“Pasang infusan saja sudah hebat euy, apalagi pasangkan cinta kepada hati saya,” ucap Zaki.
“Idih sebel banget bahasanya terlalu ketinggian, ngarep.”
“Ha ha, eh ngomong-ngomong kamu sudah berapa lama jadi nurse di sini?”
“Nanya terus kayak wartawan,” cetus Naya.
“Masya Allah, padahal saya cuma tanya, tapi galaknya minta dinikahin,” ledek Zaki lagi.
“Idih amit-amit tahu nggak, kamu kalau ngomong saring dulu napa, geli.”
“Tuh ituh, wajahnya kalau ngambek tambah cantik, apalagi kalau kalem.”
“Baiklah, proses pasang infus sudah selesai Bapak Zaki, aku mau ke luar untuk merawat yang lain, aku ....”
Naya berhenti berbicara di saat dia melihat bagaimana Zaki meringis kesakitan sembari memegangi perutnya, masih mempunyai rasa kemanusiaan, Naya pun langsung menegur Zaki.
“Kamu kenapa belum makan buburnya? Aku tahu, bubur ataupun makanan rumah sakit nggak ada yang enak, kamu tahu? Beruntung banget dokter yang menangani kamu berasal dari Indonesia juga, dia dengan detail menjelaskan penyakit kamu sama aku tadi,” ucap Naya.
“Kalaupun dokternya asli orang sini, saya bisa bahasanya, Naya.”
“Bukan gitu, Zak. Dokter asli sini bakalan marah besar kalau tahu makanan yang seharusnya pasien makan tapi belum dimakan juga.”
“Saya pun tahu itu, Naya.”
“Kenapa nggak dimakan? Mau makan apa? Biar aku yang pesan nanti ke dapur rumah sakit,” tanya Naya dengan serius.
“Kamu jangan perhatian gitu ah, nanti saya lamar kamu gimana coba? Kejang-kejang kamu nantinya, Naya.”
“Zaki, bodo amat kamu mau ngebodor ataupun gimana, yang jelas kamu jangan gitu soal makan, nggak baik buat kesehatan,” ucap Naya.
Zaki tersenyum manis, walaupun rasa sakit di perutnya terus menggerogoti, perhatian kecil dari Naya membuatnya semakin semangat untuk sembuh.
“Terima kasih, Naya, untuk perhatian kecilnya.”
“Kamu mau makan apa sok? Aku ga papa kalau harus ke dapur ambilkan langsung, demi keselamatan pasien.”
“Makan bubur itu saja, tapi kamu yang suapi sampai habis,” titah Zaki.
“Mau? Ga papa emang aku yang suapi? Nggak malu?”
“Kenapa harus malu, Nay? Bukan manja, apalagi modus, saya benar-benar lemas,” sahut Zaki.
“Kamu senyum-senyum itu untuk nahan sakit doang, gitu?”
“Nah, itu kamu tahu. Mau suapi saya, kan? Tolong, sekali ini saja, Nay.”
“Hmm, ya udah deh. Tapi, jangan kesempatan dalam kesempitan, aku nggak suka laki-laki yang kayak gitu,” ancam Naya.
“Tenang saja, saya juga cuma butuh bantuan kamu kok, biar saya bisa makan,” jawab Zaki.
Naya pun mulai menyuapi bubur ke mulut Zaki, beberapa suapan sudah dilahap dengan baik oleh Zaki, berkat perawatan plus-plus dari nurse galak bagi Zaki.
“Sudah, cukup. Eneuk kalau diteruskan, terima kasih Naya.”
“Iya sama-sama, emang kamu nggak bisa apa sempatkan waktu sebentar untuk makan? Baru nanti kerja lagi, emang istri kamu nggak perhatian apa di rumah.”
“Ha ha, apa katamu? Istri?”
“Iya istri kamu tadi itu loh yang di luar tapi sekarang pergi.”
“Dia Humaira, sekretaris saya. Bukan istri saya, Nay.”
“Oh, salah, ya? Terus istrinya kenapa nggak ke sini jenguk kamu? Nggak punya hati banget.”
“Ngomel terus, Nay, nanti cepet keriput loh, mana ada istri? Saya belum menikah, Naya.”
“Masa? Banyak laki-laki sukses kayak kamu ngaku belum nikah, dan ngaku bujangan padahal sugar Daddy,” celetuk Naya.
“Ha ha, dasar kamu. Dibilangin saya belum menikah, ambil tuh di atas nakas dompet saya dan lihat di KTP, belum menikah statusnya.”
Betapa polosnya Naya langsung cek KTP tersebut, yang ternyata benar belum menikah, betapa malu dirinya sudah nyablak sana-sini.
“Takut banget, ya, kalau saya sudah beristri, tenang saja ... saya bujangan asli.”
“Ih, Zaki! Ngeselin!”
***
Naya pun yang biasanya tidak mau mengambil shif dua kali dalam sehari, tetapi saat ini dia lakukan untuk Zaki, aneh sekali.
“Kamu shif sampai kapan? Kok masih di sini?” tanya Zaki.
“Nanti sampai malam,” jawabnya.
“Oh, gitu. Saya akan pulang sekitar selesai isya lah, kalau kamu?” tanya Zaki lagi.
“Iya sama.”
“Boleh antar pulang? Tenang, kita tidak berdua kok, ada Humaira juga nantinya, gimana mau, kan?”
“Nanti aku ganggu kalian, nggak deh.”
“Justru kamu bisa bikin saya dengan dia aman, mau, ya? Tolong, jangan ditolak, Naya.”
“Tapi ....”
“Nay, saya mohon, mau, ya?” Zaki sampai memohon.
“Ya udah deh iya, tapi antar sampai depan komplek, jangan sampai rumah.”
“Laki-laki yang sejati itu, antarkan wanitanya sampai ke depan pintu rumahnya, bukan di depan komplek,” sahut Zaki.
“Ya ampun lebay deh, Zak.”
“Nay, jangan rubah saya dong. Masa saya tega gitu sama wanita.”
“Abiku galak, jangan sampai kamu dimarahin.”
“Itu, sih, karena kamu yang bandel, kalau saya, sih, dijamin tidak akan dimarahin, percaya deh.”
“Percaya sama kamu itu musyrik, percaya itu sama Allah SWT.”
“Iya deh iya, gimana Naya saja. Pokoknya nanti saya antarkan pulang,” cetus Zaki.
Naya pun hanya diam saja sembari menatap Zaki, kondisi Zaki sebenarnya masih sangat lemah, hanya saja Zaki ngotot tidak mau dirawat sampai besok.
Benar saja, sampai selesai salat isya, mereka pulang bersama dan sialnya lagi, Humaira dijemput oleh gebetannya entahlah siapa itu, intinya saat ini Zaki berduaan di dalam mobil bersama Naya.
“Maaf banget, demi Allah saya tidak tahu kalau kita jadi berduaan seperti ini, Nay.”
“Ga papa kok, aku yakin kamu bukan laki-laki yang b******k, Zak, tapi mendingan aku deh yang nyetir, kamu diam aja, Zak.”
“Bisa nyetir juga, Nay?”
“Bisa, ayo, turun dulu. Biar aku yang nyetir.”
Mereka pun sudah selesai bertukar tempat duduk, di sepanjang perjalanan pun Zaki terus meringis kesakitan.
“Zak, kalau gitu caranya, mendingan kita putar balik ke rumah sakit lagi deh,” ucap Naya.
“Nggak usah, Nay, lanjut saja.”
“Setelah aku sampai ke rumah, terus siapa yang nganterin kamu pulang, Zak? Aku nggak tega membiarkan kamu nyetir dalam kondisi kesakitan.”
“Ciee, perhatian banget, Nay.”
“Jangan ngeyel dong, dan jangan kepedean, aku nggak mau ada korban selanjutnya karena penyakit lambung kayak gini!”
“Emangnya siapa yang sudah jadi korban, Nay?”