“Kenapa kamu seperti itu? Lalu apa yang udah kamu lakukan sama aku, itu apa maksudnya? Hah?” Kali ini Naya sangatlah terpancing emosi dengan perkataan laki-laki itu. Lenovo dengan santainya mengangguk-angguk sambil menatap ke arah langit kamar tersebut lalu menertawakan dirinya sendiri, begitu sangat menakutkan jika dipikir-pikir berada di sampingnya seperti saat ini, tetapi Naya harus bisa melarikan diri dengan cara merayunya. Kelemahan-kelemahan yang seharusnya akan mampu melemahkan laki-laki seperti itu, hanyalah dengan merayu lalu menipunya. Seperti yang saat ini tengah Naya lakukan terhadap Lenovo, orang yang sangat dia benci karena sudah berani merusaknya begitu saja. “Kenapa kamu seperti itu? Apa sebelumnya kamu memiliki riwayat psikolog atau ....” “Jangan, awas kalau kamu beran

