Cakra hanya menggeleng sambil tersenyum, dia menahan semua rasa sakitnya. Tidak seharusnya juga memperlihatkan kesakitan itu pada orang lain yang tidak tahu apapun. Güzelim sendiri mengerti arti dari anggukan kepala seperti itu menandakan bahwa sebenarnya ada sesuatu. “Jangan ditahan, semakin kamu tahan, akan semakin menderita sendiri. Cuma kasih saran aja,” ucap Güzelim. “Wah, kamu sama seperti saya ternyata, bisa tahu apa yang sebenarnya dirasakan seseorang.” “Nggak juga, sih. Cuma nebak aja, emang iya?” “Sudahlah, jangan dibahas lagi. Cepat habiskan, nanti kamu tidur, karena besok harus diselesaikan secepat mungkin masalahmu dan keluargamu.” “Menurut kamu, seorang penjahat seperti aku, apa masih bisa tidur? Setelah melakukan kejahatan dalam hidupnya? Jangan ngaco, nggak akan bisa t

