah ketika sudah melewati beberapa kali pencucian darah. Setelah selesai dengan penjelasan yang Dokter berikan, Senja pun berpamitan untuk pulang, karena dia harus mengantarkan sang Bunda pulang terlebih dahulu, dan setelahnya Senja akan kembali ke kantor. Karena memang dia hanya izin setengah hari. “Terimakasih banyak Dokter, kalau begitu saya dan Bunda pamit!” Pamit Senja ramah. “Em, kalau tidak keberatan, saya akan mengantarkan kalian. Kebetulan ini jam istirahat saya” kata Devan. Devan sudah menyimpan rasa suka terhadap Senja, sedari dia melihat Senja untuk pertama kalinya. Dan hingga kini Devan masih tetap menyimpan rasa itu seorang diri, dia tidak pernah menceritakan itu kepada siapa pun, dan dia belum berani untuk mengungkapkannya kepada Senja. Senja menatap sang Bunda, lalu wanita manis itu pun menjawabnya dengan anggukan kepala. Senyum manis pun terbit di wajah tampan Devan. “Kalau begitu, mari!” Ajak Devan. Senja meggandeng lengan sang Bunda, mereka berjalan menuju parkiran mobil Rumah Sakit ini, Devan membantu membukakan pintu untuk Amirah, dan Senja yang membantu sang Bunda untuk masuk dan terduduk di dalam mobil dengan nyaman. Setelahnya barulah Devan dan Senja yang masuk dan terduduk di dalam mobil dengan Devan yang berada di kursi pengemudi dan Senja disamping Devan dikursi penumpang. Devan melajukan mobilnya menuju kontrakan Senja terlebih dahulu, mereka akan mengantarkan Amirah menuju kontrakan, setelahnya barulah Devan akan mengantarkan Senja menuju kantornya. “Bunda jangan lupa makan siang, habis itu istirahat ya. Jangan kerjain apa pun, biar nanti Senja saja yang melakukan pekerjaan rumah” pesan Senja kepada sang Ibunda. Devan merasa akan sangat beruntung jika Senja menjadi istrinya kelak. Semoga saja mereka berjodoh. “Iya. Kamu hati hati, Nak!” Ucap lemas Amirah kepada Senja. “Dokter Devan terimakasih, maaf sudah merepotkan” kata Mirah kepada Devan. “Sama sama Ibu, dan ini tidak merepotkan sama sekali” jawab Devan dengan senyuman ramahnya. “Kalau begitu Senja dan Dokter Devan pamit ya, Bun. Assalamualaikum!” Pamit Senja kepada sang Ibunda, “Waalaikumsalam, hati hati kalian” pesan Amirah kembali. Hembusan nafas lega pun Amirah keluarkan kala melihat Senja berjalan bedampingan dengan Devan, Dokter baik, muda, tampan, dan cerda. Semoga saja mereka bisa berjodo kelak. Harap Amirah kala melihat putrinya semakin dekat dengan Devan. Mobil Devan kembali melaju membelah jalanan Ibu Kota di siang hari ini, Devan melajukan mobil sedan hitamnya menuju kantor Senja. Tidak membutuhkan wkatu yang lama, kini monil Devan sudah berada di depan loby gedung kantor Senja. Senja melepaskan sabuk pengamannya lebih dhaulu sebelum dia keluar dari mobil ini. “Terimakasih banyak, Dok. Maaf, kami selelu merepotkan” sesal Senja merasa tidak enak terhadapa Dokter Devan. Karena Devan sudah banyak sekali membantu dirinya dan juga sang Ibunda. “Dari tadi saya sudah mendapatkan ucapan terimakasih cukup banyak” canda Devan. Membuat Senja tersenyum begitu manis. “Karena hanya itu yang bisa saya dan Ibu katakan saat ini kepada Dokter Devan” ucap Senja kembali. “Saya akan membantu jika saya bisa membantu, jadi jangan pernah sungkan jika memang kamu dan Bu Mirah membutuhkan bantuan saya” tutur Devan. Baru saja Senja akan mengucapkan terimakasih kepada Devan, namun dengan cepat Devan memotongnya. “Eits, tidak usah mengucapkan terimakasih lagi” ucapnya dengan senyuman yang begitu membuat kadar ketampanan Devan semakin bertambah. Senja tersenyum dengan kepala yang dia tundukkan. “Oh ya, kalau tidak keberatan, apa boleh nanti saya jemput kamu kembali?” Tanya Devan meminta izin untuk menjemput Senja sore nanti selepas wanita itu pulang kantor. “Hari ini saya ada lembur, jadi mungkin akan pulang sedikit telat” “Sampai jam berapa?” “Mungkin sampai jam 19.00” jawab Senja. “Baiklah, saya akan jemput kamu jam 19.00, bagaimana, apa saya di izinkan untuk menjemput kamu?” Tanya Devan memastikan kembali. “Apa tidak akan merepotkan Dokter Devan?” Tanya Senja merasa tidak enak. “Karena saya menawarkan untuk menjemput kamu, maka itu tidka sama sekali merepotkan saya. Justru saya senang jika kamu menerima tawaran saya” Lagi lagi Senja tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya. Devan sangat senang sekali karena Senja mau di jemput olehnya nanti. “Kalau begitu saya turun, em Dokter Devan hati hati di jalan” pesan Senja malu malu. Senja pun keluar dari mobil Devan, sungguh tidak sehat bagi jantungnya jika berlama lama bersama Devan di dalam mobilnya. Tanpa keduanya sadari, sedari tadi ada dua pasang mata yang melihat mereka berdua, karena jendela kaca Devan yang sedikit terlihat dari luar jika terkena pantulan cahaya matahari. Senja berjalan menuju lift yang akan mengantarkannya menuju lantai dimana ruangannya berada. Dengan wajah yang berseri seri. Tidak seperti biasanya. “Selamat siang My Besti (The Best Sister)” Sapa Senja dengan wajah berserinya, membuat Hawa merinding begitu melihat sahabatnya yang berbeda dihari ini. “Kesambet setan Rumah Sakit lu!” Ejek Hawa. Kedua bola mata Senja pun membulat sempurna dengan memancarkan kebahagiaan di dalamnya. “Kok lo tau sih!” Seru Senja. Hawa mengkerutkan keningnya dengan mengangkat bibirnya heran, gelengan kepala pun Hawa tunjukan. “Asli, Ja. Gue takut lihat lo kaya gini!” Kata Hawa jujur, karena tidak biasanya Senja seperti itu. “Lo tahu, tadi gue di anterin Dokter Devan, dan yang paling parah dia mau jemput gue nanti!” Seru Senja kembali. “Dokter ganteng itu naterin lo, terus baliknya mau jemput lo lagi?” Cerca Hawa. “Iyes!” Sahut Senja. “Nebeng kali, Ja” pinta Hawa karena sahabat Senja ini menganggumi sosok Devan. “Dih, ogah. Nanti lo jadi obat nyamuk!” Ucap percaya diri Senja. “Dih, emang kalian sudah jadian?” “Secepatnya!” Sahut Senja. “Pelit lo!” Ejek Hawa. “Bodo, sudah balik kerja!” Titah Senja mengalhiri percakapan ini. Namun tiba tiba ada seorang OB yang memangiil Senja agar segera menuju ruangan CEO, karena Pak Arga memanggilnya. “Sue lo, di panggil Pak Arga!” Ledek Hawa. “Tumben banget, apa Pak Arga tahu gue selalu datang siang, Wa?” Tanya Senja panik. “Kayanya dia gak akan sampai sedetail itu teh buat perikasain karyawannya” sahut Hawa benar adanya. Senja pun segera beranjak dari kursinya dan berjalan menuju ruangang Arga. Dia tidak mau jika sampai CEOnya itu marah marah nanti. Senja mengetuk pintu kaca ruangan CEO, dan setelah ada sautan dari dalam, barulah Senja masuk ke dalam ruangan Arga. “Siang Pak, maaf apakah Bapak memanggil saya?” Tanya Senja. “Duduk di sofa!” Titah Arga ketus. Senja mengkerutkan kenignyanya. “Ada apa ya, Pak?” Arga masih fokus kepada pekerjaannya, pria itu tidak menghiraukan pertanyaan Senja, dan Senja pun masih berdiri di depan meja Devan. Senja sudah merasa dag dig dug saja di jantungnya, dia takut jika Pak Arga akan memcatnya karen telat dtaang ke kantor. Selesai dengan pekejaannya, barulah Arga menatap Senja. “Kamu ini sudah menjadi kekasih pura pura saya, maka tidak sebaiknya kamu berdekatan dengan pria lain” pesan Arga kepada Senja. “Hah!” Kaget Senja kala Arga memanggil dirinya hanya untuk menanyakan itu saja. “Jangan pernah mau di antar atau bahkan di jempu oleh pria lain, karena itu akan membuat kita sulit ke depannya!” Jelas Arga kembali. “Saya masih belum paham dengan apa yang Bapak bicarakan?” Tanya Senja yang memang tidka tahu bagaimana rasanya. Arga mendekati Senja, hingga wajah keduanya saling berhadapan. “Jangan pernah dekat dengan lelaki lain, karena orang diluar sana mengira kamu adalah kekasihku. Jadai jaga image kamu di depan halayak umum, dan jangan pernah bergandengan tangan dengan pria lain selain aku!” Ujar Arga. Senja hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Makannya akhiri smeuanya dan saya bisa bebas menentukan dan mencari calon suami!” Sindir Senja. “Tidak akan semudah itu. Pokoknya kamu harus mengikuti semua aturan yang saya buat!”  “Auran?” Beo Senja. Arga menganggukkan kepalanya. Sedangkan Senja hanya bisa menggelengkan kepalanya tidka percaya dengan apa yang Arga katakan tadi. “Kita hanya menjalin sebuah hubungan pura pura, alias semuanya dalah kebohong. Dan terlepas dari itu kita bukan siapa siapa hanya seorang atasan dan bawahan saja, jadi saya tidka mau mengikuti aturan yang Bapak buat, karena saya pun harus bisa mengejar cinta dan jodoh saya!” Ujar Senja, lalu Senja pun keluar dari ruangan Arga tanpa pamit terlebih dahulu karene dia sudah merasa geram dengan kelakuan bosnya ini. Arga pun menatap tidak percaya pada wanita itu, yang keluar begitu saja dari ruangannya dengan kepala yang dia geleng gelengkan. “Lagi, kenapa bisa bisanya gue ngelarang dia buat gak dekat sama pria lain, karena pemandangan tadi di loby bikin otak gue jadi konslet!” Gerutunya kala Senja sudah keluar dari ruangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 19.00, waktunya Senja untyk pulang karena dia hanya akan lembur sampai am 19.00 saja. Senja pun berjalan menuju loby dan betapa terkejutnya dia kala melihat sudah ada mobil Devan di depan sana, Senja tersenyum malu kala melihta Devan benar benar menjemput dirinya. Sungguh awalnya Senja hanya menganggap jika Devan hanya sednag basa basi saja, tetapi nampaknya Devan bukanlah tipe pria yang akan berbasa basi. Devan keluar dari mobil kala melihat Senja  berada di pintu masuk gedung Nirwana Grup ini, lalu melambaikan tangan sambil tersenyum manis pada Senja. Senja merasa senang kala melihat Devan, seketika capeknya sirna, hilang begitu saja. Senja pun berjalan menghampiri Devan, “maaf, sudah nunggu lama” sesal Senja. Devan tersenyum. “Nggak kok, saya baru saja sampai. Ayok, masuk, kita pulang” ujar Devan dan Senja pun masuk ke dalam mobil sesuai dengan intruksi Devan. Di dalam mobil yang berada di belakang mobil Devan terdapat sepasang mata yang terus melihat interaksi keduanya, seketika dia merasa geram karena apa yang dia katakan tadi siang tidaklah  wanita itu dengar, Senja malah menunjukkan raut wajah bahagianya ketika di jemput oleh pria itu. “Kenapa lagi sih sama gua!” Gerutu Arga. Mobil Devan sudah masuk di parkiran kontrakan Senja dan Amirah, pria itu pun ikut turun bersama Senja dengan plastik yang berada di tangannya. “Assalamualaikum!” Salam Senja dan Devan bersamaan. “Waalaikumsalam” jawab suara wanita paru baya di dalam sana. Senja masuk dan disusul oleh Devan dari belakang. “Eh, ada Dokter Devan” kata Amirah. “Malam, Bu Mirah” “Malam, Dok.” “Kita makan malam ya Bun, tadi Dokter Devan beliin makanan favorit Ibu loh, ayam bakar madu” seru Senja. Senja pun berjalan menuju dapur untuk mengambil nasi, juga piring dan air minum jug agelas. “Wah, jadi merepotkan Dokter Devan lagi” ucap Amirah tidak enak. “Nggak kok Bu, tadi sekalian lewat juga” jawab Devan sopan. “Ayok Bun, Dokter Devan, suda siap. Kita makam malam dulu” ajak Senja. Mereka menyantap hidangan makan malam, dengan menu ayam bakar madu yang menjadi favorit Amirah. Amirah merasa senang dengan makan malam kali ini, karena dia merasa ini semua lengkap saja, namun tetap, Amirah tidka bisa memaksakan Senja jika memang dia tidak menyukai Devan makan Amirah tidak bisa memaksakan untuk Senja menerima Devan. Biarkan semuanya berjalan sebagai mana mestinya saja. Hanya saja mungkin Amirah akan selalu berharap dan berdoa agar putrinya bisa mendapatkan pria yang baik dan bertanggung jawab juga penyanyang seperti Dokter Devan ini.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD