Mereka sudah sampai rumah, Aslan terlihat menggenggam tangan Bella saat masuk ke rumah. Bella menatap Aslan seolah tidak percaya. Apakah Aslan benar-benar sudah berubah dalam hitungan jam?
"Ada apa?" tanya Aslan.
Bella terkejut dan langsung menggelengkan kepala. Aslan tersenyum lalu mengecup dahi Bella.Semua pembantu di rumah itu tersenyum senang ketika melihat mereka namun beberapa ada juga yang tak menyukai kehadiran Bella.
"Bibi Nana, tolong siapkan camilan untuk Bella. Tadi dia bilang ingin makan nasi uduk dengan ayam bakar," ucap Aslan.
Bella menatap Aslan lagi, ini adalah pertama kalinya Aslan menuruti mengidamnya. Tapi semua itu membuat Bella tetap tidak percaya dengan perubahan sikap Aslan yang mendadak baik. Sembari menunggu, Aslan membawa Bella ke kamar dan tidak lupa mengunci pintu. Aslan duduk di ranjang tempat Bella beristirahat.
"Duduklah!" pinta Aslan lembut. "Maafkan aku yang tadi sempat membentakmu," sambungnya.
Bella masih berdiri di depan Aslan, Aslan mengelus perutnya dan seolah mengajak berbicara bayi kembar yang ada di perut Bella.
"Papa tidak sabar untuk bertemu kalian," ucap Aslan.
Bella mundur perlahan menjauhi Aslan, mulut manis Aslan memang sangat maut. Bella tidak akan mudah percaya begitu saja setelah rasa sakit hatinya begitu dalam. Aslan menggenggam tangan Bella, wajah tampannya menghipnotis Bella. Pria yang 21 tahun lebih tua darinya memang menjebak dunia Bella.
"Tidak usah bermulut manis!" ucap Bella.
"Bell, jika suami mu ingin berubah maka dukunglah! Bukannya malah begitu. Semua orang pernah membuat kesalahan 'kan? Aku juga sudah meminta maaf."
Bella menangis, ia mengusap air matanya. Aslan berdiri memberikan pelukan yang hangat untuk Bella. Bella menerima pelukan dari Aslan dan menangis melampiaskan kesedihannya selama ini.
"Sudah, jangan menangis!"
Bella mengelap air matanya, Aslan tersenyum sambil mencubit hidung mancung Bella. Melihat sikap Aslan yang semakin manis membuat Bella luluh. Semoga saja ini adalah awal keharmonisan mereka.
**
Aslan memperhatikan Bella yang sedang asyik makan. Bella makan dengan malu-malu, ia sesekali tersedak namun segera minum air putih pemberian Aslan.
"Tuan tidak makan?" tanya Bella.
Aslan menggeleng, ia lalu memperhatikan ponselnya yang ternyata dari Kanya. Aslan memandang Bella seolah meminta persetujuan, Bella mengangguk.
Aslan memutuskan untuk mengangkat telpon di kamarnya dan setelah itu ia tidak keluar lebih dari setengah jam.
Setengah jam kemudian.
Aslan sudah tampan dan bersiap untuk pergi ke suatu tempat. Bella yang sudah selesai makan memberanikan diri untuk bertanya.
"Mau ke mana, tuan?" tanya Bella.
"Aku harus ke kantor polisi. Dani ditangkap polisi karena ikut tawuran."
Bella terkejut, putra dari Aslan yang bernama Dani adalah anak yang tidak banyak bicara. Namun apakah anak yang pendiam itu akan ikut tawuran. Bella mengantar Aslan menuju ke teras, Aslan sangat khawatir sehingga tidak memperdulikan Bella lagi. Bella maklum dan berharap masalah Dani bisa terselesaikan.
Di kantor polisi sudah ada Kanya, Kanya menunggu sang suami datang karena hanya Aslan persyaratan untuk membawa pulang Dani. Setelah menunggu, Aslan datang dan melihat Kanya sangat sedih sedangkan Dani begitu santai.
"Mas Aslan?"
"Kanya? Masuklah ke mobil! Biar aku yang menyelesaikan."
Kanya yang pucat mengiyakan setelah itu Aslan diberi pengarahan oleh pihak kepolisian. Ternyata perbuatan putranya tak hanya satu kali saja melainkan beberapa kali namun berhasil melarikan diri. Aslan harus menandatangani surat pernyataan jika putranya tidak akan melakukan itu lagi, tentu saja Aslan sangat malu karena seorang bos seperti dia memiliki anak yang nakal.
Setelah di ijinkan pulang, Aslan berjalan mendahului Dani dan langsung masuk mobil. Dani tidak masuk mobil dan malah menuju ke jalan raya. Kanya dan Aslan langsung keluar dari mobil.
"Dani, mau ke mana?" teriak Kanya.
Aslan mengejarnya dan menyeret Dani dengan kasar. Dani memberontak dan mendorong Aslan.
"Jangan sentuh aku!" ucap Dani.
Plaaaak ...
Aslan menampar Dani, Dani tersenyum kecut. Kanya melerai mereka sebelum Aslan benar-benar menghajar putranya itu.
"Kamu tidak pernah belajar dari kesalahan," ucap Aslan.
"Bukannya Papa yang tidak belajar dari kesalahan?" jawab Dani.
Aslan tidak mengerti ucapan Dani. Dia sangat geram, sudah lama Dani tidak merasakan cambukannya.
"Mas, biar aku pulang dengan Dani naik taksi," ucap Kanya.
"Ini kesalahanmu yang sibuk dengan pekerjaan. Aku sudah bilang untuk berhenti menjadi dokter dan uruslah anak-anak kita." Aslan menatap Kanya.
Dani tersenyum kecut. "Jangan memarahi mama! Sifat anak adalah cerminan dari orang tuanya. Jika aku nakal dan b***t berarti itu keturunan Papa."
"Dani!" teriak Kanya.
Kanya menarik Dani dan membawanya menuju jalan raya. Aslan masih berdiri mematung melihat putranya yang menjadi liar. Tangannya mengepal ingin sekali melayangkan tinju pada bibir Dani.
Aslan menghela nafas panjang, ia segera masuk ke mobil. Di dalam mobil, ia masih mengingat perkataan Dani.
Aku sebejat itu? Jika saat itu tidak ada Bella yang ada di kamar mandi pasti aku tidak akan melakukan perbuatan b***t padanya. Semua ini salah Bella.
Flashback saat pesta perusahaan.
Perusahaan Aslan yang bergerak di bidang properti sedang menggelar pesta ulang tahun yang ke 11. Pesta itu di gelar di hotel tempat Bella bekerja. Bella menjadi petugas kebersihan, harusnya saat itu ia libur namun menggantikan temannya yang tidak bisa berangkat.
Pukul 11 malam, pesta itu telah usai dan meninggalkan beberapa orang yang termasuk Aslan. Aslan mabuk berat dan menuju ke kamar mandi namun tanpa sadar ia masuk ke kamar mandi wanita yang saat itu sedang ada Bella. Bella mendapat tugas membersihkan kamar mandi wanita yang sudah sangat sepi.
Tiba-tiba Aslan masuk, ia menuju wastafel lalu muntah.
Hueeeeek ...
"Pak, ini toilet wanita," ucap Bella.
Hueeeeek ...
Melihat Aslan muntah membuat Bella sangat iba, ia mendekati Aslan dan membantu menyiram muntahan Aslan.
"Pak, saya panggilkan keluarga anda ya?" tanya Bella.
Aslan menatapnya seolah singa yang mendapatkan mangsa empuk. Aslan langsung mendorong Bella dan membuka paksa kancing baju Bella. Bella memberontak namun tenaganya tidak seberapa di banding Aslan yang nafsunya sudah menggebu-gebu.
Flashback selesai.
Aslan masih saja menyalahkan Bella atas kejadian itu. Dia merasa dirinya yang tidak bersalah apapun karena ia sedang mabuk berat.
Perempuan licik itu membiarkan harga dirinya diambil olehku yang tak sadarkan diri. Banyak sekali w***********g yang selalu menggodaku di luar sana termasuk Bella yang pastinya ingin memanfaatkan keadaan.
Sesampainya di rumah. Aslan tidak menjumpai keberadaan Kanya dan Dani. Seperti biasa, Kanya akan mengajak Dani ke suatu tempat dulu jika putranya itu bertengkar dengan Aslan.
"Tuan?" ucap Bella.
"Bell, ayo ke kamar!" ajak Aslan.
Aslan masuk ke kamar Bella lalu memeluknya dari belakang. Bella heran dengan sikap Aslan.
"Dani bagaimana?" tanya Bella.
"Sssst ... Bell, kita jalan-jalan yuk!" ajak Aslan.