Bab 6 : Beri aku kesempatan!

1067 Words
“Tuan, tolong lepaskan tangan saya!” ucap Bella. Aslan tak mengindahkan ucapan Bella, ia mencekal tangan Bella begitu kuat. Bella nampaknya menyesal telah membangunkan amarah Aslan. Dia lalu menarik wajah Bella dan menciumnya. Bella tersentak dan langsung mundur namun Aslan semakin memperdalam ciumannya. Air mata Bella menetes, perasaannya sangat bergejolak sampai bingung dengan situasinya. Setelah itu Aslan melepaskan ciumannya dan memandang wajah Bella. “Tolong jangan pergi! Aku membutuhkanmu,” ucap Aslan sambil membelai rambut Bella yang kecoklatan. Siapa yang tidak akan luluh dengan pesona pria yang kita cintai walau sudah menyakiti berulang kali? Bahkan Bella sendiripun seolah terhipnotis ucapan Aslan. “Tuan Aslan terus menyakiti perasaanku.” Bella menunduk. Aslan menyuruhnya duduk dan mengusap air mata Bella. “Aku tidak akan menyakitimu lagi.” Bella berdiri, ia menggeleng dan tersenyum getir pada Aslan, masalahnya sekarang Bella bukan seperti dulu yang gampang percaya ucapan orang. “Saya tetap akan pergi, kita akhiri saja semuanya.” Mata Aslan membulat, ia mendorong tubuh Bella di ranjang lalu menguncinya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti dan hembusan nafas mereka terasa panas. “Dokter bilang jika usia kehamilanmu ini adalah masa emas untuk berhubungan intim supaya saat melahirkan akan menjadi mudah. Aku tidak mau menjadi suami yang jahat, aku akan memberikan kewajibanku pada istri kecilku,” ucap Aslan sambil membelai kepala Bella. Tuan Aslan memang tidak tulus, dia hanya ingin tubuhmu saja, Bell! Bella mendorong  Aslan dengan kuat dan menendang kakinya. Aslan yang kesakitan menatap tajam Bella dan seketika Bella kabur dari kamar Aslan. Bella berlari ke kamarnya dan tentu saja Aslan mengejarnya, baru kali ini Aslan mendapat perlakuan kasar dari istrinya bahkan Kanya tidak pernah melakukannya. “Istri sialan! Kemari kau!” teriak Aslan. Orang-orang yang ada di sana terkejut melihat kemarahan Aslan. Aslan berlari ke kamar Bella dan menggedor pintu kamar wanita itu. “Dasabella, keluar! Beraninya kau menendangku!” ucap Aslan sangat marah. Aslan mendobrak pintu kamar Bella, Bella yang ada di dalam kamar segera mengemasi barang-barangnya sambil melirik pintu yang masih tergebrak. BRAAAK BRAAAK Dan dobrakan terakhir membuat pintu itu terbuka, Bella mundur sambil memeluk tas gendongnya. Aslan mendekatinya dan menarik tas milik Bella dan mengeluarkan semua isinya. Aslan tersenyum kecut setelah itu membuang tas milik Bella. “Baju ini semua istriku yang membelikan. Kamu pergi ingin membawanya? Jika kamu ingin pergi bawalah barang-barang milikmu sendiri! Kamu tak tahu malu jika membawa barang-barang pemberian istriku,” ucap Aslan. Air mata Bella menetes, ia lalu memungut beberapa baju miliknya yang memang sudah tidak muat saat perutnya membesar. Aslan memandangnya sangat dingin, tidak ada rasa belas kasihan pada istri keduanya yang 2 bulan lagi akan melahirkan. Setelah mengambil bajunya, Bella masih menatap Aslan yang menatapnya dingin. “Aku tidak akan menahanmu jika kamu ingin pergi, yang  jelas kamu pergi atas kemauanmu sendiri dan bukan aku yang mengusirmu. Jika Kanya bertanya padamu, kamu tahu ‘kan harus menjawab apa?” Bella mengangguk paham, ia segera melangkan melewati Aslan dan keluar dari kamar. Bibi Nana yang melihat pertengkaran mereka tadi hanya bisa melihat dari jauh saat Bella gadis malang itu tengah membawa tas punggung dan pergi dari rumah ini. Dinda, menatap temannya itu bertepuk tangan pelan. Hal yang diinginkan terjadi juga, ia tahu jika sang papa tidak mencintai Bella dan menganggap Bella kegatelan sudah mendekati papanya. Bella berjalan menuju jalan kompleks namun tiba-tiba Bibi Nana memanggilnya dan menghentikan langkahnya. “Non Bell mau ke mana? Non Bella sedang hamil tua, seharusnya Non Bella sedikit bersabar saja!” ucap Bibi Nana. “Bi, saya tidak apa-apa. Ini yang saya inginkan untuk pergi dari keluarga itu.” Bibi Nana menangis karena tetap tidak tega dengan Bella. Dia mengeluarkan sejumlah uang untuk Bella, beliau tahu jika Bella tidak mempunyai uang. “Ini bisa digunakan untuk mencari tempat kost untuk Non Bella dan sisanya untuk makan. Semoga saja ini cukup.” “Bi, tidak perlu. Saya bisa mencari uang sendiri.” Bibi Nana menggeleng, ia tetap memberikan uang itu pada Bella. Bella terpaksa menerimanya jika tidak maka Bibi Nana mengancam akan mengadukan Kanya sekarang juga jika ia pergi dari rumah.  Bella berpamitan dengan Bibi Nana yang selalu baik padanya lalu berjalan menuju jalan raya. Di sisi lain, Aslan sedang mondar-mandir di kamarnya. Dia sangat bingung dengan situasi ini. Istri keduanya pergi yang sedang hamil besar. Aslan bukanlah pria yang sangat kejam, ia masih mempunyai hati dan nurani. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil jaketnya dan berlari keluar untuk mencari Bella, di depan gerbang  ia berjumpa dengan Bibi Nana. “Bella mana?” tanya Aslan. “Bella baru saja menuju jalan raya, tuan.” Aslan berlari menuju jalan raya, untung jaraknya sangat dekat dan hanya hitungan menit dia sudah sampai jalan raya. Saat sudah sampai, ia mencari keberadaan Bella namun gadis bule itu tidak ada. Aslan mengusap wajahnya kasar, pasti Kanya akan mengomelinya habis-habisan. Bell, bukan maksudku untuk membuatmu pergi. Aku hanya ingin melindungi keluargaku. Kamu hadir saat yang tidak tepat. Cintaku hanya untuk Kanya, dialah istriku selamanya. Bella naik bus jurusan menuju kampung halaman ibunya yaitu di Wonosobo, tentunya ia tidak hanya sekali naik bus saja namun beberapa kali. Di kampungnya ia masih memiliki kerabat walau kerabat  jauh tapi hanya merekalah tempatnya pulang. Uang yang diberikan Bibi Nana cukup untuk pulang ke kampung halamannya dan ia akan mencari pekerjaan di sana, kerabatnya memiliki kebun siapa tahu Bella bisa mendapat pekerjaan di sana.  Menit demi menit berjalan dan tak terasa bus tersebut akan memasuki jalan tol namun tiba-tiba di cegat oleh mobil mewah. Bella tidak ingin tahu, ia tidak memperhatikan mobil itu dan tiba-tiba terdengar suara pria yang tidak asing memanggil namanya. “Dasabella, Bell, di mana kamu?” Bella mencari keberadaan suara itu dan melihat Aslan mendekatinya dari arah pintu bus. “Bell?” ucap Aslan ketika melihat istrinya membulatkan mata menatapnya tak percaya. “Ada apa ini?” ucap kondektur bus. “Dia istriku, ayo kita pulang, Bell!” ajak Aslan. Bella menggeleng. Aslan menarik tangannya. “Maaf sebelumnya, bus ini akan melanjutkan perjalanan, di belakang juga banyak kendaraan yang terhenti karena bus ini terhenti di pintu masuk tol,” ucap kondektur. Aslan meminta maaf, Bella masih enggan namun riuh penumpang lain dan bunyi klakson terus terdengar. Bella yang merasa bingung memutuskan untuk turun ikut bersama sang suami. Aslan sangat senang dan mengajaknya masuk ke mobil. Di dalam mobil Aslan yang duduk di bangku belakang di samping Bella masih memandanginya. “Maafkan, aku! Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita,” pinta Aslan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD