WA 6 -- Emosi

1771 Words
“Selamat pagi bestie!” Sapa Hawa yang baru saja tiba di ruangan, dan melihat Senja yang sudah berada di mejanya tengah menyimpan tas dan akan segera menyalakan layar komputer di depannya. “Pagi. Tumben sekali Ibu Hawa seceria ini di hari Senin, ada apakah gerangan?” Ledek Senja karen biasanya Hawa, sahabat terdekat Senja akan selalu mengeluh di hari Senin ini. Setelah melewati weekends yang akan wanita itu gunakan dengan bermalas malasan di kosannya, dan dia harus menghadapai kembali kenyataan di hari Senin, bahwa hidup itu butuh perjuangan dan kerja keras. “Ya elah, lo mah serba salah banget. Gue bad mood salah, gue bahagia dan seceria hari ini pun masih saja di tanyain, heran!” Kesalnya dengan wajah yang memberengut lalu mendudukan dirinya di atas kursi di samping meja Senja. “Idih, pagi pagi sudah baperan!” Ejek Senja. “Lo tahu gak sih?” Kata Hawa dengan penuh antusias. Dan dengan polosnya Senja menggelengkan kepala sembari menatap Hawa. “Nggak tahu gue!” “Ish, si Senja mah! Tapi emang iya sih, gue kan belum cerita!” Imbuh Hawa. Senja menggerlingkan matanya mendengar dan melihta tingkah laku sahabatnya ini. “Bodo amat ya, Wa!” Ketus Senja. “Masa ya, gue punya tetangga baru dan lo tahu, tetangga gue itu pria tampan, ah pokoknya bikin hati gue jadi meyeyeh (meleleh)” seru Hawa. “Percuma kalau tampan, kalau gak bisa lo gebet mah. Tetap saja jodo orang!” Ejek Senja. “Meremehkan gue lo mah, lihat saja. Nanti gue ajak dia buat nge-date, dan gue pastikan dia akan menjadi jodoh gue!” “Percaya diri sekali ya, Ibu ini!” Cetus Senja. “Ih, anak Ayah mah harus P.D!” Sahut Hawa. Mereka pun mulai fokus kepada pekerjaan masing-masing, Senja yang sudah mulai membuka file file dalam komputernya, dan Hawa yang baru saja menyalakan layar komputer. Para karyawan lain pun sudah mulai berdatangan ke kantor dan memasuki ruangan mereka masing masing, dan mulai fokus pada pekerjaan mereka. Tidak terasa waktu bergulir, dan kini sudah waktunya untuk makan siang. Seperti biasa Hawa akan mengajak Senja untuk menuju kantin kantor untuk mengisi amunisi pada perut, karena mereka masing harus berjuang hingga pukul 17.00. “Ayok, kantin!” Ajak Hawa. Senja menganggukkan kepalanya dan berjalan dengan saling beriringan menuju kantin kantor ini. “Hari ini karena gue lagi senang, jadi gue mau traktir lo makan!” Ucap Hawa. “Dan, lo bebas mau makan apa saja di kantin, suka suka lo!” Lanjut Hawa. “Serius nih?” Tanya Senja untuk meyakinkan jika Hawa ini tidak sedang bercanda. “Serius dong! Masa gue becanda” sahut Hawa, lalu menarik lengan Senja untuk segera berjalan mencari menu makanan yang akan mereka nikmati siang ini. Setelah memesan makanan yang ingin mereka santap siang ini, kedua sahabat ini pun berjalan menuju meja kosong yang terdapat di pojok dekat dengan wastafel. Namun disaat keduanya tengah menikmati makan siang mereka, tiba tiba saja rungu Senja mendengar sebuah bisikan dari meja sebelahnya, nampaknya ketiga wanita itu sedang membicarakan dirinya. Senja melihat pada ketiga wnaita di sampingnya, baru saja menikmati makan siang, rungunya sudah harus mendengarkan bisikan bisikan karyawan lain. Hawa yang merasa sudah terganggu pun membalikkan badannya menghadap ketiga wanita itu, lalu memasang wajah judesnya. “Mulut itu dipake untuk makan, bukan untuk bergibah!” Sinis Hawa kepada ketiga wanita yang Hawa tahu jika mereka itu berbeda divisi dengan dirinya dan juga Senja. “Ribet banget si mbanya!” Sinis salah satu dari ketiga wanita itu kepada Hawa. Hawa masih memasang wajah judesnya dengan satu alis yang dia angkat ke atas. “Yang ribet itu situ, ngapain ngurusin hidup orang, urusin saja dulu hidup diri sendiri, yang kayanya sih ya belum benar tuh!” Ejek Hawa dengan nada tengilnya. “Wa, sudah. Biarkan saja!” Tegur Senja, karena dia tidak mau sahabatnya ini memilki musuh dan harus menjadi bahan tontonan karyawan lain pula. Salah satu dari ketiga wanita itu tersenyum sinis kala mendengar Senja melerai berdebatan ini. “Wah, jadi ini yang katanya, sedang dekat dengan bos kita” ejeknya seraya menatap Senja dengan tatapan tidak sukanya. “Masih juga cantikan gue kemana mana, bagaimana bisa Pak Arga jatuh cinta sama wanita yang beda banget kelasnya sama dia, iyuh banget!” Cibirnya. “Ah, atau mungkin dia pakai ilmu pelet buat dapetin cintanya Pak Arga, biar cewek ini bisa naik kelasnya!” Sambung salah satu temannya. “Bukan pelet deh, kayanya dia sudah nyerahin tubuhnya ke Pak Arga, makannya Pak Arga mau deh sama dia, jadi Pak Arga jatuh cinta tuh sama dia!” Celanya. Hawa sudah akan maju untuk menjambak rambut si wanita yang sudah berani mengejek sahabatnya, namun belum sampai Hawa tiba di depan wanita itu, Senja sudah melewatinya lebih dahulu dan. Plak.. Satu tamparan berhasil mendarat di pipi mulus wanita yang sudah berani mengatakan yang tidak tidak tentang dirinya, padahal Senja selalu menjaga kehormatannya, Senja bukanlah tipe w**************n yang akan menyerahkan tubuhnya begitu saja demi uang. “Jaga mulut lo ya!” Sungut Senja seraya menatap wanita itu dengan tajam dan menunjuk wajahnya dengan jari telunjuknya. Senja pun membalikkan badannya dan akan kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan, nafsu makannya sudha menghilang sedari tadi. Namun baru satu langkah kakinya rambut panjang Senja sudah ditarik lebih dahulu oleh wanita yang sudah Senja tampar pipinya, membuat kepala Senja mendongak karena tarikan yang begitu kencang. “Aws!” Ringis Senja yang merasa kesakitan. Senja tidak tinggal diam, dia pun dengan refleks membalikkan badannya dan menjambak balik rambut wanita yang menjambak rambutnya. Hawa dan kedua teman wanita itu tidak tinggal diam, mereka mencoba untuk melerai perkelahian saling menjambak rambut lawan. Namun Hawa tidka hanya sekedar melerai dia pun membantu Senja menjambak rambut lawannya, dan tetap memisahkan keduanya. Hingga perkelahian mereka membuat perkumpulan karyawan yang tengah makan siang pun mengalihkan perhatian mereka kepada Senja dan wanita yang sudah berani menjambaknya itu. “Ja, tarik yang kecang!” Seru Hawa memberi semangat seraya mencoba memisahkan keduanya. “Gila lo ya, bukannya misahin!” Protes salah satu wanita yang mencoba melerai mereka. Hingga akhirnya mereka bisa di lerai, dan saling menjauhkan keduanya. Hawa mencoba terus menarik Senja agar menjauh dari wanita itu. Begitu pun dengan wanita itu yang ditarik oleh kedua temannya. Hawa tersenyum canggung kepada para karyawan, denga kepala yang dia anggukkan. “Maaf semuanya!” Ucap Hawa atas ketidak nyamanan ini. Senja menghentakkan tangannya, dengan nafas yang masing tersenggal akibat pergulatannya tadi, Senja menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya perlahan, untuk menetralkan kembali perasaannya. “Lo duluan saja Wa, gue mau ke toilet dulu!” Ujar Senja. “Gue temenin, nanti lo ketemu sama cewek itu lagi, ribut lagi kalian!” Kata Hawa merasa khawatir dengan sahabatnya ini. Senja membuang nafasnya kasar. “Nggak akan! Sudah, lo duluan ke ruangan saja sana!” Ujar Senja dan dia pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan Hawa menuju toilet. Hawa hanya bisa menatap punggung Senja yang menghilang ketika berbelok menuju lorong ke arah toilet. Di dalam biliki toilet, Senja terduduk di atas kloset duduk yang tertutup. Menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang menjadi tumpuan pada  keningnya. Satu tetes air mata jatuh begitu saja membasahi rok span yang dia kenakan. Ntah mengapa perasaan sakit kala mengingat perkataan wanita tadi yang mengatakan hal negatif tentang dirinya. Padahal Senja sendiri tidak pernah bermimpi untuk bisa bersanding dengan Arga seorang CEO muda dan tampan, pewaris utama Nirwana Grup. Tidka ada sama sekali terlintas dalam benaknya untuk bisa menjadi pendamping pria itu. Yang ada pun dia ingin segera mengakhiri semua apa yang sedang mereka jalani ini. Hingga perasaannya sedikit lebih tenang, barulah Senja keluar dari toilet, sebelumnya Senja mencuci mukanya terlebih dahul karena setelah menangis tadi wajahnya memerah dan matanya sedikit membengkak karen sehabis menangis. Senja pun kembali berjalan menuju ruangannya, namun saat dia melintasi lift ternyata disana Arga baru saja keluar bersama dengan David, Manager di kantor ini dan sekaligus sahabat dari Arga. Senja yang melihat Arga pun merasa sedikit emosi, dan ingin segera mengakhiri semuanya sekarang juga, namun apalah daya karena Senja hanyalah seorang karyawan biasa yang tidak bisa melakukan sesutau dengan semaunya, dia tidak mau jika harus sampai kehilangan pekerjaannya ini. Senja menundukan kepalany sebagai tanda hormat kepada Arga, yang menjadi atasannya di kantor. Arga pun berlalu begitu saja tanpa melihat ke arah Senja, tanpa ingin tahu kenapa, dan ada apa dengan Senja. Padahal saat pintu lift terbuka dia sempat melihat wajah Senja yang sudah memerah. Senja tidak peduli Arga akan bertanya atau tidak kepadanya, lagian siapa dia sampai ingin di tanya oleh Arga. Ingat! Jika keduanya hanya memiliki hubungan palsu. Senja kembali ke ruangannya dan mulai fokus kepada layar komputernya, kembali bekerja, dan melupakan semuanya. ** Arga baru saja memasuki ruangannya bersama dengan David, pria itu langsung mendudukan dirinya di atas kursi kebesarannya. Dan membuka beberapa map yang berada di atas mejanya. David mengkerutkan keningny kala melihat sahabatnya ynag terlihat cuek dan bodo amat terhadapa Senja. Wanita yang menjadi kekasih pura pura dari sahabatnya itu. David menggelengkan kepalanya seraya melangkahkan kaki mendekati meja Arga lalu mendudukan tubuhny adi atas kursi yang saling berhadapan dengan kursi Arga. “Lo, nggak nanya Senja kenapa?”Heran David. “Kenapa dia? Memang apa urusannya sama gue?” Ketus Arga. “Gila lo ya!” Timpal David. “Setidaknya, lo tanyain kenapa sampai dia nangis, apa yang sudah buat dia menangis seperti itu!” Tutur David. “Ya, apa hubungannya sama gue, dia ya dai, gue ya gue. Kita hanya sebatas kekasih pura pura saja, jadi jika di luar itu kita adalah atasan dan bawahan” Cetus Arga. “Benar benar nggak punya otak, dan hati!” Ketus David karena merasa gemas dengan sahabatnya ini. Arga menghentikan pekerjaannya lalu menatap wajah sahabatnya itu. “Lo kenapa jadi khawatir banget sama Senja. Jangan bilang lo suka sama Senja!” Ujar Arga. “Kalau lo gak ada nat buat pacarain Senja secara resmi, maka, ya, gue akan jadikan Senja sebagai calon istri gue!” Celetuk David. Arga tersenyum sinis. “Senja itu bukan tipe gue, kalau lo suka silahkan saja jadikan dia kekasih lo!” Imbuh Arga. “Jangan nyesel saja nanti!” Peringat David. Arga pun menanggapinnya dengan tersenyum sinis, satu alis yang terangkat. Dan dia pun kembali fokus pada pekerjaannya yang sudah menumpuk. Sedangkan David, pria itu keluar dari ruangan Arga dan melangkahkan kakinya menuju ruangan dirinya di samping ruangan Arga. David hanya tidak tega melihat Senja bukan hanya Senja saja, tetapi jika melihat seorang wanita nampak seperti sudah menangis, maka David akan merasakan iba di hatinya. Dengan wajah yang memerah dan juga mata yang sedikit sembab, maka dari itu David sedikit tersulut emosi dengan jawaban yang Arga berikan tadi, bagaimana bisa sahabatnya ini setega itu kepada karyawannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD