“Hei, kalian berdua kok malah saling diam seperti itu, gimana? Udah ada obrolan penting nggak, nih,” tanya ibunya Zaki.
Kedatangan kedua orang tuanya membuat Zaki terlambat untuk menyelesaikan permasalahannya dengan wanita baby face itu. Bukan karena dia tidak berani, Zaki hanya berpikir keras, apakah ini semua sudah jalan takdir Allah? Orang yang selama ini sudah membantu perusahaannya di Turki, adalah calon istri yang sudah orang tuannya tentukan dan pilihkan, lagi pula permasalahan dengan Naya itu hanya kesalahpahaman.
Walaupun begitu, Zaki tetap bertekad untuk menikahi Naya saja, bukan Alesya. Siapa tahu kali ini pilihannya yang terbaik, Zaki akan membuktikan itu semua kepada orang tuanya dengan cara yang adil untuk dua wanita itu.
“Bolehkah perjodohan ini diundur? Hmm, maksudnya biarkan saya mengenalmu lebih dalam dulu,” tanya Zaki pada wanita itu, membuat orang tua Zaki melongo.
“Nak, apa maksudnya? Apa kamu mau ajak dia pacaran dulu? Ish, usia kalian udah seharusnya menikah bukan main-main lagi,” rengek ibunya Zaki.
“Kali ini, Ayah setuju dengan ibumu lagi, Nak.”
“Kalau tidak seperti itu dulu, Zaki tidak akan mau mencoba, langsung tolak malam ini juga.”
“Nak ....”
“Gapapa kok, Pak, Bu, aku setuju dengan apa yang Zaki mau, siapa tahu kita bisa mengenal lebih jauh dengan cara seperti itu,” sahut Alesya, dia pun tertantang dengan ide Zaki.
Dia ingin tahu apa sebenarnya yang Zaki inginkan, bukankah seorang Zaki pantang berpacaran karena sibuk bekerja? Dan bukankah seorang Zaki tidak pernah begitu sebelumnya? Selama ini Alesya tidak bodoh, dari awal dia dikabarkan akan dijodohkan, mulailah dia mencari tahu informasi mengenai laki-laki itu, sampai terkejut di saat tahu orangnya adalah Zaki yang selama ini bekerja sama dengannya dalam dunia perbisnisan.
“Yakin gapapa, Nak Sya? Ibu yakin anak Ibu nggak akan kelewat batas kok sama kamu.”
“Iya yakin, Bu, gapapa kok. Ibu tenang aja, ya.”
Di saat percakapan selesai, malam pun tak terasa bagi Zaki, jarak antara malam hari menuju ke subuh pun sampai terasa dalam hitungan menit saja, Alesya semalaman berhasil menganggu pikirkan Zaki sampai dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Jangankan tidur, dia sampai terjaga semalaman, untung saja tidak terlambat berjamaah di Musala untuk salat subuh.
“Zaki, kan? Akhirnya nggak terlambat.”
“Kamu ngapain di sini? Subuh-subuh pula, tidur di mana kamu semalam?”
“Biasa aja dong, aku nginep di rumah bibi kamu, bi Narsih, gimana? Hebat bukan?”
Zaki sudah tahu pasti akan seperti itu, tidak mungkin juga malam-malam memaksakan pulang ke Bogor, meskipun yang mengemudi sopirnya, tetap saja tidak memungkinkan.
Sedangkan yang dia lakukan adalah netral, tetapi sembari menjelaskan apa yang sudah seharusnya dijelaskan dari semalam, hanya saja orang tuanya terlalu banyak ikut campur, membuat semuanya kacau balau, berantakan.
“Apa yang ingin kamu lakukan sebenarnya, Zak? Ayo, jangan bicara di sini, nggak enak sama yang lain, salat subuh nya udah selesai.”
“Saya tahu itu, apa kamu sudah siap?” tanya Zaki.
Alesya hanya mengangguk menandakan bahwa dia setuju, tidak akan takut jika nanti rencana Zaki merugikan diri dan hatinya, memang harus seperti itu jika ingin memenangkan pertandingan kali ini bersama Zaki.
“Dingin banget, kenapa harus di danau, sih? Ayo, cari tempat lain, Zak.”
“Saya lebih dingin tak apa, tidak akan membuat kamu sakit, tahanlah sebelum saya menyelesaikan semuanya.”
“Ya udah buruan, aku nggak kuat banget.”
“Yakin tadi cuma niat salat doang?”
“Yakin lah, terus lihat kamu, ya, sekalian aja ketemu.”
“Kamu mengerti, kan, apa yang saya inginkan semalam?” Zaki menunggu jawaban dari wanita itu terlebih dahulu.
“Ya, lebih tepatnya bukan pacaran, tapi ngajak perang dulu sebelum kamu memutuskan suatu keputusan, aku tahu itu.”
“Good, kamu memang cerdas. Namun, yang ingin saya katakan itu, sebenarnya pulangnya saya ke Indonesia, untuk sesuatu yang sangat penting, kamu tahu apa itu?”
“Apa?”
Zaki mulai menceritakan kesalahpahaman di Turki, membuat Alesya mengerti tanpa banyak bertanya terlebih dahulu, tetapi dia juga bingung harus berbuat apa, jika langsung menyerah, kedua orang tuanya akan kecewa padanya, tetapi jika berjuang? Bersaing? Hatinya akan terluka.
“Kamu sudah mengerti, kan? Saya harus uji kalian dulu, siapa yang lebih pantas untuk saya nikahi, berjuanglah jika kamu memang sayang pada kedua orang tua, wanita yang bernama Naya pun akan melakukan hal yang sama.”
“Tapi, dia ada di Turki, gimana coba? Mana mungkin bersaing secara daring, kan, lucu.”
“Saya yang akan membuat dia ke Indonesia, apapun itu yang penting terima beres, uminya akan langsung mengizinkan jika bersangkutan dengan saya, tenang saja, tunggu dan berjuanglah.”
“Kamu udah hubungi dia? Bahkan udah nyuruh dia ke sini?” tanya Alesya lebih lembut.
“Sudah, tenang saja. Cara ini akan menguntungkan semuanya, saya ... kamu, dan Naya.”
“Apa yang membuat kamu yakin? Aku nggak tahu kamu akan segila apa nanti, Zak, jika salah pilih.”
Saya tidak akan memilih wanita yang mudah menyerah, tanpa kalian ketahui, saya pun akan berjuang untuk kalian berdua, entah siapa yang jadi pemenangnya, dialah yang beruntung walaupun saya memihak pada Naya, akan berusaha adil.
“Saya tidak akan menyesal, karena saya tidak mempermainkan kalian, hanya akan menyeleksi saja.”
“Aku bukan barang produksi kamu! Ingat itu, tapi karena aku berpendidikan! Aku akan mengikuti akal gajelas kamu ini.”
“Bagus, sudah segitu saja. Saya akan antar kamu ke rumah bibi, pakailah ini, masih dingin dan tidak baik untuk kesehatan.”
Zaki memakaikan jaket yang dia bawa, toh dia sudah merasa hangat walaupun hanya memakai baju koko. Zaki hanya ingin keadilan untuk kedua wanita itu, dia tak akan menyakiti, karena niatnya untuk benar-benar mencari yang tepat, bukan mencari yang terbaik.
Sebenarnya niatnya bukan untuk memacari kedua wanita tersebut, Zaki bukanlah laki-laki yang serakah akan cinta. Satu pun sulit apalagi dua-duanya, Naya pasti akan membuktikan rasa takutnya pada orang tuannya dengan datang ke Indonesia, begitupun dengan Alesya.
Kedua wanita itu sama-sama ingin membuat orang tuannya puas, dan tidak ingin mengecewakan, membuat Zaki ragu untuk memilih salah satunya jika tidak diuji terlebih dahulu, takut-takut keduanya yang nantinya akan mempermainkan Zaki.
***
“Apa? Kamu akan menjalani hubungan dengan dua wanita sekaligus? Kamu mau bikin Ibu malu, Nak? Kenapa kamu lakukan ini semua?”
“Bu, Zaki mohon, ya, setuju saja dulu, ini salah satu cara untuk menentukan pilihan, supaya mereka tidak merasa disakiti oleh anakmu ini, Bu.”
Ibunya memalingkan wajahnya, membuat Zaki meminta persetujuan pada ayahnya, dan berhasil langsung didukung, ibunya pun mau tak mau ikut-ikutan setuju agar anak dan suaminya tidak kecewa padanya.
“Ibu pun akan ikut menguji mereka berdua, kalau memang niat kamu untuk menyelesaikan semua ini, Ibu akan membantu kamu.”
“Dengan cara apa Ibu akan membantu Zaki? Apa dengan cara pilih kasih?” tanya Zaki.
“Nggak begitu, walaupun Ibu belum tahu seperti apa wanita yang bernama Naya, tetap saja keduanya akan sama sebelum benar-benar menjadi menantu Ibu, harus tegas dan tak akan membiarkan kamu salah pilih, percayalah pada Ibu.”
“Oke setuju, jika itu memang baik, deal? Jangan pilih kasih ataupun memihak pada yang lebih dekat dengan Ibu, biarkan mereka menyelesaikan semuanya dengan real, Naya sudah tahu apa yang terjadi sekarang, dia mungkin masih di pesawat entahlah, semoga saja secepatnya sampai ke rumah ini.”
“Dan sebagai laki-laki yang baik juga, Zaki tidak akan menyentuh keduanya lebih dari menatap selama rencana ini.”
“Ibu setuju.”
“Ayah pun setuju, lakukanlah yang terbaik, Nak.”
Zaki akhirnya bisa tersenyum, setelah mendapat izin serta persetujuan dari kedua orang tuanya, Zaki langsung menyelesaikan urusannya di kamar, dia sampai menulis beberapa puluh ujian untuk diujikan nantinya, sampai tangannya lelah menulisnya.
Mungkin sudah mengalahkan ujian di sekolah, banyak sekali yang dia tulis dan rencanakan, Zaki pun sangat yakin tantangan yang pertama tidak akan disukai kedua wanita itu, entahlah kenapa Zaki sangat yakin akan semua itu, karena tantangan yang pertama adalah harus mau belajar memakai jilbab dan menutup aurat, karena keduanya muslim sudah seharusnya Zaki membimbing seperti itu.
Siapapun nanti yang akan menjadi pemenangnya, keduanya akan merasa nyaman jika sudah berjilbab, itu yang menjadi nilai plus dari rencana ini, membuat Zaki sangat berharap tanpa lama-lama pun akan menyelesaikan semuanya, ternyata masalah hati jauh lebih memusingkan dibandingkan dengan urusan pekerjaan yang selama ini sudah Zaki jalani dengan lancar.
“Saya tidak tahu, akan seperti apa nantinya, semoga saja lancar dan tidak ada kendala apapun, saya benar-benar tidak mau menyakiti mereka dengan cara memberi harapan palsu, harus ada yang dipilih salah satu, untuk menyelesaikan semuanya.”