Bab 4

1046 Words
“Nay? Naya? Hei ... kamu kenapa diam?” tanya Zaki yang terus-menerus bertanya. Padahal orang yang dia sedang tanyai tidak begitu fokus padanya saat ini, Naya kembali mengingat bagaimana dulu dia sendiri yang membawa kembarannya ke rumah sakit hanya dengan uang lima ratus ribu, karena saat itu keduanya tengah kabur dari rumah. Lantaran kedua orang tuanya yang selalu ingin menjodohkan mereka dengan laki-laki yang tidak sama sekali mereka cinta, tetapi pada malam itu, kejadian yang paling mengerikan bagi Naya, kehilangan kembaran hanya karena orang tuanya tidak mau mengeluarkan biaya sepeser pun untuk pengobatan Nara, saudaranya yang saat ini sudah tenang di alam sana. “Nay, kamu menangis? Apa saya menyakiti kamu? Atau ada kata-kata yang tidak bisa kamu terima?” Zaki masih setia bertanya walaupun belum juga mendapatkan jawabannya. Naya menoleh ke arah Zaki, lalu mengangguk karena sudah tersadar dari lamunannya, bagaimanapun juga bukan saatnya untuk mengingat masa itu di saat dirinya bersama orang lain, apalagi belum mengenal Zaki lebih dalam, mana mungkin bisa langsung percaya begitu saja. “Apa kamu punya nomor seseorang yang bisa dihubungi?” Naya pun kembali menunduk. “Hmm, ada, sih, tapi mungkin dia sudah pergi ke tempatnya kalau jam segini,” sahut Zaki. “Siapa dia? Dan di mana tempatnya.” “Tempat terlarang, sudahlah untuk apa kita membahasnya? Lagian dia cuma teman saya, ada apa? Nay?” Zaki mulai kebingungan padahal perutnya masih sakit. “Kamu sakit, Zak, dibawa ke rumah sakit nggak mau lagi, kan? Makanya, hubungi teman kamu itu, suruh dia jemput kamu, nanti aku pulang sendiri gapapa, percuma juga, kan, kamu antar aku pulang kalau kondisi kamu sendiri seperti ini,” ucap Naya yang memang benar-benar khawatir dengan keadaan Zaki. Tangan kanannya masih setia memegangi perutnya, sedangkan tangan kirinya dia pakai untuk menghapus dan mengelap jejak keringat pada keningnya, tentu melihat hal tersebut, Naya yang membantu Zaki untuk mengelap keringat tersebut. “Kamu nahan sakit banget, ya? Aku sarankan kamu kembali aja ke rumah sakit, daripada harus mengemudi mobil tengah malam dalam kondisi sakit,” cicit Naya. “Tangan kamu halus, Nay, pasti kamu anak orang kaya, ya? Hmm? Sudah jelas, sih, dari profesi kamu.” “Nggak semua nurse di dunia ini anak orang kaya, kan, Zak? Aku bukan anak orang kaya, cuma wanita biasa di Turki ini.” Naya terpaksa berbohong demi menyembunyikan identitasnya kepada orang-orang, bukan hanya pada Zaki, tetapi pada semua orang asing yang bertemu dengannya, Zaki sendiri tidak merasa sedang dibohongi, toh Naya berwajah polos, mana mungkin berbuat jahat, itu yang Zaki pikirkan. “Nggak usah lihatin aku kayak gitu, buruan deh tentuin mau gimana? Antara kita kembali ke rumah sakit, atau kamu hubungi teman kamu itu,” tanya Naya lagi. “Hmm, kalau tidak keduanya bagaimana, Nay?” “Harus pilih salah satu, nggak boleh ditolak dua-duanya, Zak, buruan deh nanti keburu malam banget ini.” Pada saat Zaki akan merayu wanita itu lagi dengan segala keisengannya, lagi dan lagi perutnya yang sakit menganggu konsentrasi untuk merayu, dengan terpaksa pun Zaki memilih yang pertama, yaitu kembali ke rumah sakit, mungkin juga akan dirawat karena rasa sakitnya terus saja menggerogoti tubuhnya. “Aaaw, baiklah ... kita ke rumah sakit sekarang!” “Oke, gitu dong, awas jangan tidur loh, lagian aku nggak punya tenaga sekuat baja untuk gendong kamu sampai ke ruangan VVIP tadi, tetap terjaga! Awas!” “Ngomel saja terus, sampe saya mati, buruan ... saya mau pingsan ini.” “Hih, aneh, mana ada orang pingsan bilang-bilang dulu kayak kamu, Zaki.” Seketika ingin rasanya Naya tertawa dengan tingkah Zaki yang seperti itu, tetapi situasinya sedang genting mana bisa dia tertawa di atas penderitaan pasien yang menyebalkan seperti Zaki malam ini. *** Sampai pukul setengah sebelas malam di Turki, Naya masih menunggu pasien tersebut, bukan karena Zaki yang modus ingin ditemani terus, hanya saja Naya diberikan amanah oleh dokter untuk menjaga Zaki sampai pagi nanti, karena itu akan mempengaruhi kerja profesional seorang Naya yang baru saja menjadi suster di rumah sakit tersebut selama setengah tahun ini. “Dasar kebo, enak banget kamu tidur nyenyak, sedangkan aku? Harus relain jam tidur demi nunggu kamu sampai pagi, ahhhh mana mungkin tega juga kalau aku tinggalkan kamu di sini, mana coba keluarga kamu? Nggak ada, kasian banget deh kamu, Zak.” Padahal Zaki tidak tidur, dia hanya berpura-pura menutup kedua matanya supaya Naya mengira bahwa dirinya sudah tertidur malam ini, tentu saja Zaki pun mendengar semua yang Naya ucapkan pada dirinya dalam umpatan seperti tadi. “Eh, tapi ... kalau aku lihat-lihat kamu tampan juga, Zak, alis kamu asli nggak, sih? Coba aku tarik, ah.” Naya melakukannya, dia dengan gemas menarik bulu alis Zaki sampai yang empunya menahan sakit dalam sandiwara tidurnya saat ini, tak hanya itu saja yang dilakukan olehnya, bahkan saat ini Naya mencubit pipi, dan yang terakhir mengelus bibirnya Zaki. “Sempurna, tapi sayangnya ... kalau lagi bangun ngebleng otaknya, c***l! Dan nggak punya etika hih, apalagi kalau udah gombal euhhh amit-amit banget kamu, Zak.” Zaki terkekeh dalam sandiwaranya, dia sampai tersipu malu dengan perlakuan Naya malam ini padanya, entah itu sentuhan hangatnya, ataupun ucapan gokilnya yang berhasil membuat Zaki menjadi betah berlama-lama di rumah sakit, padahal sebelumnya Zaki paling tidak mau terlalu lama di rumah sakit apalagi sampai menginap seperti saat ini. Naya menguap tetapi dia berusaha untuk tahan, karena menurut dokter Jessy tadi, jika penyakit lambung/maag yang sudah kambuh seperti Zaki dibiarkan sendirian, apalagi tengah malam, akan berbahaya dan resikonya pun tinggi, membuat Naya memilih untuk baca buku sembari ditemani secangkir kopi hitam yang dia buat tadi. “Kenapa bisa, sih, pangeran pergi gitu aja, padahal putri kerajaan lagi sayang-sayangnya sama dia! Ihh, semua laki-laki kaya raya itu sama aja!” Naya bahkan dengan bacaan tersebut bisa menangis, tertawa, dan yang lebih gila lagi sasaran emosi utamanya di saat bacaannya adegan perpisahan, dia mencubit tangan Zaki berkali-kali. Zaki sendiri hanya bisa pasrah diperlakukan seperti itu, yang penting Naya bisa bahagia, walaupun dia tahu mereka tidak ada hubungan apa-apa, Zaki tetap menebar kebaikan meskipun dirinya sedang berbaring sakit seperti malam ini. Kamu seperti dia, Nay, seseorang yang pernah ada di dalam hati ini, dan mungkin masih ada di dalam hati ini, tetapi ... saya harap kalian ada sedikit perbedaan, entah apapun itu, karena jika kalian sama total, saya takut tak bisa mengendalikan hati ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD