“Tidak, pergi sana, pulang. Siapa tahu dia sudah di rumah. Jangan khawatir, saya tidak ada maksud apa-apa, bercanda,” sahut Lenovo. “Serius?” “Dua rius, kawaaaan. Buruan, dijamin dia sudah pulang.” Zaki pun mengiyakan saja karena tidak ada salahnya jika mendengarkan apa kata kawannya itu, bisa saja memang Naya sudah pulang, tanpa mengabarinya terlebih dahulu karena masih kesal ditinggalkan begitu saja. “Eh, sebentar ... ada yang ingin saya katakan sebelum kamu benar-benar pulang,” cegah Lenovo lagi. “Iya, ada apa? Katakan saja, Len.” “Sebelum memilih seseorang untuk kamu nikahi, alangkah baiknya mencari tahu seluk beluknya terlebih dahulu oke? Saya sahabatmu, hanya ingin kamu bahagia kawan, sudah sana ... itu saja kok.” Zaki mengerenyitkan alisnya. Mencoba untuk menelaah lebih dalam

