“Saya jangan bodoh, sekali berjanji harus segera ditepati, karena bagi saya ... janji adalah hutang yang harus ditepati, tidak bisa! Tidak bisa kalau saya harus mempermainkan pernikahan seperti ini.”
Zaki turun dari mobil, dia melihat sendiri bagaimana keadaan mobilnya saat ini yang sudah rusak sebagian, mungkin juga akan berbahaya jika dipaksakan untuk melanjutkan perjalanan sebelum diperbaiki terlebih dahulu, dia menghubungi orang yang dipercaya untuk mengurus mobilnya, sedangkan Zaki memesan kendaraan umum yang sudah dia privat hanya untuk dirinya saja.
Naya begitu sangat bahagia rasanya bagaikan sudah ketiban durian runtuh, sejak kembarannya meninggal, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa mengalahkan keegoisan kedua orang tuanya, dulu abinya yang lebih kejam tetapi seiring berjalannya waktu dia berubah lebih baik, dan sekarang gantian uminya yang sangat egois bahkan bisa dibilang kejam juga.
“Nara, semoga kamu lihat semua tadi, akhirnya aku bisa mengalahkan umi, semoga laki-laki itu nggak mempermainkan aku, kamu harus doain aku juga, ya,” ucap Naya yang mengelus bingkai photo kembarannya.
Malam harinya, Zaki begitu kelelahan seluruh tubuhnya seakan-akan remuk jika tidak dipijat oleh dirinya sendiri, siapa lagi coba yang akan membantunya malam-malam seperti ini? Memang benar hidup tanpa pasangan itu bagaikan taman tak berbunga, tetapi jika urusan kenyamanan, Zaki lebih suka sendiri.
Sebenarnya pun bukan lelah karena bekerja, lebih lelah lagi memikirkan pernikahan dadakannya itu. Bagaimana nanti reaksi orang tuannya di Bandung? Jika tidak segera diberitahu, maka urusannya akan semakin runyam. Terlebih lagi orang tuannya Naya akan semakin mendesaknya juga.
“Saya harus secepatnya mengurus penerbangan ke Indonesia, apapun itu reaksi orang tua, terima saja. Mungkin akan sedikit berjuang agar direstui.”
Dua hari setelah kejadian, akhirnya Zaki tidak merasa bimbang lagi, dia sudah mendarat dengan selamat di Indonesia. Setelah banyak pertimbangan akhirnya pulang juga ke Bandung. Tak dapat dipungkiri dia sangat merindukan kota kelahirannya itu, membuat hatinya jauh lebih tenang dibandingkan dirinya yang ada di Turki.
Melewati rumah Karina, hatinya tersentuh seakan-akan ingin sekali berjumpa lalu memeluknya dengan erat, tetapi semua itu hanya ada di dalam mimpinya semata. Zaki tersenyum ramah di saat membayangkan semua kebodohannya itu. Sesampainya di rumah orang tuanya, Zaki berhasil membuat orang tuannya terkejut karena pulang tanpa memberikan kabar terlebih dahulu, ibunya yang paling khawatir, dia sampai mengira bahwa Zaki sakit parah atau ada yang terjadi, tetapi Zaki berhasil menjelaskan bahwa tidak ada yang harus dikhawatirkan.
“Syukur kalau kamu nggak kenapa-kenapa, Nak, gimana pekerjaan kamu di sana? Perusahaan baik-baik aja, kan?” tanya ibunya.
“Walah, Bu, anak kita baru pulang kok sudah ditanya ini dan itu, biarkan dia mandi dan makan dulu, jangan ditekan seperti itu,” cicit ayahnya Zaki.
Sebenarnya dia bukanlah ayah kandung Zaki, ayah yang sesungguhnya tidak bertanggung jawab pada keluarga apalagi pada Zaki, anak kandungnya sendiri. Ibunya selalu melarang jika Zaki ingin bertemu dengan ayah kandungnya, yang entah di mana sekarang. Toh, ayah sambungnya memang jauh lebih baik, buktinya selalu mendukung apapun itu yang dilakukan Zaki dari kecil hingga dewasa, lebih tepatnya sampai mau menjadi orang tua asli di hadapan keluarganya Karina dulu, di saat lamaran yang kelam waktu itu.
“Terima kasih, Ayah, untuk perhatiannya, Ibu juga jangan khawatir, Zaki gapapa kok.”
Zaki memang cool di depan orang lain, tetapi manja di hadapan kedua orang tuanya seperti sekarang ini, selalu menyebut nama di saat dia berbincang dengan orang tua.
Ibunya pun mengangguk setuju untuk membiarkan Zaki istirahat terlebih dahulu, walaupun bibirnya masih mengerucut pada suaminya yang terus-menerus memanjakan Zaki seperti tadi.
“Kalau begitu Zaki masuk dulu ke kamar, ya, permisi.”
“Jangan lupa makan, Nak, semuanya udah ada di dapur,” teriak ibunya yang sangat cerewet itu.
Suaminya hanya bisa geleng-geleng dengan sikap istrinya itu, dan terjadilah peperangan diantara suami dan istri itu, bedanya mereka perang dengan kemesraan bukan perang ribut seperti yang semuanya pikirkan.
“Ayah, kebiasaan deh kamu selalu memanjakan anak itu, dia anakku yang udah seharusnya aku didik, apalagi udah lama banget dia pergi ke luar negeri, tentu itu membuat aku sangat merindukannya.”
“Iya Sayang, aku sangat paham akan itu, tetapi kamu lihat sendiri Zaki baru saja pulang, dia pasti lebih dari kata lelah saat ini, Bu. Ayolah, anggaplah dia sudah dewasa karena memang begitu kenyataannya, bukan anak kecil lagi.”
“Masya Allah, kamu sangat menyayanginya, Yah?”
“Saya sangat menyayanginya, lebih dari apapun, Bu. Dia sudah menjadi napas bagi Ayah.”
“Padahal, kan, Zaki bukan ....”
“Dia anakmu, dan anak saya juga! Anak kita bersama, sudah jangan diperpanjang. Awas, jangan ganggu anak kita dulu, biarlah dia istirahat terlebih dahulu sebelum kita unyel-unyel.”
“Ha ha, dasar kamu, Yah! Aku pikir lebih dewasa eh tahunya gemes juga, kan, sama anak kita si Zaki? Ha ha.”
Keduanya pun tertawa terbahak-bahak, Zaki yang sedari tadi tak sengaja mendengarkan pun ikut tersenyum, begitu beruntungnya dia memiliki keluarga seperti keluarganya, berbeda dengan Naya, mengingat akan hal itu, membuat Zaki dengan mantap akan membicarakan semuanya dengan orang tuanya, mungkin nanti malam jika suasana sudah mencair, selain itu pun Zaki masih menunggu hatinya tidak meragu lagi.
“Kamar ini masih sama seperti dulu, apa ibu dan ayah sengaja tidak merubahnya, ya? Hanya seprai saja yang ganti.”
Zaki pun kembali tersenyum, betapa bahagianya dia saat ini. Setelah setengah jam istirahat sudah begitu lebih baik, Zaki pun makan dengan lahap, begitu melihat orang tuannya masuk ke dalam kamar dengan buru-buru, Zaki pun penasaran karena khawatir.
“Loh? Ada apa? Maaf banget jadi tidak sopan, tapi saya khawatir.”
Zaki menguping dari celah pintu, bahkan pintunya lupa dikunci. Memang benar masih siang hari, tetapi, kan, rasanya sedikit aneh melihat kedua orang tuanya seperti tadi, terburu-buru masuk ke dalam kamar.
“Ahhhh.”
Mendengarkan sampai Zaki paham sendiri, dia sangat malu karena sudah mendengar erangan ibunya sendiri. Zaki menggeleng langsung kembali ke meja makan untuk melanjutkan makannya yang sempat tertunda.
“Aihhh, mereka yang sudah tak muda lagi saja masih getol kuat anu, lah saya kapan? Astaghfirullah, jangan berpikir seperti itu, Zak! Dosa!”
Tiba-tiba Zaki menyentuh bibirnya sendiri, dia kembali ingat siapa wanita yang menciumnya untuk pertama kali, dialah Adinda, istri orang lain yang sudah berhasil merenggut keperawanan bibirnya.
“Ish, apaan, sih, kenapa juga jadi dibayangkan? Ah, tidak enak tidak enak!”
***
Malam hari yang hening, adalah waktu yang paling pas untuk Zaki menjelaskan serta menceritakan dengan tenang pada orang tuanya, semuanya tengah berkumpul di ruang keluarga, ayah dan ibunya masih saja bermesraan di hadapan Zaki, sampai sulit untuk menelan salivanya sendiri.
“Sudah dong mesra-mesranya, Yah, Bu. Ingat ada anak kalian loh di sini.”
“Yey, kamu sirik aja deh. Makanya buruan nikah, Nak, biar punya guling bernyawa,” sindir ibunya.
“Emang boleh nikah, Bu?” tanya Zaki dengan polos.
“Boleh dong, sudah bisa move on, kan, Nak?” Kali ini ayahnya yang bertanya.
“Hmm, kalau boleh Zaki akan ....”
“Nanti secepatnya Ibu akan perkenalkan kamu dengan gadis pilihan Ibu, oke? Sekian lama dia menunggu kamu pulang loh, ini udah saatnya.”
“Bu, ih, jangan dulu dibahas kasian Zaki,” bela ayahnya.
“Biarin, Yah, biar anak kita secepatnya menikah dan kasih kita cucu yang banyak.”
“Gadis pilihan? Maksudnya bagaimana, Yah, Bu? Jangan bilang kalau kalian ....”
“Iya dong, kamu udah kita jodohkan dengan gadis pilihan, yang masih anaknya sahabat Ibu, dari dulu Ibu bersahabat baik dengan ibunya. Kamu jangan mengecewakan.”
“Emang masih zaman dijodohkan, Bu? Maaf, Zaki sudah memiliki kekasih. Jangan seperti itu lah, baru saja Zaki akan meminta restu.”
“Nggak boleh dengan yang lain! Kamu udah mengecewakan Ibu waktu itu! Di saat kamu melamar wanita yang kamu cintai, kenyataannya apa coba? Pilihan kamu udah punya suami! Ibu sangat malu, Nak, jangan diulangi lagi.”
Zaki menghela napas panjang setelah mendengarkan semua ocehan ibunya, bukan hanya Naya yang dijodohkan oleh orang tuannya, bahkan dirinya pun ternyata sama, tidak ada bedanya.
“Kamu mau, kan? Menikah dengan gadis pilihan Ibu? Mau dong, ya? Lupakan kekasih kamu itu, Nak.”
“Siapa kekasih baru kamu, Zak? Ayah ingin tahu.”
“Dia asli orang Indonesia sama seperti kita, hanya tinggal di Turki saja bersama orang tuanya, anaknya baik, uminya pun sudah sangat menyukai kami.”
“Ibu nggak peduli itu, Nak, pokoknya kamu harus mau menikah dengan pilihan Ibu! Titik!”
Pada saat Zaki akan membantah lagi, ketukan pintu membuyarkan semuanya, ibunya sangat antusias membukakan pintu entah kenapa itu terjadi, sedangkan ayahnya hanya bisa menepuk pundaknya untuk menyemangati Zaki saja.
Pada saat ibunya sudah kembali ke ruangan tadi, dia tidak sendiri melainkan dengan seorang gadis cantik, ikut duduk bersama membuat Zaki malas meliriknya, karena untuk apa? Pasti itu gadis yang akan dijodohkan dengannya.
“Zaki mau ke kamar, permisi dulu ....”
“Eh, eh, nggak boleh, kalian harus kenalan dulu, kasian loh malam-malam datang ke sini, mana gadis cantik seperti ini, hargai sedikit, Nak,” titah ibunya.
“Kali ini Ayah setuju dengan Ibu kamu, hargai dulu, Nak, ayo, silakan kalian berkenalan.”
“Gapapa, Bu, Pak, aku nggak mau memaksa kok,” ucap gadis itu.
Mendengar suaranya, membuat Zaki menoleh dengan kesal, tahu-tahu dia sendiri yang terpesona akan kecantikannya, begitu cantik dan kalem di lihatnya saja membuat hati tenang.
Rambutnya panjang, pipinya tembem, dan bahkan hidungnya begitu mancung membuat Zaki traveling ke mana-mana pikirannya, membayangkan saat mereka berciuman nanti, jika keduanya memiliki hidung mancung, pasti akan terasa nikmat.
Astaghfirullah, apaan, sih. Saya tidak boleh memikirkan hal seperti itu, lagian wanita ini biasa saja kok, tidak begitu istimewa.
“Yah, kita ke kamar dulu yuk, biarkan anak-anak berkenalan dengan leluasa,” ucap ibunya sudah membawa suaminya pergi ke kamar.
Sedangkan situasi saat ini sangatlah canggung, Zaki sampai tidak bisa berpikir akan melakukan apa? Berbicara apa? Tangannya mendadak dingin, dia merasakan debaran itu sama seperti yang dia rasakan di saat bersama Naya.
“Maaf, kalau kedatangan aku jadi ganggu, soalnya ... kedua orang tuaku akan marah jika aku menolaknya.”
“Kamu sendiri ke sini? Malam-malam?” tanya Zaki.
“Tadi, aku diantar sama sopir kok, nggak sendirian, dia pun lagi nunggu di mobil.”
“Kirain gadis desa sini, bukan, ya?”
“Bukan, aku asli orang Bogor.”
“Saya tidak tanya tuh, langsung ke intinya. Ngapain kamu mau dijodohkan sama saya hmm? Karena apa? Bahkan, saya rasa kamu anak orang kaya, tidak mungkin ingin dijodohkan demi uang, katakan ... apa alasannya?”
“Karena aku ingin membahagiakan kedua orang tua, selama masih bisa patuh, kenapa nggak?”
“Kamu ledek saya hmm?”
“Nggak juga, kalau kesindir ya maaf.”
Wah, ini orang berani juga, saya pikir kalem benar-benar kalem, tahu-tahu dia bisa perang mulut juga.
“Batalkan perjodohan kita, oke? Kamu cantik loh, masih muda pula, jangan mau diatur hidupnya, nikmati masa mudamu,” titah Zaki.
“Namaku Alesya.”
“Saya tidak tanya nama kamu!”
“Nama kamu Zaki, kan? Ingat nama aku baik-baik, ya, namaku Alesya, usiaku hanya berbeda dengan kamu sekitar satu tahun lah, bukan anak kecil!”
“Hah? Oh, iya? Ha ha, bohong kamu, ya? Pasti kamu itu masih 17 tahun atau mungkin lebih muda dari itu, buktinya masih dipanggil gadis dan wajahnya ... seperti anak SMA.”
Dia tersenyum, dan bahkan tersanjung diperlakukan seperti itu oleh Zaki, benar-benar sangat menyebalkan, walaupun dia sendiri awalnya menolak perjodohan itu, lama-kelamaan patuh karena hanya itu yang bisa dia lakukan untuk membahagiakan kedua orang tuanya saat ini.
Alesya sudah sukses dalam karirnya, tetapi sampai sekarang nasib percintaannya selalu buruk, bertolak belakang dengan karirnya yang sangat bagus, wajahnya memang baby face, tidak terlihat tua apalagi dewasa seperti seusianya.
“Kenalkan, namaku Alesya!”
“Saya tidak bertanya! Diam, jangan bicara apapun lagi, tolong.”
“Katanya, kamu itu laki-laki baik dan ramah, mana? Kok galak banget.”
“Galak? Saya baik kok.”
Zaki sengaja membuat wanita itu tidak menyukainya, sekuat tenaga berusaha untuk menjadi buruk demi membatalkan perjodohan konyol itu, Zaki sudah berjanji pada Naya, dan pantang untuk Zaki mengingkari janjinya sendiri.
Tiba-tiba wanita yang bernama Alesya itu memperlihatkan akun sosial media luar negerinya, Zaki tertegun sampai melongo ada beberapa barang hasil produksi perusahaannya diakun wanita itu.
“Apa ini maksudnya, hah? Kenapa ada barang-barang hasil produksi perusahaan saya? Dan kamu? Kenapa promosikan seperti ini?!”
“Aku ini selebgram dan juga sponsor terkuat di perusahaan kamu! Lupa? Ah, nggak mungkin lupa, hanya aja selama ini kamu hanya tahu nama samaran aja, aku ini pemilik akun cewekeksis.co.id. Nggak lupa, kan?”
“Itu kamu?” Zaki sendiri masih tidak percaya akan semuanya, dia pulang ke Indonesia bukannya menyelesaikan masalah justru semakin menambah masalah yang baru.