Malam hari.
Aslan sudah menyiapkan makan malam spesial dengan Kanya, Kanya yang masih mengenakan kemeja karena sepulang dari rumah sakit dan rambutnya masih acak-acakan langsung duduk didepan Aslan. Aslan menatapnya dengan jengah.
"Tidak bisakah kamu berdandan dulu sebelum ke sini?" tanya Aslan.
"Aku lelah, Mas. Cepat kita selesaikan makan malam ini!"
Aslan tahu jika sang istri sangat menyukai pekerjaannya yang sebagai dokter namun ia takut jika terjadi apa-apa pada Kanya. Mereka memesan berbagai makanan dan terlihat Kanya malah fokus ke ponselnya, Aslan semakin heran pada tingkah dang istri.
"Apa kamu punya pria lain? Ini makan malam kita setelah sekian lama kita sibuk dengan pekerjaan kita sendiri. Sebenarnya apa yang kamu pikirkan, Kanya?" tanya Aslan.
"Mas, ini tentang pekerjaanku tentang mengenai operasi pasien besok."
Lagi-lagi Aslan hanya menghela nafas, ia lalu mengeluarkan bunga untuk Kanya, Kanya tersenyum dan menerimanya senang hati. Tak hanya itu, Aslan juga mengeluarkan kalung berlian untuk Kanya dan memasangkannya di leher Kanya.
"Suka?" tanya Aslan.
Kanya mengangguk. "Iya, Bella dapat juga 'kan?"
"Ini malam khusus kita, tolong jangan sebut nama itu!"
Aslan mengambil bunga mawar putih lalu memberikan juga pada Kanya, Kanya mengernyit karena mawar putih adalah bunga yang tidak disukainya namun ia masih menghargai sang suami dan menerimanya.
Mereka melanjutkan makan malam sangat romantis. Sebenarnya Kanya sangat mencintai suaminya namun sang suami sempat membuatnya kecewa dengan memperkosa sampai menghamili gadis yang seumuran dengan putrinya.
"Tadi pergi dengan Bella, bagaimana?" tanya Kanya.
"Anak itu membuat calon pembeli tidak jadi membeli kebun teh ku. Menyesal aku telah mengajaknya."
Kanya tersenyum kecut, ia segera memakan makanannya dan melirik suaminya yang tampan. Wajah Aslan sangat tampan dengan hidung yang mancung, alis yang tebal, dan rahang yang tegas. Namun sekarang Aslan bukanlah miliknya saja namun milik Bella juga.
Di kamar Bella.
Perut yang semakin membesar membuat Bella kesusahan untuk berjalan. Dia keluar dari kamar dan ingin menuju ke dapur namun saat setengah perjalanan bertemu dengan Dinda.
"Hei pelakor, mau ke mana?" tanya Dinda.
"Namaku Bella dan bukan pelakor."
"Kau pelakor akan tetap menjadi pelakor. Mama ku setiap malam menangis karena mu, dia sok kuat di depanmu padahal batinnya tersiksa. Sadar dirilah untuk cepat pergi dari sini!" ucap Dinda.
Dinda pergi, sementara Bella termenung. Selama ini Kanya memang tak menunjukan kesedihannya namun Bella tahu istri mana yang mau suaminya dimiliki juga oleh orang lain. Tiba-tiba ia mendengar suara yang tak asing yaitu Kanya dan Aslan. Matanya melihat mereka baru masuk dan bergandengan tangan. Bella tersenyum melihat keharmonisan mereka tapi hati tak dapat dibohongi jika ia cemburu.
"Bell?" ucap Kanya.
"Eh, iya, Kak?"
"Sudah makan?"
Bella mengangguk, ia melirik Aslan yang mulai berjalan meninggalkan mereka dan langsung menuju ke kamar. Kanya menggandeng Bella dan mengajaknya untuk duduk di sofa.
"Bell, besok Mas Aslan tolong siapkan air mandi dan buatkan kopi untuknya. Aku besok berangkat pagi-pagi sekali. Mas Aslan besok masih libur," ucap Kanya.
Bella terdiam, mengingat sikap Aslan sangat keterlaluan membuatnya enggan untuk mendekatinya lagi. Kanya lalu mengeluarkan sekotak cincin dan ia pakaikan pada tangan Bella. Kanya mengaku jika cincin itu dari Aslan untuk Bella padahal tidak, mana mungkin Aslan memberinya cincin.
"Ini dari Mas Aslan, dia tipe suami yang malu-malu. Dia menitipkan ini padaku," ucap Kanya.
Kanya berdiri lalu tersenyum sambil berjalan menuju kamar. Hati Bella semakin sakit saat Kanya makin baik padanya, ia tahu jika cincin itu bukan dari Aslan namun dari Kanya itu sendiri.
Aku tidak sadar telah menusukmu, aku juga mencintai Mas Aslan.
***
Keesokan harinya.
Bella sudah berada di kamar Aslan, Aslan masih tertidur pulas dan Kanya terlihat sudah tidak ada di sampingnya. Kaki Bella melangkah mendekati Aslan lalu menatap wajah tampannya. Dinda sangat beruntung memiliki ayah yang tampan seperti Aslan. Sedangkan Bella tidak tahu wajah ayahnya seperti apa.
Aslan melakukan pergerakan, Bella segera mundur namun tangan Bella dicekal oleh tangan Aslan.
"Mau ke mana, Kanya? Tidak bisakah hari ini libur? Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama," ucap Aslan yang masih memejamkan mata.
Bella bergetar dan takut, ia takut jika Aslan marah jika ternyata ia bukanlah Kanya. Hal yang ditakutkan terjadi juga, Aslan membuka mata dan ternyata tangan Bella yang ia genggam.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Aslan langsung terduduk.
"Saya di suruh Kak Kanya untuk menyiapkan air mandi dan sarapan untuk tuan."
Aslan mengusap wajahnya kasar. Terjadi kekecewaan padanya. Dia sadar jika mereka bukanlah remaja yang masih berpacaran, mereka sudah menikah bahkan sudah memiliki 2 anak yang sudah besar. Tapi apakah salah jika Aslan hanya ingin menikmati waktu bersama Kanya.
"Kemarilah!" pinta Aslan.
Bella mengernyit, ia mendekati Aslan dan Aslan menarik tangannya untuk duduk di sampingnya. Jika Aslan bersikap hangat memang sangat terlihat berwibawa.
"Anakmu butuh apa?" tanya Aslan.
Entah mengapa saat Mas Aslan menyebut itu anakku dan bukan anak kita membuatku sangat sedih.
Bella terdiam, ia bingung harus menjawab apa karena saat ini memang masih belum membutuhkan apa-apa.
Aslan mengeluarkan kartu debit dan memberikannya untuk Bella.
"Pakai ini untuk membeli keperluan anakmu! Sebentar lagi dia akan lahir. Aku jadi berubah pikiran untuk mengambil anak-anakmu. Ku pikir setelah melahirkan memang kalian harus pergi dari sini supaya tidak menyakiti keluargaku," ucap Aslan sangat menusuk hati Bella.
Bella memberanikan diri untuk menjawab. "Ini Anak kita dan bukan anakku saja, kenapa tuan selalu menyebutkan jika ini adalah bukan anak kita?"
Aslan terkekeh geli. "Saat itu aku mabuk dan tidak tahu kamu masih perawan atau tidak. Aku yakin jika itu bukan anakku."
Air mata Bella menetes, ia melempar kartu debit yang diberikan ke lantai. Cukup sudah harga diri Bella terlukai dan direndahkan oleh Aslan. Bahkan baru kali ini Bella menangis dihadapannya. Air matanya tumpah dan gejolak perasaannya ingin sekali menampar ayah dari sang bayi kembar yang ia kandung.
"Saya akan pergi sekarang juga. Saya memang tak ada harganya didepan Tuan Aslan. Jika bukan demi Kak Kanya, saya tidak akan berlama-lama di sini. Untuk apa harus bertahan jika setelah itu kami dibuang. Kami tidak butuh uangmu," bentak Bella.
Bella keluar dari kamar Aslan namun dicegah oleh suaminya itu. Aslan memandang wajah Bella yang tidak mau menatapnya. Wajah dingin Aslan masih menyimpan tanda tanya.
"Mau pergi ke mana? Mau makan apa kamu jika pergi dari sini?" bentak Aslan.
"Itu bukan urusanmu, tuan. Apa pedulinya anda jika kami keluar dari rumah ini? Sudah cukup batinku tersiksa. Kami bisa mencari kebahagiaan diluar," jawab Bella.