Dalam balutan gaun pesta yang anggun, Elise melangkah mondar-mandir di kamar tidurnya sambil menggigit ujung kukunya sendiri. Pikirannya melayang jauh, terhanyut dalam ucapan Grace yang tadi mengaku sebagai dirinya, putrinya Lily. “Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Adrian dengan tatapan tanpa ekspresi. “Grace. Setelah dia dan mamanya merampas kebahagiaanku dan Mama, sekarang perempuan itu malah mengklaim Mama sebagai mamanya. Apa coba maksudnya?” serobot Elise tanpa jeda. Ia berkacak pinggang membalas tatapan Adrian. Napasnya tampak tersengal karena menahan gejolak emosi yang membuak di d**a. “Terus kalung itu, aku masih belum pikun sampai aku lupa jika itu aslinya adalah kalungku,” tambah Elise lagi. “Jika kalung itu begitu berarti bagi kamu, kenapa bisa jatuh ke tangan Grace?” “Ka

