Cakra hanya ingin bersikap dewasa layaknya mencintai dengan tulus, dia mencoba untuk tetap tenang dan tidak berpikiran negatif. Tanpa menyapa ataupun berulah, Cakra lebih memilih untuk kembali ke apartemen, menunggu kekasihnya di dalam daripada harus berbuat ulah seperti anak kecil. Sekitar tiga puluh menit sudah menunggu, akhirnya Cindy pun datang dengan jaket yang masih dia pakai, kedua mata Cakra seakan-akan sakit melihatnya. “Sayang, kapan pulang? Kok aku nggak tahu?” Cindy melingkarkan tangannya pada leher Cakra, dan bermanja-manja seperti biasanya. “Baru saja, belum lama saya pulang.” “Uuuu, capek, ya? Mau aku pijit? Duduk dulu, yuk.” “Pantas kah kita satu atap malam hari? Biar saya antar kamu pulang,” ujar Cakra lebih pendiam dibandingkan sebelumnya. “Kok pulang? Aku nginep se

