Bab 9

2029 Words
“Zaki ... Zaki tunggu aku,” teriak Naya karena hampir saja dia benar-benar kehilangan kesempatan emas itu. Zaki yang baru saja akan masuk ke dalam mobil, kembali menghampiri Naya yang saat ini tengah berlari menuju ke padanya. Pantang untuk Zaki dikejar oleh wanita, sudah seharusnya dia menghampiri terlebih dahulu. Napas Naya terengah-engah merasakan detak jantungnya sendiri berdetak kencang karena sudah berlarian tadi, Zaki tentu merasa heran apa sebenarnya yang tengah Naya lakukan. “Ada apa? Kenapa kamu sampai lari-lari seperti itu?” tanya Zaki. “Pokoknya panjang kalau harus dijelaskan uhh capek banget, boleh aku masuk dulu ke dalam mobil? Ayo, aku akan ajak kamu ke suatu tempat, nanti kita bicarakan di sana.” “Tapi saya ....” “Ah, ayo, lama banget,” cicit Naya yang kini sudah masuk ke dalam mobil dengan napasnya memburu entah kenapa rasanya begitu lelah, padahal selama ini sudah terbiasa joging pagi lebih dari itu. Di perjalanan, Zaki masih diam sebelum Naya menjelaskan apa maksud dari semuanya, jangankan untuk berani bertanya lebih dulu, untuk sekadar menoleh pun Zaki mendadak tak mampu. “Zak, kamu mau, kan? Bantu orang yang hidupnya akan dipertaruhkan?” “Ini urgent banget, kalau kamu menolak, itu sama aja nggak punya rasa kemanusiaan.” “Mau kamu apa? Saya harus bantu apa? Jika itu berarti untuk kamu, katakan ... setengah jam waktu bicara, jangan membuat waktu saya terbuang begitu saja.” “Apaan, sih, kayak mau bicara sama orang penting aja, nggak harus selama itu waktunya, kamu harus nikahin aku, Zak!” “Wah, tidak beres kamu. Lagi latihan drama, ya? Atau cuma prank untuk konten?” tanya Zaki ngasal. “Aku serius, umiku mau kita menikah, waktunya sampai besok sore! Nggak ada kata tapi ataupun alasan lainnya, aku hanya butuh jawaban IYA.” Zaki dengan santai memberhentikan mobilnya di pinggir jalan raya terlebih dahulu, lalu dia menatap wanita itu dengan seksama, apa yang sudah Naya ucapkan tak seharusnya terucap, walaupun memang itu terdengar sangat lucu, tetapi Zaki sebagai seorang laki-laki sejati harus segera menyelesaikannya. “Tidak mau, bagaimanapun kamu membujuk saya, jawabannya tetap TIDAK.” “Kenapa? Kenapa kamu nggak mau? Oke, kita baru aja kenal, berawal dari aku yang kembalikan barang kamu di masjid biru, kemudian bertemu di rumah sakit saat kamu sakit waktu itu, dan yang terakhir nggak sengaja kita adalah pasangan kencan buta, apa semua itu belum cukup untuk kita menikah?” “Saya tanya sama kamu, apa, sih, arti pernikahan bagi kamu, Nay?” “Yang penting aku nggak dijodohkan sama laki-laki asing yang nggak sama sekali dikenali sama aku, ih terlebih lagi pasti lebih tua dari aku, om-om gitu nggak mau. Supaya aku ....” “Itulah alasan kenapa saya menolak, niat kamu menikah bukan karena ibadah, bahkan alasan ibadah saja belum cukup untuk menikah, harus saling mencintai satu sama lain, bukan seperti kamu alasannya yang sangat luar biasa lucu.” “Kok lucu? Aku nggak becanda, menikah yuk? Yuk?” “Saya tidak bisa, Nay.” “Gitu, sih, kamu! Aku pikir kamu itu laki-laki baik loh, dari cara kamu memperlakukan aku di rumah sakit, dari kamu ....” Zaki mencoba untuk bersabar lebih dulu sebelum Naya terus-menerus berargumen sesuka hatinya, apalagi sampai mengatakan Zaki jahat dan sebagainya. “Aku nggak cantik? Nggak pintar? Oke aku ngaku deh sama kamu, kalau sebenarnya aku ini anak kolongmerat, anak orang kaya! Ayolah, menikah ya.” “Kamu cantik kok, tapi sayang akhlak kamu tidak, Nay.” “Kenapa gitu? Apa yang salah sama diri aku, Zak?” “Oke, saya mengerti akan arti emansipasi wanita, mengajak nikah duluan, tapi bukan seperti kamu alasan dan tujuannya. Beda, dan saya tidak bisa.” “Saya juga baru dengar bahkan langsung mengalami secara nyata, ada seorang wanita kaya raya seakan-akan mau membeli harga diri saya, dibeli pun saya tidak mau, apalagi gratisan.” “Biasanya juga kebalikannya, kan? Tapi, kamu dengan berani melakukannya sebagai seorang wanita, Nay. Saya minta maaf untuk itu, carilah atau tunggulah laki-laki yang tepat, dan silakan kalian menikah dengan niat yang lebih baik.” Naya mematung mendengarkan apa yang sudah Zaki katakan padanya, untuk pertama kalinya ada orang yang peduli padanya, bahkan untuk pertama kalinya ada laki-laki yang benar-benar memperlakukan dirinya dengan sangat baik, dan bahkan menghormati dirinya sebagai seorang wanita. “Sekali lagi maaf, saya tidak bisa membantu kamu. Jangan mempermainkan pernikahan, jangan paksa saya lagi.” “Zak, kalau emang nggak mau nikah, gimana pura-pura pacaran doang? Maksudnya bukan berbohong, cuma gimana, ya, jelasinnya. Duh, intinya kamu datang ke rumah aku dulu, gapapa nggak nikah juga.” “Apa bedanya? Kalau saya datang, ujung-ujungnya pasti merembet ke pernikahan palsu yang kamu mau, Nay.” “Palsu? Aku nggak ngajak palsu kok, dari tadi aku ngajak nikah sungguhan, bukan kontrak, bukan siri, apalagi palsu. Aku maunya serius, asalkan sama kamu.” “Ha ha, kamu ini ada-ada saja.” “Ketawa aja terus, ini untuk pertama kalinya aku ngajak nikah duluan pada laki-laki, gengsi dan ego udah aku lupakan, ayolah ... mau, ya? Nikah beneran kok, kalau belum cinta pun, kan, bisa ....” Zaki mendekat, sampai wajah keduanya hanya berjarak hitungan jengkal saja, Zaki menatap Naya dengan intens, yang ditatap hanya bisa merapal doa yasin, dia takut Zaki akan khilaf padanya. “Maaf, saya tetap tidak bisa, masih ada seseorang yang masih sangat saya cintai, Nay, maafkan, ya? Saya antar kamu pulang.” Di saat Zaki sudah menjauh, bukannya bahagia karena tidak melakukan apapun, tetapi Naya justru sangat kecewa. Hatinya sakit ditolak dengan alasan seperti tadi, jika ditolak dengan alasan agama masih bisa maklum, tetapi jika urusan hati? Naya rapuh. “Katakan, rumah kamu di mana dan jangan berbelit-belit lagi, tolong.” Naya hanya menurut, andai saja dia sudah tahu dari awal bahwa Zaki sudah memiliki seorang kekasih, tidak mungkin Naya akan senekat tadi, mengajaknya menikah, lalu memaksa pula, benar-benar hancur dan sangatlah malu. Sudah ada di depan mata, kenapa saya bodoh sekali menolaknya? Ah, tidak! Ini keputusan yang benar kok, kita tidak saling mencintai, jika dipaksakan menikah, hanya akan saling menyakiti nantinya. *** “Makasih udah diantar pulang sampai gerbang rumah pula, semoga ....” Tiba-tiba yang membuka gerbang rumah adalah uminya Naya, betapa terkejutnya Zaki saat ini, bagaimana jika nanti menjadi salah paham? Tetapi, jika dia tidak turun dan menyapanya, hancur sudah rasa kesopanannya sebagai laki-laki sejati. “Eh ... eh, anak Umi udah pulang, ayo, turun lah masa kalian di mobil terus.” “Zak, aku mohon ... aku akan balas kebaikan kamu suatu hari nanti,” bisik Naya. Zaki tanpa menjawab pun langsung turun begitupun dengan Naya, keduanya saling menyapa uminya Naya yang saat ini tengah antusias menyambut kedatangan Zaki, melihat mobil mewahnya saja sudah klepek-klepek, apalagi dengan ketampanan Zaki. “Ayo, aduh tampan sekali kamu, ayo, masuk ke dalam saja.” “Permisi, assalamualaikum, Tante, saya harus ....” Zaki percuma saja basa-basi untuk pulang, bahkan saat ini tangannya sudah ditarik uminya Naya, dan akhirnya terpaksa duduk di ruang tamu rumah mewah itu. Untung saja abinya Naya tidak ada di rumah, jadi rintangannya hanya uminya saja. “Kalian udah berapa lama pacaran? Udah sampai ke tahap apa nih? Duh, maaf banget Umi antusias.” “Saya sebenarnya ....” “Kita udah sampai tahap saling pelukan Umi, he he, iya, kan, Sayang?” Naya mengedipkan matanya. “Aihhh, hanya pelukan, kan? Nggak sampai yang lebih duh maafkan Naya kalau dia sedikit bar-bar anaknya, Nak, nama kamu siapa, ya? Jangan panggil Tante, panggil Umi aja oke.” Boro-boro yang lebih, ah bagaimana ini ya Allah, tidak mungkin saya berbohong pada orang tua, astaghfirullah tolong bantu hamba. Zaki sampai berkeringat dingin ditanya ini dan itu oleh uminya Naya, bahkan sampai lancang bertanya pernah tidur dengan Naya apa tidak, untung saja Zaki masih bisa menjawab dengan santai dan terpaksa berbohong, kalau dia adalah pasangannya Naya. “Syukur alhamdulilah kalau kamu masih menjaga kehormatan anak Umi, duh Nak Zaki ini idaman sekali, bahkan untuk pertama kalinya bertemu langsung suka dan memberikan izin pada kalian.” “Apa? Izin, Umi? Izin apa, ya?” tanya Zaki. “Jangan lama-lama pacaran nggak baik ah, kalian segera diskusikan kapan menikah oke? Umi tinggal dulu ke dapur bantu si Bibi, duh gemes deh sama kalian berdua serasi banget, permisi dulu, ya.” Naya pun menarik Zaki sampai nekat masuk ke dalam kamarnya bersama Zaki, dengan dorongan kasarnya membuat tubuhnya sendiri yang terjatuh tepat menimpa tubuh Zaki di ranjang. “Puas?” tanya Zaki. “Maaf, Zak, aku benar-benar nggak tahu yang buka gerbang itu umi.” “Gitu? Iya? Bangun, kita bukan mahram. Awas,” cecar Zaki menyingkirkan tubuh Naya dari atas tubuhnya. Naya tertunduk diam sembari meneteskan air matanya, dia benar-benar serba salah, antara tetap bersandiwara di depan uminya atau melepaskan Zaki begitu saja. “Nay,” panggil Zaki. “Zak?” “Mari kita coba, sudah terlanjur, saya akan bertanggung jawab akan semuanya.” “Maksud kamu gimana, Zak?” Naya sampai terkejut mendengarnya. Zaki mengacak-acak rambutnya sendiri, dia benar-benar tak ada cara lain, demi tidak berbohong lagi dan lagi, jalan pintasnya hanya mewujudkan apa yang sudah terlanjur terjadi. “Kamu kenapa, Zak? Marah banget sama aku, ya?” “Aku tahu kalau aku salah, seharusnya nggak bawa-bawa kamu ke dalam masalah ini, aku cuma ....” “Kita akan menikah, saya harus pulang dulu ke Indonesia, memberi kabar terlebih dahulu pada orang tua saya, jangan khawatir, saya tidak akan kabur apalagi ingkar janji.” “Kenapa kamu berubah pikiran? Kenapa kamu mau berbohong demi aku, Zak? Gapapa kok ayo, kita akui saja yang sebenarnya sama umi, kalau kita nggak ....” “Saya akan benar-benar melamar kamu, hentikan sandiwara, Nay! Dosa, saya harus pulang ke apartemen dulu, jangan ikuti saya karena ini juga demi kamu.” Naya menggeleng sambil memelas, dia benar-benar tak ingin ditinggalkan barang sekali pun oleh Zaki, bahkan tak ingin Zaki pulang ke Indonesia, takut-takut ada hal yang tidak diinginkan. “Kenapa lagi? Saya benar-benar serius, jangan khawatir. Kasian umi kamu, dia sudah berharap sampai segitunya. Jangan bohongi dia lagi, lagian saya juga masih sendiri.” “Kamu nggak punya pacar, Zak? Nggak ada wanita yang ada di Indonesia lagi menunggu kamu, kan? Tadi, katanya ada ....” “Iya, dia memang wanita yang saya cintai, cinta pertama dan sudah berlangsung selama bertahun-tahun, tapi kamu jangan khawatir akan itu.” “Terus nanti dia gimana? Dia tersakiti dong, aku nggak mau jadi yang kedua apalagi jadi pelakor.” “Dia sudah bahagia, Nay, bersama suaminya.” “Suaminya? Jadi dia ....” Zaki menutup mulut Naya dengan jari telunjuknya, “Jangan dibahas, ayo, ke luar, jangan terlalu lama di dalam kamar seperti ini, kamu kurang ajar lama-lama, Nay. Cepat, izinkan saya pulang pada umimu, ada banyak yang harus saya urus.” Wajah Zaki terlihat sangat serius, tidak ada tanda-tanda dia akan menyakiti perasaannya, apalagi sampai ingkar janji. Naya percaya itu, karena dari awal dia memilih Zaki, sudah percaya bahwa Zaki laki-laki yang baik. Namun, di luar dugaannya juga Zaki sampai serius mau menikahinya secara sungguhan, bahkan akan meminta restu ke Indonesia terlebih dahulu pada kedua orang tuanya, itu membuat Naya semakin berharap pada Zaki. Mereka sudah berhasil meminta izin pada uminya, Naya mengantar Zaki sampai ke depan gerbang, bahkan Naya tak ingin berjauhan terlalu lama, entah kenapa dia seperti itu, awalnya galak dan jutek, lama-kelamaan baper juga pada sosok Zaki. “Saya pulang, kamu ada shif sebentar lagi di rumah sakit, kan? Fokus, jangan dipikirkan dulu. Biar itu yang menjadi urusan saya. Oke? Semoga bisa, ya. Ini sangat berat untuk saya, Nay. Tapi demi kamu saya lakukan.” “Semoga kamu bisa mencintai aku sama seperti kamu yang bertahun-tahun mencintai dia, Zak!” teriak Naya sembari dadah-dadah padahal Zaki belum benar-benar pergi. “Saya pulang assalamualaikum.” “Dadah, see you waalaikumussalam.” Zaki membanting setir mobil ke arah pohon yang entah kenapa rasanya ingin melakukannya saat ini, Zaki tidak terluka hanya depan mobilnya saja terbentur pohon, mungkin saja tergores dan rusak, Zaki tak peduli itu semua. Yang saat ini dia pikirkan hanyalah keputusannya yang gila itu, dia belum sepenuhnya bisa melupakan sosok Karina, bahkan masih sangat mencintainya, tetapi dia sangat berani sekali akan menikahi wanita lain, yang baru dia kenal, tanpa dipikirkan terlebih dahulu sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD